
☘️
Suasana salah satu sudut rumah masih terlihat kesibukan di dalamnya. Meskipun waktu sudah menunjukkan jarum panjang pada angka enam dan jarum pendek berada di antara angka dua belas dan angka satu.
Kamar yang berukuran tidak terlalu besar itu, masih memperlihatkan aktivitas seorang gadis cantik yang menguncir asal rambutnya. Piyama lengan panjang polos warna putih membalut tubuhnya yang tidak terlalu tinggi itu.
Suara mesin printer masih mendominasi di sana. Sesekali Miana memeriksa pada layar laptop dan mengetikkan pengaturan di sana. Sesekali memeriksa hasil print out, memastikan agar tinta masih dalam kondisi bagus sesuai dengan apa yang di harapkan.
Terkadang ia memeriksa pesan yang dikirim pada room chat "Tugas Wawancara" pada gawainya. Sudah lewat tengah malam dan pesannya beberapa waktu yang lalu masih belum di baca oleh ketiga temannya. Angel, Arga dan Rio.
"Udahlah. Udah hampir selesai juga. Salah sendiri mereka nggak buka chat gue. Kalau sampai ada kesalahan, bukan salah gue, 'kan," gumam Miana menggerutu karena file yang kirim tidak segera di buka oleh teman-temannya. Yang benar saja, sudah lewat tengah malam tentu saja mereka sudah berada di alam mimpi masing-masing.
Miana berlalu dari kamar menuju dapur untuk membuat kopi. Tidak lama, ia sudah kembali dengan membawa secangkir white coffe ke kamarnya. Sesekali tangannya mengibaskan uap panas agar cepat berangsur suhu panasnya. Ia menghirup aroma kopi itu agar terasa sensasinya lalu meminum perlahan. Begitu suara printer sudah berhenti, ia meletakkan cangkirnya pada nakas di samping ranjang.
"Selesai, deh." Miana merapikan lembaran kertas A4 itu agar lebih rapih. Kemudian ia jilid lembaran itu dan jadilah proker kelompok mata pelajaran Bahasa Indonesia malam ini.
Miana tersenyum puas melihat tugasnya sudah rapih dan segera menyimpan pada backpacknya. Tidak ketinggalan laptop dan alat tulis lain.
Miana segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu setelahnya ia mulai merebahkan tubuhnya pada kasur king size dengan sprai motif emboss warna maruun, kesukaannya. Menarik bed cover dan mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.
Baru saja Miana memejamkan matanya. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp mengusiknya." Ish, siapa, sih?"
Matanya terbelalak membaca pesan pada grup chat yang di buatnya beberapa hari yang lalu.
Arga : Page 12-14 udah gue revisi. Jangan lupa besok pagi di periksa ulang, baru print.
"Argaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!" teriak Miana. Kesal. Tentu saja ia kesal, laporan sudah ia jilid rapi lalu dengan entengnya Arga baru mengirimkan komentarnya. Ia mengepalkan kedua tangannya tanda betapa ia sangat kesal. "Menyebalkan!"
Tidak perduli, Miana sudah sangat mengantuk. Ia ingin memejamkan saja matanya. Ia tidak mau jika besok harus bangun terlambat. Apalagi ia harus mencetak ulang dua lembar yang baru saja di benahi kesalahannya.
☘️
"Bagun, Mbak! Jangan lupa waktu subuh sudah mulai habis.' Suara Bi Num beserta ketukan pintu memaksa Miana terlepas dari mimpi indahnya. Mimpi bertemu dengan Pak Bambang yang memuji hasil laporan observasi juga wawancara pada kelompok mereka.
"Apa tadi hanya mimpi," gumam Miana.
"Kok ada suara Bi Num." Miana menyipitkan mata saat bias cahaya masuk melewati gorden jendelanya yang tidak tertutup rapat. Ia melirik jam dinding lalu matanya membulat sempurna saat menyadari ia bangun kesiangan.
__ADS_1
"Sial, sial. Pakai kesiangan lagi." Miana segera berlari ke kamar mandi dan membersihkan tubuh dengan amat sangat kilat. Dua menit saja ia di sana.
Tangannya bergerak lincah untuk mempersiapkan semua keperluannya. "Nggak sempet sarapan, nih." Berlalu dari kamar lalu mencari mama untuk berpamitan.
Begitu sampai meja makan, hanya ada Sisil di sana. "Mama dimana, Sil?" tanya Miana sambil mengedarkan pandangannya, ia bahkan memutari meja makan dan mencoba meneliti dapur. Namun, tidak ada mama yang dia cari.
"Taau'," jawab Sisil tidak perduli.
"Nyonya, pagi-pagi sekali sudah berangkat ke Bandara di antar pak Agus, Mbak Mia." Bi Num yang menjawab sembari meletakkan sepiring roti bakar pada meja. "Apa nggak bilang sama Mbak Mia tadi malam?" lanjut Bi Num.
Miana bergeming dan menggeleng cepat. "Nggak, Bi."
"Oh ya udah, aku berangkat dulu ya, Bi Num." Miana memeluk sekilas tubuh Bi Num.
"Loh, sarapan dulu, Mbak Mia."
"Nggak Bi, udah kesiangan,"
."Sil, aku duluan," kata Miana sambil mengambil satu potong roti lalu memakannya sambil berjalan. Sisil pun hanya diam dan acuh saja menikmati sarapannya.
Bi Num segera mengambil botol air mineral pada meja. Lalu mengejar Miana. "Itu nanti gimana kalau susah nelen, kalau nggak bawa minum." Bi Num melambai pada Miana yang sudah berada di atas motornya.
"Bi Num, emang paling ngerti, dehh," puji Miana.
"Hati-hati, ya," pesan Bi Num.
"Iya," Miana menyimpan botol minum pada dasboard lalu berangkat. Ia harus memacu laju motor sedikit lebih cepat dari biasanya.
Sampai sekolah, Miana memarkirkan motornya. Lalu berjalan tergesa. Belum terlambat. Masih ada sebagian siswa-siswi yang baru datang. Hingga sampai pada persimpangan koridor ia bertemu dengan Bian yang juga baru datang, terlihat masih mencangklong tas-nya.
Sejenak Miana dan Bian saling berpandangan dalam diam. Jika dulu Miana selalu yang lebih dulu mencecarnya dengan segala perhatiannya. Kali ini memang berbeda. Ada rasa takut saat menatap mata tajam, mantan pacarnya itu.
"Ikut, gue!" Bian menarik paksa tangan Miana. Dan tentu saja hal itu mendapat penolakan dari Miana.
"Kita mau kemana, Bian. Kita ada kelas Pak Bambang dan musti revisi laporan gue dulu."
"Kita satu kelas, Miana. Dan aku tidak buta. Aku pun punya tugas yang sama." Bian terpaksa menarik Miana lagi menghindari tatapan banyak mata di koridor kelas. Karena memang mendekati jam pelajaran.
__ADS_1
"Aduh."
Bian baru menghentikan langkahnya, saat jalan Miana terasa sangat berat untuk ia tarik di sertai suara mengaduh dari mantan pacarnya itu. Menoleh cepat pada Miana dan kini ia mendapati Miana di tahan oleh seseorang juga .Arga.
"Gue ada perlu dengan dia," ucap Arga santai pada Bian. Ia menunjukkan jam digital pada pergelangan tangan kirinya pada Bian. "Empat menit lagi, kita harus sudah di jam pertama."
"Gue yang lebih dulu ada perlu sama dia." Bian menarik bahu Miana merapatkan dalam rengkuhannya hingga terlepas dari tangan Arga.
"Tidak ada yang lebih penting dari seorang pelajar kecuali belajar dengan benar." Arga tersenyum meremehkan pada Bian.
"E e, itu. Itu benar Bian, kita masuk dulu. Kita bisa bicara lain waktu. Setelah pelajaran," pinta Miana saat rengkuhan Bian semakin terasa sakit karena Bian terlalu menekannya.
"S-sakit, Bian," lirih Miana.
Bian termangu lalu perlahan mengendurkan lengannya pada bahu Miana. Lalu dengan terpaksa ia melepaskan saat Miana sudah di tarik Arga dari hadapannya.
"Ah, Ga. Gue lupa belum print ulang yang udah Lo revisi semalam."
"Gue udah menduga."
"Trus gimana?"
"Berisik,"
"Ih, gue serius. Udah gue jilid, Ga! Dan lagi, Lo, ngirimnya terlalu malam jadi aku udah tanggung. Dan gue mau revisi pagi ini, tapi aku kesiangan."
Arga berhenti dan tersenyum meremehkan Miana. "Makanya jangan pacaran terus! Tugas penting jadi terabaikan, 'kan!"
"Mana, laporannya! Gue benerin sekarang!" Arga masih belum sadar jika tangannya masih memegang tangan Miana.
"Ga, t-tangan, Lo," ucap Miana menunjuk tangannya yang masih ada di genggaman Arga. 😳
☘️
Gak mau lepas, gimana donk??? 😀😀😀
jangan lupa like dan komentarnya ya BESTie ❤️
__ADS_1
untuk yang ingin tahu visual Miana dan Arga, udah ada di postingan igeh aku. boleh kepoin di sana.
@rna.darkchoco.14