
Malam dingin telah berlalu. Langit gelap perlahan berubah terang kala sang mentari tersenyum malu-malu di cakrawala timur. Dinginnya malam tidak begitu berarti daripada dinginnya sikap Shasa kepada Geral sejak pulang dari salon. Setelah tidak sengaja melihat Eren di salon, Shasa menjadi kesal dan melampiaskan semuanya kepada Geral. Padahal, Geral sendiri tidak tau jika ada Eren di sana.
"Ge, Jangan lupa setelah selesai mengurus setoran antar aku ke salon!" ucap Shasa saat melihat Geral dari pantulan cermin yang ada di hadapannya.
"Iya," jawab Geral seraya membuka almari untuk mencari pakaian ganti.
"Kenapa Shasa jadi aneh gitu, ya! tadi malam mendadak dingin dan mogok bicara tapi sekarang bersikap normal seperti biasanya! kesambet jin mana dia?" gerutu Geral dalam hati sambil memakai pakaiannya.
Geral pun semakin heran melihat penampilan Shasa saat ini. Sebuah Midi dress berwarna merah muda tanpa lengan membalut tubuh rampingnya. Rambut hitam itu pun tergerai indah, tidak seperti biasa saat ia ikut bersama Geral ke rumah produksi cilok.
"Kenapa kamu tampil seperti itu, Sha? aku tidak suka!" protes Geral setelah Shasa beranjak dari tempatnya.
"Aku pengen tampil cantiklah! Biar suamiku enggak ngelirik wanita lain!" ujar Shasa seraya mengemas laptopnya ke dalam tas.
Geral hanya diam setelah mendengar jawaban dari Shasa. Ia mulai paham kenapa Shasa memoles penampilannya saat ini. Rupanya, ia tidak mau kalah saing dengan Eren yang mulai bekerja hari ini.
"Mami udah ngasih kabar belum kapan pulang dari Bali?" tanya Geral saat menyisir rambutnya. Bu Juleha dua hari ini berada di Bali bersama pak Rojali, pengantin baru yang tidak muda lagi itu tidak mau kalah dengan Geral dan Shasa. Mereka sedang honeymoon saat ini.
"Belum, Ge! Tadi saat bangun tidur, aku lihat status Mami udah sampai di Bedugul," jawab Shasa setelah duduk di tepi ranjang, ia sudah siap, hanya tinggal menunggu Geral saja.
"Gak usah pakai parfum gitu!" protes Shasa ketika melihat Geral menyemprot parfum di beberapa bagian tubuhnya.
"Ayo berangkat!" ucap Geral setelah selesai bersiap, ia enggan untuk menanggapi protes dari sang istri yang aneh dan tak beralasan.
Terkadang Geral merasa risih melihat perubahan sikap Shasa tapi di sisi lain, ada perasaan bahagia saat Shasa bersikap posesif kepadanya. Setidaknya semua itu membuat Geral merasa dicintai oleh istrinya itu. Geral pun bisa melihat dengan jelas sorot kecemburuan dari mata indah sang istri.
"Ge, uang yang aku dapat dari hasil novel boleh gak aku kasihkan ke Mama?" tanya Shasa saat mobil yang dikendarai Geral melenggang dari halaman rumah.
"Loh, itu uang hasil kerja kerasmu, jadi ... terserah kamu mau dipakai untuk apa!" ucap Geral setelah menatap Shasa sekilas.
__ADS_1
"Ya aku ini kan istrimu, jadi benar 'kan kalau aku izin ke kamu." Shasa mengalihkan pandangan ke arah Geral, "Kata Mama dulu begitu, jika seorang wanita sudah menjadi seorang istri maka apapun yang dilakukannya harus mendapat izin kepada suami," imbuh Shasa setelah ingat wejangan dari bu Kokom.
"Hmmm ... gak salah Mami punya besan seperti Mama Kom dan Ayah Cip!" gumam Geral dalam hatinya.
"Aku sudah mentransfer uang untuk ayah dan mama. Jadi, kamu tidak perlu khawatir," ucap Geral hingga membuat Shasa membelalakkan mata.
Shasa belum percaya jika Geral melakukan hal itu. Ia menggeleng pelan dengan pandangan yang tak lepas dari suaminya itu, "kamu serius?" Sekali lagi Shasa meyakinkan apa yang sudah ia dengar.
"Terima kasih, Ge," ujar Shasa dengan diiringi senyum yang sangat manis setelah Geral mengangguk pelan.
Sepuluh menit telah berlalu. Mobil yang dikendarai Geral akhirnya sampai di halaman rumah produksi cilok. Sepasang suami istri itu pun keluar dari mobil. Seperti biasa, mereka selalu bergandeng tangan saat berjalan menuju teras—tempat di mana Geral mengatur setoran dan barang di pagi hari.
"Pak, tadi ada wanita bernama Eren mencari Pak Geral, sekarang orangnya ada di dalam," ucap Novi, salah satu orang kepercayaan bu Juleha setelah melihat kehadiran Geral.
"Oh, ya sudah, tempatkan dia di bagian pencetakan saja, Nov. Jangan lupa ajari caranya," ujar Geral sebelum wanita bernama Novi tersebut kembali masuk untuk melakukan pekerjaannya.
Seperti biasa, Shasa membantu Geral mempersiapkan stock barang untuk pedagang cilok yang datang setelah ini. Cilok bumbu pedas belum bisa launching karena bu Juleha belum bisa meracik rasa yang pas.
"Kang Pardi hari ini libur, Sha! nanti oper saja sama punya Kang Supri," jawab Geral tanpa menatap Shasa. Ia sibuk dengan buku catatan besar yang menemaninya setiap lagi.
Shasa membawa satu paket cilok milik kang Supri ke tempat yang sudah disediakan. Setelah semua paket disiapkan, Shasa duduk di samping Geral seperti biasanya. Bersiap berkelana dalam dunia halu.
"Uluh ... uluh! Hidup si Kasep ini enak benar! pagi-pagi kerja ditemani bidadari secantik ini," seloroh pak Jono, pedagang cilok senior di sini. Pria paruh baya tersebut sudah biasa menggoda Geral dan Shasa.
"Neng Geulis, tumben hari ini penampilannya berbeda? makin Geulis pisan!" ujar pak Jono. Beliau harus mendapat plototan tajam dari Geral setelah memuji Shasa.
"Aduh Pak Jono, jangan begitu atuh! Nanti suami saya bisa marah," jawab Shasa seraya menatap Geral, senyumnya pun mengembang sempurna kala melihat Geral mengalihkan pandangan ke arah lain.
Kedatangan beberapa kang cilok yang lain membuat suasana teras tersebut semakin ramai. Gelak tawa mulai terdengar di sana tanpa kecanggungan sedikitpun. Semua orang mengalihkan pandangan kala mendengar suara wanita yang keluar dari pintu masuk.
__ADS_1
"Ge, bisakah aku pindah ke bagian lain? tanganku terus terkena air panas, nih!" ucap Eren dengan suara yang manja.
Para pedagang cilok itu pun langsung bubar kala merasakan atmosfer yang berbeda. Mereka segera berlalu menuju gerobak masing-masing sebelum melihat drama yang akan terjadi.
"Kamu bisa ngajarin aku gak bagaimana cara memasukkan cilok ke dalam panci tanpa harus kena air panas?" tanya Eren lagi tanpa berpindah tempat.
Geral hanya diam, ia menatap Shasa sekilas yang sedang menatap sinis ke arah Eren. Ia sedang memikirkan sesuatu agar mendapat solusi tanpa harus membuat mood Shasa berantakan lagi.
"Novi!" teriak Geral beberapa kali. Mungkin saat ini wanita bernama Novi itu sedang sibuk membuat adonan cilok.
"Vi ... Novi!" teriak Geral lagi hingga Novi keluar dari rumah produksi.
"Iya, Pak, ada apa, Pak?" tanya Novi setelah berdiri di samping meja Geral.
"Tolong ajari dia cara memasukkan cilok agar tidak terkena air panas!" ujar Geral seraya menatap Novi.
"Hah? bagaimana, Pak?" tampaknya Novi masih belum mengerti perintah dari Geral.
Geral menjelaskan apa yang diinginkan oleh Eren kepada Novi. Tidak lama setelah itu, Novi pun kembali mengajak Eren ke belakang. Raut kekecewaan terlihat jelas di wajah Eren karena gagal mendapat perhatian dari Geral.
"Syukurin lu! Jangan harap kamu bisa bersikap sok manis manja ke suamiku!" gerutu Shasa dalam hati.
🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka❤️😍maaf ya kemarin update cuma 1, othor sibuk masak😂Harap maklum ya , Zheyenk 😘
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Hallo semuanya👋 othor punya rekomendasi karya keren untuk kalian baca nih😀Jangan sampai ketinggalan ceritanya ya, Zheyenk😍
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷...