
Sejak pukul empat dini hari, Miana sudah berjibaku di dapur. Menyiapkan sarapan seperti hari-hari sebelumnya. Selain itu, cekatan tangannya juga sudah memasukkan pakaian ke mesin penggiling.
Lima menit kemudian, Miana sudah membilasnya lalu mengeringkan seperlunya. Sampai tiba waktu subuh, ia melaksanakan kewajibannya di dalam kamar. Selesainya, ia merapikan alat belajarnya karena semalam ia belajar hingga larut dan tertidur dengan alat tulis masih berantakan di atas tempat tidur.
Miana harus lebih giat lagi berlatih soal yang di bawa dari sekolah. Ujian semakin dekat dan nilai yang sempurna adalah tujuannya. Hanya dengan itu ia akan meneruskan kuliahnya agar mendapatkan beasiswa. Sisil juga menginginkan kuliah. Bisa di bayangkan bagaimana sang papa akan mengeluarkan begitu banyak biaya jika dua putrinya menempuh kuliah bersama. Harapan sang papa tentu pada dirinya dan Miana sangat mengerti hal itu.
Satu pesan dari Arga membuat bibirnya menipis dan mata yang berbinar. Arga katakan satu jam lagi ia akan menjemputnya.
Baru saja ia akan meletakkan ponselnya, ia sudah di kejutkan lagi oleh tanda panggilan dari lelaki itu.
"Iya. Arga," sapa Miana begitu sambungan telepon terhubung.
"Sebut aku, Sayang." Mendengar sahutan dari Arga, membuat Miana bersemu sambil mere mas ujung kaosnya. Meskipun terdengar ketus tapi cukup membuat berdebar.
"Ish, masih pagi loh ini."
"Kata siapa ini malam."
"Ada apa, nih? Aku baru selesai masak."
"Apa perlu aku kirim pembantu ke rumah kamu? Aku nih nggak rela kamu jadi pembantu di rumah sendiri."
"Arga, nggak perlu," tolak Miana karena memang ia sudah terbiasa melakukannya sendiri.
"Aku yang bayar, Miana."
"Aku tahu kamu kaya, Arga. Tapi sungguh aku udah biasa ngelakuin ini sendiri."
"Aku sayang sama kamu, Miana. Dan aku nggak tega lihat kamu seperti ini. Kamu kerja sampai malam. Sedangkan saat sampai rumah kamu juga harus kerjakan pekerjaan rumah. Ck."
"Nggak apa, Arga. Dah ya, kita ketemu di depan sepuluh menit lagi."
Arga terkagum dengan sifat wanita di seberang sambungan telepon. "Aku harap, kamu lebih kuat dari yang kubayangkan,"
Miana mengangguk meskipun Arga tak melihatnya. "Jangan lupa, aku yang imut dan selalu ceria ini akan selalu buat hari-hari Arga semakin berwarna."
"Iya, terserah kamu." Arga yang awalnya begitu menghawatirkan Miana jadi tersenyum jengah saat mode percaya diri Miana mencuat.
"Makasih, ya, Arga," jawab Miana lalu memutus sambungan telepon.
Begitulah hari-hari Arga dan Miana, saling mendukung satu sama lain. Miana sering kali ke rumah Arga, dan gezebo kecil di samping rumah Arga menjadi tempat mereka biasanya belajar. Sesekali Sari–oma Arga ikut menemani sebentar, sehingga Miana dan Sari kini semakin akrab. Pernah waktu itu Riska juga ikut serta disana, karena ia mulai protes saat waktu senggang Miana sudah di rebut oleh Arga.
☘️
"So–sad, sejak pacaran sama Arga, Lo nggak ada waktu buat gue," kata Riska sewaktu pulang sekolah. Riska tadi menyeret Miana sebelum Arga meraihnya lebih dulu.
"Ututuuuuu, nggak usah cemburu gitu. Biar adil nanti belajar bareng kesana, ya." Kata penghibur itulah yang akhirnya langsung disetujui oleh Riska.
"Jujur gue bahagia lihat Lo kembali ceria kek gini." Riska memeluk Miana sebentar lalu melerainya segera. "Udah cukup kamu selalu ngalah, dan akhirnya menyerah. Tapi kini aku lega, kesedihan kamu terbayarkan dengan kehadiran Arga. Yaa, meskipun dia menyebalkan."
Miana terkekeh dan menutup bibirnya. "Tapi sayangnya, aku cinta banget sama dia."
__ADS_1
"Iya, iya. Percaya."
Lekas keduanya bersama ke rumah Arga. Begitu sampai di sana, lelaki itu sudah tiba lebih dulu.
"Gue kira Lo mau ajak pacar Lo, juga." Arga sendiri yang membuka pintu rumahnya.
"Dih, emang mau double ngedate, gitu. Kita ini mau belajar, tau." Riska mulai sewot.
"Nggak nyadar banget, sih, Lo ini nggangguin kita berdua, loh."
Riska mengentak kaki kesal. "Ish! Miana, pacar Lo ngeselin banget, sih." Riska menunjuk Arga kesal hampir menangis.
"Tenang, aja. Dia nggak sungguhan ,kok," sanggah Miana. Ia terkekeh, dan memeluk lengan Riska, membuat Arga semakin muram.
"Kalian ini mau berisik aja di depan rumah! Ayo.masuk!"
☘️
Hari Minggu, Miana membuat kue kacang karamel bersama Sari. Berkali-kali Miana penasaran dengan resep satu itu. Hingga akhirnya Miana dapat belajar langsung dari Sari.
"Bikin caramelnya dengan api kecil aja, biar nggak jadi hitam. Itupun harus dikit-dikit aja, biar nggak jadi gosyong semua, ya," saran Sari sewaktu Miana mulai mempraktekkan instruksi darinya.
Sedangkan Arga terus memerhatikan interaksi hangat Oma dan Miana sambil menumbuk kacang sangrai tak jauh dari keduanya.
"Gini ya, Oma." Miana memperlihatkan caramel yang sudah siap untuk menggulung kukis.
"Ya. Cepet tuang, lalu gulingkan di kacangnya!"
"Hati-hati, Sayang! Panas itu." Arga mencoba membantu menaburkan kacang yang sudah di tumbuk kasar olehnya.
"Iya. Ini juga hati-hati. Jelas aja panas. Namanya juga dari atas api," sahut Miana.
"Ini mulut, kecil. Nggak bisa, ya, diam trus nurut aja tanpa protes." Arga menarik pipi Miana karena gemas.
"Arga, ish. Lagi serius juga." Miana segera menepis tangan Arga yang mengganggu pergerakannya lalu mendongak pada Sari yang terkekeh pelan. "Omaaa," rengeknya meminta perlindungan.
"Argaza..." Lirikan tajam dari Oma membuat Arga menurut.
Ketiganya kembali fokus sejenak dengan kegiatan masing-masing. Miana membuat karamel, Sari membuat adonan kukis dan Arga tetaten menumbuk kasar kacang tanah untuk toping.
"Kata Arga, Miana dulu suka ngejar-ngejar Arga, ya! Emang benar begitu?" tanya Sari saat Miana mulai memasukkan gula ke dalam panci lagi.
"Eh? Emm, Arga bilang begitu, Oma?" tanya Miana tanpa berani menunjukkan wajahnya karena terlalu malu.
"Iya. Tuh, pelakunya malah senyum-senyum."
Miana melirik Arga dengan mengerucutkan bibirnya. Menurut Arga itu sungguh lucu sekali. Terbukti Arga jadi terbahak.
"Argaza, tega ya, bikin aku malu di depan Oma," gumam Miana namun masih terdengar di telinga Sari dan Arga. Bahkan ia juga ikut memanggil sang kekasih dengan sebagian nama lengkapnya seperti Sari saat mengintimidasi cucunya.
"Yayayaya, sekarang jadi aku nih, yang tersudut." Arga berdiri. "Aku ke kamar dulu ambil hp, ya."
__ADS_1
"Nggak, nanya, tuh," sahut Miana sedikit kesal.
"Kali aja, kamu kangen."
"Dih,"
"Astaga, kalian ini lucu sekali." Sari geleng-geleng melihat kedua remaja di hadapannya. Sedangkan Arga terus berlalu sambil bersiul kemenangan.
"Oma, tahu, tidak? Dari dulu Arga anggap perasaan Miana ini candaan." Miana mukai meluruskan prasangka Sari. Takut jika wanita berusia enam puluhan itu menganggapnya murahan.
"Oh, ya? Bodoh sekali anak itu, Ck!" Sari kembali meletakkan bulatan terakhir pada loyang.
"Miana sempat mau nyerah. Dengan mencari kesibukan lain, belajar sama teman. Biar Miana nggak keinget Arga terus."
"Ouhh, kasihan." Oma berucap sendu ikut merasakan bagaimana menjadi Miana yang mencoba meruntuhkan keras hati Arga.
"Miana pikir, Miana cuma kasihan melihat Arga yang selalu sendirian, Oma. Miana coba dekati dia. Meskipun ketus, tapi bikin Miana betah jika terus gangguin dia. Tapi lama-lama, Miana benar-benar perduli dan pengen deket sama dia."
"Kamu sungguh cinta sama Arga?"
Miana meletakan panci karamel dan memberanikan diri menatap pada Sari. "Apa Miana terlihat tidak tulus, Oma?"
Jawaban ambigu Miana membuat Sari terharu. "Dulu Arga pernah di kecewakan oleh sahabatnya. Sehingga ia menjadi pendiam dan tertutup. Oma beruntung Arga bertemu kamu sekarang." Sari kembali fokus pada adonan begitupun dengan Miana.
"Sejak kapan kalian jadian?"
Miana terdiam mulai berfikir. "Emm, sebulan kayaknya,"
"Salah besar. Tiga puluh delapan hari, yang benar." Arga datang dan langsung duduk di samping Miana. Tak lupa lirikan sinis ia layangkan pada sang kekasih yang melupakan hari jadinya. Padahal, bukan lupa. lebih tepatnya, salah menghitung saja, karena Miana hanya memperkirakan.
Sedetail itu Arga mengingat hal jadian. Membuat Miana bersemu dan melirik sekilas pada Sari, yang juga tengah menatapnya tak percaya.
"Iya, iya. Yang udah punya pacar, sampai sedetail itu ingat hari jadinya." Suara oma membuat Miana dan Arga menjadi salah tingkah.
"Jelas, dong. Arga nggak tanggung-tanggung jika udah buat komitmen," ungkap Arga berusaha biasa saja.
"Argaza, kamu ini masih SMA, loh. Gayanya udah kaya mau nikah aja." Sari mengingatkan.
"Arga nggak ada niatan buat main-main, Oma. Nggak tahu kalau sama nih anak." Arga melirik Miana. Sedangkan Miana dan Sari beradu pandang sejenak.
"Ah, Miana masuknya ini ke oven ya, Oma." Miana sengaja mengalihkan pembicaraan.
Miana yang melihat Sari tengah selesai memenuhi satu loyang segera memintanya lalu ia masukkan pada oven.
"Apinya kecil aja, ya," titah Sari sambil membuat adonan baru lagi.
Miana mengangguk dan melakukan titah Oma.
Miana tersenyum canggung. Sedikit menarik kesimpulan bahwa Arga memang sangat terbuka pada sang nenek. Sedangkan Sari begitu menikmati kebersamaannya bersama mereka.
Berkali-kali Sari mencuri pandang pada Arga yang terlihat raut bahagianya. 'Anak ini, sekalinya jatuh cinta sama gadis berisik seperti ini typenya.'
__ADS_1
☘️