Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Pergi ke tempat kerja,


__ADS_3

"Kamu yakin pakai baju ini?" tanya Geral setelah melihat Shasa tampil feminim; memakai span hitam selutut yang dipadukan dengan kemeja tanpa lengan dan blazer. High heels 5 cm pun menghiasi kakinya.


Geral harus bersikap tenang agar bisa bersikap biasa di hadapan Shasa. Ia harus menahan tawa karena melihat ekspresi Shasa saat ini, "ganti pakaianmu! pakai celana jeans saja atau pakaian santai lainnya!" ujar Geral yang berhasil membuat Shasa mengerucutkan bibirnya.


Sekelebat pertanyaan muncul dalam kepala Shasa, sebenarnya apa pekerjaan suaminya itu. Bagaimana bisa Geral menyuruhnya memakai pakaian santai saat di kantor, apakah tidak malu jika membawa istri tanpa pakaian formal? itulah kemelut yang ada dalam pikiran Shasa saat ini.


Akhirnya, Shasa pun mencari pakaian santai seperti yang dimaksud oleh Geral. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Meski Geral sudah pernah melihat tubuh itu tanpa sehelai benangpun tapi Shasa tetaplah malu.


"Sudah! aku harus pakai apa lagi?" tanya Shasa setelah keluar dari kamar mandi.


Geral mengamati penampilan Shasa saat ini, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Senyum smirk terlihat di wajah tampan itu ketika melihat penampilan Shasa, "oke, kita berangkat sekarang! sudah waktunya," ucap Geral saat menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


Rasa penasaran semakin menyelimuti diri Shasa karena melihat Geral berpakaian santai sama sepertinya. Bahkan pakaian Geral sangat berbeda dengan kemarin. Hari ini ia memakai kaos oblong dan celana jeans serta sneaker yang menunjang penampilannya saat ini.


"Ge, sebenarnya kita ini mau kemana?" tanya Shasa setelah masuk ke dalam mobil.


"katanya kamu ingin ikut aku kerja," jawab Geral tanpa menatap Shasa, ia sibuk menatap jalanan yang ada di hadapannya.


"Kenapa kamu gak pakai pakaian yang formal, mungkin pakai kemeja gitu?" protes Shasa dengan pandangan yang tak lepas dari Geral.


"Pakaian formal atau santai menurutku semua itu tidak penting," jawab Geral dengan santainya, "kamu sendiri 'kan yang bilang kalau aku ini CEO?" Geral menatap Shasa sekilas dengan diiringi senyum smirk.


Helaian napas berat terdengar di sana. Shasa semakin kesal melihat sikap Geral hari ini. Sikap yang tidak sama seperti hari-hari sebelumnya. Wajah cantik itu menjadi murung, senyum yang biasa bermekar indah kini hilang entah kemana.


Beberapa menit kemudian, Shasa mengedarkan pandangan kala mobil yang dikendarai suaminya berhenti di halaman luas sebuah rumah besar. Pandangan Shasa menangkap beberapa gerobak cilok berwarna merah berjajar rapi di halaman samping. Semua gerobak itu bertuliskan 'Cilok Bandung Kabul'.


"ayo turun!" ujar Geral setelah mengamati Shasa yang sedang termangu di tempatnya.


"kenapa kita ke sini?" Shasa menatap Geral dengan raut wajah penasaran.

__ADS_1


Tanpa menjawab pertanyaan Shasa, Geral keluar begitu saja—meninggalkan Shasa seorang diri dengan sejuta rasa penasaran yang membelenggu jiwa. Namun, beberapa detik kemudian, Geral membukakan pintu untuk Shasa, ia memberikan isyarat agar Shasa turun dari mobil.


Shasa berjalan di belakang Geral seraya mengedarkan pandangan, menatap semua yang ada di pekarangan rumah tersebut. Ia bisa melihat beberapa jemuran pakaian di halaman samping. Rasa penasaran pun semakin membuatnya resah.


"Kenapa Geral mengajakku ke tempat ini?" tanya Shasa dalam hatinya.


Shasa duduk di bangku panjang yang ditunjuk oleh Geral. Ia mengamati segala aktifitas yang dilakukan Geral saat ini. Satu buku besar sudah disiapkan di meja yang ada di hadapan Geral.


"Kemarilah," ucap Geral saat mengalihkan pandangan ke arah Shasa. Ia memberikan isyarat agar Shasa duduk berhadapan dengannya


"Ini lah tempat kerjaku, aku bukan CEO berdasi seperti yang kamu pikirkan!" ucap Geral setelah Shasa duduk dan menatapnya dengan intens, "aku hanya memiliki usaha ini, usaha cilok yang sudah dirintis sejak Mami menjadi janda," jelas Geral dengan pandangan yang tak lepas dari Shasa.


Shasa hanya diam seraya menatap Geral dengan rasa tidak percaya. Terkejut, tentu saja Shasa terkejut mendengar pengakuan dari Geral. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi dan Shasa pun telah menyerahkan semua yang ada pada dirinya kepada Geral.


"its oke! gak masalah kok!" ucap Shasa dengan senyum yang dipaksakan.


Geral hanya diam, ia bisa melihat kekecewaan dari sorot mata istrinya. Semua itu semakin membuatnya kesal, ia membuat kesimpulan sendiri jika Shasa terpaksa menjawab semua itu.


"Tidak! aku tidak menyesal!" jawab Shasa dengan nada yang ketus setelah melihat perubahan di wajah sang suami.


"baiklah kalau begitu, setelah ini akan aku tunjukkan bagaimana keadaan yang ada di dalam," ucap Geral seraya menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia tempati saat ini, "bukankah kemarin kamu mau membantuku bekerja?" tanya Geral dengan pandangan yang tak lepas dari Shasa.


"baiklah, nanti aku tunjukkan sekalian!" ucap Geral setelah melihat Shasa menganggukkan kepala.


Beberapa menit kemudian, satu persatu orang berdatangan, ada yang berjalan kaki ada yang membawa motor dan ada juga yang keluar dari rumah tersebut.


"Bos, pegawai baru kah itu? geulis pisan, Bos!" celetuk salah satu pria yang menunggu antrian.


"kenalin atuh, Bos!" sahut pria yang lain.

__ADS_1


Geral hanya tersenyum, ia tidak menjawab candaan dari para pegawainya yang sedang antri cilok sebelum berangkat ke tempat jualan masing-masing.


"lebih baik kalian ini fokus jualan saja, jangan suka menggoda wanita," ucap Geral seraya menyerahkan satu paket cilok beserta beberapa perlengkapan lainnya.


Hampir tiga puluh menit, Shasa menunggu Geral melayani beberapa pegawainya. Semua paket yang sudah disiapkan telah habis. Satu persatu gerobak yang ada di halaman samping pun berangkat setelah paket cilok tersebut ditata rapi di gerobak.


"ayo ikut ke dalam!" ucap Geral setelah menutup buku besarnya.


Shasa hanya diam, ia pun bangkit dari tempat duduknya untuk mengikuti Geral. Manik hitamnya mengamati semua yang ada di dalam. Beberapa frezer besar pun berjajar rapi di ruang tamu, lalu Shasa masuk ke bagian lain rumah tersebut dan akhirnya ia bisa tahu apa saja peralatan untuk pembuatan cilok. Berbagai peralatan tertata rapi di tempatnya, kebersihan tempat produksi pun sangat terjaga. Suasana ruang produksi masih sepi tanpa penghuni.


"ini adalah tempat memproduksi cilok-cilok yang tadi diambil para pedagangku," ucap Geral seraya menatap Shasa.


"ayo, aku ajari cara membuat cilok!" ucap Geral seraya menarik tangan Shasa ke sudut ruangan.


"kamu serius, Ge?" Shasa meyakinkan ucapan Geral.


"Tentu! bukan kah kemarin kamu sendiri yang bilang jika mau membantuku bekerja?" Geral kembali mengingatkan kalimat yang diucapkan Shasa kemarin siang.


"Ge! tapi ...." Shasa menghentikan ucapannya ketika melihat tatapan tajam Geral, "aku tidak bisa membuat apapun, aku tidak punya pengalaman membuat makanan!" kali ini Shasa. menurunkan intonasi suaranya.


"Ini sangat mudah, mari aku ajari cara membuat cilok!" Geral bersedekap dengan diiringi senyum smirk kala melihat kekesalan dari sorot mata Shasa.


🌷Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍 btw, hari ini othor up satu bab aja ya, karena lagi riweh di RS🙏


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Hallo guys, aku membawa rekomendasi karya keren nih 😍 penasaran kan?? kuy kepoin♥️


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2