Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 9


__ADS_3

☘️☘️☘️


Suara sepatu sport berdecit bersahutan saat beradu pada lantai lapangan basket salah satu ruang di sekolah. Sepuluh pemain seperti berlomba-lomba untuk mendapatkan bola berdiameter 75 centimeter dengan berat kurang lebih 600 gram itu.


Tidak terkecuali pada satu sosok yang sangat dominan di salah satu team di tengah lapangan itu. Peluh mengalir pada sisi wajah hingga hampir seluruh badan siswa bernama Aksabian Baihaki Manggala.


"Biaaaaan, semangaaat."


"Biaaaaan,"


"Biaaannn,"


"Devian,"


"Rioooo,"


"Good luck, Bayu,"


Teriakan suport penyemangat menggema dari bangku penonton. Tidak terkecuali dengan Miana yang memang sangat bersemangat jika itu tentang Bian. Persaingan ketat memperebutkan poin semakin memanas kala mendekati sesi akhir pertandingan. Dan bunyi peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan memekik telinga.


"Yeaaayyhh," seru Bian yang telah mencetak poin terakhir itu. Di susul empat teman yang lain ikut berpelukan sekilas menyambut kemenangan. Matanya melirik pada sosok gadis berambut panjang dan memakai bandana bercorak polkadot berwarna putih-hitam yang berdiri di sisi lapangan.


Miana membawa satu botol air mineral di tangan kanannya. Satu tangan kirinya melambai pada Bian yang masih menatap tegas padanya.


Bian bergerak mendekati Miana yang sudah menyambut kedatangannya dengan senyuman dan rasa bangganya. Bian menatap dalam Miana yang menerbitkan senyum menyambut dirinya.


"Untukmu." Miana memberikan air mineral itu pada Bian. Entah keberanian dari mana Miana melakukan hal ini. Beberapa hari yang lalu hal seperti ini pasti akan selalu dinantikan oleh Bian. Jika saja Miana telat memberikan air minum pada Bian, hal pertama yang di dapat Miana adalah acara merajuk Bian lengkap dengan sangsi mengada-ada ala Bian. Entah dengan menemaninya makan, menjadi les privat dadakan atau paling ringan adalah di ajak jalan. Momen itu merupakan hal yang amat manis menghiasi hari-hari Miana tiga bulan terakhir ini.


Meski begitu, tidak jarang Miana merasa tidak enak hati jika melihat mata adiknya, Sisil menatapnya marah atau melihatnya sedih bahkan memupuk air mata. Rasa tidak nyaman kerap kali Miana rasakan meski di dalam hatinya juga sedikit banyak merasa bahagia dapat memiliki seorang yang di sukainya. Cowok paling populer di kelas juga di sekolahnya.


Melihat Miana berdiri berhadapan dengan Bian membuat darah Sisil seolah mendidih bak sebuah masakan yang sudah lama di atas api. Terlebih suara pada kiri dan kanannya seolah menuang bensin pada kobaran api.


"Gatel baget,"


"Nggak tahu malu,"


"Udah di putusin, masih juga nyosor!"

__ADS_1


"Tapi, aslinya mereka cocok, sih."


"Cocok dari mana? Kalau dari tampang, sih, iya. Miana itu imut, Bian cakep parah. Tapi foto di grup kemarin itu bagaimana?"


"Jelas keluarga Bian nggak maulah, putra mahkota dapet bekas."


"Raya, juga udah nunjukin taringnya, kan, kemarin!"


"Sok kecakepan banget, sih!"


Sisil berlalu cepat menghampiri kakaknya yang tidak juga mengindahkan peringatannya beberapa hari yang lalu. Gemeletuk giginya berkerat ketika bergesekan karena geram. Semakin mendekat, mimik wajah Sisil perlahan mengendur dan memasang wajah manisnya.


"Ini aja Bian, takut yang itu bekas orang." Sisil mengulurkan botol air mineral membuka penutupnya perlahan di depan Bian yang melirik pergerakan tangannya. Sengaja menekankan kata bekas pada perkataannya.


Kembali Bian membayangkan Miana berada dalam rengkuhan pria berstelan rapi di depan cafe pada foto itu. Meskipun rasa sayangnya masih ada. Namun, rasa kecewanya lebih mendominasi. Kini dua cewek berdiri di depannya sama-sama mengulurkan sebotol air mineral untuknya. Tanpa ia tahu mereka adalah saudara kandung.


Bian memilih mengambil air dari tangan Miana. Membuat Miana sedikit menyunggingkan senyumnya. Walau senyum itu terlihat tertahan karena melirik adiknya yang kini bermuram durja.


Bian menoleh pada teman-temannya yang berkumpul dan melempar botol itu pada temannya yang menyadari kode untuk menangkap botol darinya.


Senyum terukir dari bibir Sisil kala air mineral di tangannya tersambut oleh orang yang sangat ia sukai sejak kelas dua, setahun yang lalu.


Bian meminum habis isi botol itu hingga tandas di depan Miana yang masih diam bergeming tanpa ada kekuatan untuk berlari dari tempatnya. "Sakit, kan, Sayang. Itu juga yang gue rasakan saat Lo nggak mau jalan sama gue dan lebih milih jalan sama om-om itu," ucap halus nan lirih Bian tapi berasa tajam menusuk hati Miana.


Miana segera berlari meninggalkan lapangan itu terlebih saat sorak-sorai teman-teman yang ada di bangku penonton yang mengatai dan menertawakannya.


Hal itu tidak luput juga dari mata Arga yang sejak awal hingga berakhirnya pertandingan masih diam mengamati perwakilan kelasnya bertanding dalam momentum awal tahun pelajaran. Berkali-kali ia menghela nafas melihat hal yang mengusik perhatiannya pada ketiga siswa siswi di tepi lapangan. Ia bahkan mengabaikan panggilan beberapa siswi yang terang terangan mendekatinya.


☘️


Miana menumpahkan tangisnya di rooftop sekolah. Tempat sepi itu menjadi tujuannya setelah mempermalukan diri di lapangan tadi. Ia masih terisak menumpahkan lara hati. "Tega, kamu, Bian."


"Mungkin ini hukuman buat gue, karena nyakitin Sisil. Dan mungkin ini saatnya gue lepas Bian, agar Sisil dapat leluasa mendekatinya."


Miana menghapus cepat air matanya. Ia teringat, saat beberapa pekan lalu, Mama menegurnya dengan kasar saat Sisil menagis sesenggukan karena melihat Bian bersikap manis padanya di sekolah. Sampai saat di rumah pun, Sisil masih terisak merasai sakitnya bertepuk sebelah tangan. Tapi, Miana bisa apa. Dia bukan Tuhan yang bisa mengatur perasaan Bian agar berganti menyukai Sisil. Disamping rasa cinta yang dia punya pada Bian.


"Tapi aku masih cinta Bian."

__ADS_1


"Tapi aku juga sayang Sisil."


"Aku juga nggak mau semakin di benci mama."


"Aku harus apa?"


Miana meluapkan segala sesuatu yang berkecamuk dalam hatinya agar sedikit lega. Perlahan Isak tangis Miana mereda setelah ia puas menumpahkan semua.


"Ternyata ini sisi lain dari Lo yang berisik itu?"


Miana diam bergeming dan perlahan memutar badannya agar dapat melihat siapa yang tengah bersuara di belakangnya. Punggung tangannya sibuk menghapus sisa air matanya.


Arga diam bersandar pada tembok sisi pintu rooftop dengan kedua tangan masuk pada saku training yang sama dengan milik Miana. "Selain berisik dan kata orang murah senyum, Lo juga cengeng," ucapnya santai.


"Sejak kapan Lo di situ?" tanya Miana. Kini air matanya telah mengering dengan sendirinya.


"Sejak tadi,"


"Lo nggak dengerin semua yang aku ucap, kan?"


"Gue punya telinga. Dan Lo teriak-teriak. Bukan salah gue, 'kan, kalau gue denger semua!"


Miana diam memikirkan cara agar Arga tutup mulut. "Gue harap Lo diam aja seolah nggak denger apa-apa."


"Bukan hak Lo ngatur gue." Arga berbalik dan meninggalkan Miana. "Gue pikir Lo mau bunuh diri karena mempermalukan diri sendiri," batin Arga.


Mengembuskan nafas berat, Miana melihat sekitar rooftop sekolah yang baru di jejakinya pertama kali. Meskipun sedang di atap gedung. Namun, pepohonan yang berbaris rapi mengelilingi sekolah menciptakan hawa sejuk di sana. "Nyaman," gumam Miana. Tangannya mencari benda pipih dalam saku training. Menggulir layar hingga menemukan fitur WhatsApp dan memberi pesan pada Riska yang pasti sangat menghawatirkanya.


Tidak berselang lama Riska datang dan menanyakan keadaannya. "Bayu udah gue ceritain. Bahkan Bayu udah coba bicara pada Bian dengan kejadian yang sebenarnya. Tapi dia tetap benci sama Lo, Mia. Dia makin benci karena Lo nggak bener-bener cinta dia karena nggak coba mentingin dia. Ada lagi, lebih parah. Dia ngira, lo cuma mainin perasaannya dia aja," ujar Riska panjang lebar.


"Udahlah, Ris. Mungkin, ini adalah puncak tumpukan kekesalan Bian karena sikap gue."


'Dan kalian tidak ada yang tahu, bahwa gue lebih sayang Sisil daripada siapapun. Gue nolak Bian, mencari alasan ini itu karena nggak mau Sisil terus tersakiti. Meski gue juga sakit karena udah tega nolak Bian sering kali.'


☘️☘️☘️


jangan lupa tekan like dan komentarnya ya pren, 🤗

__ADS_1


__ADS_2