
Binar bahagia terlihat dari kedua sorot mata suami istri yang sedang melihat layar datar tak jauh dari tempat mereka berada. Layar yang menampilkan gambar buram mirip kacang dengan ukuran yang sangat kecil.
"usia kandungan Moms sudah berjalan lima minggu nih," ucap dokter kandungan bernama Tia itu setelah selesai melakukan pemeriksaaan.
Shasa segera duduk setelah seorang asisten dokter membersihkan perutnya dari sisa gel yang dipakai USG. Shasa turun dari bed tersebut dengan dibantu Geral.
"Keadaannya sehat 'kan dok?" tanya Geral setelah duduk di depan meja kerja dokter Tia.
"Sehat kok, Dad, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, di usia kehamilan yang masih muda ini, Moms disarankan agar banyak istirahat karena pada usia ini rawan terjadi keguguran," ucap dokter Tia dengan diiringi senyum yang manis, "Apa ada keluhan, Moms?" tanya dokter Tia seraya menatap Shasa.
Akhirnya, Shasa menceritakan apa yang sudah dialaminya beberapa hari ini dan dokter Tia hanya tersenyum saat menanggapinya. Beliau mendengarkan Shasa bercerita sampai selesai dan setelah itu, dokter berwajah manis itu pun menuliskan resep untuk Shasa.
"Untuk sementara lebih baik Moms menghindari keramaian dulu sampai keadaannya stabil. Hal-hal seperti ini lumrah dialami ibu hamil. Saya akan memberikan beberapa moms obat untuk mencegah mual dan vitamin," ucap dokter tersebut sambil menyerahkan resep obat kepada Shasa.
Setelah selesai konsultasi bersama dokter Tia, akhirnya ... Sepasang suami istri itu keluar dari ruangan. Mereka duduk terlebih dahulu di ruang tunggu sambil membaca resep yang ditulis dokter Tia.
"Memang kamu bisa baca tulisan dokter, Sha?" tanya Geral saat melihat sang istri serius membaca tulisan tersebut.
Shasa menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya, "Enggak lah! Aku cuma mengamati aja, bagaimana caranya menulis latin seperti ini," jawab Shasa dengan pandangan yang tak lepas dari resep obat tersebut.
"Aku mau ambil motor diparkiran dulu, kamu tunggu saja di sini," ucap Geral seraya beranjak dari tempat duduknya.
Geral terpaksa membawa motor karena permintaan dari Shasa. Ibu hamil itu menjadi mual saat mengirup aroma di dalam mobil. Alhasil, mereka datang ke tempat ini dengan menggunakan motor matic. Keadaan Shasha pun jauh lebih baik.
"Pakai jaketnya dulu, Sha," ucap Geral setelah turun dari motornya. Ia menghampiri Shasa yang masih ada di tempatnya.
__ADS_1
"Duh, suamiku perhatian banget sih! Jadi kangen diajak goyang geboy!" ujar Shasa sambil menatap Geral yang sedang membantunya memakai jaket.
"Jangan mesum!" ujar Geral seraya menatap Shasa sekilas. Ia tersenyum tipis sebelum menggandeng tangan Shasa pergi dari ruang tunggu tersebut.
Setelah memakai helm masing-masing. Akhirnya, motor yang dikendarai Geral melenggang dari tempat praktek dokter Tia. Gemerlap lampu yang ada di sepanjang jalan menemani perjalanan mereka berdua. Shasa semakin mengeratkan kedua pelukannya saat Geral menambah kecepatan laju motornya.
"Eh, Ge! Itu tadi sepertinya Eren, deh!" ujar Shasa saat motor yang dikendarai Geral melewati hotel yang ada di Cibiru. Shasa melihat wanita yang sangat mirip dengan Eren masuk gedung raksasa itu.
"Udah biarin aja! Kamu salah lihat kali ... ngapain juga Eren ke hotel," sangkal Geral tanpa mengalihkan pandangannya.
"Iya juga ya," Shasa bergumam saat mengalihkan pandangannya ke depan.
Sebelum masuk komplek perumahan tempat tinggalnya, Geral berhenti terlebih dahulu di salah satu apotek untuk menebus obat sang istri. Tidak sampai setengah jam, obat dari dokter Tia sudah mereka dapatkan.
"Kita langsung pulang saja, ya," ucap Geral sebelum menyalakan motornya.
"Assalamualaikum, Mami ... Ayah ...." ucap Shasa setelah sampai di ruang keluarga, di mana ada bu Juleha dan pak Rojali yang sedang berduaan.
"Waalaikumsalam ...." jawab serempak bu Juleha dan pak Rojali.
Shasa segera duduk di sofa yang ada di dekat bu Juleha. Ia sudah tidak sabar ingin menunjukkan hasil pemeriksaan malam ini. Tidak lupa ia menceritakan bagaimana kondisi janinnya kepada bu Juleha.
"Neng, kenapa gambarnya hitam begini? Kenapa Neng gak minta gambar yang bagus saja?" tanya Pak Rojali dengan polosnya.
"Ih! Akang ini bagaimana! Hasil USG memang seperti ini kecuali kalau Shasa USG empat dimensi!" sahut bu Juleha sambil menatap pak Rojali.
__ADS_1
"Lah, Akang mana tahu, Ayang!" kilah pak Rojali.
"Ehem!"
Tiba-tiba terdengar suara Geral berdehem di sana. Rupanya anak sambung pak Rojali itu baru saja masuk. Geral pun terpaksa ikut bergabung di sana karena sang istri masih asyik ngobrol dengan ibunya.
"Sha, lebih baik kita ke kamar, yuk! Ingat apa kata dokter, kamu harus banyak istirahat!" ujar Geral setelah duduk di sana hampir tiga puluh menit lamanya.
"Iya, lebih baik kamu istirahat gih! Besok kita ngobrol lagi karena Mami akan menginap di sini selama satu minggu." Bu Juleha tersenyum manis sambil menatap Shasa.
Pak Rojali dan bu Juleha menatap kepergian anak dan menantunya sampai hilang dari pandangan. Sebuah ide cemerlang tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran pak Rojali.
"Ayang, apa Ayang gak pengen hamil seperti menantu kita?" tanya Pak Rojali sambil menaikturunkan satu alisnya.
Bu Juleha membelalakkan mata setelah mendengar ide konyol sang suami, beliau tidak menyangka jika pak Rojali menginginkan dirinya hamil di usia yang tidak muda lagi.
"Jangan aneh-aneh deh, Kang! Kita itu sudah tua!" sungut bu Juleha.
...🌹Selamat membaca🌹...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Sekedar pemberitahuan nih, jika Karya baru othor sudah launching pagi ini😍 Kuy buruan kepoin biar gak penasaran dong ya🤭Ketik judul Belenggu Benang Kusut di kolom pencarian, atau langsung klik saja profilku😍nih aku kasih bocoran blurbnya.
"Aku tidak pernah menyangka … jika sosok yang selama ini sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri ternyata memiliki perasaan cinta layaknya seorang pria kepada seorang wanita. Dia membuatku berada dalam situasi yang sulit—menjadi ibu tiri sekaligus sahabat dari putrinya sendiri. Aku harus bersandiwara dengan baik dalam belenggu benang kusut yang tidak pasti di mana ujungnya." Anne Malila.
__ADS_1
"Sosok wanita di masa laluku hadir dalam dirimu. Aku tidak bisa mengendalikan perasaan yang sudah lama terkubur ketika melihatmu. Rasa ingin memiliki dan mencintai yang sempat hilang di masa lalu tidak akan aku ulang kembali. Aku harus memilikimu, Anne, karena kamu seperti inkarnasi ibumu di saat dia masih muda dulu." Rudianto Baskoro.