Suamiku CEO Cilok

Suamiku CEO Cilok
Ungkapan sebuah rasa,


__ADS_3

Sinar matahari telah berganti dengan sinar rembulan. Malam ini langit tampak cerah karena rembulan menampakkan wujud sempurnanya. Ribuan bintang nyatanya tidak bisa mengalahkan pesona sang dewi malam kala wujud sempurna itu muncul.


Derap langkah Geral terdengar di lorong rumah sakit yang sepi itu. Bukan karena angker atau apalah itu yang berbau mistis melainkan karena Geral sedang berada dalam gedung khusus kelas satu, Vip dan VVIP. Beberapa paper bag yang berisi barang-barang Shasa pun ada dalam genggaman putra semata wayang bu Juleha itu.


Ceklek.


Geral mengedarkan pandangan ke dalam ruangan setelah membuka pintu kamar inap sang istri. Ia melihat pak Rojali ada di sana. Namun, ia mengernyitkan kening kala melihat hospital bed yang kosong.


"Kemana istri saya?" tanya Geral setelah sampai di dekat pak Rojali.


"Oh, si Eneng masih di bawa ke Radiologi," jawab pak Rojali setelah mengalihkan pandangan ke arah putra sambungnya itu, "Sebentar lagi pasti kembali," ucap pak Rojali.


Benar saja, beberapa menit setelah itu. Pintu kamar terbuka lebar. Seorang perawat mendorong Shasa di kursi roda dan bu Juleha mengekor di belakangnya. Tatapan mata Geral fokus pada kedua kaki sang istri. Ia mengernyitkan keningnya setelah melihat keadaan kaki itu. Bengkak dan semakin melepuh.


"Kamu diam saja! biar aku yang mengangkatmu ke atas bed!" ujar Geral ketika melihat Shasa berusaha bangkit dari kursi roda.


Setelah Shasa pindah di atas hospital bed, perawat tersebut pamit keluar dari ruangan. Kini, dalam ruangan itu tinggallah pak Rojali, bu Juleha, Geral dan tentunya Shasa yang sedang terbaring di atas bednya.


"Bagaimana dengan Eren?" tanya bu Juleha setelah Geral duduk di sofa tepat di samping beliau.


"Dia sudah Geral pecat!" ucap Geral dengan pandangan lurus ke depan.


"Kenapa gak dilaporin ke kantor polisi saja, sih!" protes bu Juleha setelah mendengar jawaban Geral.


Akhirnya Geral menceritakan apa yang sudah terjadi saat bertemu Eren di rumah produksi. Tidak ada sedikitpun yang di sembunyikan Geral dari Shasa ataupun bu Juleha. Ia pun jujur jika merasa kasihan dengan Eren saat ini.


"Lebih baik Geral fokus untuk kesembuhan Shasa dulu, Mi! Toh, Eren juga sudah menjauh dari keluarga kita!" ucap Geral sebelum beranjak dari tempatnya. Ia berjalan menuju bed, tempat Shasa terbaring saat ini.

__ADS_1


Geral menghela napasnya setelah mengamati kaki sang istri. Tubuhnya meremang setelah membayangkan apa yang dirasakan Shasa saat ini. Pasti menyakitkan dan panas. Ia menurunkan selimut yang menutupi bagian atas tubuh istrinya itu.


"Jangan diselimuti, Ge! biarkan saja seperti ini!" ujar Shasa saat mengetahui apa yang dilakukan Geral.


"Maaf, aku tidak tahu," sesal Geral sambil membenarkan posisi selimut di tubuh sang istri.


Tidak lama setelah itu, bu Juleha dan pak Rojali pun pamit pulang. Mungkin bu Juleha lelah karena seharian ini menunggu Shasa saat Geral menyelesaikan pekerjaannya. Kini, tinggallah sepasang suami istri itu di dalam kamar inap.


"Kamu udah makan?" tanya Geral yang sedang menatap Shasa.


"Udah, tadi dibelikan ayah nasi padang," jawab Shasa seraya mengubah posisi menjadi duduk.


Helaian napas berat terdengar di sana kala Shasa mengamati keadaan kakinya saat ini. Jujur saja ia sedih melihat kaki yang melepuh itu, apalagi kulitnya yang putih mulus harus terluka seperti itu.


"Jangan sedih! kakimu pasti pulih! aku akan melakukan yang terbaik untukmu!" ucap Geral seraya menggenggam tangan Shasa. Ia pun sedih melihat Shasa terus menitikkan air matanya.


"Lihatlah, Ge! Kaki ku jadi seperti itu! kulitku tidak mulus lagi!" keluh Shasa di sela-sela isak tangisnya. Ia pun mengusap air mata yang membasahi pipi.


"Ge, kalau kaki ku tidak bisa pulih, apakah kamu masih menerimaku sebagai istrimu? apakah kamu akan kembali kepada Eren dan meninggalkanku, Ge?" cecar Shasa tanpa menatap Geral, ia semakin menenggelamkan wajahnya di dada yang nyaman itu.


"Aku tau kamu pasti masih memiliki rasa kepada Eren. Buktinya kamu meloloskan dia hari ini," imbuh Shasa.


"Aku tahu kamu tidak mencintaiku tapi jangan lakukan itu, Ge! Jangan mencampakkan aku karena aku tidak cantik lagi!" Shasa semakin terisak dalam dekapan Geral. Ia meremat kaos yang dipakai Geral dengan kuat.


Geral hanya diam saja saat mendengar keluh kesah yang diucapkan oleh Shasa. Bagaimana bisa istrinya itu punya pikiran dangkal seperti itu. Bahkan, ia sendiri tidak menemukan nama Eren lagi dalam hatinya. Geral merasa biasa saja saat ada Eren di dekatnya selama beberapa hari ini.


"Udah ngomongnya, Sha?" tanya Geral ketika merasakan keheningan di dalam kamar tersebut.

__ADS_1


Geral mengurai tubuh Shasa, ia mengusap sisa air mata yang membasahi pipi mulus itu. Geral pun duduk di tepi hospital bed seraya menatap Shasa dengan intens. Tidak lama setelah itu, kedua sudut bibir itu pun tertarik ke dalam saat Geral meraih telapak tangan Shasa.


"Aku tidak memiliki perasaan apapun kepada Eren, Sha! yang aku lakukan tadi hanya karena kasihan!"


"Aku tidak mau berlarut-larut berurusan dengan dia. Maka dari itu, aku membiarkan dia pergi. Aku tidak mau jika dia ada di sekeliling kita lagi," ucap Geral dengan pandangan yang tak lepas dari Shasa.


"Kamu salah jika mengatakan aku masih memiliki rasa kepada Eren. Nyatanya, aku tidak menemukan itu dalam hatiku, justru ... aku sangat takut jika kehilangan kamu." Geral semakin mendekatkan diri dengan Shasa.


"Aku tidak tahu Sha, sejak kapan aku memiliki perasaan ini, yang aku tahu ... Saat ini, aku mencintai kamu, bukan Eren ataupun wanita yang. lain," ucap Geral dengan diiringi senyum yang sangat manis.


Shasa tertegun setelah mendengar kalimat panjang yang diucapkan oleh Geral. Ia menatap manik hitam yang sedang menatapnya itu. Ia belum percaya jika Geral mengungkapkan perasaannya. Apakah berarti perasaannya akan terbalas setelah ini?


"Kamu tidak sedang menghiburku kan, Ge?" Shasa meyakinkan apa yang diucapkan oleh Geral.


"Tidak, Sha! aku tidak pernah main-main dengan perasaanku!" jawab Geral dengan yakin.


"Aku mencintaimu, Sha! Aku berharap jika kamu memiliki perasaan yang sama denganku," ucap Geral dengan tatapan penuh harap.


Sekali lagi, bulir air mata itu turun membasahi pipi. Kali ini adalah air mata bahagia karena apa yang diinginkan Shasa selama ini akhirnya terwujud. Perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan lagi setelah ini.


"Aku pun sudah memiliki perasaan itu jauh sebelum kamu memilikinya, Ge!" ucap Shasa dengan pandangan yang tak lepas dari Geral.


...🌹Selamat membaca🌹...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Hallo Zheyenk 😍 Untuk kalian yang suka karya semi religi, kuy mampir ke cerita othor yang sudah tamat. Ceritanya menguras emosi jiwa dan raga loh😂maap ya, othornya lebay dikit😀 Ketik di kolom pencarian, Surga Hitam, karya Tie tik yakk😀awas jangan sampai salah😍

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2