Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 47


__ADS_3

☘️


"Saya ingatkan lagi bahwa ujian sekolah kian dekat, banyak-banyak belajar dan kurangi hal-hal yang tidak begitu penting. Saya akhiri, pembelajaran hari ini. Terimakasih atas kerjasama siswa-siswi semuanya." Bu Alin menutup sesi mata pelajaran yang diampunya.


Miana memutar tubuhnya. "Ga, kok chat gue nggak Lo balas, sih." Protes Miana bermaksud menanyakan Arga soal beberapa chat yang tidak ia balas.


"Nggak penting!" Arga beranjak dari duduknya, mengayun langkah lebar keluar kelas. Sedangkan Miana menurunkan bahunya, dan berfikir kesalahan apa yang ia perbuat.


Satu-persatu penghuni kelas beranjak dari duduknya. Mereka bersiap kemana saja dengan tujuan masing-masing. Kantin, perpustakaan, pergi ke kelas sebelah untuk bertemu gebetan atau sekedar nongkrong di koridor sembari cuci mata. Hanya tinggal beberapa dari mereka masih betah duduk di bangku masing-masing dengan bermain ponsel, termasuk Miana.


Satu pesan masuk dari Bian, dengan emoticon memohon dan memelas turut hadir di sana, membuat Miana menghela nafas panjang.


Bian: Mantan pacar. Gue tunggu di perpus. 🙏☹️☹️


Ia melirik bangku Riska sudah kosong. Saat ia memindai bangku Bayu pun sama. Jadi sudah dipastikan sahabatnya tengah bersama pacarnya.


Dengan gontai Miana beranjak dari duduknya. Ia sempatkan menoleh ke belakang, bermaksud mencari alasan agar ia dapat mengejar Arga dan memaksanya berbicara.


Sayangnya hanya bangku kosong yang Miana dapatkan. Karena pemilik bangku memang baru saja pergi menyisakan banyak tanya dalam benaknya.


Miana tersenyum kecut. Setelah semalam ia bertukar chat pada Puji. Pikirannya entah mengapa jadi terganggu. Puji bilang Arga sudah lama diam di halaman parkir minimarket. Saat hampir tutup toko, Puji melihat seseorang menghampiri Arga dan terlihat berdebat sebentar lalu pergi. Sampai Miana di rumah ia sempatkan mengirimkan chat pada Arga. Sekedar menanyakan untuk apa hanya diam di halaman tanpa masuk toko jika memang ada perlu dengannya. Lama menunggu balasan tak kunjung datang, akhirnya Miana yang sudah lelah lebih cepat terlelap.


"Arga tuh, ngeselin banget. Di wa, cuma di read doang. Nggak ngehargain sama orang. Diajak bicara baik-baik, malah pergi gitu aja." Kembali Miana membuka room chatnya dengan Arga.


Nihil. Tetap tidak ada balasan.


Saat melintas di taman ia melihat Angel duduk bersisihan dengan Arga, meski terlihat berjarak. Tapi melihat wajah Angel yang berbinar membuat bibirnya berkedut. Namun, berbeda dengan raut wajah Arga yang masih saja terlihat masam. Mereka terlihat membicarakan sesuatu. Miana tersenyum kecut saat menyadari Angel benar-benar menunjukkan keseriusannya mendekati Arga. Meski sedikit ada rasa nyeri di sudut hati. Terlebih dengan sikap Arga yang begitu abai.


Akhirnya Miana menemui Bian di perpustakaan seperti permintaannya.


"Gue kira, Lo, nggak mau datang," todong Bian saat Miana sudah duduk di hadapannya. Sedangkan Miana hanya menatapnya tanpa menjawab apapun. Ia menoleh seisi ruangan hanya ada petugas perpus dan dua orang siswi yang hendak keluar ruangan.


"Bisa kita mulai?" tanya Bian dan segera mendapat jawaban ya dari Miana.


"Bi," panggil Miana dan Bian mengehentikan pergerakan tangannya membuka buku.


Bian menatap penuh pada Miana yang tengah memindai ruangan perpustakaan. "Apa?"


"Kita cuma berdua?" tanya Miana, kini mengeryit menelisik wajah Bian.


"Lo nggak nyaman jika kita cuma berdua?"

__ADS_1


"Ya. Apa Lo sengaja?" tegas Miana. Pikirannya sudah buruk saja, mengingat jika Bian memang sok berkuasa dan bisa berbuat apa saja.


Bian diam dan menutup buku. "Kurasa, Lo mengenalku dengan baik, mantan pacar," putus Bian sedikit menyunggingkan senyum dan menyisipkan candaan.


"Bian. Harusnya Lo nggak perlu berlebihan. Asal Lo serius belajar. Ada tidaknya orang-orang di sekitar, nggak akan ganggu ,Lo."


"Ya, mungkin itu yang harus gue perbaiki."


Bian kembali membuka buku pelajaran yang ia bawa dari kelas. Dan menayangkan apa saja yang masih belum di mengerti. Barulah suasana cair, hadir diantara keduanya yang pernah memiliki perasaan yang sama. Namun, tidak untuk sekarang.


Perpustakaan sekolah ini di lengkapi beberapa meja dan ada kursi panjang yang saling berhadapan di antara meja panjang di tengahnya. Sehingga mudah jika untuk tempat berdiskusi.


"Gue bilang di kalikan dulu baru di bagi, Bi!" Miana mencoret tulisan Bian dengan kesal lalu menyodorkan kembali pada Bian.


Meski berdecak dan memasang wajah masam, Bian kembali meraih bukunya dan memeriksanya sebentar. "O, iya, yah. Lupa lagi," ringisnya dan mulai mengerjakan kembali.


Miana diam memerhatikan Bian yang tengah serius mengerjakan contoh soal yang ia cari di situs belajar online. Setelah ia menjelaskan bagaimana cara pengerjaan yang benar dan memberikan trik-trik cepat dan tepat.


"Ini, gimana?"


Kecanggungan yang sempat hinggap di awal kini sudah tidak ada lagi. Miana kembali pada sifatnya yang renyah dan cerewetnya. Ia tak segan untuk mencubit Bian bila terlihat tidak sungguh-sungguh.


"Ck. Punya guru privat kok suka 'kdrt' begini," ringis Bian mengelus punggung tangannya yang kebas karena cubitan Miana. Dalam benaknya, ia berseru senang karena kini ia mempunyai alasan untuk dekat kembali pada Miana.


"O, ya. Salam ya buat Tante Hana." Miana menyebutkan nama mama Bian.


"Hm."


"Sekarang mereka makin sibuk, ya. Jarang pulang?" terka Miana.


"Sebulan terakhir ini, pulang. Raya habis sakit soalnya." Bian menyebutkan alasan sang mama pulang. "Beberapa waktu lalu, Raya bilang nyesel udah berfikir yang tidak-tidak sama, Lo. Dan belum sempat minta maaf."


"Gue udah lupain semua, Bi." Miana mengucap tulus dan memang benar sudah tidak mau mengingat apa dan siapa saja yang pernah berburuk sangka sampai menghujatnya dulu.


"Termasuk kenangan sama Gue?" tanya Bian dan Miana hanya diam bergeming.


Bian meletakkan pulpen di atas telinganya. Ia mengangsurkan selembar kertas HVS di depan Miana. "Udah. Jangan di jawab, jika itu menyakitkan!"


Bian mendorong hasil pengerjaannya agar Miana segera mengoreksinya. "Buruan koreksi!"


Fokus Miana kini teralihkan pada beberapa jawaban Bian. Keadaan yang tadi sempat terasa kikuk, berganti dengan wajah serius. Tidak ada dua menit dan Miana tersenyum pada Bian.

__ADS_1


"Satu poin yang salah, Bi."


Bian menaikkan sebelah alisnya. "Masa', sih!" Terburu, Bian merebut teks kembali. "Salah gue dimana lagi!"


"Itu udah gue lingkari," ungkap Miana.


"Sebenarnya, Lo itu pinter, Bi. Cuma Lo, nggak pernah serius." Miana menumpuk lengan. Mengungkapkan apa yang sudah ia simpulkan.


"Ya. Gue emang harus pinter. Karena gue punya beban besar kedepannya." Bian mulai bersikap jumawa. "Mana lagi soalnya!" Tantang Bian menggoyangkan jari telunjuknya pada Miana.


"Dih, sombong." Miana mencebik dan beranjak dari duduknya.


Ia meminta petugas perpus untuk mencetak file yang ia kirim. Setelahnya ia bawa kembali pada Bian yang tengah bermain ponsel.


"Nih!" Miana menyodorkan satu lembar pada Bian untuk ia kerjakan.


Bian meletakkan asal ponselnya pada meja. Dan bersiap mengerjakan kembali. Ponsel yang masih menyala itu kembali menarik perhatian Miana. Ia tidak merasa asing terhadap gambar wallpaper di layar depan milik Bian. Potret dirinya bersama Bian sewaktu makan bersama di kedai gado-gado.


"Maaf, Bi. Gue bahkan udah hapus semua foto, Lo. Gue nggak mau ada satu kesalahan pahaman lagi sama Sisil," batin Miana.


☘️


Di minimarket. Miana mendapatkan komplain customer. Karena itu, kini dia menghadap Dini selaku manager minimarket. "Saya merasa nggak melakukan hal yang di tuduhkan, Mbak." Miana masih keukeuh, menyangkal tuduhan yang di layangkan padanya.


"Saya tahu. Kadang kita capek juga bekerja. Tapi kita kembali harus profesional. Apalagi kita ini bergerak di bidang retail. Kita ini melayani pembeli. Dan mereka harus kita kedepankan."


Dini menghela nafas berat. Ia mengangsurkan surat peringatan dengan berat hati. "Maaf, Miana. Kamu terkena SP1."


Miana menelan ludahnya yang terasa tercekat. Sekeras apapun ia menyangkal, jika aduan customer sudah sampai pada atasan. Ia sudah tidak dapat berbuat banyak. Meskipun perasaannya masih bersikeras menyangkal dan Dini pun tidak begitu mempermasalahkannya.


Kemarin, secara langsung Dini menerima aduan customer dan mereka menghendaki Miana di keluarkan. Meskipun sangat terkejut dan merasa pelayanan buruk yang di lakukan Miana sangat tidaklah mungkin, dia tidak dapat membantu banyak. Apalagi ia sudah mengenal Miana sudah lama.


"Lantas , saya harus bagaimana mbak?" tanya Miana. Ia mungkin memang secara tidak sadar telah memasang wajah masam saat melayani customer, saat ia mengetahui jika ia bukan anak Miranti waktu itu. Bohong, jika Miana tidak sedih akan hal itu. Namun, ia tidak menyangka jika ternyata hal ini bisa saja mengancam pekerjaannya. Ia menyesal.


"Emm." Dini terlihat menimang sesuatu. "Bagaimana jika kamu pindah ke cafe saja. Memang gak jauh, sih. Saya nggak mau ada resiko lebih dari ini. Takutnya pembeli ini kembali dan merasa tidak puas dengan keputusan saya. Dan saat nggak mau berdampak lebih buruk buat toko dan buat kamu sendiri."


Miana mengangguk lemah. "Terimakasih atas kebijakannya, Mbak. Saya benar-benar nggak nyangka, sedikit saja kita salah ekspresi bias di artikan lain oleh seseorang."


"Ya. Memang, pembeli adalah raja. Jangan sedih, Saya percaya kok sama kamu. Nanti akan saya kirim whatsApp alamat cafe Hamber milik saya. Di sana nanti kamu akan bersama Bagus yang udah kamu kenal. Jangan takut." Dini mengerti kegelisahan Miana jika harus memulai dari awal lagi penyesuaian tempat kerja.


"Oh, Mas Bagus pindah disana rupanya."

__ADS_1


"Ya. Dia pasti akan bantu kamu. Makasih ya Miana. Dan ini gaji terakhir kamu di sini."


☘️☘️☘️


__ADS_2