Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 45


__ADS_3

☘️☘️☘️


Sejak Miana tahu ia bukan anak Mama Miranti, tidak sedikit pun rasa hormat dan sayangnya sebagai anak berubah. Ia tetap bersikap seperti biasanya.


Uang gajian sebagian ia berikan pada Miranti dan Bi Num, seperti sebelumnya. Sebaliknya, ia masih menyimpan rapat pekerjaannya pada papa. Seperti saat papa ingin memberikan uang jajan, Miana mengaku jika sudah diberikan oleh mama tiap minggunya. Uang sekolah sudah normal kembali, dan sudah di transfer langsung dari rekening Surya.


Akhir-akhir ini, papa selalu pulang malam. Banyak pekerjaan yang menyita kebersamaan bersama keluarga. Miana pun, seperti sudah terbiasa jika ia hanya bisa melewatkan kebersamaan dengan Surya saat makan pagi bersama.


Seperti saat ini, sarapan di lakukan dengan tenang dan hanya sedikit pembahasan ringan. Miana masih seperti biasanya, luwes dan tidak ragu untuk memulai bertanya hal-hal ringan.


"Bi Num, tolong jus wortel saya, Bi!" Miranti meminta pada Bi Num minuman yang sebelumnya menjadi permintaannya. Di lihat dari isi piringnya, ia tidak memakan nasi seperti yang lain. Sedang menjalani diet vegetarian sepertinya.


"Biar, Miana aja, Ma." Miana segera beranjak dari duduknya untuk mengambilkan jus wortel yang sudah di buat Bi Num di dapur.


"Anak ini, aku jadi kasihan. Meskipun aku selalu kasar sama dia. Dia tetap tanggap walaupun tanpa diminta. Apalagi jika di suruh-suruh," batin Miranti sedikit iba.


Sikap Miranti pada Miana ataupun pada Bi Num, kini sedikit lebih tenang dan tidak banyak membentak seperti biasanya. Surya sudah banyak memberikan teguran khusus, sekaligus peringatan tegas. Sejak Miranti membongkar rahasia yang mereka tutupi dan sepakati bertahun-tahun.


Dapur dan ruang makan kini sudah di renovasi dengan di beri sekat sesuai permintaan Miranti. Ya, walaupun tidak begitu jauh, antara ruang makan dan dapur, kebiasaan Miranti tetap sama bak nyonya rumah. Apapun harus mengikuti inginnya.


Miana datang dan meletakkan segelas jus di samping piring sang mama.


"Papa butuh sesuatu?" tawar Miana memandang ke arah Surya dan mendapat gelengan. "Sisil, butuh sesuatu?" tawar Miana berganti memandang adiknya.


Sisil menggeleng dan tetap pada kegiatannya. "Aku bisa sendiri," gumam Sisil dan masih terdengar lirih oleh Miana.


Penolakan Sisil membuat Miana segera duduk dan melanjutkan makannya. Sesekali Miana memerhatikan Sisil yang kini terlihat pendiam. Baik di sekolah maupun di rumah. "Sesayang itu kamu sama Bian, Sil. Sampai bikin kamu yang manja dan riweh jadi pendiam seperti ini," batin Miana.


"Kalau butuh sesuatu kamu bisa minta aku, Sil," tawarnya lagi.


"Aku nggak butuh apa-apa, Kak." Sisil mulai memupuk kesal di wajahnya dan membuat Miana bungkam.


'Walaupun kamu dan Bian sudah nggak sama-sama lagi, aku nggak akan ambil dia lagi, Sil. Aku tahu dia kebahagiaan kamu. Aku udah nggak ada perasaan apa-apa lagi sama Bian'.


Selesai makan pagi bersama, Surya berangkat dengan taksi bersama Sisil sedangkan Miana tetap dengan motor kesayangannya.


Dalam perjalanan, Miana sedang menikmati padatnya jalanan dan seisinya. Sebuah headset tertanam rapi di kedua telinganya, agar tidak begitu bosan. Keseruan mendengar lagu 'I'm losser' harus terhenti saat sebuah motor mensejajarkan dengan tempatnya berhenti, saat traffic light menyala merah.


Saat menoleh, Miana mendapati mata Bian menyipit menyambut pandangannya. Dapat di simpulkan saat ini bibirnya juga mengulas senyum meskipun tertutup helm full face yang di kenakan. Tidak ada yang bisa di lakukan selain membalas senyum menawan sang mantan pagi ini.

__ADS_1


Sampai saat Miana tiba di sekolah lebih lambat dari Bian. Ia mendapati Bian masih duduk di atas motornya. Perasaannya tidak nyaman saat Bian ternyata sengaja menunggunya. Terbukti saat Miana selesai memarkirkan motornya, Bian menghampirinya.


"Hai," sapa Bian.


"H–hai," sahut Miana tertahan.


Sedangkan Bian mulai menggulum senyum. Berfikir sesuatu. "Kita bisa jalan bareng, kan?" tawar Bian dan di balas anggukan tertahan oleh Miana.


Mata tajam namun meneduhkan itu sungguh membuat Miana berantakan. Selalu saja ia mengingat Sisil beserta lukanya saat ini, pagi tadi, dan setiap malam saat ia menghampiri Sisil saat sudah terlelap. Ia sudah sangat ikhlas melepas sakit saat dulu Bian mengakhirinya seiring raut bahagia sang adik yang menjadi penggantinya.


"Lo kerja tiap hari?" tanya Bian memulai pembicaraan saat berjalan beberapa langkah di koridor.


"Iya. Paruh waktu aja," jawab Miana.


Bian mengangkat tangan saat menyapa Arkan dari arah berlawanan. Ia juga memasang wajah mengintimidasi. Tanpa membiarkan Arkan untuk bertanya lebih.


"Enggak capek?"


"Bohong kalau aku jawab enggak capek."


"Kenapa, sih. Datar banget sama gue? Nggak suka ya ngomong sama gue?" Tanya Bian.


"Nggak gitu, Bi." Sanggah Miana.


Keduanya lalu berjalan bersisihan dengan keheningan. Miana yang resah berkali-kali tali backpack yang sebenarnya sudah rapi. Sambil terus mengayun langkah yang terasa lebih jauh karena menyimpan resah. Takut Sisil melihatnya dengan Bian.


"Miana," panggil Bian memecah keheningan.


"Ya,"


"Gue masih sayang, Lo." Bian mengungkapkan dengan jujur dan terasa dalam.


Ucapan Bian membuat Miana mengehentikan langkahnya. Begitu pula dengan Bian ."Gue serius," lanjut Bian.


Miana menggeleng. "Lo hanya akan kecewa denger jawaban gue Bi."


"Gue nggak butuh jawaban ,Lo."


Ditatap sedalam itu, membuat Miana segera memutus pandangannya.

__ADS_1


"Gue duluan, Bi." Miana segera melangkah lebih dulu, bahkan sebelum Bian menjawabnya.


Bian memandang sayu kepergian Miana, ia tidak punya alasan untuk menahannya lebih lama.


☘️


"Dorr!" Riska memegang bahu sahabatnya sambil tertawa puas telah mengambil fokus Miana yang tengah membaca buku.


Masih dengan memegangi dadanya yang bergetar dan berdegup berkali lipat karena guncangan mendadak di tubuhnya. Miana membulatkan matanya tanda bersiap protes pada Riska.


"Ututuuu, jangan marah sayangku. Ntar cakepnya longsor loh," rayu Riska dan mendapat decakan malas.


"Takut amat, sih. Kalah saing sama Arga. Sampai-sampai saat istirahat begini, Lo masih aja bergelung sama buku." Sisil duduk merapat di samping Miana. Riska memanjangkan lehernya untuk mengetahui apa yang tengah di pelajari sahabatnya. Mulut masih aktif mengunyah keripik talas yang dibeli saat di kantin tadi.


"Enggak gitu. Perut lapar, tapi gue enggan ketemu Bian."


Sontak Riska menyodorkan satu bungkus keripik talas pada Miana, tapi segera ia tarik kembali saat satu tangan Miana hendak terulur untuk mengambil Snack renyah dalam kemasan.


"Jahat, ih," uangkapnya lesu.


"Ih, ngambek." Riska memeluk Miana dengan merengkuh bahunya. "Anak Bi Num, nggak boleh ngambek. Ntar jodohnya sulit," goda Riska.


Miana tidak bisa menyembunyikan lagi soal kenyataan itu dari Riska. Bian pasti udah membongkar semua pada Arkan, Rio dan Bayu. Jadi, pastilah cepat atau lambat Riska juga segera mengetahuinya. Dan untuk menghindari kemarahan Riska, Miana telah memberi tahu hal itu lebih dulu.


"Bi Num, mah. Doa selalu yang baik-baik. Nggak kaya' Lo," sergap Miana.


"Yee. Tega ya, nuduh gue yang jelek-jelek," protes Riska. "Eh, btw. Gue juga mau dong, kapan-kapan berkunjung ke makam bunda."


Miana melirik Riska dengan ekor matanya. "Ngaco ya kalau ngomong. Gue harus kerja dulu, buat bayar ongkos kesana."


Riska terkekeh pelan. Lalu memberikan satu bungkus keripik yang tinggal setengahnya di pangkuan Miana.


"Gue baru ingat. Miana masih miskin ya, walaupun udah banting tulang kerja keras. Nyatanya, Lo nggak bisa pelit dikit gitu, sama mama tiri Lo."


"Dia tetap mama aku, Sil. Dia yang rawat aku dari kecil," kenang Miana.


"Heh, yang rawat Lo tuh Bi Num. Bukan mama jadi-jadian, Lo ,itu," sanggah Riska. "Mana ada, mama beneran tapi main tangan mulut lemes tapi hari," tolak Riska berapi-api.


Miana hanya mengulas senyum melihat ekspresi sahabatnya. "Gue harus gimana balikin mood Sisil, Ris?" Tanya Miana. Sedari tadi hanya Sisil yang ada dalam benak Terlebih, Bian tadi menunjukkan sisi lembutnya kembali. Ia takut Bian, akan benar-benar menginginkannya kembali.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Maaf baru up, riweh kondangan BESTIE 🙏


__ADS_2