
Ingin Arga segera merengkuh Miana ke dalam pelukannya. Tapi, ia masih waras tidak melakukannya di tengah lorong market yang masih cukup ramai pengunjung.
Hingga akhirnya, Arga membawa Miana untuk keluar dari pusat perbelanjaan. Disinilah Miana dan Arga, duduk berhadapan di meja kafe. Sudah ada dua cangkir kopi yang tersaji di meja sebagai pesanan mereka.
Biasanya, Miana suka memilih duduk di bagian outdoor kafe. Namun, cuaca yang sedang gerimis membuatnya memilih bagian indoor. Cahaya yang tak begitu terang dan berwarna oranye membuat ruang kafe itu begitu hangat.
"Jadi, kenapa harus diam-diam ngikutin aku?" tanya Miana pada akhirnya.
"Aku takut membuatmu tak nyaman, Miana." Arga menunduk saat mengakuinya.
"Kamu nggak ada niatan buat meyakinkan aku?"
Pertanyaan Miana membuat Arga cepat mengangkat wajahnya. "Kamu tahu aku ingin berbuat lebih dari itu, kan?"
"Berbuat apa, Ga?" Miana sungguh tak memberi kesempatan bagi Arga untuk mengelak. "Dengan pergi gitu aja!"
"Sudah aku katakan, Miana. Aku pergi karena aku sayang sama kamu. Baik untuk di masa lalu dan beberapa hari yang lalu."
"Pergi, bukan berarti menghilang, lalu tanpa kabar, kan, Ga! Aku nggak ngerti sama pemikiran kamu." Miana mulai berkaca-kaca.
"Miana, aku tau aku salah. Tapi jangan bikin aku makin bersalah."
Arga memberanikan diri menggenggam tangan Miana. "Aku disini untuk menebus semua kesalahanku. Kasih kesempatan itu ke aku."
Miana kali ini mendongak membalas tatapan Arga. "Tolong jangan janjikan apapun sama aku. Bila kamu nggak bisa menepatinya. Aku sudah cukup terluka dengan kamu pergi gitu aja."
Arga mengangguk yakin. Binar matanya perlahan terpancar, kala kesempatan itu terbuka lagi untuknya.
Suasana yang sebelumnya penuh dengan kebekuan kini telah mencair. Arga banyak ingin tahu dari pengakuan Miana sendiri selama ini. Miana pun mulai menceritakan bagaimana ia mencari tahu keberadaan Arga juga sulitnya menemukan akses untuk berkomunikasi. Nyatanya, hal itu di ungkapkan oleh Arga sebagai hukumannya juga.
Ada rasa bersalah, tak rela juga rasa takut yang tiba-tiba hinggap di dada. Arga berusaha menelan ludahnya kala Miana mulai menceritakan keluarganya hingga ia di usir dari rumah dan berakhir dekat dengan keluarga Bian.
"Aku sendirian, Ga. Papa. Satu-satunya keluarga yang perduli sama aku juga pergi. Bahkan setelahnya, mamapun tak sudi anggap aku anak." Miana menyusut air matanya dengan punggung tangan.
"Namun, aku masih beruntung. Ada asrama sebagai tempat tinggalku. Sampai aku berusaha keras buat tetap lanjutin hidup aku." Miana tersenyum hambar. "Semakin ke sini, aku bersyukur, di tengah-tengah masalah aku masih ada teman yang menemaniku. Ya meskipun dia itu selalu ingin tahu tentang aku. Aku anggap itu sebagai rasa perdulinya."
Arga menunduk untuk menyembunyikan sedikit senyumannya. Bagaimana ia tidak bersemu? Ia tahu siapa yang di maksud oleh Miana. Nika adalah adik Zaki yang ia paksa untuk menjadi sumber informasi langsung agar selalu melihat bagaimana Miana menjalani hari-harinya. Ya. Arga tidak benar-benar pergi. Secara berkala dan waktu senggang ia selalu meminta kabar Miana dari Nika.
"Untuk itu, aku di sini memintamu untuk kembali sama aku. Apa kamu bersedia?"
Miana hanya memandang Arga dalam diam. Terbesit sedikit ide untuk meyakinkan diri bila Arga memang bersungguh-sungguh. "Tapi Arga, Bian sudah melamar aku."
Arga tercengang sejenak. "Tapi aku adalah orang yang lebih dulu memintamu pada keluargamu." Seyakin itu Arga berusaha tenang mengingat kata-kata Hasan kemarin.
__ADS_1
Dari pembicaraan yang seringkali ibunya dan Miana sebutkan. Hasan tahu Arga yang dimaksudkan adalah Arga yang menanyakannya. Jadi Hasan dengan polosnya menceritakan bagaimana sedihnya Miana kehilangan Arga. Ada rasa sedih dan bahagia dalam sekali waktu. Hal itulah yang membuat Arga yakin bahwa hati Miana masih untuknya.
"Ku pikir, anak Bi Num itu jujur." Arga tersenyum. "Apa kamu selalu membicarakan aku dengan Bibi kamu itu?"
Ada rasa bangga saat menanyakan hal ini pada Miana. Kini bertambah lagi percaya dirinya bahwa namanya masih tersemat Indah di dalam hati Miana.
Sementara Miana, menunduk dan memalingkan wajahnya agar rona di wajahnya tak tertangkap oleh manik mata Arga. Miana menarik tangannya.
"Ah, sudah malam, Ga. Aku harus pulang."
Arga kembali meraih tangan Miana dan membuat gadis itu menatapnya. "Beri aku nomor kamu. Baru aku lepaskan tangan ini."
Arga kembali meraih sebelah tangan Miana dan lebih mengeratkannya. "Aku bisa saja mencarinya sendiri. Tapi aku ingin kamu sendiri yang merelakannya untukku."
☘️
Tak terbayangkan bagaimana Miana melukiskan bahagianya kali ini. Semalam bahkan tidurnya sangat lelap. Cintanya telah kembali. Kebahagiaannya kini berada di depan mata.
Bibir mungil itu terus mengulas senyum. Saat memoles wajahnya dengan serum, sunblok dan kawan-kawannya. Atensinya teralihkan kala ponselnya menyala mode panggilan video.
Nama Arga beserta foto profilnya telah menyambutnya memenuhi layar. Wajahnya kian merona namun jarinya tak juga menggeser icon hijau itu. Ia justru merejecknya dan menempelkan pada dadanya yang berdebar. Ia sangat gugup. Seperti saat ia menyadari ia tengah jatuh cinta seperti beberapa tahun yang lalu.
Arga.
[Kenapa di reject? Aku hanya ingin lihat wajahmu.]
[Aku malu.]
Hanya itu balasan yang Miana ketikkan tapi dapat membuat Arga yang tengah berada di balik kemudi tersenyum lebar.
Arga.
[Aku tunggu di depan]
Balasan pesan ia kirimkan beserta foto depan kost Miana.
"Ya ampun, narsisnya," ucap Miana menyadari Arga memang berada di depan pagar kostnya.
Tak menunggu lama, Miana sudah membuka pintu kamarnya. Tangannya menutup mulutnya yang terbuka saking terkejutnya. Melihat mimik wajah Miana memegangi pintu kamar membuat Arga tersenyum dalam.
"Ya ampun. Dia menggemaskan sekali," gumam Arga. Ia melambai dari balik kemudi dan segera keluar.
__ADS_1
Miana sendiri mulai mengunci pintu dan melangkah mendekat pada Arga. Wajahnya merona kala di tatap penuh cinta pria berjas abu-abu di depannya.
"Kamu sengaja jemput aku?" tanya Miana saat sudah berada di hadapan Arga. Tangannya meremas tali selempang tas sandangnya untuk mengurangi rasa gugupnya.
Arga mengangguk tanpa meninggalkan senyumnya.
"Kenapa senyum-senyum terus, sih. Aku kan jadi malu," protes Miana pura-pura kesal. Padahal kini wajahnya sudah semerah tomat.
'Boleh nggak sih, aku peluk di sini sekarang juga,'
"Kamu tahu! Lihat wajah malu-malu kamu begini bikin aku gemas."
Bluussshh. Semakin memerah saja wajah Miana. Ia bahkan semakin salah tingkah.
Arga lantas meraih bahu Miana untuk ia bawa ke samping kemudi sisi yang lain. Membukakan pintu dan memastikan Miana duduk.
Di perlakukan manis oleh Arga, membuat Miana terus menggulum senyum.
Arga masuk dari sisi yang lain dan segera melajukan mobilnya. Berbaur dengan pengendara yang lain.
"Arga, makasih ya," ucap Miana begitu mobil sudah bergerak.
"Terimakasih kembali, Miana," balas Arga lembut tanpa meninggalkan senyumnya.
"Arga, udah dong jangan senyum-senyum terus. Efeknya bisa nular, nih, nggak mau berhenti," ucap Miana seraya menunduk. Tangannya memilin ujung jasnya. Menghindari tatapan Arga.
"Jangan nunduk terus! Kan jalannya di depan. Mau kamu nanti salah alamat?" goda Arga agar Miana menegakkan wajah.
Miana segera menatap Arga lalu fokus pada jalan di depan. Ia kembali bersibuk menenangkan debaran jantungnya agar kembali normal.
"Emang kamu tahu aku kerja di mana?" tanya Miana tanpa menatap Arga di sampingnya.
"Iya. Tahu." Arga tersenyum getir untuk mengakui hal itu. "Harus aku akui Bian selangkah lebih dulu menempatkan kamu di posisi yang pas di perusahaannya. Dan ini adalah hal yang paling aku takutkan saat kamu berkerja dengannya."
"Kenapa takut?"
Arga melirik Miana sekilas lalu mulai menarik sudut bibirnya. Ada raut sendu yang begitu terlihat karena Arga lama terdiam. "Apa Bian menjagamu dengan baik?"
"Aku bisa jaga diri sendiri. Nggak perlu ada Bian," tepis Miana.
"Ya, aku tahu kamu adalah gadis yang tangguh. Tapi aku takut hatimu akan nyaman berada di sekitar Bian. Bukan salah kamu bila itu terjadi, karena Bian memang adalah sosok yang terus dekat dengan kamu."
Miana menghela nafas. Apakah pria di sampingnya ini sedang insecure. "Apa kamu percaya, jika aku bilang aku selalu nunggu kamu?"
__ADS_1
Arga segera menatap Miana cepat. Ia bahkan tergesa menepikan mobilnya karena memang ia sudah sampai di depan gerbang AMD Corp. "Boleh aku peluk kamu sekarang?"
☘️