
Tiga bulan kemudian ....
"Daddy! Kalau disuruh jagain yang bener dong! Masa baru ditinggal sebentar aja udah nangis lagi!" teriak Shasa dari kamar mandi.
Shasa mendengus kesal karena situasi yang terjadi saat ini. Bayangan berendam di bathup hilang sudah setelah mendengar tangis Joe. Ia segera keluar dari bathup dan meraih bathrobe yang tak jauh dari tempatnya berada.
Ya, Geral memang tak pernah benar jika menjaga putranya. Mungkin karena gemas, bayi berusia lebih dari tiga bulan itu, selalu menangis saat bersamanya. Entah itu karena waktu tidurnya terganggu atau karena pipi gembulnya yang dimainkan ayahnya sendiri.
"Aku gak ngapa-ngapain, Moms!" Geral menggelengkan kepalanya saat Shasa berkacak pinggang di hadapannya.
"Gak ngapa-ngapain kok Joe sampai menangis! Padahal dia tadi tidur pules loh!" sungut Shasa dengan raut wajah yang tak bersahabat.
Suara tangis Joe semakin kencang saat melihat kehadiran Shasa di sana. Bayi menggemaskan itu mungkin haus dan butuh asupan langsung dari sumbernya.
"Duh, anaknya Mommy kenapa lucu pisan! Pasti haus ya, Nak!" gumam Shasa ketika Joe berada di atas pangkuannya.
"Padahal Daddy juga haus loh, Moms! Pengen minum ucu seperti dedek Joe!" sahut Geral dengan ekspresi wajah yang dibuat semanis mungkin.
Shasa menatap tajam ke arah sang suami. Ia memberikan isyarat agar Geral tidak banyak bicara karena Joe mulai menutup kelopak matanya dan mungkin akan kembali tertidur pulas.
"Sayang! Kamu itu tidak adil loh! Semenjak Joe lahir kamu tidak mengizinkan aku menikmati sumber asupan Joe saat ini!" bisik Geral tatkala duduk di sisi sang istri.
"Memang kamu mau rebutan sama anakmu sendiri! Yang benar saja, dong!" cibir Shasa dengan suara yang lirih.
"Coba bayangkan, bagaimana kalau aroma rokokmu tertinggal di puncak dadaku! Pasti Joe akan terkontaminasi! Kamu mau terjadi apa-apa sama anak kita!" cibir Shasa lagi, kali ini ia menoleh ke arah sang suami.
__ADS_1
Geral mengulum senyum mendengar hal itu. Entah mengapa, ada rasa puas saat menggoda sang istri hingga menjadi kesal. Setelah melahirkan ia menjadi sensitif jika menyangkut tentang kesehatan Joe. Geral segera naik ke atas ranjang. Ia mulai merebahkan tubuhnya di belakang sang istri.
"Jangan bangun lagi, ya, Nak! Mommy mau melanjutkan mandi yang sempat tertunda tadi," gumam Shasa dengan suara yang sangat lirih.
Shasa meletakkan bayi menggemaskan itu dengan hati-hati. Ia memberikan sedikit jarak di antara Joe dan Geral. Guling besar itulah yang menjadi sekat antara ayah dan anak itu.
"Awas! Jangan sampai Joe bangun!" ancam Shasa sebelum berlalu menuju kamar mandi.
Shasa sengaja tidak memperkerjakan Baby sitter untuk membantunya merawat Joe. Ia ingin merawat Joe sendiri meski tubuhnya sering merasakan lelah. Setiap hari bu Juleha datang ke rumah ini untuk meluapkan rasa rindunya kepada cucu pertamanya itu.
Keadaan tenang terkendali hingga Shasa menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi. Joe masih pulas dalam tidurnya, begitupun dengan Geral. Putra tunggal bu Juleha itu ikut tertidur pulas di sisi anaknya. Shasa seperti melihat Geral dalam versi yang berbeda. Ia mengamati kedua wajah pria yang sangat ia sayangi itu.
"Kenapa bisa mirip gitu, ya?" Shasa bergumam saat sedang asyik mencari bagian tubuh Joe yang mirip dirinya.
"Sepertinya Joe gak ada mirip-miripnya sama aku," gumam Shasa dengan suara yang lirih.
Memiliki Joe dalam hidupnya, membuat Shasa melupakan cita-citanya. Sejak tahu bagaimana susahnya merawat bayi, Shasa memutuskan untuk berhenti menulis. Ia tidak mau stres gara-gara memikirkan alur novel.
Shasa hanya ingin menjadi ibu dan istri yang baik untuk keluarga kecilnya. Ia begitu menikmati masa-masa yang tidak akan terulang lagi jika Joe sudah besar nanti. Ia membiarkan cita-citanya terbang tinggi mengikuti laju angin yang tak pernah berhenti.
...****************...
Rona jingga telah pudar seiring dengan berubahnya langit biru yang menjadi gelap. Bintang bertaburan untuk menghiasi gelapnya malam. Sang rembulan memilih untuk menyembunyikan sebagian bentuknya di balik awan.
"Joe kalau malam tidurnya pules banget ya," gumam Geral ketika melihat putranya terlentang di sisi Shasa.
__ADS_1
"Iya, soalnya kalau siang dia nangis mulu digodain kamu sama Mami!" jawab Shasa sambil melepaskan sumber asi itu dari mulut Joe. Ia mengusap kaki Joe beberapa kali agar tidur nyenyaknya tidak terganggu.
Shasa turun dari ranjang—menyusul sang suami yang sedang duduk di sofa. Shasa menghempaskan diri di samping sang suami yang sedang menengadahkan kepala.
"Apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?" tanya Shasa seraya mengubah posisinya menyamping.
"Tidak ada! Aku hanya mencari inspirasi untuk kemajuan pabrikku!" jawab Geral dengan satu sudut bibir yang terangkat.
Shasa menepuk paha sang suami, ia mengembangkan senyum yang manis tepat saat pandangannya bersirobok dengan Geral.
"Jangan memforsir pikiranmu, Sayang! Jangan terlalu memikirkan pabrik karena semua itu akan membebani pikiranmu," ucap Shasa.
Geral hanya tersenyum mendengar penuturan itu. Ia meraih tubuh sang istri dan didekapnya dengan erat. Geral mengecup puncak rambut itu beberapa kali dengan segenap rasa yang ia miliki.
"Aku bersyukur karena memiliki istri seperti kamu. Kebahagiaanku semakin lengkap saat kita memiliki Joe sebagai pelengkap rumah tangga kita. Terima kasih karena kamu sudah sabar menghadapiku, Sayang," ucap Geral dengan tangan tak henti mengusap rambut hitam sang istri.
Shasa hanya tersenyum mendengar hal itu. Ia sendiri tidak menyangka jika takdir menuntunnya sampai di surga dunia yang begitu nikmat. Memiliki keluarga yang penuh kasih adalah sebuah anugerah terbesar dari Sang Pencipta.
"Tidak ada hal yang membahagiakan selain menjadi istrimu. Harapan memiliki suami seorang CEO telah terwujud meskipun Suami seorang CEO cilok. Tuhan begitu menyayangiku karena mengirimmu dalam hidupku yang penuh Halu. Aku sangat bahagia memiliki dua pangeran tampan dalam hidupku saat ini," Batin Shasa.
Sepasang suami istri itu menghabiskan malam dengan mencurahkan semua rasa yang ada di atas sofa merah maroon itu. Banyak hal yang sudah mereka bahas hingga lupa akan waktu. Waktu telah mengantarkan sepasang suami istri itu pada puncak kebahagiaan dalam rumah tangga. Shasa menatap manik hitam sang suami dengan tangan yang tak henti menyusuri rahang kokoh yang membingkai wajah tampan itu.
"Kamu adalah bentuk nyata dari fiksi yang ada dalam anganku! Aku harap sampai kapanpun, kamu akan tetap menjadi suami idamanku, wahai CEO cilok!" ucap Shasa dengan diiringi senyum yang sangat manis.
...🌹T A M A T🌹...
__ADS_1
...Mojokerto, 01 Juni 2022...
...🌹🌹🌹🌹...