Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 90


__ADS_3

"Gimana, kakak ipar. Dapet referensinya?" tanya Raya ikut menengok di layar lipat milik Miana. Sedangkan Miana masih serius mengetikkan sesuatu pada layar presentasi.


"Ini aja, sih. Tapi bakalan klik nggak sama prodi kamu." Kata Miana sambil menunjukkan hasil pencarian dengan beberapa sumber yang ia ketahui. "Soalnya, yang tahu tepat dan enggaknya kamu sendiri, kan."


Raya membaca dengan teliti. Sesekali bacaannya terdengar agak mengeras. Miana sendiri kini sedang menyesap cappucino yang belum lama di antarkan pelayan. Rumah Pram cukup besar sehingga ia mempunyai beberapa asisten rumah tangga. Hal ini juga yang membuat Miana sedikit tidak nyaman di sini. Ia bisa mengerjakan apapun sendiri, namun di sini ia diperlakukan bak nona muda di keluarga Pram.


Tak lama, Raya mengangguk dan mengatakan puas dengan suntikan bahan untuk presentasi besok. "Makasih, ya. Kakak ipar. Lagi-lagi, kamu emang bisa di andalkan."


"Ray, jangan panggil aku begitu. Rasanya nggak nyaman."


Raya meringis dan menepuk lengan Miana. "Tadi aja nggak protes, loh."


"Itu karena aku lagi serius."


"Kenapa, si, Miana. Kamu nggak terima aja kak Bian. Raya yakin kok, dia udah berubah. Makin kesini Raya juga lihat Kak Bian lebih bisa di arahkan. Dan itu semenjak kalian dekat lagi."


Raya merubah panggilan pada Miana seperti sebelumnya. Melihat bagaimana Miana memang tak nyaman dengan sebutan kakak ipar. Dan lebih nyaman dengan panggilan nama saja.


Miana tersenyum lalu menggenggam tangan Raya. "Akan lebih nggak tahu diri lagi jika aku terima kak Bian, sedangkan aku udah mendapatkan kepercayaan dari papa dan mamamu Raya. Aku akan terlihat serakah." Miana melepaskan tangan Raya lalu beralih pada map holder di samping laptopnya. Mengelus logo perusahaan AMD Corp.


"Bohong. Pasti nggak cuma itu alasan kamu selalu nolak kak Bian." Gadis berambut lurus seperti Miana itu tetap menunjukkan semangat berkobar seperti menanyai tersangka.


"Aku ada di dalam AMD Corp karena Pak Pram, Nyonya Hana dan kakak kamu. Aku sudah di beri kepercayaan untuk berada di posisi penting yang belum tentu kerabat Pak Pram sendiri bisa di berada di dalamnya, Raya."


Kini jari telunjuknya mengetuk-ngetuk meja di depannya. Sedangkan Raya semakin serius menyimak alasan Miana. Apalagi melirik di pintu kamarnya, telah berdiri sodara satu-satunya di sana. Raya semakin semangat mengorek tuntas isi hati Miana, karena ia yakin sang kakak juga tengah menunggu alasan yang tepat untuk berhenti menempatkan harapan.


"Kamu masih ingat Arga, Ray." Miana menoleh pada Raya dan di hadiahi anggukkan beberapa kali. "Dia masih ada di sini." Miana menyentuh dadanya.


"Kak Bian pernah cerita. Bukankah kamu sendiri sudah di tinggalkan olehnya!"


Raya melihat Miana menggigit bibir bawahnya. Ia bisa menebak Miana sedang bimbang.


"Janganlah kamu menaruh harapan pada orang yang meninggalkanmu. Karena Jikapun ia telah datang bisa jadi memang dia masih orang yang sama tapi tidak dengan perasaannya."


Miana menunduk dan sedikit memaksakan senyumnya. Entah mengapa aku yakin Arga bukan orang seperti itu.


☘️


Kesibukan kembali menjadi kawan setia yang mengikuti kemana pun Miana berpijak.


Beberapa hari yang lalu ia membantu tugas Raya dan pagi ini ia mendapatkan kabar baik.

__ADS_1


Tugas Raya mendapatkan skor A dari dosennya.


Ia turut bahagia. Setidaknya hal-hal seperti itulah yang dapat ia lakukan untuk membantu kebaikan hati Pak Pram dan Nyonya Hana.


Pagi ini ia sudah bergegas ke bandara untuk terbang ke Solo. Anak cabang di solo sedang membutuhkan tanda tangan basah yang tidak bisa ia kirim secara digital. Oleh karena itu ia harus datang kesana.


Berkali-kali Miana melihat waktu yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia harus cek in dan mengkonfirmasi pemesanan online pada aplikasinya. Kaki berbalut celana kain berwarna hitam dengan jas warna senada kini sudah membungkus tubuh yang kini tak terlalu kurus itu. Ia terus melangkah cepat berpacu dengan waktu.


Entah mengapa sepagi ini suasana di area bandara sudah cukup ramai. Miana sedikit tersenyum karena menyadari ini adalah tempat umum bertaraf internasional. Bukan hanya dirinya saja yang mempunyai kepentingan di sini.


Miana sudah selesai cek in. Koper yang di bawanya sudah berada di ruang bagasi. Selanjutnya ia harus melakukan boarding time dan boarding pass disana.


Melihat waktu kembali, Miana memutuskan untuk ke toilet sebentar. Setelahnya, ia berjalan menuju kantin. Mengingat ia belum memakan apapun. Roti basah dan susu dalam cup sudah di tangan dan berpindah ke mulutnya. Setidaknya untuk mengisi energinya. Tidak begitu lama Miana selesai dengan kegiatannya. Menunggu di ruang waiting gate beberapa menit, suara panggilan yang berasal dari pengeras suara bandara membuatnya segera kembali mengayun langkah.


Bruk! Tak sengaja tubuhnya membentur badan seseorang. Hingga tubuhnya limbung. Ia tidak jatuh karena seseorang menangkapnya dari belakang.


"Maaf, maaf, Nak! Saya tidak sengaja. Saya sedang mengejar anak saya yang lari-larian." Penjelasan ibu-ibu di depannya membuat Miana menggeleng dan cepat mengulas senyum.


Miana baru menyadari bahwa sebagian isi tasnya telah bercecer. Karena belum ia kancingkan dengan benar. Di bantu ibu-ibu tadi Miana memunguti di memasukkannya kembali dalam tas selempang sembari terus mengucap maaf.


"Jangan terus mengucap maaf. Kamu juga harus berterima kasih pada orang yang tadi nangkap kamu. Jika tak ada orang tadi kamu pasti jadi jatuh karena saya," ucapnya seraya berdiri.


"Ah, iya." Ibu tadi menoleh ke kanan hingga sekeliling. "Loh, lelaki yang nolong kamu tadi dimana?" tanya ibu-ibu sambil celingukan mencari seseorang. Miana pun juga melakukan hal yang sama.


"Sudahlah, yang penting kamu tidak apa-apa."


"Iya, Bu. Ibu juga ya."


"Semoga kamu di permudah urusannya."


"Doa yang sama juga untuk ibu." Percakapan keduanya harus terputus karena kedatangan anak dari ibu tadi dan Miana yang harus berjalan menuju pesawat.


Sementara seorang yang berdiri bersandar pilar besar tengah memegangi dadanya yang terasa sesak. Ia baru berani menampakkan diri saat Miana berjalan dengan sedikit berlari menjauh menuju ruang keberangkatan. Nalurinya mengejar sosok lincah itu dan harus terhenti saat pintu kaca keberangkatan telah di tutup petugas.


Tak habis akal ia menuju ruang cek in dan menanyakan tujuan dari penumpang bisnis eksekutif yang akan terbang di menit ini.


Informasi di dapat karena mengaku kakak dari penumpang. Hingga ia harus berjalan lemah mendekat pada dinding kaca. Pesawat tujuan Solo sudah tinggal landas mengudara mencari tujuannya.


"Arga,"


☘️

__ADS_1


"Kamu kenapa mendadak sekali. Gimana jika aku belum bangun! Kamu mau pulang sendiri."


Zaki mendengkus melirik Arga yang terdiam bersekat meja di depannya.


Melihat Arga hanya bergeming membiarkan kopi di depannya tanpa tersentuh sedikit pun, Zaki kembali mengoceh karena pagi ini ia harus memberi alasan pada Dharma atas keterlambatannya.


"Kenapa adikmu tak lagi memberi informasi sampai sekarang?"


Itulah kata pertama yang keluar dari mulut Arga.


"Nika udah kerja. Ia juga terbatas untuk tau informasi mengenai Miana. Lagian kamu kaya, kenapa nggak nyewa detektif buat buntutin pacar kamu itu."


Mendapat lirikan sinis dari Arga tak lekas membuat Zaki melunak. Ia justru semakin semangat mengobrak-abrik hati anak dari Direktur Utama yang selama ini sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri.


Zaki tertawa kembali memancing perhatian Arga yang hanya menopang siku di kursi kafe dengan wajah datar dan tak mudah di tebak.


"Oh, iya. Aku lupa kalau kamu sendiri yang ninggalin dia. Aku jadi ragu, apa Miana masih sendiri atau paling parah ia sudah punya anak."


iPhone keluaran terbaru melayang tepat di depan wajah Zaki. Jika ia tidak gesit menangkap benda itu. Bisa di pastikan wajah tampannya akan memar. Atau kemungkinan ponsel seharga puluhan juta akan berakhir di lantai marmer dengan kerusakan fatal.


"Hampir saja puluhan juta melayang," sindir Zaki kesal melihat wajah Arga tak berubah apalagi merasa bersalah.


"Gue mau ke Solo hari ini."


Ucapan Arga kembali membuat Zaki terbelalak.


"Gila, kamu. Sono ke rumah! Oma udah nungguin, bego."


"Bego begini juga bentar lagi jadi atasanmu," ujar Arga seraya merebut ponselnya kembali. Dan mengayun langkah.


"Udah di buang, di pungut lagi." Perumpamaan pada ponsel tadi sebenarnya adalah kata sindiran pada Arga yang telah meninggalkan Miana.


Zaki tahu perasaan Arga juga kisah yang membuat ia yang sudah di anggap adik sendiri itu pergi meninggalkan tanah air.


Arga berhenti namun tidak berbalik. "Ngomong apa kamu!"


"Nggak. Ini kopinya sayang banget nggak di habisin. Kopi mahal."


☘️


up sore nih, kasih hadiah dong, biar aku makin semangat.

__ADS_1


dan yg paling aku tunggu ² adalah komentar kalian akak² yang baik hati. 😘🙏🙏🙏


__ADS_2