
"Neng Geulis!"
Shasa membalikkan tubuh kala mendengar suara yang tidak asing di indera pendengarannya. Sejenak ia tertegun kala melihat kehadiran pria yang sudah ditolaknya berkali-kali itu. Shasa mengamati pria tersebut dari ujung rambut sampai ujung kaki untuk memastikan kebenarannya.
"Bubur! kamu beneran Bubur?" tanya Shasa dengan pandangan yang tak lepas dari pria yang diduga adalah Burhan.
"Iya, saya Burhan, Neng!" jawab Burhan dengan senyum yang merekah, "aduh ... aduh ... aduh ... Aa gak nyangka ketemu Neng Geulis di sini!" ucap Burhan kegirangan.
"memang kamu mau kemana?" tanya Shasa sambil menatap Burhan.
"Saya ada keperluan di Cibiru dan setelah selesai saya mau nyari alamat Neng Geulis, saya ingin bertemu Neng Geulis!" ucap Burhan dengan percaya diri.
"kamu mau nyari saya?" Shasa menatap Burhan heran, "ada apa?" lanjut Shasa.
"Saya kangen sama Neng Geulis," ucap Burhan dengan suara yang lirih, "kenapa Neng ada di pinggir jalan?" Burhan baru sadar jika Shasa berdiri seorang diri di pinggir jalan.
Shasa hanya diam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Burhan. Shasa gengsi jika mengatakan yang sebenarnya, ia harus mencari alasan yang tepat agar Burhan tidak curiga.
"aku tadi terpisah sama suamiku." Shasa menjelaskan alibi nya agar Burhan percaya, "sialnya, tasku ada di dalam mobil, jadi aku tidak bisa menghubungi dia, jalan pulang pun aku tidak tahu," jawab Shasa dengan helaian napas yang berat.
Burhan tersenyum penuh kemenangan. Tugas dari orang tuanya ternyata membawa rezeki untuknya. Niat hati ingin menjadi tamu di rumah Shasa, sekarang malah bertemu langsung dan mempunyai kesempatan untuk mengantar Shasa pulang.
"Aa tau loh di mana alamat Neng geulis!" ucap Burhan dengan suara yang sangat lirih.
Tentu saja Shasa terkejut mendengar hal itu, bahkan ia sendiri tidak tahu pasti alamat rumah mertuanya di mana. Shasa menarik napasnya dalam agar Burhan tidak curiga. Satu hal yang terpaksa Shasa lakukan saat ini, ia harus bisa membuat Burhan mau mengantarnya pulang karena tidak ada lagi harapan selain Burhan.
"Masa sih?" Shasa pura-pura tidak percaya saat menanggapi ucapan Burhan, "kamu pasti bohong 'kan?" Shasa menuduh Burhan agar pria tersebut melakukan sesuatu.
"Tidak! Aa tidak bohong! biar Neng Geulis percaya, ayo Aa antar pulang!" Jawaban yang diinginkan oleh Shasa akhirnya diucapkan oleh Burhan.
"Siapa takut! ayo kita buktikan!" tantang Shasa dengan senyum penuh arti.
__ADS_1
Akhirnya, Shasa mengikuti langkah Burhan menuju mobil sedan yang ada di depan sebuah ruko kosong. Senyum penuh kemenangan terbit dari bibir Shasa karena berhasil pulang tanpa harus bersusah payah. Kedua orang berbeda jenis kelamin itu pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan tidak lama setelah itu, mobil melaju kencang mengikuti arah dari gugel mep.
"Neng Geulis pasti penasaran ya kenapa Aa bisa tau alamat rumah suami Neng?" tanya Burhan seraya menatap Shasa sekilas.
"Ogah! aku mah bodo amat!" jawab Shasa dalam hatinya.
Shasa menggaruk rambutnya seraya menatap Burhan. Ia bingung harus menjawab bagaimana. Haruskah ia merespon pertanyaan Burhan yang menjadi dewa penolongnya malam ini.
"eeem ... aku tidak ingin tahu kamu dapat alamat suamiku dari siapa, yang jelas aku berterima kasih karena kamu sudah bersedia mengantarku pulang," jawab Shasa seraya menatap Burhan sekilas.
"Aa boleh mampir ke rumah gak, Neng?" tanya Burhan lagi.
"kalau itu aku tidak bisa menjawab, kamu pasti ngerti kan posisiku saat ini bagaimana?" jawab Shasa tersenyum manis.
Melihat sikap manis yang ditunjukkan Shasa saat ini, membuat bunga-bunga asmara di hati Burhan bermekar indah. Ia seakan lupa jika wanita yang ada di sampingnya adalah wanita bersuami. Obsesinya kepada Shasa telah membuat logika Burhan terganggu.
"Neng, ini sudah masuk perumahan tempat tinggal Neng Geulis 'kan?" Burhan menurunkan kecepatan mobilnya.
Burhan mengamati satu persatu rumah yang di blok yang ditunjukkan oleh Shasa. Burhan penasaran dengan tempat tinggal suami Shasa yang terkenal orang kaya di tempatnya.
"stop!" ujar Shasa ketika mobil yang dikendarai Burhan melewati rumah Geral.
"ini rumah Neng geulis sekarang?" tanya Burhan ketika melihat rumah paling mewah di antara rumah yang lainnya. Jujur saja Burhan kagum melihat apa yang ada di hadapannya saat ini.
Shasa melihat mobil Geral terparkir di halaman rumah, lalu pandangannya menangkap sosok yang membuatnya kesal malam ini sedang bersandar di pilar teras dengan tangan yang bersedekap.
"Eh Bubur, bisa nurunin aku di halaman rumah gak? kalau di sini kan aku gak enak sama tetangga, nanti aku di kira aneh-aneh 'kan?" ucap Shasa ketika sekelebat ide gila muncul di kepalanya.
"Siap, Neng! lagian Aa gak akan ngebiarin Neng Geulis turun di pinggir jalan!" ucap Burhan seraya mengarahkan setir mobilnya ke kanan agar bisa masuk ke pekarangan luas rumah Geral.
Shasa segera turun dari mobil setelah Burhan menghentikan mobilnya. Ia berjalan memutari mobil dan mengetuk kaca samping agar Burhan membuka kaca jendela. Shasa tahu jika Geral memperhatikan gerak-geriknya tapi Shasa bersikap acuh.
__ADS_1
"terima kasih ya, Bur!" ucap Shasa dengan senyum manis yang membuat Burhan klepek-klepek.
"Neng Geulis tidak usah berterima kasih atuh, apapun akan Aa lakukan demi Neng Geulis," ucap Burhan dengan senyum yang tak lepas dari Shasa.
Obrolan terus berlanjut karena Shasa ingin sekali Geral marah karena melihatnya akrab dengan seorang pria. Shasa mencoba tertawa lepas dan bersikap ramah kepada Burhan untuk memancing reaksi Geral.
"Wah ... sepertinya ada yang seru, nih!" Benar saja, sesuai dugaan Shasa sebelumnya, Geral pasti datang menghampirinya.
"Oh, ternyata pak lurah toh!" gumam Geral setelah mengetahui siapa yang duduk di balik kemudi.
"Bro, kalau istrinya hilang dicari dong! kalau nanti diembat pria lain gak nyesel nih?" ujar Burhan dengan senyum smirk.
Geral tiba-tiba saja melingkarkan tangannya di pinggang Shasa. Ia ingin menunjukkan bahwa Shasa adalah miliknya, "terima kasih sudah mengantarkan istriku pulang," ucap Geral dengan tatapan yang tak lepas dari Burhan.
Burhan pun segera pamit pulang ketika melihat adegan yang ada di hadapannya. Bunga asmara layu seketika kala melihat Shasa hanya diam saja saat Geral memeluk pinggangnya.
"Hati-hati ya, Bur," ucap Shasa saat melambaikan tangan kepada Burhan.
Setelah mobil yang dikendarai Burhan hilang dari pandangan. Shasa mengalihkan tatapannya kepada sosok pria yang ada di sampingnya. Ia menampilkan wajah penuh amarah ketika ingat bagaimana perlakuan Geral beberapa waktu yang lalu.
"Jangan dekat-dekat denganku!" Shasa menghempaskan tangan Geral yang melingkar di pinggangnya.
"Dasar pria sinting!" umpat Shasa sebelum pergi dari sisi Geral.
🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍 ♥️ Maaf banget ya othor upnya gk konsisten🙏 jangan lupa tulis komentar kalian agar othor semangat update😍😍
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Seperti biasa, othor akan merekomendasikan karya keren dari salah satu temen othor😍Kepoin yuk biar gak penasaran😍
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...