
Beberapa bulan kemudian,
"Sayang, tolong ambilkan tas dong!" teriak Shasa tanpa mengalihkan pandangannya. Ia sedang sibuk melipat pakaian bayi yang baru saja ia keluarkan dari almari.
Malam ini Shasa memutuskan untuk menyiapkan segala perlengkapan yang akan dibawa nanti saat melahirkan. Mengingat, usia kandungannya sudah mendekati HPL dari dokter Tia. Usia kandungan Shasa saat ini sudah berjalan tiga puluh tujuh minggu. Terkadang, Shasa merasakan pusing karena membayangkan bagaimana nanti saat melahirkan.
"Kamu mau tas yang mana? ini atau ini?" tanya Geral sambil menujukkan dua tas yang ada dalam genggamannya.
"Yang hitam saja," ucap Shasa setelah mengamati tas yang dibawakan oleh Geral.
Segela perlengkapan, mulai dari beberapa stel pakaian, popok, pampers, selontong kaki dan tangan, bedong, gendongan dan perlengkapan lainnya telah dikemas rapi ke dalam tas tersebut. Kini, Shasa beranjak dari tepi ranjang untuk mengambil pakaiannya sendiri.
"Biar aku yang mengambilkan! Kamu duduk saja," ujar Geral setelah melihat sang istri kesusahan berdiri.
Selama hamil berat badan Shasa naik dua belas kilo. Pipinya terlihat chuby karena kenaikan berat badan tersebut. Apalagi, saat usia kandungannya menginjak tujuh bulan, selera makan Shasa pun ikut bertambah.
Semenjak tahu janin yang ada dalam kandungan ikut stres saat ibunya setres, Shasa memutuskan untuk hiatus terlebih dahulu. Semua karyanya sudah tamat sebelum Shasa berhenti menulis. Ia hanya ingin kondisi janinnya sehat sampai saatnya melahirkan. Mimpi menjadi penulis terkenal sepertinya harus terjeda terlebih dahulu.
"Jangan bawa baju seperti itu, Sayang! Carikan daster saja lah yang ada resleting atau kancing depan," ucap Shasa ketika Geral mengambilkan blous dan rok.
"Masa di rumah sakit pakai daster?" Geral menghentikan aktifitasnya setelah mendengar protes dari Shasa.
"Memangnya kenapa? Daster itu pakain paling nyaman loh selama aku hamil!" protes Shasa lagi dengan pandangan yang tak lepas dari Geral.
Mau tidak mau pada akhirnya Geral harus menuruti perintah dari istrinya. Ia mengambil beberapa daster yang tertata rapi di almari dan tidak lupa ia mengambilkan underwear sang istri.
__ADS_1
"Gak usah bawa baju terlalu banyak, Sayang," ucap Shasa, "aku itu mau melahirkan bukan mau piknik," lanjut Shasa seraya tersenyum manis saat melihat tumpukan daster yang disiapkan oleh Geral.
Kegiatan itu menghabiskan waktu selama tiga puluh menit. Dua tas besar berisi perlengkapan ibu dan bayi sudah siap angkut saat Shasa melahirkan nanti.
"Kamu lelah, ya?" tanya Geral setelah melihat Shasa menghela napasnya.
Itulah yang dirasakan Shasa akhir-akhir ini saat usia kandungannya semakin bertambah. Ia mudah lelah meskipun tidak melakukan aktifitas berat, "Seperti biasa, aku lelah meskipun hanya paking beberapa pakaian saja, itupun aku lakukan dengan duduk," keluh Shasa sambil merubah posisinya duduk bersandar di headboard ranjang.
"Maaf ya, gara-gara aku, kamu harus seperti ini," ucap Geral dengan sorot mata penuh sesal.
"Apa sih, Sayang! Kamu gak usah merasa bersalah gitu! Mengandung itu kodrat dan impian seorang wanita. Di luar sana, banyak wanita yang harus berjuang demi bisa mengandung benih suaminya," tutur Shasa seraya menatap Geral dengan iringan senyum yang sangat manis.
Semenjak perut Shasa semakin buncit, Geral sering merasa bersalah. Ia tidak tega saat melihat Shasa kesulitan melakukan aktivitas, apalagi akhir-akhir ini istrinya itu jarang tidur nyenyak.
"Wah! kamu sedang main bola ya di dalam sana," gumam Geral saat mendapat tendangan dari dalam perut sang istri.
Binar bahagia terlihat jelas di wajah sepasang suami istri itu hanya karena hal sederhana yang terjadi malam ini. Setelah ngobrol beberapa puluh menit, Shasa memutuskan untuk segera istirahat saat rasa kantuk mulai melanda.
****
Hangatnya senyum sang mentari telah hadir menyapa semua insan. Segala aktifitas telah dimulai seiring dengan naiknya sang mentari ke atas medan kekuasaannya. Rumah produksi cilok pun mulai dipenuhi banyak pekerja yang mulai mempersiapkan gerobak masing-masing.
Pagi ini Shasa ikut Geral ke rumah produksi cilok. Sudah lama ia tidak ikut ke tempat usaha sang suami. Banyak wajah baru yang ikut antre mengambil dagangan seperti pekerja yang lama. Shasa pun melihat lebih banyak tumpukan barang yang sudah disiapkan. Ia bersyukur ternyata usaha sang suami semakin berkembang.
"Neng, kapan lahiran, Neng?" tanya salah satu Kang cilok yang menunggu namanya dipanggil.
__ADS_1
"Sebentar lagi, Kang. Debay nya udah gerah di dalam, pengen segera melihat dunia," jawab Shasa sambil mengusap perutnya.
Obrolan pun berlangsung di teras rumah produksi tersebut. Suara gelak tawa menggema di sana. Hal ini lah yang membuat Shasa betah jika berada di rumah produksi cilok. Ia bisa melihat sang suami bersikap biasa dan banyak bercanda dengan para pekerja setiap pagi. Tentu saja, hal itu sangatlah berbeda saat Shasa ikut Geral ke pabrik GMP, Suaminya itu akan bersikap jaim di depan staf dan para pekerja yang ada di sana. Geral terlihat berwibawa saat berada di pabriknya yang baru saja resmi menjadi PT.
"Sayang! Jangan tertawa lepas seperti itu! Ingat, jangan lupa amit-amit kalau ngobrol sama Faris!" kelakar Geral saat sang istri mendengarkan candaan salah satu anak muda yang ikut berjualan cilok.
"Sembarangan! Saya itu anak muda paling tampan di Cibiru, Kang! Kalau anak Akang mirip saya, pasti jadi generasi penerus saya—the next Superstar Cibiru!" ucap Faris dengan bangganya.
"Heh! Sembarangan! Itu anakku mana mungkin mirip sama kamu!" sangkal Geral hingga membuat semua orang tertawa lepas.
Shasa hanya bisa tertawa mendengar protes dari sang suami. Namun, tidak lama setelah itu, semua gelak tawa pekerja harus terhenti ketika ada dua pria memakai kemeja rapi datang menghampiri.
"Apa benar ini rumah produksi cilok milik Bapak Geraldi?" tanya salah satu pria yang sudah berdiri di depan meja kerja Geral.
...🌹Selamat membaca🌹...
...🌷🌷🌷🌷...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Selamat sore pemirsa😍 oke seperti biasa kali ini othor mau merekomendasikan karya super keren yang wajib kalian baca, kuy segera cari di kolom pencarian dengan judul Kepedihan Jiwa karya author Rima Junia Ermolina.
...🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1