
"Shasa! berhenti!" ujar Geral ketika melihat Shasa berjalan menuju teras rumah.
Rasa kesal yang ada dalam diri Shasa membuatnya enggan untuk berhenti. Ia semakin mempercepat langkah agar sampai di dalam kamar. Malam ini jika sampai Geral tidak minta maaf, Shasa benar-benar mogok bicara.
"Apa sih?" teriak Shasa ketika Geral menghentikan tubuhnya saat kakinya menginjak anak tangga pertama.
"Kenapa pria itu bisa mengantarmu pulang?" tanya Geral dengan tatapan tajamnya, "kamu menelfonnya?" Geral semakin menajamkan tatapannya.
"Heh! punya otak dibuat mikir dong!" ujar Shasa dengan tatapan yang tak kalah tajam dengan Geral, "menurutmu aku menelfon dia pakai apa? tasku ada di dalam mobilmu! kamu meninggalkan aku dipinggir jalan tanpa apapun! kamu waras?" Shasa memaki Geral dengan mata yang berembun.
"aku ini istrimu! bagaimana kalau tadi ada orang jahat yang mendekatiku? apa yang akan kamu katakan kepada orangtuaku jika terjadi sesuatu kepadaku?" hardik Shasa dengan kilatan amarah yang terlihat di mata.
"Sekarang kamu bisa lihat sendiri 'kan buktinya! jika aku benar-benar cantik! aku bisa pulang walau kamu tinggalkan di jalanan!" sarkas Shasa dengan di iringi senyum sinis.
Tanpa mendengar jawaban Geral, Shasa berlalu begitu saja. Ia menaiki satu persatu anak tangga hingga sampai di dalam kamar—meninggalkan Geral seorang diri di lantai satu.
Shasa menghempaskan diri di atas ranjang. Ia tergugu karena kesal dengan tindakan Geral yang keterlaluan. Tangisnya pun pecah, rasanya ia menyesal memiliki suami orang kaya tapi tidak berhati seperti Geral.
"Shasa! aku tidak terima jika kamu dekat dengan pria itu!" Ternyata Geral masih melanjutkan drama ini setelah masuk ke dalam kamar. Ia berdiri di sisi ranjang seraya menatap punggung sang istri yang bergetar.
"Kamu bisa naik ojek dan bayar di rumah! kenapa harus menumpang pria lain! kamu ini kan punya suami, jadi ... tidak seharusnya menumpang mobil pria lain!" ujar Geral seraya berkacak pinggang.
Tentu saja Shasa geram setelah mendengar ucapan Geral. Bagaimana bisa ia disalahkan dalam situasi saat ini. Shasa hanya diam dengan tangan yang mencengkram bantal hingga kusut.
"Heh suami gila!" ujar Shasa setelah berdiri di hadapan Geral, "yang salah itu kamu! kenapa sekarang balik menyalahkan aku! kamu sendiri 'kan yang ingin bukti jika kecantikanku memang patut diakui!" Shasa berkacak pinggang di hadapan Geral.
"seharusnya kamu berterima kasih kepada Burhan! karena dia sudah menjaga istrimu dengan baik!" Shasa rasanya belum puas mencaci maki Geral.
__ADS_1
Rasa kesal itu semakin memuncak kala Geral hanya menaikkan satu sudut bibirnya. Sepertinya Geral sedang menertawakan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Shasa. Ia memutar bola matanya ke sembarang arah agar bisa menahan tawanya.
"Aaaw! sakit!" teriak Geral ketika Shasa tiba-tiba menggigit tangannya.
"Shasa! kamu gila!" umpat Geral saat berusaha melepaskan tangannya dari gigitan Shasa.
"Rasain tuh!" ujar Shasa penuh kemenangan setelah melepaskan tangan Geral. Ia tertawa lepas ketika melihat Geral mengusap bekas gigitan di tangannya.
Setelah Geral keluar dari kamar, Shasa kembali menghempaskan diri di atas ranjang. Ia mencoba untuk mengubur amarah yang memuncak di dalam diri dengan tidur. Bayang-bayang kebahagiaan harus musnah kala acara jalan-jalan bersama suami harus tertunda.
"Ya ampun! kok bisa ya aku punya suami seperti Geral! nyesel aku punya impian suami orang kaya! pengennya punya CEO perusahaan besar, malah dapatnya CEO cilok! gila pisan! nasib ... nasib!" gerutu Shasa dengan mata yang terpejam.
Beberapa puluh menit kemudian, Geral masuk ke dalam kamar setelah menenangkan diri di teras belakang. Ia menghela napasnya dalam ketika melihat Shasa tertidur pulas dengan kaki masih bersepatu.
"maaf, aku menyesal melakukan semua itu," ucap Geral sambil mengusap kaki Shasa. Ia melihat wajah yang sedang tertidur pulas itu.
...♦️♦️♦️♦️...
Pagi telah datang, siluet kuning terlihat di cakrawala timur. Suara burung terdengar saling bersahutan, semua itu bagai melodi penyemangat untuk semua insan. Seperti biasa, semua orang yang ada di rumah megah ini sudah siap dan rapi sebelum sang mentari menampakkan diri sepenuhnya.
"hari ini kamu harus ikut aku ke rumah produksi," ucap Geral setelah selesai sarapan. Ia menatap Shasa dengan intens.
"maaf lain kali saja," tolak Shasa tanpa menatap Geral.
"Ikut saja, Nak! Mami mau keluar sebentar, nanti kamu malah kesepian di rumah," sahut bu Juleha seraya menatap Shasa, "kamu bisa makan cilok sepuasnya, terus di sana kamu cukup duduk manis nemenin Geral nyatet setoran," ucap bu Juleha dengan pandangan yang tak lepas dari Shasa.
Senyum manis terbit dari bibir Shasa setelah mendengar saran dari mertuanya itu. Tentu saja senyum penuh kepalsuan untuk menutupi apa yang sedang terjadi saat ini.
__ADS_1
"Mami tidak tahu sih, kalau anak Mami ini gila! aku di kerjain, Mi!" gerutu Shasa dalam hati.
Setelah sarapan selesai, akhirnya Shasa mau tidak mau mengikuti apa yang diinginkan suaminya. Ia tidak enak hati kepada bu Juleha jika menolak ajakan Geral saat ini, meski terpaksa akhirnya Shasa berangkat bersama Geral.
"coba tebak, apa tujuanku membawa mu ke rumah produksi?" tanya Geral seraya menatap Shasa sekilas.
"males!" jawab Shasa dengan nada ketus, ia enggan untuk menatap Geral.
"aku akan menghukum mu di sana! kamu harus mencetak adonan cilok yang sudah disiapkan khusus untukmu." Geral tersenyum smirk ke arah Shasa.
"kamu ini kenapa sih!" sungut Shasa seraya mengalihkan pandangan ke arah Geral.
"karena kamu berani jalan bersama pria lain, aku akan menghukummu! kalau kamu tidak mau, aku akan melaporkan ke Ayah, jika kamu jalan berdua dengan si Burem itu!" ancam Geral yang membuat Shasa mengeraskan rahangnya.
Shasa dibuat heran dengan kelakuan aneh suaminya itu. Semua umpatan sepertinya tertahan di tenggorokan. Memaki pun rasanya percuma. Kali ini Shasa mencoba mengikuti keinginan Geral, mengalah bukan berarti kalah. Begitu yang ada dipikiran Shasa saat ini. Ia harus terlihat santai dan biasa saja menghadapi pria dengan keanehan yang hakiki seperti Geral ini.
"kenapa kamu diam saja? pasti kamu sedang merencanakan sesuatu, ya?" Geral mulai curiga karena tidak ada protes sedikitpun dari istrinya itu.
"aku masih waras! untuk apa aku memikirkan rencana gila seperti yang kamu lakukan saat ini!" sarkas Shasa dengan ekspresi wajah yang datar.
Mobil yang dikendarai Geral akhirnya sampai juga di rumah produksi cilok. Mereka berdua segera turun dan mengayun langkah menuju rumah. Tanpa banyak bicara, ia segera melangkah ke dalam rumah atau lebih tepatnya ke ruangan yang dulu pernah dipakai mencetak cilok.
"Awas saja kamu, Ge! aku akan membalas semua ini!" ujar Shasa setelah melihat banyaknya adonan yang sengaja disiapkan Geral untuknya.
🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍 Maaf banget ya Sayangku, kemarin gk up🙏 Mata sedang tidak bersahabat, sakit buat mantengin hp karena habis dicolok sama si bayik, ada sedikit luka bekas kuku😰🌹
...🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1