Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 97


__ADS_3

Miana panik lalu kembali mendekati Arga.


"Ga, kamu kenapa? Kamu baik-baik aja, kan? Kita ke rumah sakit, ya?"


Miana mencecar Arga yang tengah memegangi perutnya sambil meringis. Arga hanya terus menggeleng membuat Miana semakin panik dan kebingungan. Bahkan ia sudah mau menangis karena disana tidak ada orang yang ia kenal untuk meminta tolong.


Arga merangkul bahu Miana. Tanpa di minta Miana mencoba mengajak untuk mencari tempat duduk. Sambil Miana terus menanyakan keadaannya.


"Arga, pliss katakan kamu baik-baik aja." Miana sudah berurai air mata. Tangan Miana berusaha menyentuh kening Arga bermaksud untuk mengecek suhunya.


"Ar-,"


Cup!!


Di luar dugaan, Arga justru menyambar bibir Miana. Seketika mulut ceriwis itu berhenti berucap. Mereka spontan mengentikan langkah.


Satu detik.


Dua detik.


Hingga beberapa detik berlalu, perlahan Arga menarik bibirnya dan memberi jarak agar dapat melihat wajah Miana yang bersemu. Arga tersenyum. Apalagi melihat mata Miana masih terbelalak dengan mulut sedikit terbuka. "Makasih."


Miana tak menjawab. Dengan gelagapan, Miana mencoba melepaskan diri dari sebelah tangan Arga. Namun, Arga menahannya.


"Mau kemana?" bisik Arga tepat di telinga Miana, hingga membuat darah miana berdesir.


"M... mau ke sana." Miana menunjuk asal di belakang tubuhnya karena gugup.


"Tunggu sebentar,"


"Apalagi?" Miana kini tak berani menatap lawan bicaranya. Wajah Arga yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya jadi memanas.


"Pada hari ini, aku, Argaza ingin melamar Miana untuk menjadi istriku. Apakah kamu bersedia?"


Miana menipiskan bibirnya. Ia tak mampu berkata-kata lagi. Ini adalah impiannya. Benarkah akan menjadi kenyataan?


Arga mengambil satu kotak beludru di saku celananya dan membukanya dengan sebelah tangan. Ia melepaskan bahu Miana. Tangannya cekatan mengambil cincin dan melihat penuh pada manik mata Miana yang mulai berkaca-kaca.


Dengan anggukan kecil, Arga seolah meminta ijin untuk untuk menyematkan cincin ke dalam jari tangan Miana.


Tak ada penolakan dari Miana. Yang ada ia justru mulai memupuk cairan bening di sisi matanya. Ia hanya mengangguk patah-patah.


Begitu cincin bermata biru saphir sudah melingkar manis di jari manis Miana, Arga mengecup tangan itu dengan mata terpejam. Mulai meresapi rasa membuncah yang tengah ia rasakan.


"Arga,"


"Ya," jawabnya seraya mengangkat wajahnya.


"Apa aku bermimpi?"


Senyum terukir di bibir Arga. Perlahan ibu jarinya menghapus setetes air mata yang meluncur perlahan di pipi Miana. Ia mencubit pelan tanpa meninggalkan senyumnya. "Ini sangat nyata, Miana."


"Aku cinta kamu."

__ADS_1


"Love you more," jawab Arga lalu menarik Miana ke dalam pelukannya.


☘️


"Kak, kenapa si?"


Itu adalah pertanyaan ke enam yang sampai sekarang tak juga mendapatkan jawabannya. Gadis berambut panjang hitam legam itu hanya bisa menghela nafas melihat tingkah sang kakak yang terkadang seperti bocah.


Bian tidur tengkurap di sofa panjang milik Raya. Entah apa yang terjadi dengan sang kakak. Hingga terlihat berantakan. Stelan jas berwarna navi yang membungkus kemeja berwarna soft pink dengan dasi yang bersimpul acak menjadi pemandangan buruk yang mengganggu mata Raya.


"Jam berapa sekarang?" tanya Bian tanpa mengubah posisinya.


Raya melirik sekilas lalu kembali berkutat pada laptopnya lagi."Jam sepuluh lima belas, tuh. Kenapa? Mau ngantor? Udah sadar karena membuang-buang waktu!"


Sindiran Raya membuat Bian membuka matanya. Dengan malas ia keluar kamar Raya dan menuju kamarnya sendiri yang sudah beberapa minggu ini tak ia kunjungi.


Mengabaikan teriakan Raya agar mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum ke kantor. Bian tetap mengacuhkan perkataan Raya.


Bian mematut penampilannya di depan cermin dan membenahi dasinya.


Aku harus bertemu dengan dia.


☘️


Setelah ia mengirim pesan pada Arga. Ia segera bertolak menuju titik temu.


Rooftop cafe di pusat kota menjadi tujuannya. Bian datang terlebih dahulu dan memilih tempat duduk.


Pemandangan dari bangunan lantai dua cafe berisi barisan kendaraan yang berberis rapi dari berbagai sisi. Langit cukup cerah dengan beberapa gumpalan awan putih yang sebagian menghalangi cerahnya langit biru di atas sana.


Kalimat tanya yang keluar dari balik punggung Aksabian Mahendra membuatnya membalikkan badannya. Ia dapati sosok Arga yang berdiri beberapa langkah darinya.


Jas berwarna abu tua dengan bawahan celana warna senada menjadi bukti bahwa ia juga masih dalam waktu bekerja. Wajahnya lebih berisi daripada waktu sekolah dulu. Wajahnya tidak berubah, masih tetap datar dan terlihat tenang.


"Silakan duduk." Bian memimpin pergerakan dan segera di ikuti oleh Arga.


Bian terlihat melambai pada pelayan. Dan segera memesan minuman.


"Jadi, apa yang membuatmu mengajakku bertemu di sini?" Arga masih menanyakan rasa penasarannya. Sempat berfikir apakah ada kaitannya dengan Miana. Jika iya, maka kali ini Arga pastikan tidak akan bertindak bodoh lagi.


"Aku mau minta maaf," ucap Bian sungguh-sungguh.


Arga mengernyit." Untuk?"


Bian terlihat menghela nafas. "Untuk empat tahun yang lalu."


"Aku rasa tidak ada masalah." Arga mencoba tenang, padahal hatinya sedang menahan gemuruh atas kecurangan yang Bian lakukan.


"Kamu cukup pintar menguasai keadaan. Kamu juga semakin tenang. Mungkin karena itu, Miana enggan berpaling darimu."


"Kau sedang memujiku?" Arga beralibi.


Bian tersenyum kecut. "Sayangnya, aku harus mengakuinya."

__ADS_1


Kini keduanya sejenak saling memandang dalam diam.


"Ya, aku pernah curang. Aku berkeinginan untuk mengisi hati Miana yang ku pikir sedang kosong karena kau seperti meninggalkannya." Bian kembali menghela nafas dan menghembuskan kasar. "Tapi Miana tak memberi ruang untukku."


Melalui gesture Bian yang berkali kali menunduk, membuat Arga yakin Bian tengah mengakui kesalahannya.


"Aku juga akan berterimakasih atas waktu yang kamu berikan, sehingga aku dapat memperbaiki hubunganku dengan Miana, hingga seperti sekarang."


Bian mulai mengingat pada beberapa yg tahun yang lalu.


Bian yang sedang memegang satu lembar kertas berisi deratan nama penerima beasiswa menjadi bergeming. Sedangkan Arga tengah menunggu atas jawabannya.


"Ayolah, Bian. Kali ini gue butuh bantuanmu. Hanya kamu yang bisa melakukan hal ini."


"Kenapa tak kau berikan saja uangmu untuk biaya pendidikan Miana," bentak Bian tak setuju.


"Kamu tahu seperti apa Miana, bukan! Dia tak akan menerima pemberian secara cuma-cuma. Ini juga bukan kecurangannya. Seharusnya ini menjadi haknya. Hanya kedatanganku sebagai anak donatur yang sedikit menggeser prestasinya lantas bisa menghapus beasiswanya. Ini tidak adil buat dia."


"Aku justru sangat menyayangkan kinerja staf yayasan yang tebang pilih seenaknya."


"Jadi, Bian. Kali ini saja bekerja samalah denganku."


Hingga saat malam tiba, Arga datang dan meminta pada Bian agar mau mengubah nilainya. Sehingga nilai Miananah yang menjadi paling tertinggi dan beasiswa dapat di pegang olehnya.Hanya itu yang ada dalam benaknya. Jika harus mengadakan rapat dengan staf maka ia akan kalah karena hanya di anggap anak ingusan. Bian memiliki akses untuk membuat perubahan pada database sehingga Arga akan berkurang dengan poinnya. Maka dengan otomatis posisi teratas yang di miliki Arga dapat tergantikan oleh Miana.


☘️


Sore hari, Miana tengah menikmati kebersamaan bersama Sarah, Anggi dan Arga. Satu keluarga itu tengah berkumpul di rumah tinggal Sarah dengan hangatnya.


Sarah adalah orang yang paling mendukung akan hubungan Arga dan Miana. Apalagi mengetahui kinerja Miana pada perusahaan Pram yang ternyata masih kerabat jauh Sarah, membuat Sarah dengan cepat merubah pandangan pada Miana.


Hanya saja ia merasa status Miana yang merupakan anak yatim-piatu piatu membuatnya sedikit kecewa. Karena tidak akan pernah memiliki besan nantinya.


"Benar mama tak mempermasalahkan tentang keluarga Miana?"


tanyanya hati-hati pada Sarah. Memang sudah sedekat itu hubungan antara Miana dan mama Arga. Hanya beberapa hari bertemu dengan cepat keakraban itu segera terjalin kembali.


"Kak Mia tenang aja, mama udah setuju pada hubungan kalian bahkan sejak kalian masih sekolah dulu."


Pengakuan Anggi menambah angin segar pada Miana. Ia lega, mendapat restu dari keluarga membuatnya semakin ringan untuk melangkah selanjutnya.


Saat malam tiba, Miana kali ini mendatangi Hana dan Pram. Dengan di antar Arga dan pengakuan dari Bian membuatnya yakin untuk tetap terus menjaga hubungan baik dengan keluarga Bian. Ia tak menyalahkan Bian. Ia justru sangat berterimakasih atas apa yang di lakukan Bian beberapa tahun yang lalu. Meskipun akhirnya ia harus berpisah dengan Arga.


"Maafkan Miana, Pak Pram, Bu Hana," ucap Miana setelah mengungkapkan penolakan lamaran Bian saat di Solo kala itu. Dengan menunduk, Miana tak berani menatap kedua mata orang yang begitu berpengaruh di saat ia di abaikan oleh keluarga sendiri.


Pelukan hangat dari Hana membuat Miana berani mengangkat wajahnya.


"Bagiku, kamu tetap anak saya. Kamu banyak membantu perusahaan di saat anak kami sendiri begitu abai pada perusahaan sendiri. Terimakasih, Miana."


"Jangan berterima kasih, Bu Hana. Saya bukan sekedar membantu. Saya mendapatkan gaji atas kinerja saya. Sayalah yang seharusnya mengucap terima kasih selama ini."


Hana menggeleng. "Kami yang harus berterima kasih padamu. Karenamu, Bian telah menjadi seperti sekarang ini. Jadi, meskipun kamu mempunyai kehidupan yang lain. Tolong jangan berhenti memberi dukungan pada Bian, ya," ucap Hana penuh permohonan.


"Tetaplah bersama AMD Corp, karena kami sangat membutuhkan mu, Nak," imbuh Pram tersenyum dan ikut menempuk bahu Miana yang bergetar karena mulai terisak. Di saat seperti ini, ia teringat akan Miranti yang sampai sekarang sulit ia temui. Bahkan pada Sisil ia hanya bisa bertukar pesan saja.

__ADS_1


Miana tak dapat berkata-kata. Ia hanya mengangguk dan kembali berpelukan pada Hana.


Sementara Bian dari atas sana melihat interaksi kedua orang tuanya dengan Miana hanya bisa tersenyum kecut. Ia semakin menyadari bagaimana kedua orang tuanya menyayangi Miana bahkan seperti anak sendiri karena memang Miana tengah menumpahkan kemampuannya pada AMD Corp dengan sepenuh hati. Sangat berbeda jauh dengannya. "Terimakasih Miana, kau telah menyadarkanku."


__ADS_2