
Sejak semalam hingga pagi ini chat yang Miana kirimkan masih centang satu. Sedikit resah karena sejak dua hari yang lalu, hal itu sering terjadi saat ia mengirim pesan pada Arga.
Meskipun begitu, Miana lekas mempersiapkan berkas berkas yang akan ia bawa untuk pendaftaran di kampus baru. Ia juga harus bersiap mengemas beberapa bajunya karena besar kemungkinan Miana akan memilih tinggal di asrama. Ia tak mungkin setiap hari pulang dan pergi dari rumahnya menuju kampus.
Universitas di kota D adalah pilihan Miana. Sesuai saran dari Bu Alin sebagai wali kelasnya. Ia sudah banyak berkonsultasi tentang apapun pada Bu Alin. Mengenai beasiswa yang ia terima pun, sudah ia tanyakan. Ia merasa janggal karena prosedur beasiswa penuh beserta fasilitas hanya akan di berikan jika telah memenuhi syarat. Sedangkan Miana sendiri, bahkan mengalami penurunan nilai di semester lalu. Saat di tanyakan hal itu pada Bu Alin, beliau hanya menjawab ini sudah menjadi ke beruntungmu, begitu kata wali kelas.
Sampai pesan dari wali kelasnya tersebut menyarankan untuk segera mendaftar via online lebih dulu. Miana menurut dan mengikuti saran-saran Bu Alin. Dari pukul 09.00 pagi sampai pukul 12.00, Miana melakukan registrasi data dan langsung test via online juga.
Beruntung sekali, semua dapat Miana lewati sesuai prosedur yang di tetapkan. Terlebih Miana adalah salah satu pengguna beasiswa. Jadi, ia harus melalui prosedur yang ada
Kenop pintu di ketuk di susul terbukanya daun pintu. Memperhatikan siapa yang datang. Surya menghampiri Miana ke kamar dan membawakan nampan berisi sarapan yang sangat terlambat. Ada satu gelas susu dan nasi ayam dengan sambal dan lalapan mengelilingi nasi dalam piring.
"Papa..." ucap Miana sendu. Terharu karena perlakuan papa begitu manis, khususnya hari ini.
Surya mendorong frame kacamata pada pangkal hidungnya yang sedikit turun. "Kamu sudah susah payah memasak. Begitu sudah siap, kamu malah pergi ke kamar dan nggak keluar-keluar. Kamu pikir papa, nggak tahu," ucap Surya seraya meletakkan nampan kayu pada sisi meja belajar Miana.
"Makasih ,Pa."
Surya melihat sekilas pada layar laptop yang masih menyala lalu beralih pada anak perempuannya. "Sudah daftar?"
"Sudah di terima, Pa. Makanya, Miana sampai lupa makan." Miana meringis.
"Kamu memang tak perlu di ragukan."
"Papa jangan memuji berlebihan." Miana memang tak suka di sanjung. Ia sangat paham bila di rumah ini tak hanya dirinya saja sebagai anak Surya. Ada Sisil yang harus ia jaga perasaannya.
Surya menatap sendu pada anak sulungnya. Hingga Miana mendekati Surya dan mengajak duduk di tepi tempat tidur.
"Kenapa papa, kok, sedih, gitu?"
"Bagaimana papa tidak sedih, Miana. Dengan di terimanya kamu di kampus pilihanmu. Itu pasti akan membuatmu meninggalkan rumah ini. Pasti papa akan kesepian."
Sebelumnya memang Miana sudah membicarakan hal ini pada Surya dan Miranti. Keduanya hanya bisa mendukung terlebih mereka sadar Miana tengah berhasil mendapatkan beasiswa. Jadi, dimana pun Miana menuntut ilmu bagi mereka tidak masalah. Terlebih, Surya sudah tidak meragukan lagi, Miana sudah mandiri sejak kecil.
__ADS_1
"Paa, kan masih ada Sisil dan mama. Miana pergi untuk mencari ilmu, Pa. Sabtu sama Minggu, Miana bisa pulang kok. Papa nggak perlu kawatir. Miana akan sering-sering pulang ke rumah."
Surya mengangguk, mengelus kepala Miana. Bibirnya menipis dengan mata yang sudah sembab. Orang tua mana yang baik-baik saja saat anak yang di rawat kini harus berada di luar jangkauannya.
Surya memberi banyak motivasi serta dukungannya. Ia tak perlu kawatir karena segala keperluan Miana sudah di tanggung sepenuhnya dari pihak universitas.
Hingga sore hari, Miana harus mengemas baju-bajunya serta berkas-berkasnya.
Satu koper dan satu tas ransel besar sudah ia simpan di sisi tempat tidur. Miana kembali memeriksa ponselnya dan segera mencari kontak Arga.
Bahu yang turun menandakan betapa kecewanya dia mengharapkan pesan dari sang kekasih hati. Ia mencoba menekan tombol hijau tanda panggilan. Hingga berkali-kali Miana mencobanya tetap tak ada yang tersambung.
Miana putuskan untuk ke rumah Arga sekaligus untuk mengatakan keberhasilan registrasinya pada fakultas ekonomi dan bisnis yang beberapa minggu yang lalu mereka bicarakan dan rencanakan.
Motor matic kesayangannya mulai bergabung di jalan utama. Bersama kendaraan lain yang mempunyai tujuan masing-masing.
Tak sampai sepuluh menit, Miana sudah sampai di rumah Arga yang sudah di bukakan oleh satpam sekaligus pekerja bersih-bersih yang sudah Miana kenal.
Miana mengangguk seraya mengambil kresek putih yang ia gantung di motornya. Ia mendekati Pak Deri sambil membenarkan tali selempang tas cangklong berwarna hitam. "Iya, Pak. Nyari Oma sekalian. Ada, kan?" ujar Miana sambil menunjuk ke arah rumah.
Pria berusia paruh baya itu menggaruk kepalanya. Terlihat ragu. "E, itu. Apa den Arga nggak bilang, Non. Dia, kan ke Australia. Mau kuliah disana. Oma Sari dan Opa juga ikut. Hanya Tuan Dharma yang ada di sini. Itupun belum, pulang."
Prak!!
Jinjingan berisi brownis ketan hitam pada tangan kiri Miana jatuh begitu saja. Ada apa ini? Mengapa Arga tak memberitahunya? Mengapa mendadak sekali. Bagaimana bisa Arga berubah begitu cepat? Rencana matang yang ia dan Arga rencanakan untuk kuliah bersama di fakultas yang sama mendadak gagal bahkan sebelum di mulai.
"Arga," desis Miana seiring mata yang sudah memupuk cairan. Berkedip sekali saja cairan itu sudah lolos mengalir di kedua pipinya. Ia menyeka air mata yang mengalir, dengan kasar. Segera ia raih ponsel dan menghubungi kembali nomor Arga. Nihil. Masih tak ada jawaban. Tak habis akal, ia segera menggulir layar mencari kontak Oma. Dan malangnya, ponsel Oma juga tak bisa ia hubungi.
Suara Pak Deri yang menenangkannya berulang ulang, seperti hanya berdengung saja. Ia tak bisa berfikir. Hanya terus menduga-duga, salah apa dirinya, hingga Arga tak memberitahunya.
Miana memutuskan pamit dan kembali ke rumah. Setelah di depan pagar rumah. Ia kembali memutar arah dan menuju rumah Riska.
"Lo kenapa, Beib?" todong Riska begitu mendapati Miana berdiri di depan pintu rumah. Hanya Isak tangis yang ia dapat. Miana hanya terus menggeleng meskipun Riska sudah mencoba menenangkannya.
__ADS_1
"Arga pergi," ucap Miana begitu ia sudah bisa menenangkan diri.
"What? Gimana, gimana?" pekik Riska mem bolakan matanya.
"Arga pergi, dia nggak pamit sama gue, Ris. Gue–," Miana masih menuntaskan Isak tangisnya. Tangan kanannya sibuk menghapus air mata yang masih terus mengalir di pipi. "Gue salah apa sama dia? Bahkan hubungan kita baik-baik saja. Tapi... dia ninggalin gue gitu aja. Apa salahku, Ris?" lirih Miana.
Riska diam mendengarkan apa kata Miana. Hanya usapan di punggung sang sahabat yang dapat ia lakukan. Pikirannya ikut menerka-nerka jika hubungan keduanya baik-baik saja. Mengapa sampai Arga tak memberi se–ucap kata pun saat pergi?
Miana sampai tak malu mengatakan apa yang terjadi saat semalam. Jika keadaannya tidak genting seperti ini. Pastilah Riska sudah heboh mendengar pengakuan Miana perihal flass kis**ng yang baru pertama kalinya itu.
Keduanya kini sudah duduk di kamar Riska di lantai dua. Miana tak mengalihkan pandangannya pada lalu lalang jalanan yang kini tengah di guyur hujan.
Dengan memegang cappucino yang di apit dua telapak tangannya, Miana menyesapnya sedikit demi sedikit. Masih betah berada di tepi jendela besar yang ada di sisi kamar Riska. Sedangkan Riska sendiri sedang bertukar telepon dengan Bayu. Sedang berdebat dalam hal apa, Miana sendiri enggan untuk mendengarkannya. Suara air hujan lebih menarik saat ini. Ia mengabaikan ponsel yang ada di pangkuan, yang sedari tadi bergetar. Ia hanya melirik lalu meletakkan cangkir kopi di meja. Dengan malas Miana membuka pesan-pesan pada aplikasi hijau. Matanya masih mencari-cari jika saja pada profil yang sangat ia kenali terdapat notifikasi pesan meski satu butir saja.
Miana menekan kontak bernama papa dan mengetikkan balasan keberadaannya. Sedikit terharu saat pesan yang di kirimkan sang papa begitu mengkhawatirkannya.
Miana membuka room chat Bian, kala hampir delapan pesan menyambutnya. Ia mengeryit saat Bian menawarkan bantuannya untuk membawa barang-barangnya ke asrama. Darimana Bian tahu rencananya mengambil fakultas sekaligus kampusnya? Sedangkan Miana hanya mengatakan ini pada Arga saja.
["Makasih, Bi. Tapi aku bisa berangkat sendiri."]
Menolak halus adalah satu hal yang dapat Miana lakukan. Ia tak membutuhkan bantuan Bian. Ia sudah biasa berkendara jarak jauh sekalipun. Tiga jam jarak rumah ke kampusnya. Ia tak mau merepotkan banyak orang, selagi ia masih mampu.
Sejak tadi Riska juga menawarkan diri untuk mengantarkan ke kampus barunya. Lagi-lagi, Miana masih keukeuh untuk berangkat sendiri besok. Ia juga kembali menolak Riska yang sudah bersiap mengantarkannya pulang. Mengingat Miana masih terlihat begitu sedih.
Hujan sudah reda. Hanya menyisakan rintik kecil, yang tidak akan membuat bajunya basah kuyup. Dengan kecepatan pelan, Miana sengaja menikmati dinginnya udara malam sehabis hujan. Ia rasakan kepergian Arga ini menyimpan banyak tanya, yang ia sendiri bahkan bingung untuk menayangkannya pada siapa.
Kenangan saat Ia pulang berkerja di antar Arga kini tengah berputar. Saat berdua mengendarai motor masing-masing beradu kecepatan. Bahkan kecerobohannya suatu malam hingga mengakibatkan Arga berbaring di brankar rumah sakit kala itu, ikut menyeruak ke permukaan. Seolah sedang menggodanya untuk merindu dia yang telah meninggalkannya tanpa kata.
☘️
Mau nyusul, enggak punya duit, ya , kan. nyeseg aja jadinya. 😢🤭🤭
note: ada kata yang harus aku penggal/pisah itu hanya biar cepat lolos saja, ya, jadi mohon maaf bila tidak nyaman,🙏
__ADS_1