
"Miana."
Arga menjentikkan jari tepat di depan wajah Miana yang sedang menatapnya tanpa berkedip. "Lo kenapa?" tanya Arga.
Percayalah, dia sedang menahan senyumnya agar tak terlalu kentara. Wanita di depannya sedang terpana padanya. Dia tengah besar kepala.
Miana mengerjab dan mengedarkan matanya kesehatan arah. Agar tak terlihat gugup oleh Arga. "Lo kek, hantu. Tadi baru aja W-A. Sekarang udah di depan mata, ngagetin pula," kilah Miana.
"Gue seneng, malah. Bisa menghantui lo tiap malam."
Miana diam mengerutkan keningnya.
Arga melirik toote bag di samping Miana. "Lo udah dapat kadonya?" tanya Arga basa-basi.
Miana mengangguk seraya mengangkat toote bag. "Udah, ini aja."
"Penasaran, Lo kasih kado apa ke dia?" telisik Arga.
Oh, apakah Arga sedang cemburu? Tak rela melihat Miana memberikan kado untuk orang yang pernah ada di hatinya?
"Er-ha-es, Arga. Lo mau tahu banget, apa memang mau tahu banget banget?" goda Miana. Sengaja menutupi setiap debaran jantungnya yang berdetak kencang.
"Eh, ada Arga! Lo ngapain di sini?" tanya Riska. Sebelumnya Riska akan membayar ke kasir. Namun, melihat Miana sedang bercakap dengan orang yang ia kenal, ia segera mendekati keduanya.
"Gue, sengaja cari dia." Arga menunjuk Miana dengan jarinya.
"Kalian janjian?" tuding Riska terbelalak. Tidak siap bila ia akan di tinggalkan sahabatnya. Jika Miana benar sedang janjian diam-diam di belakangnya.
Miana berdiri untuk menenangkan Riska. Lantas berbisik, mengatakan sebenarnya bila ia sempat bertukar pesan dengan Arga.
"Terus?" cecar Riska mengerucutkan bibirnya.
Bersamaan dengan itu, Bayu datang bersama Roy dan Arkan. Menghampiri ketiga orang yang mereka kenali. Kedatangan mereka tentu membuat atensi Arga, Miana dan Riska teralihkan.
Mereka berbasa-basi sebentar disana. Lalu, Roy dan Arkan memasuki rak-rak display di sana. Sedangkan Bian masih betah menemani Riska yang tengah bernegosiasi dengan Miana dan Arga.
"Jadi, karena di sini udah ada Bayu. Gue nemenin Arga, ya, Ris," pinta Miana.
Riska bukannya menjawab sahabatnya, tapi langsung memukul Arga dengan toote bag di tangannya. "Jadi, Lo kesini mau rebut Miana dari gue, Ga." Ucapan Riska jelas tak rela, Miana pergi menemani Arga.
"Yang, udah biarin! Kenapa, sih? Kan udah ada aku," bujuk Bayu dan mendapatkan lirikan tajam dari Riska. "Diem, dulu, kenapa ," bentak Riska pada Bayu.
"Ck," decak Bayu. Kesal dengan sikap bar-bar sang pacar.
"Bisa jamin nggak, kalau Lo bakal anterin Miana utuh sampai rumah!" Riska hanya ingin memastikan bahwa Miana aman bersama Arga.
__ADS_1
"Iya, gue anterin sampai rumah. Nanti, Lo bisa hubungin dia kapanpun Lo mau," jawab Arga.
"Boleh, ya, Ris," lirih Miana.
Melihat wajah memohon Miana, Riska jadi tak tega. Ia tahu, Miana benar-benar sedang menginginkan sosok yang berdiri tiga langkah di depannya. Dia yang sejak tadi tertahan, karena Riska bersikap bak bodyguard Miana di sana.
"Oke," jawab Riska masih belum ikhlas. Dan mendapat rengkuhan Bayu di bahunya.
"Nanti, makan bareng, habis ini, ya," bujuk Bayu lalu beralih pada Miana.
"Miana. Lo juga mau kasih Bian kado yang sama seperti kita?" tanya Bayu pada Miana.
Miana tersenyum lalu menggeleng. "Gue nggak sekaya kalian. Bisa habis gaji gue buat beli parfum Bian doang. Gue udah dapet kok kadonya." Miana mengangkat toote bag di tangannya. Membuat Bayu mengangguk.
"Ya udah, gue bawa Miana, ya," pinta Arga pada Riska dan Bayu.
"Beib, baik-baik ya, Lo sama Arga. Teriak aja, kalau dia macam-macam." Riska memegang erat lengan Miana. Dan di balas Miana dengan terkekeh. "Lo emang, terbaik," ucap Miana sambil melepaskan diri dari Riska.
Setelah saling melambai, Riska segera di tarik Bayu menyusul Roy dan Arkan ke dalam outlet. Sedangkan Miana mengekor langkah Arga. Belum jelas tujuan lelaki yang berjalan di depannya ini akan mengajaknya kemana. Ia hanya yakin Arga tidak akan menyulitkannya setelah ini.
Arga menghentikan langkah mendadak. Sontak Miana yang berjalan di belakangnya menabrak punggung Arga. "Duh, kok berhenti mendadak, sih!" Miana meringis mengelus dahinya.
"Lo jalan di belakang gue, kek bodyguard aja." Tanpa permisi Arga menarik lengan Miana hingga mereka melanjutkan langkahnya bersisihan.
"Idealnya, jalan tuh beriringan. Jadi, nggak bakalan tuh ada insiden nabrak badan gue." Arga masih melanjutkan protesnya. Sedangkan Miana sibuk memegangi debaran jantungnya yang berdetak berkali lipat lebih cepat.
Merasakan Miana hanya diam saja dengan tangan begitu dingin. Arga mengehentikan langkahnya, dan menghadap penuh pada Miana.
"Lo sakit?" Ia sedikit menunduk agar dapat menelisik wajah Miana. "Tangan Lo dingin banget." Arga memeriksa lengan Miana dengan tangannya yang lain.
Miana segera menarik tangannya. Lalu mengedarkan pandangannya, agar tak terlihat wajahnya yang memerah. Karena di perlakukan sedemikian rupa oleh Arga. Ia tak tahu saja Arga lebih dulu menangkap raut wajahnya yang memerah.
"Kita mau kemana, Ga," tanya Miana pura-pura sibuk. Kali ini, Miana sedang memeriksa isi tas selempang miliknya.
Arga terus melihat apapun yang Miana lakukan. Tanpa berniat menjawab pertanyaan yang Miana berikan. Hingga Miana mengehentikan pergerakan tangannya dan memberanikan diri menatap Arga.
"Kenapa diem? Tadi di W-A, Lo minta saran sama gue karena mau kasi kado Bian. Ini kita belum jelas, loh, mau kemana ?"
"Oke, menurut Lo, gue kasih kado apa sama dia?" tanya Arga. Arga enggan menyebutkan nama Bian.
"Ya, terserah Lo, Ga. Yang penting ikhlas, kan," jawab Miana.
"Lo kan mantannya. Jadi kupikir, Lo tahu apa yang dia suka." Ada rasa berat mengakui Bian adalah orang yang pernah ada di hati Miana.
Keduanya hening sejenak dengan pikiran masing-masing. Sampai tangan Miana kembali berada dalam genggaman tangan Arga. Ia pasrah saja mengikuti kemana langkah Arga.
__ADS_1
Keduanya berjalan dengan menggulum senyum. Masing-masing tentu sedang menikmati perasaan yang membuncah. Bak taman bunga yang sedang bermekaran. Berkali-kali Miana melirik satu tangannya yang berada dalam genggaman Arga. Jika sebelumnya Miana sudah bebas bercicit ria dengan di bumbui perdebatan yang tak ada habisnya. Kali ini, Miana tak ingin merusak momen yang ada.
Miana menuruti Arga yang berhenti di satu outlet peralatan elektronik. Arga memeriksa satu persatu produk yang di display disana.
"Lo duduk aja , disana. Gue tahu Lo capek," saran Arga dan di hadiai anggukan oleh Miana. Sedangkan Arga melangkahkan kakinya kembali memilih produk yang ia inginkan.
Miana diam di kursi tunggu. Diam-diam, ia mengarahkan ponselnya pada sosok yang bergerak dari satu display ke display yang lain. Miana sampai menipiskan bibirnya. Sambil terus membidik sosok yang tengah mengisi hatinya. Ia lupakan sejenak, perasaannya yang kacau, tak mendapat tanggapan dari Arga. Ia tak ingin mengungkit lagi, takut mendapatkan penolakan yang membuat hatinya sakit. Ia belum siap. Mengingat perlakuan Arga, selama ia mengenalnya. Dengan yakin, Miana memupuk percaya dirinya.
'Gue yakin Lo punya perasaan yang sama ke gue, Ga. Tapi Lo terlalu abu-abu, kenapa sampai sekarang Lo nggak juga mengakuinya.' Batin Miana sedang bergerak menyimpulkan sendiri.
Lima menit kemudian, Arga datang dengan satu keresek kecil di tangan. "Nitip, gue nggak bawa tas soalnya." Arga memberikan pada Miana.
"Lo beli apa buat Bian?" tanya Miana. Ia berdiri dan memasukkan toote bag dari Arga.
"Ya, ada. Cuma beberapa aksesoris hp aja,"
"Aja, Lo, bilang? Di sini tuh nggak ada yang harganya lima ratus ribu. Lo buang-buang duit aja, Ga."
"Nggak apa, habis bingung mau kasih apa. Bian udah kaya, apapun pasti dia udah punya."
"Iya juga, sih."
"Kalau menurut gue, seusia kita tuh, nggak perlu kado-kado. Teman-teman ngumpul aja, udah seneng banget."
"Lo kapan ulang tahun?" tanya Miana sedikit modus.
Arga menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa emang?"
"Ya kali, Lo mau rayain juga. Pasti gue akan datang." Pembicaraan ringan ini membuat Miana kini sudah dapat menetralkan degub jantungnya.
"Udah lewat." Arga mulai melangkah dari outlet di ikuti Miana di sampingnya.
"Untuk tahun yang akan datang, Ga."
"Maksa banget sih, pengen tau."
"Nggak boleh, ya?"
"Nggak, gue nggak pernah rayain ulang tahun." Arga berhenti, pun dengan Miana. " Umur kita tuh, berkurang. Kenapa malah di rayain ,sih!"
"Gue cuma mau kasih kenang-kenangan. Dan moment yang pas, begitu Lo bertambah usia," ungkap Miana dan membuat Arga berfikir sejenak.
"Jika gue kasih tahu, apa Lo mau datang?" tekan Arga. Miana mengangguk yakin.
"Sama seperti hari lahirnya Pancasila."
__ADS_1
โ๏ธ
...gutnite๐๐๐...