
Mentari pagi telah menampakkan diri. Sinarnya menghangatkan jiwa-jiwa yang berperang dengan rasa dingin, sisa semalam. Warung bu Kokom pun mulai buka, menunggu pelanggan yang datang hanya sekedar untuk menikmati kopi dengan selingan ghibah ala bapak-bapak.
"ini catatan belanja ke toko Ceu Ella, kalau ini catatan belanja ke warung sayur. Terserah kamu mau belanja di warung sayur siapa, yang pasti pulang harus bawa taoge!" ucap bu Kokom seraya menyerahkan dua lembar kertas kepada Shasa.
"ini uangnya cukup kan, Ma?" Shasa memastikan uang belanjaan dari bu Kokom.
"cukup, Sha! sudah mama hitung! kalau kamu pakai beli kolak di kedainya si Itok ya pasti kurang!" ujar bu Kokom tanpa menatap Shasa, beliau sibuk membuat pisang goreng.
"ongkir, Ma! ongkir!" jawab Shasa sebelum berlalu dari hadapan sang Mama. Ia meraih kunci motor yang ada di atas kulkas dan keluar dari warung.
Bibir Shasa melengkung indah tatkala semilir angin mulai menyapanya pagi ini. Pemandangan hijau yang memanjakan mata semakin menambah semangat untuk menjalani hari. Shasa melajukan motornya dengan kecepatan pelan—menikmati suasana pagi yang menyegarkan.
Berita tentang lamaran Shasa telah tersebar luas di daerah tempat tinggalnya. Saat ini, Shasa menjadi trending topik di semua kalangan. Setelah menolak lamaran anak kepala desa kini Shasa menerima lamaran dari orang kaya dari luar kota. Berita tersebut menyebar dalam kurun waktu dua hari ini saja. Sungguh hebat kekuatan sinyal ghibah dari para ibu-ibu yang suka ghibah offline seperti Yulia.
"Ceu ... Ceu Ella! Neng Geulis mau belanja nih!" teriak Shasa setelah sampai di toko Ceu Ella.
"Ceu ... ini catatannya! Neng tinggal sebentar ya!" ucap Shasa seraya menyerahkan kertas yang berisi catatan belanja dagangan warung.
"Eh, Sha ... bener itu kabar dari orang-orang kalau kamu mau lamaran bulan ini?" tanya Ceu Ella sebelum Shasa berlalu pergi.
"Iya Ceu, alhamdulillah," jawab Shasa dengan diiringi senyum yang sangat manis.
"Ceu ceu gak pernah menyangka kalau kamu lamaran secepat ini, selama ini kan kamu tidak pernah jalan sama pria," ujar ceu Ella.
"Iya Ceu, biar jadi kejutan untuk orang-orang yang suka ngegosipin saya!" sarkas Shasa yang membuat pipi ceu Ella bersemu merah. Mungkin ceu Ella ini salah satu orang yang biasa ikut jamaah ghibah offline.
Setelah berbincang-bincang sebentar, Shasa segera pergi dari toko ceu Ella. Ia harus segera mendapatkan taoge sebelum penjual sayur tutup. Shasa melajukan motornya ke warung sayur yang tidak jauh dengan toko ceu Ella. Jauh dari rumah Luna yang super menyebalkan itu.
__ADS_1
Satu kilogram taoge sudah didapatkan Shasa, ia segera kembali ke toko ceu Ella sebelum bertemu Luna, karena warung sayur ini bersebalahan dengan Kantor Kelurahan, tempat Luna dinas setiap harinya.
"yaampun! dia udah nongol!" gerutu Shasa ketika melihat Luna datang dari arah berlawanan.
"hmmm ... sepertinya aku harus pamer nih! sesekali bikin dia kesel!" gumam Shasa dengan iringan senyum smirk.
Seperti dugaan Shasa, Luna menghentikan motor matic enmex putih yang dikendarainya di sisi motor Shasa. Luna melepas masker kain yang menutupi mulutnya agar leluasa mencaci Shasa.
"Denger-denger kamu mau lamaran, ya?" tanya Luna seraya menatap Shasa dengan tatapan sinis.
"iya, dong! kan aku cantik! jadi, pastilah banyak yang antre!" ucap Shasa seraya tersenyum penuh arti.
Luna mengalihkan pandangannya ke samping. Ia menatap Shasa dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapannya kembali fokus ke perut Shasa untuk memastikan pikiran negatif yang ada di kepalanya.
"Jangan-jangan kamu hamil duluan, ya! maka dari itu lamarannya cepet!" cibir Luna dengan suara yang keras.
"sabar, Sha! sabar ...." batin Shasa.
"Dih! maaf nih ya! wanita berkualitas seperti ku ini gak mungkin naik ke atas ranjang pria! apalagi sampai harus tidur dalam selimut yang sama dan hamil di luar nikah!" Sarkas Shasa yang berhasil membuat pipi Luna semakin terlihat merah.
"barang berkualitas hanya terpajang di etalase, tak perlu dipromosikan apalagi sampai di diskon lima puluh persen di depan toko!" ujar Shasa dengan bangganya.
"Helleh! lagian siapa sih yang mau menjadikan kamu istri! orang berduit mana ada yang mau punya besan mantan koruptor!" sarkas Luna dengan ekspresi wajah yang mengesalkan.
Shasa bungkam setelah mendengar ucapan Luna. Ia benar-benar kesal karena sejak masih SD, Luna selalu membully nya dengan kata 'anak koruptor'. Hal itu selalu menghantui jiwa Shasa saat kecil hingga ia menjadi minder dan jarang sekali keluar rumah. Bisa dikatakan jika Shasa tidak mempunyai teman dekat saat sekolah. Kebiasaan itu pun terbawa hingga Shasa duduk di bangku SMP, SMA sampai kuliah.
"Eh, ondel-ondel! ayahku tidak pernah korupsi, ya! yang korupsi itu papamu!" Shasa tak mau kalah dengan Luna karena memang orang tuanya tidak pernah melakukan hal itu.
__ADS_1
"Kaya hasil korupsi dan merampas hak orang lain aja bangga!" cibir Shasa hingga membuat Luna turun dari motonya.
Luna meradang setelah mendengar cibiran dari Shasa, ia mendekat ke tempat Shasa dan bersiap melayangkan sebuah tamparan untuk gadis cantik yang ada di hadapannya. Namun, ia segera menurunkan tangannya ketika melihat Burhan keluar dari kantor kelurahan.
"Eh, Aa Burhan!" sapa Luna setelah Burhan berdiri di samping Shasa.
"Neng Geulis, kenapa Neng tega sama Aa?" Burhan mengacuhkan Luna, ia tak menjawab sapaan dari Luna, ia fokus kepada wanita yang sudah mencuri hatinya selama ini.
Bibir luna mengerucut setelah melihat sikap Burhan. Jujur saja ia cemburu melihat Burhan masih saja perhatian kepada Shasa walau sudah ditolak mentah-mentah oleh gadis saingannya itu.
"Eh, Bubur! gak boleh begitu! itu si Luna nyapa kamu loh! masa iya dicuekin begitu!" ujar Shasa dengan suara yang sangat lembut, sesekali ia melirik Luna yang terlihat kesal.
"nanti saja Aa urus si Luna! Sekarang Aa tuh butuh penjelasan Neng geulis tentang berita lamaran Neng yang tersebar luas!" ujar Burhan dengan pandangan yang tak lepas dari Shasa.
"Maaf ya, Bubur ... sepertinya kamu harus move on! aku sebentar lagi akan menikah!" ucap Shasa dengan diiringi senyum yang melengkung indah.
Burhan terus merayu Shasa agar membatalkan lamarannya dengan pria lain. Burhan membujuk Shasa agar menerima lamaran darinya. Tentu saja, semua itu membuat Luna semakin kesal. Selama ini Burhan tak pernah bersikap baik kepadanya, ngobrol santai pun tak pernah.
Shasa tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil membuat musuh bebuyutannya itu kalah telak. Sebelum ia pergi dari hadapan dua orang aneh ini, Shasa memberi kode kepada Luna agar mendekat.
"kalau pengen dapetin si Bubur, jebak dia agar menghamili mu seperti cerita di sinetron dan novel-novel!" bisik Shasa yang membuat Luna melebarkan mata.
🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ♥️😍🌹
...FB: Titik Pujiningdyah || IG: @tie_tik...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1