
"duh males banget! kang sayur yang ini kan jualannya di samping rumah si Luna!" gerutu Shasa saat menghentikan sepedanya di bahu jalan.
Wortel yang diminta bu Kokom belum didapatkan Shasa. Lima penjual sayur sudah Shasa datangi dan sialnya tak ada satu pun yang punya stok wortel. Bukan salah tukang sayurnya tapi salah bu Kokom yang bangun kesiangan. Alhasil dagangan penjual sayur telah habis, hanya ada satu lapak lagi yang belum Shasa hampiri.
"Datang, enggak, datang, enggak, datang!"
"Yaealah kenapa datang sih!" ujar Shasa setelah menghitung dengan lima jarinya.
Shasa menghela napasnya saat teringat kalimat yang diucapkan oleh bu Kokom. Mau tidak mau akhirnya Shasa mengayun sepeda nya menuju kang sayur terakhir yang ada di desanya. Shasa mengalihkan pandangannya sekilas ketika melewati rumah Luna yang tertutup rapat, gerbangnya pun belum terbuka.
"Yes aman!" seru Shasa sebelum turun dari sepeda nya.
Tak butuh waktu lama, wortel yang diinginkan bu Kokom akhirnya didapatkan Shasa. Ia keluar dari lapak kang sayur itu dengan senyum penuh kemenangan, tangannya menenteng kresek putih berisi wortel.
"Astaga telor naga!" teriak Shasa karena terkejut ada yang menepuk pundaknya. Shasa segera mengalihkan pandangannya dan ternyata ada Burhan di sisinya.
Putra tunggal pak lurah itu sudah tampil rapi walau matahari belum menampakkan diri sepenuhnya. Ia duduk di atas motor piciex merah yang berhenti di pinggir jalan.
"Selamat pagi, Neng geulis ...." sapa Burhan seraya menatap Shasa yang terlihat kesal.
"Eh, ngapain sih kamu itu ya! ini masih pagi loh! senyummu itu bikin mataku silau tau gak sih!" Shasa memaki Burhan setelah memastikan keadaan di sekitarnya aman.
"aduh ... aduh ... aduh! maaf atuh Neng! Aa hanya ingin menyapa calon istri Aa!" jawab Burhan dengan percaya diri yang tinggi.
Shasa melengos mendengar kalimat yang diucapkan oleh Burhan. Rasanya, ia menjadi mual melihat kehadiran Burhan saat ini, "minggir! aku mau pulang!" ujar Shasa seraya mengibaskan tangannya.
"eit ... eit ... eit! sebelum pergi doakan Aa dulu dong, Neng! hari ini Aa mau daftar jadi kepala desa, kan sebentar lagi bapak mertua Neng geulis jabatannya sudah selesai! nanti Aa mau mencalonkan diri saat pilihan kepala desa lagi!" ucap Burhan dengan suara yang lirih.
Shasa bergidik ngeri setelah mendengar ucapan Burhan. Bayang-bayang Burhan menjadi KADES membuat Shasa berkali-kali menggelengkan kepala.
"aduh ... aduh ... aduh! calon istri Aa kok bengong sih! ya sudah Aa duluan ya, sebelum Aa berangkat, Aa harus izin dulu nih sama Pak Cipto, calon mertua Aa nanti!" ujar Burhan sebelum menghidupkan motor maticnya.
__ADS_1
Mata indah itu terbelalak sempurna setelah mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Burhan. Namun, belum sempat Shasa menjawab, Burhan telah berlalu begitu saja, ia seakan tahu jika setelah ini akan mendengar umpatan Shasa.
"aku harus segera pulang nih! sebelum si Bubur ngomong aneh-aneh ke Ayah!" gumam Shasa sebelum mengayun sepedanya.
Ciiit!!
Shasa mendadak menghentikan sepeda karena tiba-tiba saja Luna menghadangnya tepat di depan rumah. Gadis tanpa polesan make up menor dan bulu mata anti badai itu berkacak pinggang dengan pandangan yang tak lepas dari Shasa.
"Dasar Cewek ganjen! kamu pasti ngegodain Aa Burhan 'kan!" tuduh Luna dengan mata yang terbelalak.
"Eh, Culun! gak ada dalam sejarah, Maisha Setyorini menggoda pria duluan!" sarkas Shasa dengan tatapan yang tajam.
"Awas aja ya kalau sampai kamu ganjen ke Aa Burhan! asal kamu tahu, dia itu calon suamiku!" ujar Luna dengan suara yang lantang.
Shasa tergelak setelah mendengar pengakuan dari Luna. Sungguh, ia tidak bisa menahan tawanya saat membayangkan dua orang aneh itu bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan. Gelak tawa Shasa berhasil membuat Luna semakin meradang.
"Stop!" teriak Luna, "berani-berani ya kamu menertawakan aku sama Aa!" ujar Luna.
Shasa memundurkan sepeda nya, ia bersiap untuk kabur dari Luna sebelum mengucapkan kalimat terakhir yang bisa membuat luna semakin marah, "sama-sama aneh dan gak jelas!" sarkas Shasa ketika mulai mengayun sepeda nya.
Benar saja, suara Luna mulai terdengar nyaring apalagi saat Shasa sempat menoleh ke belakang dan menjulurkan lidahnya ke arah Luna. Ia tertawa puas karena berhasil membuat haters nya itu marah besar di pinggir jalan.
Beberapa menit kemudian, Shasa semakin dekat dengan rumahnya. Ia melihat motor piciex milik burhan terparkir di depan bengkel bertuliskan 'dokter spesialis Ban motor dan mobil' milik ayahnya. Shasa menyandarkan sepedanya di tiang bengkel tanpa suara, ia mengendap-endap untuk mencuri dengan obrolan antara orangtuanya dan Burhan di dalam warung.
"Saya itu cinta sekali sama Neng Shasa loh, Pak Cip. Sayangnya Neng Shasa belum cinta sama saya!"
"Saya datang kesini hanya untuk mohon doa restu kepada Pak Cip dan Bu Kom, setelah ini saya akan berangkat mendaftarkan diri sebagai Kepala desa di sini."
Beberapa menit kemudian Shasa mencari tempat persembunyian setelah Burhan pamit pulang. Ia bersembunyi di balik tumpukan ban yang ada di sebelah bengkel ayahnya.
"Maa!" Shasa memanggil bu Kokom yang sedang berdiri di depan warung.
__ADS_1
"kamu beli wortel ke Korea ya?" tanya Kokom seraya berkacak pinggang.
Shasa segera masuk ke dalam warung, ia tak menghiraukan bu Kokom yang sedang ngedumel di belakangnya. Shasa duduk di sisi pak Cipto yang sedang menikmati secangkir kopi hitam buatan bu Kokom.
"tadi Burhan kesini, katanya dia cinta sama kamu loh!" ucap Pak Cipto seraya menatap Shasa yang sedang duduk bersandar.
"iya, katanya dia mau mendaftarkan diri menjadi Kepala desa loh, Sha!" sahut Bu Kokom sambil membersihkan wortel.
"Terus?" jawab Shasa tanpa menatap kedua orang tua nya.
"daripada kamu ngelamar kerja kesana kemari, mending kamu nikah saja sama Burhan, Sha! nanti kalau Burhan terpilih jadi KADES, kamu pasti jadi bu KADES Sha!" ujar bu Kokom dengan antusias.
Shasa mengerucutkan bibirnya setelah mendengar penjelasan dari bu Kokom. Terbesit rasa kecewa di hati Shasa setelah mendengar bu Kokom yang menyuruhnya untuk menikah muda.
"Burhan itu bukan selera Shasa, Ma! Shasa gak suka sama cowok aneh seperti Burhan!" ujar Shasa seraya menatap Bu Kokom.
"lalu seperti apa seleramu, Sha?" tanya Bu Kokom seraya menaikkan satu alisnya.
"Shasa itu pengen punya suami seorang CEO, Ma!" ucap Shasa tanpa berpikir panjang.
"Memang CEO itu apa?" tanya Pak Cipto setelah meletakkan cangkir gelasnya.
"Lebih gampangnya, CEO itu pemilik perusahaan, Yah! minimal pemilik pabrik gitu lah, Yah!" ucap Shasa seraya menatap Pak Cipto.
"Terus kalau bisa dia bule, Yah! seperti pria tampan yang fotonya ada di kamar Shasa itu!" ujar Shasa dengan senyum secerah mentari pagi ketika teringat senyum menawan aktor kesayangannya, Jamie Dornan.
Shasa, bu Kokom dan pak Cip mengalihkan pandangan ke arah pintu belakang warung yang terhubung ke rumah, saat mendengar ucapan Yulia yang membuat Shasa menjadi kesal,
"Kalau mau suami bule, kamu jadi TKW aja, Sha! cari agency yang bisa menyalurkan kamu ke negara yang kamu inginkan! gampang 'kan?"
๐นTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka โฅ๏ธ๐ Nah kan, pilih jadi TKW atau bu KADES aja, Sha?๐๐น
__ADS_1
...๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท...