
☘️☘️☘️
Minggu pagi kali ini sedikit berbeda. Sari dan Sofyan sudah bersiap di bangku masing-masing. Arga turun dari lantai dua rumah hanya memakai celana training selutut dengan t-shirt tanpa lengan serta sendal rumahan sejuta umat. Rambut masih acak-acakan dan wajah kahas bangun tidur namun, tidak mengurangi tingkat ketampanan pada wajahnya.
"Akhirnya turun juga kesayangan opa. Sini peluk opa dulu!" Sofyan berdiri menyambut kedatangan Arga.
"Opa. Kapan sampai?" tanya Arga ketika sudah melepas pelukan opa.
"Subuh tadi." Sofyan kembali duduk begitu juga dengan Arga.
"Kenapa nggak telpon Arga, Opa?"
"Opa nggak mau ganggu Arga. Ada Deri, yang sudah sigap jemput Opa " Sofyan menyebutkan sopir Oma Sari.
Arga melirik Oma Sari yang udah siap mengambilkan nasi untuk opa.
"Segitu cukup, Ma," ucap Opa.
"Ini juga seperti biasanya, Pa," sahut Oma Sari.
Melihat interaksi Oma dan opa yang begitu serasi juga rukun membuat sudut hatinya terasa sakit mengingat kedua orang tuanya. Papa yang sangat ia sayangi harus hidup sendiri tanpa pendamping, hidupnya hanya berkutat dengan segudang pekerjaan. Bertahun-tahun, papa hanya berteman Zidan, sang supir sekaligus asisten pribadinya yang teramat setia dari dulu. Bahkan Arga sudah menganggapnya seperti saudara sendiri.
Hidup sukses dan berhasil dengan bisnis, Papa begitu sangat kesepian. Meski demikian jika perkerjaannya sudah sedikit sengang, ia selalu menyempatkan untuk pulang menemui Arga dan ibunya, Oma Sari. Sedangkan sang Opa terkadang ke luar kota hanya untuk mengurus peternakan sapi dan perusahaan pengolahan daging sapi di desa asalnya. Walau sudah mempercayakan peternakan beserta usaha penggilingan sapi dan olahan daging sapi, Opa lebih senang jika meninjau sendiri perusahaannya.
Tentang mama, diam diam kemarin Arga mencoba mencari informasi mengenai orang yang telah mengandungnya itu. Cukup mudah sebenarnya, karena mama merupakan seorang publik figure yang kerap melintang di layar kaca. Ya, hanya dengan memandangnya lewat layar dan kemampuan aktingnya Arga dapat melepas rindunya.
“Arga” Panggilan dari Opa mengalihkan lamunannya dari sosok yang di sebut itu.
“Iya Opa,"
“Anak muda, kok, hari minggu ngelamun aja. Apa nggak punya cewek di sekolah, Hm?” canda Opa.
Arga bergeming, akan tetapi, entah mengapa tiba-tiba terlintas begitu saja wajah terkejut Miana kemarin, begitu sangat lucu dan polos. Tanpa sadar, membuat sudut bibirnya terdenyut mengingatnya. 'Sedang apa ya, dia,' batin Arga.
__ADS_1
Arga tersenum menanggapi candaan Opa santai. ”Opa, cewek itu bikin ribet,” jawab Arga.
“Lho. Jangan salah ya, Arga. Tanpa cewek juga, dunia tak berwarna,” Oma menimpali. Tidak lupa lirikan sinis namun tetap tersenyum smirk itu menghunus Arga dan Opa bergantian.
“Kenapa. Oma? Opa nggak ikut-ikutan, lho!” Opa menahan tawa melihat istrinya tengah serius menanggapi candaannya.
"Pasti Opa dulu punya banyak cewek, ya!" Arga kembali berulah, dengan memantik atensi Oma.
"Oh, ya, pasti. Gini-gini, Opa dulu idola kampus, loh," Opa mengangkat kerah bajunya menampilkan congkaknya.
"Hmm, congkaknya kumat," sahut Oma. Meletakkan satu gelas air putih di depan Opa.
“Opa! pasti opa inget-inget cinta pertama Opa kalau senyum-senyum begitu. Hayyo Ngaku!” Arga ikut menyuarakan kejahilannya.
Opa terkekeh. "Dulu, Opa punya banyak cewek. Saking banyaknya, Opa lupa sampai salah sebut nama,"
Hal itu membuat Oma semakin gemas namun, tetap bersemu. “Ini cucu, sama Opa, sama aja. Bikin Oma kesel, Ya.” Oma menyuapkan satu sendok penuh nasi goreng ayam suwir itu, mengalihkan rasa kesal tapi tetap tersenyum karena memang ini hanya candaan saja.
Opa terkejut seraya mendorong kaca matanya yang hampir melorot. “Oma. Cinta pertama memang sulit di lupakan. Tapi percayalah, cinta terakhirlah yang tetap bertahta di tempat tertinggi.”
“Bisa aja, Opa. Oma nggak mempan, di rayu-rayu. Inget umur.”
"Saat begini jangan bawa-bawa umur, sayang. Kau menghempaskanku secara paksa, namanya.”
Oma hanya memutar bola matanyanya malas.
Sedangkan Arga hanya geleng-geleng kepala. Arga begitu sangat menikmati setiap candaan yang selalu tersaji di hadapannya saat Opa pulang seperti saat ini. Membuatnya merasa hangat di tengah-tengah mereka. Hal yang tidak bisa ia dapatkan dari orang tua sendiri.
Selesai dengan sarapan, membersihkan diri lalu bersantai di depan tv di kamarnya, Arga hanya berguling sampil berselancar di dunia maya. Ia melakukan pencarian model terbaru modifikasi motor pada aplikasi. Teringat motor, Arga segera menekan tombol panngilan pada papa.
‘Ya, Arga.”
“Pa, motor Arga di Aussie selalu papa urus, kan?’
__ADS_1
“Oh, tentu. Kenapa? Kau pasti kesepian hari minnngu tanpa kegiatan, ya.”
“Papa, tahu!”
“Ya, tentu. Papa adalah papa terbaik buat Arga. Dan kau juga harus menjadi yang terbaik buat Papa. Oke. So, ada apa menanyakan motor?”
“Ah, itu Pa. Apa motor bisa di ki-.....“ Arga berdecak karena pendapatnya di potong oleh Papa.
“Boleh. Asalkan kamu mau kuliah di Indo aja. Kasian Oma, Arga. Mereka sudah semakin tua. Ya, meski baru berumur kepala enam. Papa mau, Oma dan Opa ada yang memperhatikan."
Arga menghela nafas. Papa mengunakan cara ini juga. Papa selalu bilang untuk berhati-hati memilih teman bergaul, menghindari pengaruh budaya yang hidup bebas. Maka Indonesia adalah pilihan papa. Disamping alasan utamanya adalah orang tuanya yang kian berusia senja yang rentan sakit-sakitan.
Dan sambungan telepon itu terputus ketika Arga tengah menyepakati diskusinya dengan Papa.
Di lain tempat. Meskipun hari minggu Miana masih tetap bekerja, karena weekend dan minggu toko sangat ramai. Hari ini ia kembali satu shif dengan mbak puji dan Mas Hamdan. Mbak Dini juga ikut serta membantu, meskipun hanya ikut mengawasi saja dan sesekali mengecek item yang sekiranya jarang terjual. Takut saja jika sampai lolos dan di konsumsi pembeli.
Miana baru dapat beristirahat, saat adzan magrib berkumandang. ‘Huhh, leganya,’' gumam Minana di depan layar sambil menata rupiah untuk ia pick up pada Mbak Dini.
“Gimana sensasinya kerja di malam minggu, Mia?" tanya Puji memandang Miana dari balik meja kasirnya.
“Huaaah, luar biasa, mbak. Menyenangkan. Sales naik, toko ramai. Tapi badan kek lelah begini, yah." Miana memijat pinggang karena lelah banyak berdiri.
“Itu setara. Lah.”
“Nih, minum dulu sama ada roti, dari kedai depan.” Hamdan mengangsurkan satu keresek pada Miana. Membuat Miana berbinar. Lalu memanndang Mbak Puji. "Buat mbak Puji, ada juga nggak, Mas?"tanya Miana. Merasa sungkan karena ia takut Puji akan merasa di bedakan.
“Buat Puji, udah ada di belakang.” Hamdan berganti menatap Puji.
Puji hanya tersenyum penuh arti. Miana lalu berterima kasih pada Hamdan, menyesap sedikit ice coffe cup dan meletakkannya di bawah meja kasir.
Mereka kembali terfokus pada pekerjaan masing-masing seiring dengan berdatangannya kembali customer malam ini yang semakin ramai saja. Hingga Miana begitu terkejut pada satu customer yang mendadak membuatnya diam bergeming saat menanyakan kartu member pada customernya.
..._tbc_...
__ADS_1
selamat hari Minggu BESTie ❤️