Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Kondangan kena karma,


__ADS_3

Hari-hari penuh warna telah dilalui Geral dan Shasa. Perasaan cinta di hati Shasa kian bertambah karena Geral semakin menunjukkan cinta dan perhatiannya meski setiap hari menjadi sibuk dengan urusan pabrik.


Rumah produksi cilok tetap berjalan seperti biasanya. Setiap pagi Shasa pergi ke sana untuk menemani bu Juleha mengurus setoran setiap pagi dan sore. Karya-karya tulis Shasa pun tetap update seperti biasanya.


Tidak terasa satu bulan telah berlalu begitu saja. Sang dewi malam telah hadir menggantikan pesona sang raja sinar. Gemerlap bintang pun memilih bersembunyi karena kuasa sang dewi.


"Ge, aku jadi pakai gaun yang mana, nih?" tanya Shasa seraya menatap gaun yang berjajar di atas ranjang.


"Sudah aku katakan, pakai yang warna maroon saja, sesuai dress code yang tertera di undangan!" jawab Geral tanpa menatap Shasa, ia sedang sibuk mengancingkan lengan kemejanya.


Malam ini, sepasang suami istri itu akan menghadiri resepsi pernikahan Burhan dan Luna. Mereka tiba di kota kelahiran Shasa sejak kemarin. Segala perlengkapan mulai dari dress, tas, aksesoris dan high heels yang menunjang penampilan Shasa malam ini telah ia persiapkan sejak beberapa minggu yang lalu. Ia harus tampil sempurna di hadapan Luna dan juga Burhan.


"Ge, bagaimana? cocok gak?" tanya Shasa setelah memakai gaun yang dipilihkan oleh Geral.


"Nah, ini baru sempurna," ucap Geral setelah mengamati penampilan sang istri dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Lebih dari enam puluh menit mereka bersiap di dalam kamar. Akhirnya, sepasang suami istri itu turun ke lantai satu, di mana ada pak Cipto, bu Kokom dan Yulia yang sudah menunggu di ruang keluarga.


"Aduh! anak Mama geulis pisan! wah ... wah ...." ucap bu Kokom setelah berdiri dari tempatnya.


"Wah ... jadi trending topik dah setelah ini!" ujar Yulia setelah melihat penampilan adiknya saat ini.


Semua orang penghuni rumah itu memakai pakaian dengan warna senada. Shasa lah yang mempersiapkan pakaian keluarganya agar tidak ada lagi orang yang meremehkan keluarganya seperti dulu.


"Mari kita berangkat, Yah, Ma," ucap Geral setelah melihat penunjuk waktu yang ada di sana.


Satu keluarga itu akhirnya berangkat menuju tempat resepsi pernikahan Luna dan Burhan yang terselenggara di gedung serbaguna yang tidak jauh dari kantor kelurahan. Pernikahan tidak diselenggarakan di gedung resepsi karena akan menghabiskan biaya yang sangat besar.


Mobil putih yang dikendarai Geral mulai melaju. Sebenarnya, tempat resepsi itu tidaklah jauh, berjalan kaki atau naik motor pun sampai di sana. Berhubung sejak awal Shasa ingin tampil sempurna, alhasil Ia mengusung seluruh keluarganya dengan memakai mobil sang suami.


"hmmm ... ternyata banyak juga yang hadir," gumam Shasa setelah mobil yang dikendarai Geral sampai di lokasi.


Kehadiran Shasa dan Geral di sana membuat beberapa orang mengalihkan pandangannya. Terlihat sekali jika semua orang terkesima melihat penampilan putri bungsu bu Kokom itu, cantik, anggun dan elegan.

__ADS_1


"Sha, sepertinya semua orang sedang melihatmu," bisik Yulia setelah mengamati tamu yang ada di sekitarnya.


"Bukan aku kak, tapi keluarga kita," jawab Shasa dengan suara yang lirih.


Kedatangan keluarga pak Cipto disambung oleh keluarga Burhan dan Luna. Mereka sepertinya tidak suka melihat kehadiran keluarga yang sedang menjadi trending topik itu.


"Ma, Shasa mau menemui Luna dan Burhan dulu, ya!" ucap Shasa setelah kedua orang tuanya duduk di kursi tamu.


"Enggak makan dulu?" tanya bu Kokom,


"Nanti saja, Ma! Kalau makan sekarang, Shasa gak kelihatan anggun lagi dong!" jawab Shasa.


Shasa bergelayut manja di lengan sang suami. Wajahnya terlihat berseri, senyum yang sangat manispun seakan tidak pernah pudar dari bibirnya. Ia tidak peduli meski banyak mata yang memandang ke arahnya.


"Hay ... selamat ya atas pernikahan kalian," ucap Shasa setelah berada di atas pelaminan. Ia menatap sepasang pengantin itu bergantian.


Burhan tertegun melihat penampilan Shasa saat ini. Sangat berbeda dengan Shasa yang dulu. Burhan hanya bisa menelan ludah melihat wanita yang dulu selalu hadir dalam hatinya.


"Neng Geulis!" gumam Burhan dengan tatapan yang tak lepas dari Shasa.


"Sudahlah, gak usah cemburu!" sahut Shasa setelah melihat wajah Luna yang tertekuk, "lagian gak ada juga yang mau merebut Burhan darimu kok! Aku sudah memiliki suami yang sempurna," ucap Shasa seraya menatap Geral dengan senyum yang sangat manis.


Jika saat ini bukan acara pernikahannya, sudah dipastikan Luna akan membalas cibiran musuh bebuyutannya itu. Ia tidak terima Shasa mengucapkan hal itu di hadapannya.


"Terima kasih ya, Neng ... Kang, sudah hadir ke pesta pernikahan kami," ucap Burhan sambil menatap Geral dan Shasa bergantian.


"Suatu kehormatan bagi kami mendapat undangan dari bapak kepala desa, pasti kami menyempatkan hadir walau harus meninggalkan pekerjaan penting," jawab Geral, "Sayang, berikan kadonya," ucap Geral sambil menatap Shasa penuh arti.


"Oh iya, sampai lupa," ucap Shasa, ia membuka dompetnya dan mengeluarkan dua lembar kertas persegi panjang, "ini kado dari kami, dua tiket honeymoon ke Bali, mohon diterima, ya," ucap Shasa seraya menyerahkan dua lembar kertas tersebut.


Tentu saja, hal itu membuat Burhan dan Luna saling pandang. Mereka terkejut karena mendapatkan hal tidak terduga dari seseorang yang sering direndahkan oleh Luna.


Geral mengajak istrinya turun dari pelaminan saat sepasang pengantin tersebut hanya diam. Mungkin mereka berdua masih shock karena kado pemberian dari crazy rich Cibiru.

__ADS_1


"Sha, si Luna sama Burhan itu kenapa?" tanya Yulia setelah Shasa dan Geral duduk di kursi yang ada di samping Yulia.


"Entahlah, mungkin mereka terlalu shock melihat penampilanku malam ini, kak," Jawab Shasa.


Memang sejak menyiapkan kado tersebut, Shasa dan Geral bersepakat merahasiakannya agar keluarganya tidak ada yang tahu tentang kado yang sengaja ia berikan untuk membungkam mulut pedas Luna. Sekali lagi, Shasa merasa bahagia pada akhirnya ia bisa membuat Luna diam. Mungkin, semua ini sudah lama ia pendam.


"Kamu gak makan dulu, Sha?" tanya Bu Kokom setelah melihat putrinya tak beranjak dari tempatnya.


"Kalau Mama sudah selesai, lebih baik kita pulang saja, ya. Shasa tiba-tiba pusing, Ma, liat keramaian di sini," ucap Shasa sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.


Tidak berselang lama, Shasa benar-benar tidak tahan berada di sana. Ia merengek minta pulang karena kepalanya semakin berdenyut. Perutnya pun seperti diaduk.


"Duh, bersiapnya aja satu jam lebih tapi giliran di sini gak sampai setengah jam," gerutu Yulia saat keluar dari gedung tersebut.


Shasa tidak menanggapi ucapan Yulia. Ia sendiri tidak tahu kenapa tubuhnya tiba-tiba seperti ini. Setelah semua masuk ke dalam mobil, Geral pun segera melajukan mobilnya.


"Stop, Ge! Tolong minggir sebentar, aku pengen muntah!" ujar Shasa ketika mobil tersebut baru saja melewati toko ceu Ella.


"Yang benar saja! Kamu mabok, Sha?" protes Yulia sebelum Shasa keluar dari mobil.


Bu Kokom dan Yulia turun untuk membantu Shasa mengeluarkan isi perutnya di bahu jalan. Shasa terus memuntahkan apa yang ada dalam perutnya di selokan. Ia sendiri heran kenapa keadaannya berubah menjadi seperti ini.


"Ya ampun! Jangan-jangan ini karma karena pamer ke si Culun!" gumam Shasa dalam hatinya.


🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍β™₯️ Mohon maaf ya, kemarin othor gak up, ada arisan keluarga di rumahπŸ™ 🌹


βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–


Hallo, othor gemol datang lagi membawa cerita keren dari salah satu author NT. Kalian wajib mampir nih, serius deh😍 yuk kepoinπŸ‘‡


Napen: Nazwatalita


Judul: Maafkan Aku, Istriku

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2