Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 87


__ADS_3

Miana lega, Bian mulai menunjukkan entitas yang dimilikinya. Perlahan, tugas tugas dari dosen ia kerjakan tepat waktu. Sehingga Miana tak perlu lagi kerja keras membereskan tugas yang mangkrak karena Bian malas berfikir.


Terlepas dari Bian, ada satu hal yang membuat Miana masih mengganjal di hati. Antara sang papa dengan Pak Dharma yang ia kenal sebagai papanya Arga, rupanya saling kenal. Namun, terlihat hubungan keduanya tak terlihat baik-baik saja. Apalagi melihat wajah panik papa dan wajah terkejut Pak Dharma malam itu, membuat Miana selalu bertanya-tanya.


Ada hubungan apa antara papa dan Pak Dharma? Dilihat dari gesture mereka, sepertinya mereka saling mengenal satu sama lainnya. Seperti itulah yang ada di benak Miana.


"Miana, gue keluar sebentar, ya. Mau nitip apa?" tanya Nika sembari mengecek isi dompetnya.


Jika sebelumnya tawaran Nika akan sangat menggiurkan, tapi tidak untuk saat ini. Miana menggeleng pelan dan Nika tak mau memaksa.


Melihat Nika berlalu, Miana kembali pada ponselnya dan menyempatkan berbalas pesan dengan Riska. Sahabat yang merasa terlupakan.


[Kapan ketemu, Beib. Kangen nih, pengen curcol banyak.]


Adalah satu topik pembicaraan yang selalu Riska tanyakan berulang ulang. Meskipun Riska sudah tahu jawabannya.


Miana tak ada waktu senggang. Jikapun ada, pasti dia akan menyempatkan untuk telepon saja. Apalagi, Miana kini mencoba bisnis online shop sebagai reseller. Itung-itung cari tambahan uang jajan. Cukup dengan ponsel dalam genggaman, dan barang di kirim melalui aplikasi. Awalnya hanya iseng, tapi ternyata hasilnya lumayan. Akhirnya Miana jadi keterusan ikut gabung online shop fashion.


Lima menit berlalu, Nika datang membawa somay. Memaksa Miana untuk memakannya. Sahabat Miana itu terlalu kawatir melihat Miana kurus.


"Gegara jadi asistennya Bian. Kamu jadi kurus begini, kan." Nika menggerutu sudah seperti emak-emak kurang duit bulanan saja.


"Bukan itu juga kali, Nik. Lo tau tugas gue sendiri numpuk, sampai mata panda begini," sanggah Miana seraya berkaca. "Lagian, sekarang Bian udah lebih baik. Cukup gue kasih kisi-kisi, dan dia menyesuaikan. Jadi nggak ngerepotin banget sih," imbuh Miana lagi.


Setelahnya, Nika menceritakan magangnya selama satu bulan ini. "Bersyukur banget, sih, aku. Punya saudara yang udah mapan. Kerja di perusahaan besar tuh, kalau nggak ada orang dalam kaya' orang tersesat, tau, nggak," aku Nika.


Miana mengangguk. "Bener banget. Gitu juga dengan aku. Kalau nggak ada Bian. Nggak mungkin aku dapat magang di dua divisi begitu mudahnya."


"Sejak pulang ke rumah, Lo jadi lebih pendiam. Apa ada masalah?" tanya Nika sambil menyuapkan suapan terakhir, hingga siomay tandas.


"Kelihatan banget, ya?"


"He'em." Segera Nika tanggap, saat Miana celingukan mencari air minum. Ia memberikan satu botol air mineral pada Miana. Membuat sahabatnya meringis dan berucap terima kasih.


"Nggak. Bukan masalah serius, Nik."


Miana sadari, tidak semua permasalahan dapat ia bagi pada siapapun. Namun, memendam sendiri seperti ini, seperti bukan dirinya. Ia tak mau kehilangan keceriaannya. Sudah cukup ia terkurung sendiri memikirkan Arga yang telah meninggalkannya. Hingga merenggut sikap aslinya.

__ADS_1


Setelah membereskan bekas makannya. Miana merebahkan diri, diikuti oleh Nika di kasur yang berbeda. Meskipun Nika sudah terlihat tenang di sana. Miana tak dapat memejamkan mata juga. Pikirannya justru masih resah pada sang papa.


Entah pukul berapa Miana mulai terlelap. Ia bangun karena ponselnya terus bergetar. Kontak papa sudah menyapanya bahkan sebelum fajar menyapa seluruh dunia.


Kabar papa di larikan ke rumah sakit membuat Miana benar-benar terkejut. Ia memegangi dadanya yang berdegup kencang. Dengan ponsel masih tersambung dengan Sisil di sana. "Aku pulang sekarang."


Miana segera mengemas pelengkapan seadanya. Menyimpannya dalam backpack warna burgundy kesayangannya. Membersihkan diri seperlunya dan ia lekas membangunkan Nika untuk pamit pulang.


Dengan motornya, Miana pulang. Menempuh perjalanan selama tiga jam, akhirnya ia sampai di depan rumah sakit.


Tiba di ruangan yang sebelumnya di katakan Sisil. Miana masuk ruangan yang khas dengan aroma disinfektan dan obat-obatan.


Melihat papa terpejam dengan mama yang tengah menaikkan selimut hingga di dada papa.


"Gimana papa, Ma?" tanyanya pada Miranti saat sampai di tepi brankar.


"Papa anfal setelah bertemu dengan klien bisnisnya. Papa di bawa ke sini setelah di antar temannya." Miranti terlihat lelah. Dan Miana menyarankan untuk pulang lebih dulu.


Miranti lekas pergi setelah memberikan pesan-pesan pada Miana. Bahwa tak akan lama ia akan segera kembali.


Miana memandangi wajah papa. Menggenggam tangannya dan beberapa kali memberikan kecupan di sana.


Isak tangis Miana membuat kesadaran Surya perlahan kembali. Miana segera menekan tombol darurat agar dokter segera datang. Miana menyingkir memberi ruang saat dokter melakukan pemeriksaan.


"Anda anaknya?" tanya dokter yang memeriksa.


"Iya, dok."


"Jangan banyak di ajak bicara dulu, ya. Papa anda sangat lemah. Semalam sempat kritis. Baru tadi pagi sadar dan akhirnya di bawa ke ruang perawatan," terang dokter sebelum berlalu.


Miana mendekati Surya yang kini menatapnya. Ia juga dapat melihat papa tengah tersenyum, meskipun terhalang penutup selang oksigen. Terlihat dari guratan di pipi yang terangkat.


"Papa harus tetap happy. Jangan memikirkan apapun apalagi sampai berfikir terlalu berat, Pa."


Surya tak menanggapi. Hanya saja ia balik memegang tangan Miana mengusap beberapa kali.


Miana tersenyum, satu tangan yang lain ia gunakan untuk membelai tangan papa yang dingin. Tanpa di duga, papa menarik tangan dan berganti menarik penutup hidung dan mulutnya. "Papa ingin dengar... bagaimana anak papa menyelesaikan magang pertama," ucap Surya sedikit terbata dan terlihat lemah.

__ADS_1


"Dokter bilang, papa nggak boleh banyak bicara dan di ajak bicara." Miana membenahi selimut papa.


"Papa ingin dengar," ulang Surya membuat Miana mau tak mau menyanggupinya.


"Magang pertama Miana berjalan lancar, Pa. Meskipun dapat dosen yang perfect, Alhamdulillah Miana dapat menyelesaikan dengan baik tugas-tugasnya. Ada Bian yang banyak membantu Miana. Papa juga nggak perlu kawatir, Miana berada di lingkungan yang kondusif, Pa. Papa nggak perlu risau. Yang penting kesehatan papa cepet pulih."


"Maafin, papa." Surya mulai berkaca-kaca. Mengingat anak sulungnya sampai saat ini masih menjadi kebanggaannya. Namun sebaliknya, dirinya selalu tak bisa berlaku adil.


"Papa,"


Panggilan seseorang di muka pintu mengalihkan atensi Miana. Sedangkan Surya melirik lemah.


"Papa udah sadar. Papa jangan bikin Sisil kawatir, Pa."


Miana lekas mengingatkan Sisil agar tak mengajak papa bicara lagi. Sisil menurut meskipun ia menggerutu.


Dua anak perempuan darah dagingnya tengah berkumpul. Membuat Surya lega, keduanya tak banyak berdebat lagi. Ia mencoba meraih tangan Miana menyatukannya dengan tangan Sisil. "Kalian harus akur, ya. Saling mendukung, saling menguatkan. Dan jaga mama dengan baik."


"Pa,"


"Berjanjilah kalian akan hidup dengan baik, meskipun tanpa papa."


Miana merasa tangan papa semakin dingin. Dadanya berdegup kencang. Raut kawatir tidak dapat di sembunyikan lagi.


"Sil ... Papa, Sil." Miana memasangkan kembali penutup oksigen. Tanpa diminta Sisil keluar kamar dan memanggil dokter. Sedangkan Miana menggenggam erat tangan Surya yang kian melemah seiring detak jantung dalam monitor kian bergerak menurun.


"Papa ... Dokter sebentar lagi datang, Pa. Papa harus kuat,"


"Dharma ... Sa–sahabat Papa. Papa banyak menyakitinya. Sam ... " Surya mulai tersengal mengatur nafasnya. Sedangkan Miana tak tahu lagi harus berbuat apa selain menggenggam tangan sang papa. Air mata yang sejak tadi tertahan di pelupuk mata kini sudah lolos kala melihat angka dalam layar kian menurun. Ia ingin berlari mencari dokter, tapi segera di tahan oleh Surya. "Sam...paikan maaf papa padanya."


Meskipun lirih Miana masih dapat mendengarnya meskipun pikiran mulai kalut. "Papa bicara apa, nggak ada yang perlu di maafkan. Papa adalah papa terbaik yang Miana punya. Bertahanlah untuk Miana, Pa."


"Bantu.. papa,"


Miana menggeleng. Namun melihat papa semakin tersengal membuatnya semakin mendekatkan wajahnya. Menciumnya beberapa kali. Ia ingin berontak saat waktu seperti melambat karena Sisil tak kunjung datang.


Kalimat tahlil terus Miana bisikan di telinga sang papa. Hingga dokter datang bersama Sisil yang menjerit tertahan dengan menabrak punggung Miana dan mendaratkan pelukan di sana. Hingga, kalimat dokter selanjutnya membuat keduanya semakin memekik dan mempererat pelukannya.

__ADS_1


..._tbc_...


__ADS_2