
"Apa benar ini rumah produksi cilok milik Bapak Geraldi?" tanya salah satu pria yang sudah berdiri di depan meja kerja Geral.
"Iya, saya Geraldi, pemilik usaha ini," ucap Geral saat beranjak dari tempatnya saat ini. Ia menatap kedua pria yang berdiri di depan meja kerjanya, "Ada perlu apa Bapak mencari saya?" tanya Geral.
"Kami ingin menawarkan kerja sama," jawab pria tersebut.
"Kalau begitu silahkan Bapak tunggu di sana, saya harus menyelesaikan pekerjaan ini dulu," ucap Geral seraya menunjuk bangku panjang yang tak jauh dari tempatnya berada.
Melihat situasi ini, Shasa segera meraih buku besar yang ada di meja Geral. Ia harus membatu Geral agar pekerjaan ini cepat selesai dan para kang cilok segera berangkat ke lapak masing-masing.
Dua puluh menit kemudian, pekerjaan Geral telah selesai. Semua pekerja sudah berangkat membawa gerobak masing-masing menuju lapak. Geral mempersilahkan kedua pria asing itu untuk duduk di kursi yang ada di sisi lain meja kerjanya atau lebih tepatnya mereka berempat sedang berhadapan saat ini. Shasa pun masih di sana karena Geral tidak mengizinkan dia pergi.
"Kami berdua karyawan pabrik tepung tapioka PT. Kanji Tbk. sengaja datang menemui Bapak untuk menawarkan produk kami," ucap salah satu pria bertubuh tinggi.
Geral terlihat serius mendengarkan tawaran kerja sama yang ditawarkan kedua pria tersebut. Keuntungan dari kerja sama itupun dijelaskan secara terperinci oleh salah satu pria yang duduk di hadapan Geral. Keuntungan yang mereka tawarkan benar-benar terdengar menggiurkan.
"Nah, jika memang Bapak Geraldi berminat kerja sama dengan kami. Maka Bapak harus menanam saham di awal sebanyak dua puluh persen sebagai tanda kesepakatan kerja sama," ucap pria tersebut.
Geral menaikkan satu alisnya ketika mendengar hal itu. Dalam dunia bisnis perihal seperti ini jarang sekali ada, ia mulai tidak percaya dengan kedua orang yang ada di hadapannya ini.
"Bagaimana Anda bisa yakin jika saya akan mendapat keuntungan besar jika saya kerja sama dengan pabrik tempat Anda bekerja! Bukankah saya tetap membeli dengan harga yang sama seperti di pabrik lain?" tanya Geral dengan tatapan yang tak lepas dari kedua pria tersebut.
"Kami akan memberikan harga miring karena Pak Geral bersedia berinvestasi di pabrik kami. Keuntungan dari saham yang Bapak tanam tetap masuk ke rekening tanpa potongan apapun dan kami juga akan mensuplai tepung tapioka terbaik dengan harga miring, dengan begitu usaha cilok Bapak akan semakin menguntungkan."
Kedua pria tersebut bergantian meyakinkan Geral agar mau menaruh investasi yang besar. Mendengar pundi-pundi kekayaan akan terkumpul lebih banyak, Shasa mulai tergiur akan penawaran itu, sementara Geral sendiri masih diam saja.
__ADS_1
"Sayang, udah ambil aja! Nanti keuntungan kita semakin besar loh!" bisik Shasa kepada Geral.
"Udah, kamu diam dulu! Aku tidak percaya dengan mereka," jawab Geral dengan suara yang tak kalah lirih.
Setelah selesai menjelaskan tentang saham dan program investasi yang menggiurkan, kedua pria tersebut menunggu jawaban dari Geral. Dari sorot matanya, terlihat sekali jika kedua pria itu sangat menginginkan Geral bergabung.
"Boleh saya minta kartu nama Bapak berdua?" tanya Geral setelah berpikir panjang.
"Baik Pak," ucap salah satu pria berkumis tebal, beliau menyerahkan kartu nama berwarna putih kepada Geral.
"Terima kasih karena Bapak telah menawarkan investasi yang sangat menggiurkan ini. Namun, saya perlu berpikir panjang untuk masalah ini. Jika memang saya berminat bergabung dengan investasi yang Bapak tawarkan, maka saya akan datang langsung ke kantor Bapak untuk mengurus surat kontaknya," jawab Geral dengan sopan.
"Jangan, Pak!" sergah pria berkumis tebal, "Bapak tidak perlu repot-repot datang ke kantor! Kami yang akan datang dengan membawa surat kontraknya," ucap pria tersebut.
Geral mengernyitkan keningnya setelah mendengar hal itu. Ia semakin tidak percaya jika kedua pria ini adalah karyawan salah satu pabrik tapioka besar di Bandung. Tidak mungkin bila seorang yang menanam saham memakai metode seperti ini.
Geral hanya memberikan isyarat lewat sorot matanya agar Shasa tidak ikut campur masalah ini. Geral tidak mungkin mau mengeluarkan uangnya cuma-cuma kepada kedua pria ini.
"Begini saja, Pak! Jika memang begitu, tolong hubungkan saya dengan direksi yang ada di sana, misalnya dengan pak Budi selaku GM di sana atau dengan Pak Aweke selaku pemilik pabriknya,"
"Ya, maaf sebelumnya. Biar bagaimanapun bekerja sama itu harus terbuka, apalagi investasi yang Bapak tawarkan ini dalam jumlah besar. Jadi, kalau bisa saya ingin berhubungan langsung dengan atasan Bapak," ucap Geral dengan pandangan yang tak lepas dari kedua pria tersebut.
Shasa tertegun saat kedua pria tersebut melenggang begitu saja dari tempatnya. Kedua pria tersebut seperti takut setelah mendengar Geral menyebut nama-nama yang bekerja di pabrik tapioka itu.
"Loh! Mereka kok pergi begitu saja!" Shasa bergumam setelah kedua pria tersebut hilang dari pandangan.
__ADS_1
Geral pun menjelaskan jika mereka bukanlah karyawan pabrik tersebut. Mereka adalah penipu yang mengatasnamakan pabrik tersebut. Geral menjelaskan secara detail trik kedua pria tersebut kepada sang istri.
"Ya Tuhan! Hampir saja kita ketipu!" ujar Shasa sambil menatap wajah sang suami, "lalu, apa kamu kenal dengan nama-nama yang kamu sebut tadi?" Shasa penasaran akan hal itu.
"Ya Enggak lah!" jawab Geral tanpa berpikir panjang, "Mana mungkin aku kenal dengan orang-orang pabrik tapioka," lanjut Geral seraya tersenyum penuh arti.
Shasa mengulum senyum mendengar hal itu, ia jadi tahu bagaimana sang suami saat menghadapi orang-orang yang menawarkan investasi, "jadi mereka penipu yang kamu tipu!" ujar Shasa.
"Nah, kali ini kamu sangat pintar, Sayang!" ucap Geral seraya mengusap rambut sang istri.
Shasa berdecak mendengar hal itu, ia tahu bahwa Geral sedang menyindirnya. Hampir saja sang suami tertipu jika mengikuti saran darinya. Bukan karena apa-apa tapi Shasa tergiur keuntungan yang dijanjikan oleh kedua pria yang sudah pergi tersebut.
"Maka dari itu, Jangan mudah tergiur janji-janji menggiurkan seperti tadi! Keuntungan besar terkadang akan membuat kita terjerumus dalam masalah jika tidak bijak dalam memilih patner."
Shasa hanya tersenyum mendengar hal itu. Sejujurnya saja, ia malu karena terlihat mata duitan tanpa berpikir panjang. Dua ratus juta pasti melayang begitu saja jika Geral mengikuti desakan Shasa.
"Mulai saat ini kamu harus belajar membaca gerak-gerik lawan bicaramu, Sayang! Jadi, jika suatu saat kamu menghadapi orang-orang seperti mereka tadi, kamu tidak akan tertipu," ujar Geral dengan diiringi senyum manis setelahnya.
...๐นSelamat membaca๐น...
...๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท...
โโโโโโโโโโโโโโโโ
Hallo epribadeh, happy weekend๐ nih aku ada rekomendasi bacaan yang cocok untuk menemani akhir pekan kalian๐Kuy buruan cari judul Penjara Cinta Mafia kejam karya Siti Fatimah.
__ADS_1
...๐ท๐ท๐ท๐ท...