
Pagi telah datang mengikis langit yang gelap. Suara kicauan burung menambah syahdunya suasana pagi. Sang mentari telah hadir dengan senyum indah yang menghangatkan. Segala aktifitaspun telah dimulai.
"Aku berangkat ke pabrik dulu," pamit Geral setelah keluar dari pintu rumahnya.
Kecupan mesra mendarat di kening Shasa dan tidak lupa Geral mengusap lembut perut buncit sang istri sebelum berangkat. Pagi ini, Geral berangkat bekerja tanpa bekal senyum manis dari sang istri seperti biasanya.
"Hati-hati," ucap Shasa tanpa ekspresi. Ia masih kesal setelah teringat kejadian tadi malam saat Geral melarangnya menulis novel.
Setelah mobil putih yang dikendarai Geral melenggang dari halaman rumah. Shasa kembali masuk ke dalam rumah. Ia mengayun langkah menuju teras belakang untuk melanjutkan tulisan yang sempat tertunda.
"Nah, lebih baik duduk di sini aja! Sekalian berjemur," gumam Shasa seraya duduk di tempat yang terkena sinar matahari.
Jari-jemari Shasa mulai menari di atas keyboard laptop dengan lincah nya. Kedua manik hitam itu fokus pada layar laptop agar tidak salah tulis. Namun, baru saja menulis tiga ratus kata, perutnya tiba-tiba saja merasakan kram.
"Aduh! Kenapa ini?" gumam Shasa sambil mengusap perutnya beberapa kali.
Shasa menarik napasnya panjang setelah rasa tidak nyaman itu tak kunjung hilang. Ia segera menutup laptopnya dan membiarkan laptop itu berada di atas meja. Shasa memutuskan masuk ke dalam rumah karena takut terjadi sesuatu pada kandungannya.
"Shasa! Kamu kenapa?" Tiba-tiba saja bu Juleha datang tepat saat Shasa berada di ruang keluarga. Ia merebahkan diri di sofa panjang yang ada di sana.
"Perut Shasa tiba-tiba saja kram, Mi," ucap Shasa tanpa menatap bu Juleha, ia sibuk mengatur napas sambil mengusap perutnya.
Mendengar hal itu, bu Juleha terlihat sangat khawatir. Beliau segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Geral karena takut terjadi sesuatu dengan kandungan menantunya.
Lima belas menit kemudian, terdengar suara derap kaki dari arah ruang tamu. Bu Juleha yang sedang sibuk memijat kaki sang menantupun langsung menoleh ke sumber suara.
"Apa yang terjadi, Mi?" tanya Geral setelah sampai di ruang keluarga.
__ADS_1
Melihat kedatangan putranya, bu Juleha beranjak dari sana. Beliau pindah ke sofa yang lain agar putranya bisa lebih dekat dengan sang istri.
"Ge, perutku sakit!" keluh Shasa sambil meringis kesakitan.
Geral terlihat bingung melihat hal itu. Ia hanya bisa mengusap perut sang istri beberapa kali dengan gerakan yang lembut, "Kita ke rumah sakit saja, ya," ucap Geral dengan tak henti mengusap perut buncit itu.
"Nanti saja, setelah rasa sakitnyan reda," jawab Shasa dengan suara yang lirih.
Beberapa menit kemudian, rasa sakit itu mulai reda. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja rasa nyaman hadir dalam diri Shasa. Bahkan, ia bangkit dari tempatnya saat ini dan duduk di sisi Geral.
"Perutku udah gak sakit lagi nih," gumam Shasa.
"Kamu serius?" Geral meyakinkan sang istri.
"Iya, malah rasanya nyaman banget tidak seperti tadi," ucap Shasa seraya menatap sang suami.
"Oh, mungkin saja anak kalian ini gak mau jauh sama ayahnya!" gumam bu Juleha sambil menatap anak dan menantunya, "atau kalian sedang bertengkar?" tebak bu Juleha dengan tatapan curiga.
Geral dan Shasa saling memandang tatkala mendengar praduga bu Juleha. Rasa tidak percaya tentu saja menyapa hati dan pikiran Shasa setelah mendengar hal itu. Namun, apa yang dikatakan bu Juleha seperti ada benarnya karena rasa sakit itu hilang ketika Geral mengusap perutnya.
"Kalaupun itu kebenarannya, aku sangat bersyukur akan hal itu karena dengan begitu aku tidak perlu berusah payah merayu Shasa agar tidak merajuk lagi," gumam Geral dalam hatinya. Senyum penuh kemenangan terbit dari bibir itu.
****
Rona jingga hadir di cakrawala barat tuk menemani sang surya kembali ke peraduan. Angin berhembus pelan tuk menyapa sepasang suami istri yang sedang duduk di bangku panjang yang ada di depan tempat prakter dokter kandungan.
"Nyonya Maisha Setyorini." Terdengar suara asisten dokter memanggil nama Shasa dari pengeras suara.
__ADS_1
Geral membantu sang istri berdiri lalu keduanya segera masuk ke dalam ruangan dokter Tia. Setelah kejadian tadi pagi dan atas saran dari bu Juleha, pada akhirnya Shasa memutuskan untuk konsultasi ke dokter Tia meski belum jadwalnya kontrol.
"Ada keluhan apa, Moms?" tanya dokter Tia saat mulai menjelajah di perut Shasa dengan alat USG.
Shasa lantas menceritakan apa yang terjadi tadi pagi. Ia tidak menutupi apapun dari dokter Tia saat dokter berparas manis itu menanyakan apa saja yang dilakukan Shasa sebelum merasakan kram di perutnya.
"Moms, jangan banyak pikiran apalagi sampai stres ya! Apa yang tadi pagi Moms rasakan itu karena bayi yang ada dalam kandungan Moms stres. Nah, kenapa bisa seperti itu? Karena mungkin, Moms akhir-akhir ini banyak pikiran." Dokter Tia terus mengarahkan alat USG nya mengitari perut bawah Shasa.
"Tapi kenapa setelah diusap suami saya rasa sakitnya jadi hilang, dok?" tanya Shasa.
"Dedek bayinya kangen sama Daddynya mungkin, Moms," seloroh dokter Tia, "Ikatan batin antara orangtuan dan anak itu kuat, Moms, jadi wajar kalau hal itu terjadi. Hmmm jangan-jangan debaynya ini bakal mirip Daddy nih kalau lahir," lanjut dokter Tia sebelum mengakhiri pemeriksaan.
Setelah asisten dokter Tia membersihkan perutnya, Shasa segera turun dari bed tersebut. Ia dan Geral duduk berhadapan dengan dokter Tia. Banyak hal yang disampaikan dokter Tia tentang bagaimana menangani rasa sakit seperti yang Shasa rasakan.
"Apa jangan-jangan anakku stres gara-gara aku mikir alur novel yang aku tulis, ya?" gumam Shasa dalam hatinya setelah teringat apa yang ia pikirkan beberapa hari ini.
...🌹Selamat membaca🌹...
...🌷🌷🌷🌷...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Hallo epribadeh, othor ada rekomendasi karya keren nih untuk kalian😎Jangan lupa kepoin yuk biar gk penasaran. Karya dari author Aisy Arbia dengan judul Sekadar Istri Siri memang patut dibaca nih 😀 kuy, buruan ketik di kolom pencarian😍
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1