
☘️
"Hai ,Dharma. Apa kabar?"
"Ini siapa?"
"Aku, ibu dari anakmu. Apa kau sudah melupakannya, Dharma?"
"Ck. Sarah berhasil mengetahui ponsel pribadiku," batin Dharma. "Apa maumu?'
""Kau masih tetap sama. Tidak sabaran. Aku hanya minta kamu damaikan aku dengan anak kandungku."
"Saya nggak bisa jamin itu akan berhasil, Sarah." Dharma mendengkus seraya merapikan beberapa file di atas mejanya. Tidak bisa di pungkiri, jika ia tengah sedikit merasa risau. Saat mantan istrinya kembali muncul di kehidupannya.
"Aku nggak berniat mengambilnya darimu."
"Omong kosong,"
"Jangan bilang kau akan memisahkan anak dari Ibunya, Dharma. Itu kejahatan."
"Dan kau jangan lupa, Sarah. Dia yang menelantarkan anaknya saat sakit. Itu juga kejahatan."
☘️☘️☘️
Dharma sudah berada di rumah, saat Arga menginjakkan kaki di ruang tengah. Menanti sang anak dengan perasaan carut marut. Pasalnya, mantan istrinya–Sarah, menghubunginya karena akan mengambil alih Arga. Jika ia tidak bisa membujuk Arga untuk membuka ruang maaf untuknya.
Sungguh, ada rasa takut bila Arga akan meninggalkannya. Apalagi jika Arga termakan pemikiran yang salah dari mantan istrinya. Dharma secepatnya bertolak dari Ausie hanya untuk menemui anak satu-satunya untuk hal ini.
Dharma sudah menunggu Arga di ruang kerjanya. Saat sang anak sudah berada di depannya. Ia segera memeluk Arga dan membuat Arga bingung.
Setelahnya, keduanya duduk bersekat meja dan saling berhadapan.
"Arga. Ada satu pertanyaan dari papa."
"Katakan, Pa," sahut Arga.
"Jika mamamu benar-benar mengambil paksa kamu dari Papa. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dharma, mulai serius. Setelah tadi sedikit bercanda seperti biasanya. Meskipun terlihat tenang seperti biasanya. Namun, dalam hatinya begitu menyimpan segala gundah, yang dirinya pun tidak akan menjamin Arga akan ada di pihaknya.
"Apa maksud, Papa? Arga akan tetap di sini bersama Oma." Arga mengucap dengan tegas, membuat Dharma mengambil nafas lega.
Arga sudah dapat menebak maksud sang papa ketika melihat segurat risau di wajah Dharma. Apalagi, melihat sang papa, bercanda kesana-kemari, hanya untuk mencarikan suasana.
Sedangkan Dharma sedang tersenyum tipis. Mengingat apa yang akan ia ceritakan pada sang anak.
"Arga?"
__ADS_1
Panggilan tegas tapi begitu dalam itu membuat Arga mengalihkan perhatiannya dari mocchacino di tangannya. ia menatap sang papa lalu meletakkan cangkir keramik yang isinya tinggal setengahnya.
Dharma menghela nafas panjang sebelum ia membuka suara lagi. "Dulu, ada seorang teman yang berulang kali mengejar cinta papa. Tapi papa tidak bisa membalasnya. Di sisi lain, Papa punya dua sahabat. Satu perempuan dan satu laki-laki. Saat itu, kami tengah kuliah di jurusan yang sama. Tanpa papa sadari, papa jatuh cinta dengan sahabat papa. Papa tidak berani mengungkapkannya. Sampai suatu saat. Teman lelaki papa ternyata tengah mengungkapkan rasa cintanya juga." Dharma sedikit tersenyum seolah sedang berkelana di masa itu. "Ini kisah cinta segi empat, Arga," lanjutnya.
Sedangkan Arga, semakin dalam saja ia menelisik pria di hadapannya itu.
"Saat itu, papa seperti tidak punya rasa percaya diri lagi untuk melihat mereka. Papa pergi begitu saja dari mereka. Papa mengutuk diri papa yang tidak punya keberanian. Tidak di sangka sebelum papa menjauh dari sana, teman perempuan papa memeluk papa. Papa tidak berani berbalik untuk melihat apa yang terjadi. Namun, sebuah pengakuan dari orang yang papa cintai diam-diam itu sungguh membuat papa bahagia sekaligus sakit yang bersamaan."
Arga melihat, mata Dharma mulai berkaca-kaca. Sedikit senyuman terulas dari sang papa. Namun, dengan cepat berganti tatapan sendu kemudian.
"Saat papa berbalik untuk melihat mereka. Keduanya sudah ada di belakang Papa. Sahabat lelaki papa tersenyum dan mengangguk pada papa, disusul suara sahabat perempuan papa yang mengungkapkan perasaannya pada papa."
Arga tidak dapat ikut tersenyum, meskipun wajah Dharma kini sudah melukis bahagia disana. Ia yakin, cerita ini belum selesai. Apalagi melihat sang papa meminum kopi di hadapannya seolah memasok kekuatan untuk bercerita lebih berat lagi.
"Singkatnya, papa jadian. Dan persahabatan papa masih berlanjut. Papa menjaganya dengan segenap hati Papa. Hingga suatu ketika, kita belajar bersama di rumah sahabat papa. Awalnya baik-baik saja, sebelum papa keluar sebentar untuk membelikan brownis ketan kesukaan kita bertiga. Saat kembali, papa mendapati kedua sahabat papa saling menangis dengan keadaan kacau. Bisa dilihat, dari pakaian yang berserakan di lantai waktu itu."
Dharma menghapus samar hasil embun yang menghalangi matanya. Agar tidak sampai terjatuh di pipi. Sedangkan Arga, mencoba menelan salivanya untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak tercekat.
"Papa marah dan menghajar teman papa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sedangkan pacar papa menangis tanpa suara. Namun, dari pipinya terlihat bekas air mata yang membuat papa pedih. Tidak berselang lama, papa memaksa mereka untuk menikah. Walaupun yang di cinta tetap papa. Papa berusaha kuat mengiklaskan. Bisa di bayangkan perasaan papa waktu itu? saat meyakinkan kekasih papa untuk menikah dengan orang lain.
Kini, Dharma sudah tidak bisa menahan air matanya yang mulai berjatuhan. "Saat itu juga, papa memutuskan untuk menerima seorang yang mencintai papa, agar papa meyakinkan pacar papa untuk menjalani hidupnya. Dan papa hidup bersama mamamu pada akhirnya. Papa berusaha menyayangi mama. Papa penuhi apa maunya. Dan membuatnya bahagia. Namun, sepertinya dia masih tidak terima, karena papa masih sering mengigau menyebutkan nama sahabat papa itu. Meskipun papa sudah tidak mengetahui mereka ada dimana. Terlebih, komunikasi kami terputus. Singkatnya, mama stres dan kamu lahir prematur. Saat kamu berusia satu tahun, entah mengapa mama banyak berubah. Sering mengabaikanmu dan lebih menyayangi dunianya. Papa marah dan kami sering ribut. Hingga mamamu melayangkan gugatan pada papa. Saat itu, meskipun papa memohon demi kamu. Dia dengan mantap memilih jalannya."
Arga mulai paham akar masalahnya. Sebagai anak yang masih menyimpan kecewa karena di abaikan, tentunya ia tidak akan membela sang mama. Di sini, ia tidak tahu akan memihak siapa selain sang papa. Namun, tidak juga dapat menyalahkan perasaan papa.
"Arga. Papa yakin, kamu sudah dewasa. Kamu bisa menilai sendiri mana yang baik buat kamu. Papa tidak akan memaksa kamu," putus Dharma. Ia beranjak sambil menepuk bahu sang putra dan meninggalkannya sendiri duduk di ruang kerjanya. Sengaja memberi ruang untuk berfikir.
☘️☘️☘️
Meskipun sekarang ia semakin enggan dengan keluarganya. Miana masih tetap bertahan di sana demi Papa. Indentitasnya sudah di ketahui. Saat sang papa meluangkan waktu untuk menceritakannya pagi itu.
Surya mengakui jika Miana, bukan anak Miranti. Tapi, Surya dengan tegas meyakinkan, jika Miana adalah anaknya. Darah dagingnya. Kenyataan itu di perkuat oleh Bi Num. Dialah salah atau saksi hidup bagaimana menemani sang Bunda sampai nafas terakhirnya.
"Bunda, sudah tenang di sana, Mbak Mia. Sekarang, tugas kamu hanya wajib mendoakannya."
Kata penenang dari Bi Num. Kini selalu terngiang-ngiang dalam benaknya. "Lalu, jika bunda telah berpulang. Dimanakah liang kuburnya, Bi. Dimana?" tanya Miana. Ia memohon pada Bi Num untuk membantunya mencari makam sang Bunda.
"Ada. Bibi, bahkan papa terkadang juga mengunjunginya. Jangan kawatir, ya."
"Bagaimana Miana nggak kawatir, Bi. Miana bahkan baru tahu. Andai ada yang bilang sama Miana dari dulu. Miana pasti nggak akan merasa jadi anak durhaka yang tidak pernah mengunjungi bundanya."
"Bukan salah, Mbak Mia. Jadi, Bi Num yakin, bunda pun sudah memaafkan Mbak Mia."
Akhirnya, siang hari Miana bersama Bi Num bertolak dari ibukota untuk mengunjungi makam sang bunda, di kota Solo. Kampung halaman Bi Num.
"Kenapa mama di kuburkan di sini, Bi? tanya Miana. Saat ia tengah menaburkan kelopak bunga mawar dan bunga kanthil di atas pusara sang bunda.
__ADS_1
Bi Num tersenyum. Ia mengelus pahatan batu Nisan berwarna hitam dengan bahagia. Rahasia yang ia pendam, kini sudah dapat ia uraikan atas ijin Surya. "Karena waktu itu, Bunda. Mengembuskan nafasnya di sini. Di kampung Bibi."
"Apa bibi berkenan untuk cerita?" tanya Miana.
"Bisa. Kapan-kapan saja, ya. Jangan sekarang. Sekarang, Bibi tunggu di gerbang sana. Dan Mbak Mia, silakan melepas rindu dengan Bunda."
☘️☘️☘️
Miana menggerutu pasalnya ponselnya mendadak rusak sejak malam itu. Mengingat sekacau apa dirinya, ia sampai melupakan janjinya pada Arga untuk menepolnya. Terlebih, dua hari di kota Solo tanpa ponsel di tangan.
Hari ini, ia sulit menghubungi ponsel Arga yang juga tidak aktif. Padahal ia sudah berusaha untuk menelponya.
Saat di sekolah, Miana tidak ada kesempatan untuk bicara dengan Arga. Arga pun diam seolah tidak terjadi apa-apa. Ingin sekedar menyapa untuk meminta maaf saja. Arga seperti menghindarinya.
Hingga saat instirahat, Miana sengaja ingin berdiam saja di kelas. Ia akan memberi ruang untuk Arga menceritakan masalahnya sesuai janjinya beberapa hari yang lalu.
Meskipun kelas sudah sepi, dan hanya tinggal mereka berdua. Baik Arga maupun Miana, tidak juga ada yang memulai pembicaraan. Miana sengaja memutar tubuhnya untuk menghadap Arga.
Sedangkan Arga hanya diam sambil memainkan pulpen pada tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya mengetuk jari pada meja.
Miana diam tapi otakknya berputar untuk memulai pembicaraan. Terlebih raut wajah Arga yang biasanya santai itu terlihat datar juga kosong.
"Ga, gue salah. Gue minta maaf. Kemarin ada sesuatu yang terjadi di keluarga gue. Sampai gue pergi ke Solo selama dua hari, untuk menenangkan diri."
Arga hanya melihat sekilas penghuni bangku depannya dengan datar.
"Oke. Gue sekarang udah di sini. Jadi gue siap jadi teman cerita, Lo."
Miana masih berusaha membujuk Arga untuk segera membicarakan masalahnya.
"Oh, iya. Ponselku sempet rusak. Dan baru pagi ini gue ambil."
"Arga, gue hubungin Lo sejak pagi tadi. Gue sengaja nungguin Lo di parkiran. Tapi, ternyata Lo udah ada di kelas. Dan gue nggak ada kesempatan buat jelasin. Apalagi Bu Alin juga keburu datang. Trus, barusan juga. Gue kasih lo pesan. Tapi nggak ada tanda-tanda dari Lo buat buka ponsel apalagi membalasnya." Miana melirik kedua tangan Arga bergantian. Ia ambil pulpen yang Arga mainkan. Aneh, ia tidak marah ataupun merasa terganggu.
"Ga, gue pernah denger. Jika kita punya masalah tapi hanya di pendam sendiri. Itu akan jadi penyakit. Dan gue nggak mau Lo sakit. Jadi, kapan Lo siap cerita. Pasti gue dengerin."
Arga menghentikan kegiatannya dan menatap Miana dalam diam.
"Ya, itu sih, kalau Lo percaya sama gue,"
"Bagaimana pembohong bisa di percaya?"
..._tbc_...
Siapa sih ganggu orang berduaan aja???,🙄
__ADS_1
Selamat hari Senin. have a nice day semua 😍