
Dua minggu kemudian,
Pemilihan kepala desa berlangsung tertib dan aman. Sore ini semua orang sedang menanti penghitungan suara yang belum usai hingga menjelang magrib. Tentu saja, saat ini adalah hal yang mendebarkan untuk Burhan dan keluarganya, meski suara terbanyak sementara diperoleh Burhan tapi semua itu belum bisa membuatnya tenang. Masih ada satu kotak lagi yang belum dihitung.
satu ... sah!
satu ... sah!
satu ... sah!
Suara petugas KPPS terus menyebut angka satu saat pembukaan kotak suara terakhir. Semua dag dig dug der, menanti hingga kotak suara tersebut kosong. Kedua calon Kepala desa pun pasti cemas saat ini, menanti perhitungan selesai.
Beberapa puluh menit kemudian, akhirnya semua kotak suara selesai dihitung. Pemenang pemilihan kepala desa periode ini adalah Burhan. Para tim Burhan euforia setelah melihat jagonya memenangkan pemilihan ini.
Berita tentang kemenangan Burhan akhirnya sampai di keluarga pak Cipto. Keempat anggota keluarga itu tengah memperbincangkan perihal tentang kemenangan Burhan. Keluarga kecil itu sedang bekerja sama membungkus beberapa sovenir untuk tamu undangan yang akan hadir saat akad nikah minggu depan. Resepsi pernikahan akan dilangsungkan di salah satu gedung yang ada di kota tetangga.
"Tuh! ayang beb mu menang!" ujar Yulia seraya menatap Shasa.
"ih bodo amat! Burhan itu yayang beb nya si Culun!" jawab Shasa tanpa menatap Yulia, ia sibuk membungkus sovenir.
"Andai kamu mau sama Burhan, pasti setelah ini kamu jadi istri pak KADES, Sha!" sahut bu Kokom.
"ih, Mama! Shasa kan mau jadi istrinya CEO!" kilah Shasa. Ia sendiri belum tau sebenarnya Geral ini kerjanya bagaimana. Ia percaya saja kepada orang tuanya. Toh, penampilan bu Juleha juga seperti orang kaya.
"Tapi Ayah gak suka sama Burhan!" ujar pak Cipto hingga membuat ketiga bidadari nya mengalihkan pandangan.
"memang kenapa, Yah?" tanya bu Kokom penasaran.
"ayah tidak suka anaknya ayah jadi istri pejabat meski itu pejabat desa," ucap pak Cipto seraya menatap Shasa dan Yulia bergantian.
"Yulia jadi sedih nih!" ucap Yulia tiba-tiba.
"kenapa sih?" tanya Shasa, ia menatap heran kakaknya itu.
"Yulia sedih karena Shasa menikah di saat Aa Dani masih di luar negeri! nanti Yulia gak bisa foto bersama di atas pelaminannya Shasa," ucap Yulia dengan suara yang lirih.
__ADS_1
Shasa menghela napas panjang setelah mendengar penuturan kakaknya, ada rasa sedih yang menggelitik hati kala teringat kakak iparnya tidak bisa pulang tahun ini. Begitu pun bu Kokom dan pak Cipto, beliau pun ikut sedih karena satu menantunya tidak bisa pulang dan ikut bahagia saat pernikahan putri bungsunya nanti.
"Kakak gak usah sedih dong! Aa Dani kan di sana kerja demi kakak, enggak liburan atau senang-senang!" Shasa mencoba untuk menenangkan kakaknya agar tersenyum kembali.
Shasa mencoba menghibur Yulia dengan cara-cara yang lain dan akhirnya suasana kembali mencair. Senyum Yulia kembali terbit saat Shasa mulai membahas film kesayangannya.
"Kalau nanti Shasa diajak pulang ke rumahnya bu Juleha gimana, Ma?" tanya Shasa seraya menatap bu Kokom. Ia berharap bu Kokom itu tidak membiarkan dirinya di bawa pergi Geral.
"Ya gak papa lah, Sha! kamu kan udah jadi istrinya Geral, jadi Mama ikhlas kalau kamu ikut bersama Geral," ucap bu Kokom yang membuat Shasa membelalakkan mata.
"Iya, Sha! kamu harus nurut sama suami! gak boleh membantah ucapan suami kecuali dia salah!" tutur pak Cipto seraya menatap Shasa.
"Mama dan ayah kok rela gitu sih melepaskan Shasa ke kota lain bersama orang yang baru kita kenal!" protes Shasa dengan wajah yang tertekuk.
Yulia terkekeh melihat ekspresi wajah adiknya yang masam. Menggoda gadis manja itu adalah hal yang paling menyenangkan bagi Yulia karena adiknya mudah sekali marah dan kesal.
"wah kalau Shasa pulang ke rumahnya Geral, berarti Yulia sendirian dong di sini! yes! akhirnya gak harus berbagi apapun lagi sama Shasa!" ujar Yulia dengan bangga.
...π π π π π ...
Detik demi detik telah berlalu. Malam pun semakin larut, suara hewan malam saling bersahutan. Penunjuk waktu sudah berada di angka tiga dini hari. Kurang beberapa puluh menit adzan subuh akan berkumandang.
"duh! siapa sih!" gerutu Shasa seraya meraba ponselnya di atas bantal.
"Burhan?" gumam Shasa saat melihat nama yang ada di layar ponselnya.
Shasa memicingkan mata ketika mendengar jendela kamar yang diketuk. Pikiran buruk sedang menghantuinya saat ini. Shasa takut jika ada maling yang mencoba menerobos masuk lewat jendela kamar.
"Neng geulis ... Neng ... ini Aa ... bukain jendelanya!"
Shasa menaikkan satu alisnya setelah mendengar suara yang tidak asing di indera pendengaran nya. Beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering. Nama Burhan kembali muncul di layar ponsel tersebut.
"Ada apa sih? kamu gak tahu waktu, ya!" Shasa mencaci Burhan saat menerima panggilan itu.
"Neng geulis, bukain jendelanya! Aa mau ngomong penting!" ujar Burhan dengan suara yang lirih.
__ADS_1
Shasa segera turun dari ranjang dan mengabaikan panggilan dari Burhan begitu saja. Ia benar-benar kesal dengan anak tunggal pak KADES itu. Shasa membuka selot jendela itu dan mendorongnya dengan keras.
"aduh!" Burhan mengusap hidungnya karena terkena jendela kamar Shasa yang didorong keras oleh sang pemilik.
Burhan membelalakkan mata tatkala melihat penampilan Shasa saat ini. Rambut panjang yang tergerai meski acak-acakan serta pakaian yang dipakai Shasa saat ini telah membuat darahnya berdesir. Tubuh putih itu hanya terbalut tangtop oversize yang dipadukan dengan hotpans setengah paha berwarna merah. Sungguh, untuk pertama kalinya Burhan melihat penampilan Shasa yang sangat berbeda ini.
"Eh, Bubur! ada apa? kamu gak tau sekarang jam berapa?" hardik Shasa dengan tangan yang bersedekap.
"Aa rasanya pengen makan Neng geulis aja!" celetuk Burhan tanpa sadar.
"Hah? minta makan? jadi kamu ganggu aku hanya untuk minta makan?" Rasa kantuk yang menyelimuti Shasa membuat indera pendengarannya sedikit terganggu.
"Eh, enggak begitu, Neng!" Burhan menggelengkan kepalanya.
"terus?" tanya Shasa sambil menguap lebar. Ia menyandarkan kepalanya di bingkai jendela.
"Ssst ... jangan keras-keras! nanti ada yang dengar!" ucap Burhan dengan suara yang lirih.
"Aa kesini hanya ingin memberi kabar, jika Aa menang pemilihan kepala desa, Neng!" ucap Burhan seraya mendekat ke tempat Shasa.
"Aku udah tau!" jawab Shasa dengan nada ketus, "terus tujuanmu kemari apa? awas aja kalau gak penting!" Shasa mengarahkan jari telunjuknya ke arah Burhan.
"Aa kan udah jadi KADES nih, pelantikannya bulan depan! Aa ingin Neng geulis membatalkan pernikahan Neng geulis dengan pria itu! Aa ingin Neng geulis menjadi istrinya Aa saja, jadi bu KADES," ucap Burhan dengan percaya diri. Ia menatap Shasa yang terkesiap di tempatnya.
Geram, tentu saja Shasa menjadi geram setelah mendengar ucapan Burhan. Ia tidak menyangka jika pria yang ada di hadapannya itu ternyata tidak waras. Bagaimana bisa ia membangunkan Shasa dan mengetuk jendela kamar hanya untuk mengatakan hal yang tidak penting.
"Sampai kapan pun aku tidak akan membatalkan pernikahanku! jangan berharap lagi! kamu benar-benar membuat aku marah, Bubur!!" ujar Shasa dengan rahang yang mengeras.
"Pergi atau aku akan berteriak jika di sini ada maling!" ancam Shasa dengan mata yang terbelalak.
Burhan menangkupkan kedua tangannya di dada setelah melihat kemarahan Shasa. Ia mengembangkan senyum tanpa dosa dan melangkah mundur, menjauh dari jendela Shasa. Ia takut Shasa nekat berteriak dan tindakan itu bisa menghancurkan reputasinya.
"Pergi!" ujar Shasa sebelum menutup jendela kamar.
πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka πβ₯οΈπΉ
__ADS_1
...FB: Titik Pujiningdyah || IG: @tie_tik...
...π·π·π·π·π·...