
Hamparan rona jingga di cakrawala barat menemani sang raja sinar kembali ke peraduan. Langit cerah perlahan menjadi gelap karena sang dewi malam masih bersembunyi di balik awan.
"Apa keadaanmu sudah lebih baik?" tanya Geral sambil memijat tengkuk sang istri.
Shasa hanya menggeleng pelan karena perutnya masih terasa tidak nyaman. Entah berapa banyak cairan yang dimuntahkan Shasa ke dalam closet. Seperti kemarin, menjelang malam ia merasakan pusing dan mual-mual. Tubuhnya menjadi lemas seperti kehilangan banyak tenaga.
"Mari ku bantu berdiri, Sha!" ucap Geral setelah berdiri di belakang sang istri.
"Aku maunya digendong!" jawab Shasa dengan suara yang lirih. Ia menengadahkan kepala agar bisa menatap sang suami.
Geral hanya mengulum senyum mendengar hal itu. Tanpa banyak protes, ia segera mengangkat tubuh itu untuk dibawa ke ranjang, "Kamu harus makan agar tidak kehilangan tenaga," ucap Geral setelah merebahkan tubuh Shasa.
"Iya, nanti saja setelah perutku terasa nyaman," jawab Shasa, "Mending kamu ke bawah saja, Ge! Nemenin Mami sama Ayah Rojali," ucap Shasa sambil mengusap lengan Geral.
Bu Juleha dan Pak Rojali datang menjelang sore. Sepertinya, rencana syukuran akan ditunda karena sembako yang dipesan belum lengkap. Kemungkinan besar syukuran itu akan digelar besok pagi.
"Oke, sekalian aku bantu-bantu di bawah." Geral beranjak dari tempatnya. Ia meninggalkan Shasa seorang diri di kamar.
Satu persatu anak tanggal telah dilalui Geral hingga sampai di ruang keluarga, di sana ada beberapa kerabat dekat bu Kokom sedang berkumpul mengemas sembako yang akan dibagikan besok. Geral pun melihat bu Juleha bersama bu Kokom bekerja sama mengatur tempat untuk acara besok
"Sini, Mi, biar Geral saja yang membenahi ini!" ucap Geral setelah berdiri di samping ibunya.
__ADS_1
"Eh ... eh ... eh ... Kenapa kamu di sini! Lebih baik temani istrimu saja!" sergah bu Juleha saat menatap Geral sekilas.
"Iya, Kasep! Kamu tidak usah bantu kami, lebih baik di kamar saja bersama Shasa! Temani dia, kasih perhatian lebih karena ibu hamil suka jika suaminya lebih perhatian," sahut bu Kokom.
Geral menghela napasnya setelah mendengar sang kedua ibu itu menyuruhnya kembali ke kamar, "Saya jadi bingung! Tadi Shasa yang menyuruh saya turun bantu-bantu pekerjaan di bawah, sekarang ... Mama dan Mami menyuruh saya balik ke kamar. Jadi, saya ini harus bagaimana?" Geral terlihat bingung sendiri.
"Balik ke kamar!" jawab bu Kokom dan bu Juleha serempak.
Akhirnya, Geral pun mengikuti perintah kedua ibu itu. Ia kembali mengayun langkah ke kamar untuk menemani sang istri. Satu persatu anak tangga kembali di lalui Geral agar sampai di lantai dua, tempat kamarnya berada.
"Loh kenapa kembali lagi?" tanya Shasa setelah melihat pintu kamarnya terbuka.
Geral menarik tubuh sang istri agar masuk dalam dekapannya. Ia menghujani puncak kepala Shasa dengan kecupan penuh kasih, "Terima kasih sudah memberikan aku hadiah terindah," ucap Geral setelah puas menghirup rambut harum sang istri. Tangannya tak henti mengusap perut itu.
"Justru aku yang harus berterima kasih! Terima kasih sudah menghamiliku!" ucap Shasa dengan diiringi gelak tawa setelahnya.
"Hey! Itu sudah kewajibanku!" jawab Geral dengan yakin.
Suara gelak tawapun akhirnya menggema dalam kamar tersebut. Keduanya benar-benar menikmati waktu berdua dengan membahas hal-hal lucu yang ada di sekitar mereka.
"Eh, kira-kira si Bubur sama si Culun udah berangkat honeymoon apa belum ya?" gumam Shasa ketika teringat pasangan pengantin baru itu.
__ADS_1
"Sepertinya belum, Sha! Pasti mereka masih lelah, kan kamu tahu sendiri tamunya kemarin banyak banget!" jawab Geral
"Iya juga ya! Pasti sekarang mereka berdua tangannya kebas!" Shasa tergelak setelah membayangkan hal itu.
Shasa terus tertawa saat sekelebat bayangan Luna dan Burhan malam pertama. Entah, apa yang membuatnya tergelitik hingga tertawa lepas seperti itu. Geral sendiri sampai dibuat heran.
"Sudahlah! Jangan menertawakan mereka lagi! Ingat! Kamu sedang hamil," ujar Geral yang membuat Shasa menghentikan tawanya, "Memangnya kamu mau, anak kita jadi aneh seperti mereka?" tanya Geral tanpa melepaskan pandangan dari wajah sang istri.
Shasa menggeleng pelan. Tentu saja, pertanyaan yang dilayangkan Geral membuat tubuhnya meremang. Ia tidak terima jika anaknya nanti seperti musuh bebuyutannya itu.
"Hey! Kalau ngomong hati-hati dong! Mana bisa begitu! Yang punya bibit kita berdua, kenapa anak kita harus seperi mereka! Jangan merubah ilmu genetika sembarangan, ya!" Sarkas Shasa sambil menatap Geral penuh arti.
πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka πβ₯οΈπΉ
ββββββββββββββββ
Hallo selamat siang bestyπ othor gemol mau merekomendasikan karya keren buat kalian nih. Jangan lupa kepoin karya author AdindaRa dengan judul Gadis Scorpioβ₯οΈ Jangan sampai ketinggalan ceritanya ya besty
...π·π·π·π·...
__ADS_1