
☘️
Setelah kemarin Miana mempermalukan diri sendiri hingga mendapat cercaan dari seisi bangku penonton. Pagi ini ia mendengar suara Miranti berdebat dalam sambungan telepon. Bukan bermaksud menguping atau ikut campur urusan orang tua. Namum, semua perkataan mama berisi makian pada orang dalam sambungan telepon, membuat Miana menyimpulkan sesuatu. Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah, semua pembicaraan itu tertuju pada satu orang yaitu papa.
Papa sudah berangkat sebelum adzan subuh berkumandang karena Papa langsung ke Tangerang mengurus kantor cabang di sana. Papa tidak sempat berpamitan pada Miana. Ia hanya mendapat pesan dari papa melalui WhatsApp.
"Mama nggak mau tahu ya. Nggak ada itu jual perhiasan atau mobil apalagi saham. Semua ini karena keteledoran papa, begitu percaya pada orang sembarangan! Apapun yang terjadi, papa nggak boleh libatkan mama di sini."
"Sudah. Mama capek mendengar keluhan papa!'
Miranti mematikan sambungan telepon itu lalu memijit pangkal hidungnya. Kini ia berteriak memanggil Bi Num dengan kencang.
"Nuuummmm!"
Mendengar namanya di panggil oleh majikannya. Bi Num berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Miranti yang duduk di meja makan.
"Mana uang belanja yang kemarin saya kasih!" Miranti mengadakan tangan dan melirik sinis pada Bi Num.
"Oh, masih ada, Nyah. Sebentar." Bi Num berjalan menuju kamarnya. Dalam hati merasa tidak enak. Apa dia melakukan kesalahan. Ia segera mengambil sisa uang belanja dan kembali pada Miranti.
"Ini, Nyah. Dan ini notanya," Bu Num memberikan beberapa lembar uang dan sejumlah nota di meja makan. Asisten rumah tangga yang telah bekerja bertahun tahun itu selalu teliti dan menyimpan bukti belanja karena sudah hafal dengan tabiat majikannya.
Miranti memeriksa sebentar dan kembali memijat pangkal hidungnya.
"Apa saya melakukan kesalahan, Nyah?"
"Tidak, Num. Hanya saja mulai sekarang kamu harus lebih menghemat. Bila perlu jatah satu bulan biar bisa cukup jadi dua bulan!"
Meski suara mama sudah terdengar tenang. Namun, Bi Num tetap saja tercengang. Tidak ada jawaban lain selain diam dan mengangguk patuh.
Miana dan Sisil yang awalnya ingin ke meja makan, terpaksa berhenti di pintu penghubung ruang keluarga dan ruang makan sedari tadi dan terpaksa mendengar semuanya.
Sisil, entah kapan dirinya sudah ada di belakang Miana saat ini. Keduanya hanya saling diam tertahan di sana dengan pikiran masing-masing. Sisil sudah tidak berselera lagi untuk sarapan dan berlalu pergi begitu saja. Sedangkan Miana hanya mendekat pada Miranti untuk berpamitan. "Mia pamit, Ma."
"Ya," jawab Miranti singkat. Setelah Miana mengecup punggung tangannya.
Tanpa banyak bicara lagi Miana beranjak ke carport rumah. Dan melihat Sisil yang akan masuk ke mobilnya di antar Agus, supir mama. Mereka hanya saling bertatap tanpa sepatah katapun. Miana dapat mengira jika Sisil juga tengah memikirkan permasalahan mama dan papa, mengingat Sisil berada di sana juga mendengar omelan mama tadi.
__ADS_1
Miana melajukan motornya. Dalam perjalanan ia kembali memikirkan permasalahan yang ia ketahui. "Aku harus kerja."
☘️
Bian melirik mantan pacarnya yang tengah diam dan minim antusias kala seorang guru memberi pertanyaan kuis. Jauh dari biasanya. Wajahnya juga murung. Namun, terlihat fokus pada guru yang menerangkan materi di depan kelas. Ia kembali memikirkan perdebatan dengan Raya kemarin yang seolah berubah 180 derajat menentang hubungannya dengan Miana. Entahlah, Bian pusing memikirkannya.
Dari Sisil, Thea dan Hazel ternyata juga mengirimkan foto Miana kemarin pada Raya. Sang ketua OSIS itu mendadak geram karena orang yang sempat ia banggakan menjadi pacar kakaknya ternyata telah membuat malu dirinya. Rasa benci tidak bisa ia hindari lagi. Namun, karena kuasa Bian yang dapat dengan mudah menekan peredaran foto itu kembali membuatnya bungkam. Akhirnya setelah kemarin berdebat dengan sang kakak dan mengetahui kakaknya telah putus dengan Miana, ia dapat berdamai kembali dengan Bian.
Waktu istirahat tiba, Bian dan Bayu tengah berjalan bersisihan menuju ruang UKS favoritnya. Tempat dimana jika ia sedang malas untuk menerima pelajaran. Ia selalu menggunakan ruang itu seperti ruang pribadinya. Bahkan tidak jarang, bila ada siswa yang menggunakan ruang itu bertepatan dengan Bian di sana, maka tidak akan berfikir dua kali untuk menyingkir sebelum mereka di singkirkan paksa.
Banyak siswa yang sengaja menjaga jarak agar tidak dapat berurusan dengan Bian. Wajah rupawan dan kepopuleran yang di milikinya membuat siapa saja dapat jatuh hati padanya namun tidak untuk mencari gara-gara dengannya.
"Doble B," teriak dua orang lelaki mendekat ke arah Bian dan Bayu. Mereka adalah dua teman yang terbiasa bergerombol bersama, Roy dan Arkan.
"Grup sepi amat, jika Lo nggak nongol, Bi."
"Udahlah, Bi. Nggak usah di pikirin. Putus dari Miana ya cari yang lain. Kaya' cewek cuma Miana aja."
"Sebut nama dia lagi, gue kurung Lo berdua di gudang!" Dengan cepat Bian meraih kerah Roy yang berjalan tepat di belakangnya.
"Santai, Brow." Arkan mencoba meredam emosi Bian.
"Kalian berdua, kemana aja baru nongol? Kaya' belajar beneran aja?" Bayu ikut menyahut sengaja mengalihkan perhatian Bian agar tidak terjadi keributan. "Dah, Bi. Lepasin. Kita urus mereka di sirkuit nanti. Jika Lo mau senang-senang."
Berhasil. Ide Bayu terbukti meredakan percikan api pada diri Bian. Seolah dapat kembali berfikir jernih. Bian hampir melupakan hobinya yaitu menaklukkan sirkuit. Saat hobinya dulu sempat di usik oleh sang papa ketika suka ikut balap liar dan pernah ikut terjaring razia petugas, Bian meminta bayaran sirkuit pribadi pada sang papa. Harga yang sangat fantastis. Mengharapkan kebebasan dan jauh dari aturan yang mengekang.
Sementara papa sang pemilik yayasan tidak kalah strategi yaitu nama baiknya untuk selalu terjaga. Impas bukan.
Bian tetap bisa menyalurkan hobinya sedankan papa tetap aman dari catatan buruk putranya yang kini sudah tidak ikut balap liar di jalanan.
Menjadi siswa pelajar yang baik. Taat aturan dan nama baik papa dan yayasan tetap terjaga. Hal itu terjadi saat Bian bertemu Miana, si pemilik senyum yang menawan. Perlahan sifat-sifat buruk Bian dan tempramen yang di milikinya perlahan lenyap. Miana dapat merubah sifat buruk Bian dengan mengajaknya dalam hal positif termasuk memperbaiki nilainya.
Berbeda dari deretan para mantan Bian, Miana memberi perubahan positif walau sering kali Miana menguji kesabarannya. Sering kali Bian menahan ego saat inginnya tidak dapat dengan mudah terpenuhi termasuk perhatian berlebih pada Miana. Tanpa ia tahu Miana mempunyai alasan tersendiri untuk hal itu.
Dan kini, seolah terbangun dari tidurnya. Nyali Bian yang dulu menggila lalu mereda sebentar itu kembali terbakar saat Bayu mengingatkan hobinya yang sempat terbatas karena rasa sayangnya pada Miana. Sang mantan yang masih amat ia sayangi.
"Kalian, jangan sebut nama Miana di hadapan gue lagi, apalagi sampai berkata buruk tentangnya." Bian perlahan melepaskan cengkeraman dan kembali berjalan menuju UKS, setelah Roy dan Arkan mengangguk mengerti.
__ADS_1
'*Te*rnyata, playboy jika sudah insyaf, akan lebih bucin dari ** Habibie,"' batin Bayu. "Sayang aja, lo terlanjur kecewa hingga nggak terima masukan dari sekitar, Bi. Dan gue harap, Lo nggak nyesel nantinya." Kembali Bian masih diam bergeming dalam batinnya. Melihat ketiga temannya yang udah berjalan lebih dulu.
☘️
"Gue pengen kerja, Ris."
"Tapi kerja apa, Na! Kita masih pelajar. Delapan bulan lagi kita ujian kelulusan. Bagaimana cara bagi waktu, Coba!"
"Makanya bantu aku mikir. Kasih solusi, kek!"
"Jualan online."
"Kerja part time."
"Jual somay, batagor, ruja-"
"Yang lain," potong Miana.
"Emm." Riska menggigit jarinya, memaksa otaknya berfikir. Sedangkan pikirannya masih pada Bayu yang tidak terlihat batang hidungnya sejak istirahat tadi.
Miana melirik kesal pada Riska. Matanya jelalatan terlihat sedang mencari seseorang. "Kecoa terbang!"
"Aaaarrrrkkk! Mana kecoa, kecoa mana!" Riska berjingkrak dan refleks menaiki meja.
Sedangkan Miana masih memerankan peran sebagai saksi palsu kecoa khayalan keusilannya.
"Di sepatu,"
"Di baju."
"Di rambut, Lo."
Tunjuk Miana asal pada badan sahabatnya. Beruntung sebagian teman sekelasnya berada di luar kelas beristirahat, jika tidak mereka akan beramai-ramai protes padanya.
Saat merasa janggal pada sahabatnya yang terkesan di buat-buat. Riska berbalik menggelitik Miana hingga tawa renyah melengking memenuhi kelas.
Hal itu tentu tidak luput dari telinga lelaki yang tidur memanfaatkan waktu istirahat kedua pada bangkunya. Tepat di belakang Miana. Meski earphone tertanam pada tempatnya, suara Miana masih dapat terdengar dengan jelas karena si empunya tidak menyalakan lagu apapun.
__ADS_1
"Kalian nggak bisa ya, libur ribut sehari aja!"
☘️