
Malam ini grup chat 12 MIPA 1 kembali riuh. Informasi Bian jatuh dari motor menjadi topik utama. Bertambah lagi informasi bahwa Bian telah mendapatkan perawatan medis di salah atau rumah sakit terdekat. Bisa mereka simpulkan jika Bian mendapat luka serius.
Seisi kelas membicarakannya. Menerka-nerka, sebab jatuhnya sang penakluk sirkuit. Tak terkecuali dengan Miana dan Arga yang tengah melakukan video call terpaksa menjeda panggilan karena sempat menangkap riuh room chat kelasnya.
"Bian, kecelakaan" kata Miana. Begitu vidio call kembali dengan Arga.
Dari seberang sana wajah Arga terlihat datar. Tidak ada senyum terukir seperti sebelumnya. Dia ingat sebab perkelahiannya kemarin. Bian menantangnya untuk balap motor. Bian tidak akan mengganggu hubungannya jika Arga memenangkannya. Arga tak terima hubungannya menjadi taruhan. Akhirnya, keduanya beradu kekuatan hingga mendapatkan beberapa memar di wajah dan sudut bibirnya.
"Ya, udah. Tanyain dulu keadaannya. Kamu tahu, harus menghubungi siapa, kan." Arga meletakkan ponsel posisi di depan meja belajarnya. Sudah pasrah bila Miana akan kembali memutus sambungan video-call dan lebih mementingkan soal Bian.
"Kamu marah, aku singgung soal Bian?"
"Nggak, kok. Bagaimanapun, Bian teman sekelas kita. Aku jelas ikut prihatin mendengar kabar ini. Aku tutup, ya. Good night."
Arga menunggu Miana membalas ucapan penutup teleponnya. Di seberang sana, Miana tak segera menjawab. Ia malah menopang dagu. Memandangi Arga dengan senyum manisnya.
"Kenapa nggak juga di tutup? Bukannya kamu menghawatirkan Bian " Suara Arga kembali menyapa Miana. Berikut Arga telah melakukan hal yang sama seperti Miana. Menopang dagu.
"Masih nggak nyangka, aja. Aku kira, kita nggak akan sampai seperti ini."
Arga mengernyit hingga kedua alisnya hampir tertaut. "Maksudnya?"
Miana memasang wajah masam. "Kamu lupa! Aku hampir nyerah ngejar-ngejar kamu, Ga. Tapi, kamu-nya nggak lirik aku sedikitpun."
"Heeei. Siapa yang suruh ngejar-ngejar aku. Aku kan udah bilang, cukup kamu diam. Biar aku yang deketin kamu."
"Lama."
Arga tak bisa lagi menahan tawanya.
"Jahat." Miana manyun sampai bibirnya terlihat lucu.
Arga me nggu lum senyum sejenak. "Kamu kalau merajuk makin cantik." Arga terdiam kembali pada wajah serius. "Aku butuh waktu meyakinkan diri. Aku punya banyak kerumitan tentang komitmen."
"Kenapa kamu nggak bilang sama aku." Kali ini Miana berkaca-kaca, mengingat perlakuan Arga beberapa waktu lalu. Berkali-kali di acuhkan membuat Miana seperti mempermalukan diri sendiri.
"Udah, jangan bahas ini. Kita tutup telponnya. Lalu belajar. Itupun kalau kamu beneran belajar. Nggak cari-cari kabar tentang mantan." Arga tak sungguhan meragukan Miana.
"Tanpa aku cari tahu. Riska pasti kasih aku kabar, Ga."
"Hm." Arga mengangguk.
Setelah itu Miana benar-benar menutup sambungan video callnya. Ia lekas belajar. Berusaha konsentrasi. Meskipun sempat Menerka-nerka tentang kecelakaan Bian.
__ADS_1
☘️
Lampu di atas pintu operasi masih menyala, menandakan operasi sedang berlangsung. Bian harus menjalani pasang pen pada lengan kirinya karena kerasnya benturan. Bian tak mengenakan atribut lengkap siang tadi. Jaket Hoodie hanya melindungi tubuhnya dari terik matahari bukan selayaknya racing gear yang mempunyai fungsi menambah bobot tubuh juga beberapa pelindung lainnya.
Riska bersama Bayu dan Raya terlihat menunggu. Berkali-kali Riska menerima telepon dan menerangkan apa yang terjadi. Bisa di pastikan itu telepon dari kedua orang tuanya yang sedang berada di luar negeri.
Satu jam barulah dokter ortopedi keluar bersama team. Menjelaskan tentang kelancaran operasi dan juga keadaan Bian.
Tanpa di minta, Riska memberi tahu pada Miana melalui room chat.
Tidak juga mendapat balasan. Riska melirik waktu pada ponselnya. Hampir tengah malam. Segera Riska menyadari, Miana pasti sudah terlelap.
☘️
Pagi menyapa kembali. Hari terakhir latihan ujian kali ini masih hangat dengan membahas Bian yang tak dapat hadir.
Beberapa teman membahas tentang Bian. Miana hanya menimpali sewajarnya. Sesekali menepis pendapat teman-temannya bila Miana disangkutpautkan dengan jatuhnya Bian.
Sedangkan pemilik bangku di belakangnya, hanya terdiam. Sesekali Arga melirik meja Bian yang kosong. 'Andai Lo nggak keras kepala. Pasti ini nggak akan terjadi.'
Selama lima jam, serempak untuk kelas 12 mengerjakan lembar soal ujian juga pengerjaan secara online. Diketahui Bian pun juga dapat mengerjakan soal meskipun di rumah sakit. Tentu itu semua karena kebijakan dari sekolah dan orang tua Bian.
☘️
"Mau jenguk Bian bareng, nggak?" tanya Riska setelah berada di hadapan Miana. Yang di ajak bicara menoleh pada Arga dan di beri anggukkan.
Riska mengikuti arah pandang Miana. "Lo mau ikut juga, Ga?
"Tentu. Apa ada masalah?" tanya Arga kembali. Menoleh pada Miana dan kembali ke Riska.
Riska mengelus kepalanya dan tersenyum canggung. "Ng_ nggak, sih."
"Rencana kita tadi, juga mau jenguk ke sana, Ris."
"O, ya?" tanyanya tak percaya. Pasalnya Riska tahu seperti apa bila Arga dan Bian jika bertemu. "Kupikir Lo akan bersorak mendengar keadaan Bian." Riska sedikit melirik Arga.5
"Jangan menyimpulkan sesuatu sebelum tahu pasti," kata Arga dingin seraya berjalan kembali.
Miana mengangguk membenarkan lalu mengajak Riska kembali melangkah. Riska lekas menelpon Bayu agar menyusulnya.
Riska bersama Bayu, Roy dan Arkan berada dalam satu mobil. Sedangkan Miana duduk di samping kemudi Arga. Berangkat sekolah tadi, Arga menjemput Miana. Sudah ia rencanakan sebelum mereka terlelap semalam. Jika mereka akan menjenguk Bian bersama. Alhasil, Arga datang pagi-pagi sengaja untuk menjemput Miana.
Sesampai di rumah sakit, enam siswa-siswi itu berjalan menyusuri koridor. Mereka tidak perlu bertanya pada resepsionis karena Bayu sudah dapat menghubungi Bian mengenai ruang perawatannya.
__ADS_1
Miana masuk di ikuti Arga, Riska, Bayu, Roy dan Arkan. Derap langkah pelan membuat Bian yang hendak terlelap terpaksa membuka mata kembali.
Mata Bian masih terfokus pada salah satu di antara mereka berenam, Arga.
"Bian, gimana keadaan Lo?" tanya Miana saat sudah di samping brankar Bian. Yang lain pun sudah berdiri mengelilingi brankar. Miana melirik sling arm yang menggantung di depan dada.
"Sudah lebih baik. Nanti sore mungkin sudah boleh pulang." Bian berganti menatap Arga. Lalu pada Miana kembali. "Lo maksa dia datang ke sini," tanya Bian dan Miana jelas menggeleng.
"Justru Arga yang ajak gue, Bi. Jangan
, deh," terang Miana.
"Ku pikir, dia akan tertawa melihat gue terdampar di sini," terka Bian.
Arga tak mau terpancing. Ia sudah menunjukkan niat baiknya. Namun, Bian menyalahartikan niatnya. Arga hanya sedikit menarik sudut bibirnya. "Semoga lekas pulih dan bisa kembali ke sekolah."
"Thanks," lirih Bian. Membuang pandangan pada sling arm di depannya.
Bayu berganti melemparkan candaan. Ia tak mau obrolan Arga dan Bian makin menjadi dan berakhir dengan keributan. Di susul dengan Miana yang menanyakan sebab Bian jatuh.
'"Sedang nggak fokus aja. Bayu mepet terus. Sampai gue ke luar jalur. Di tambah dengan kondisi roda gue belum di ganti," dusta Bian menjawab Miana.
Nyatanya ia sampai terjatuh karena ia baru menyadari perihnya kehilangan. Miana kini sudah semakin menjauh dan bertemu sosok yang membuatnya nyaman. Sialnya, sosok itu adalah Arga. Entah karena apa, Bian merasa sudah kalah sebelum bertanding jika itu tentang Arga.
Miana mengangguk. Tidak sepenuhnya percaya. Inginnya mengorek kebenaran, tapi keadaannya tidak tepat. Ia juga harus menjaga perasaan Arga.
Miana menjadi salah satu dari dua cewek yang hadir disana. Pribadinya yang riang tentu segera menghidupkan suasana. Suara Miana dan Riska akhirnya mendominasi ruang VIP itu. Beberapa saat obrolan ringan mengalir begitu saja.
Diam-diam Arga menyapu seisi ruangan. Tidak adanya keluarga Bian di sana membuat Arga menyimpulkan sesuatu.
Tiba saat teman-teman yang lain berpamitan pada Bian dan menyebutkan beberapa kata penyemangat. Arga justru terdiam dan menampilkan wajah santainya. Hanya bibir yang menipis sebagai ungkapan rasa ikut prihatin.
Beberapa langkah meninggalkan ruang perawatan Bian. Arga meminta Miana untuk menunggu di lobi. Saat di tanya, Arga hendak ke kamar kecil. Membuat Miana mengangguk mengerti.
Bukan ke kamar kecil, melainkan kembali ke ruangan Bian. Arga mendekati berangkat Bian dan mengucapkan maaf kepada Bian. Memang bukan salah Arga, Bian berakhir di sini. Namun, ia merasa harus melakukan hal ini.
"Gue minta maaf. Terlepas gue salah atau tidak. Gue bener-bener sayang Miana dan gue ingin egois bersama dia. Maaf jika sekarang Miana lebih banyak bersama gue di sekolah dan nggak lagi luangin waktu buat Lo."
"Bukan salah, Lo." Jawaban Bian tak serta merta membuat Arga lega. "Miana memang baik, dia suka menjaga perasaan orang lain daripada dirinya sendiri," lanjut Bian.
Bian membenarkan posisi duduknya pada brankar. "Gue lihat, Miana begitu bahagia bersama Lo. Maka, jangan pernah sakiti dia. Karena begitu dia kecewa karena sikap Lo, gue akan ambil Miana kembali," terang Bian lagi.
Arga bergeming sesaat lalu mengangguk yakin. Meskipun dalam hati sedikit ragu.
__ADS_1
☘️