
☘️☘️☘️
Sudah dua hari sejak Arga di rawat. Namun, hingga hari ini ia belum menampakkan diri untuk masuk sekolah. Padahal, menurut dokter yang menangani Arga itu, ia tinggal pemulihan saja.
Di tengah berlangsungnya kegiatan praktek mata pelajaran olah raga di lapangan, Miana bersama Riska tengah bercerita apa saja, terlihat dari raut wajah keduanya yang tersenyum, detik berikutnya bisa berubah masam dan terkejut.
Mapel lari pendek menjadi materi hari ini. Nama Arga di sebut, tapi Angel mengatakan jika Arga masih izin hari ini. Membuat Miana yang sedang berbaris menunggu instruksi dari guru OR yang memanggil namanya, sedikit mengeryit. Dari mana Angel tahu, begitu pikirnya.
Satu persatu murid melakukan gilirannya, dimana guru mapel mencatat kecepatan tiap-tiap siswa. Sampai pada giliran Aksabian Mahendra, di sebut, Miana menghentikan celotehnya bersama Riska.
Miana masih mengamati sosok sang mantan itu dengan kagum. Sejak putus dari Bian, hubungan Miana dan Bian menjadi dingin. Bertegur sapa pun jarang. Padahal, yang di inginkan Miana begitu simple, ia ingin berhubungan baik dengannya. Meskipun Bian begitu membencinya, setidaknya tidak buruk seperti sekarang.
"Yeaaay,"
"Bian."
"Uhuyy,"
"Bian tetep top rekor tercepat, yah."
Komentar teman-teman di samping Miana begitu menyejukkan sudut hatinya. Namun, setelah itu, hal yang membuat hawa sejuk berubah menjadi panas hadir di depan sana.
Sisil mendekati Bian dengan antusias. Botol isotonik di tangan Sisil sudah cepat berpindah dalam genggaman Bian lalu secepat kilat Bian menegak habis isinya.
Pandangan Miana yang tadinya berbinar itu kini kian meredup, bak api yang sudah habis melahap kayu bakar, tinggal bara dan asap yang tersisa.
Bila rasa berdenyut nyeri itu masih ada, pasti memang rasa untuk Bian masihlah ada.
Mata Miana, beralih pada senyum Sisil yang begitu tulus. Segulung mendung yang tadi bergelayut pada raut wajah cantik itu, kini sedikit mulai menampakkan cerahnya. Kebahagiaan Sisil adalah alasannya.
Riska yang menyadari perubahan wajah sahabatnya hanya bisa menghela nafas berat. Menurutnya, meskipun Miana adalah sahabatnya. Miana mempunyai satu hal yang ia sembunyikan darinya. Entahlah, tapi Riska menghargai itu.
"Sampai sekarang, Lo masih suka Bian, Na?" tanya Riska ragu.
Miana segera merubah raut wajahnya kembali tersenyum. "Sampai kapanpun, aku tetap suka Bian, Ris. Dia anak baik, dia kebanggaan kelas kita jika adu keunggulan bidang olahraga." Segera Miana mengalihkan selidik sahabatnya yang mulai membahas perasaan.
"Iiih, bukan itu, Na. Males, ah. Pura-pura nggak tanggap," gerutu Sisil.
Miana terkekeh dan segera memeluk Riska dan mendapat decakan. Tidak berhenti di situ. Ia kembali jahil dengan menggelitik Riska agar tak kesal lagi. Hingga pada nama 'Miana Aludra' di sebutkan, keusilannya baru berhenti.
Miana melakukan start bersama tiga teman yang lain, dan mengumpulkan persiapan.
Suara peluit dari guru membuat Miana melakukan aksinya. Tepuk tangan penyemangat dari teman-teman yang tengah bersorak-sorai ia indahkan. Fokusnya hanya pada garis finish. Namun, matanya kembali melihat Bian yang tersenyum, saat tangan Sisil yang duduk berdampingan dengan sang mantan itu bergerak merapikan rambut Bian yang di terpa angin.
Entah bagaimana, Miana hilang keseimbangan dan terjatuh.
Refleks teman-teman berteriak dan sebagian sampai bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Miana mengaduh kesakitan karena lututnya terasa perih. Detik berikutnya, tubuhnya melayang dan tangannya refleks berpegangan pada bahu seseorang yang telah mengangkatnya.
'Bian??? Sungguhkah ini Bian' batin Miana. Wajahnya tidak mampu berpaling dari paras dingin sang mantan pacar. Untuk menghindari rasa canggung ia memejamkan matanya, ia rasakan dirinya tengah di bawa berjalan menjauh dari lapangan. Berpasrah, akan di bawa kemana tubuhnya. Menolak pun rasanya enggan. Sesaat terhanyut dengan keadaan ini, Miana mengingat Sisil.
"Bian. Aku rasa aku bisa jalan–,"
"Diam." Sesingkat itu Bian berucap, membuat Miana menurut. Ia akan terima saja jika nanti Sisil akan berbuat apapun padannya.
Akhirnya ia mengabaikan itu karena rasa perih semakin terasa karena gesekan kain training celananya.
Sementara itu di lapangan, Sisil hendak menyusul Bian yang membawa Miana. Namun, segera di tahan oleh seorang guru untuk tetap di tempat. Mengingat ia belum melakukan penilaian untuk poin ini.
Hal yang sama juga akan di lakukan oleh Riska. Namun, ia di tahan oleh Bayu–kekasihnya. Meski sempat menolak Bayu yang berusaha menghentikannya.
"Udah, biarin Bian yang mengurus Miana." Bayu meyakinkan Riska, dengan senyumannya yang membuat Riska urung, tanpa memaksa lagi.
Tiba di ruang UKS, Miana di letakkan pada brankar single. Namun, ia segera duduk. Terlihat Bian telah mencari-cari sesuatu pada kotak p3k.
Bian segera membawa kotak putih itu dan meletakkan di samping Miana.
"Buka celana, Lo!"
"Apa?" pekik Miana terbelalak.
"Maksud gue. Gulung celana, Lo! Kalau nggak Lo gulung, mana bisa gue obatin, Lo!"
'Oh, mikir apa aku ini' batin Miana. Ia tersenyum canggung lalu menggulung celana sebatas lutut. Ia mendapat luka gores dan darah menempel pada luka itu. Ia buka satu lagi lututnya dan menemukan luka yang sama.
"Lihatin apa , Lo, sampai dengan mudahnya jatuh begini," imbuh Bian.
"Nggak tahu, tiba-tiba aja jatuh," jawab Miana asal. Tidak mungkin, ia mengungkapkan apa yang ia lihat sebenarnya. Ia takut, rasa canggung kembali di antara mereka. Maka, diam dan menikmati rasa perih adalah salah satu caranya memangkas hal itu.
Tanpa canggung, Bian membersihkan darah dengan kapas yang sudah ia beri alkohol. Meski gerakan sesekali berhenti karena Miana mengaduh tertahan. "Tahan dikit, nggak kan lama," ungkap Bian datar.
Melihat Bian dengan cekatan membersihkan luka dan membalutnya dengan kasa dan plester, membuat Miana tanpa sadar menarik sudut bibirnya. Bahagia, itu pasti. Sudah beberapa bulan sejak Bian mengakhirinya, ini baru kali pertama ia terlihat berinteraksi selayaknya teman.
Miana menahan tangan Bian saat ia selesai dengan kegiatannya. Membuat Bian fokus penuh pada Miana yang duduk di hadapannya. Menurut Miana untuk mengucapkan maksud ia menahannya.
"Makasih," ucap Miana.
Bian melirik tangannya yang masih dalam genggaman Miana. Perlahan ia menegakkan wajah dan memandang Miana lekat.
Miana tersadar dan menundukkan wajahnya. Sadar tangannya masih memegang sebelah tangan Bian. Ia melepaskan canggung.
"Maaf, sekali lagi aku cuma mau bilang makasih," putus Miana.
Kecanggungan kini tidak terelakkan lagi. Bian masih dengan posisinya , berdiri memandang Miana yang tengah duduk menundukkan wajahnya. Sama-sama dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
Hingga suara pintu yang terbuka dan menampilkan Sisil disana. Mendekati ke arah keduanya.
"Bian. Sayang, apa sih yang kamu lakukan?" ucap Sisil tidak terima.
"Kamu punya mata, kan, Sil."
"Bian, kok kamu gitu ke aku," ucapnya sedih.
"Sil, berhenti bersifat kekanakan. Gue cuma obatin Miana."
"Ya, kenapa harus, kamu? Masih banyak teman yang lainnya di sana kan!"
"Mereka nggak tanggap dan secepat gue, Sil. Kalau gue nggak segera angkat Miana dari sana. Dia akan jadi tontonan teman-teman dan mengacaukan penilaian yang lain."
Miana diam memerhatikan perdebatan sepasang kekasih itu. Ia tidak akan berani menyela atau sekedar melakukan pembelaan. Ia takut salah bicara.
Melihat Sisil yang mendelik tajam pada Miana. Bian kembali membuka suara. "Udahlah, Sil. Kalau hal ini masih lo ributkan, jangan bicara sama aku lagi," putus Bian sambil berlalu dari sana, meninggalkan Miana dan Sisil di ruangan itu.
"Jangan berharap lebih dari ini, Kak. Bian hanya perduli sama kamu karena kasihan, nggak akan ada yang nolongin kamu. Ingat itu," sinis Sisil lalu berlalu menyusul Bian.
Miana hanya dapat menurunkan bahunya yang sempat menegang. Ia menarik nafas banyak-banyak dan mengembuskan perlahan.
Riska muncul dari balik pintu di susul Bayu, Arkan dan Roy.
Terlihat raut kawatir dari sahabat satu -satunya yang Miana miliki itu. Di susul banyak pertanyaan yang membuat telinganya penuh.
"Ris. Gue nggak apa-apa, kok," jawab Miana menenangkan Riska.
"Tuh, lihat. Percaya kan? Bian nggak mungkin apa-apain Miana." Bayu mencoba menyela.
"Ya, tapi kan gue kawatir. Kamu lupa, siapa Bian," sahut Riska melirik sinis pada Bayu.
"Yang. Udah nggak usah lebai deh. Miana kan udah baik-baik aja. Bian pasti mengurusnya dengan baik, kok."
"Mulai, deh. Pasangan absurd bertingkah. Kita cabut aja Roy," ajak Arkan.
Roy mengangguk dan merangkul Arkan berlalu dari sana.
"Menurut Lo? Gimana perlakuan Bian tadi?" tanya Roy pada Arkan, begitu ia sudah berjalan di koridor.
Arkan hanya tersenyum penuh arti, lalu mengangkat bahunya sekilas.
"Ah, sudahlah. Gue rasa kita sependapat," pungkas Roy. Dan keduanya kembali berjalan lebih cepat untuk kembali ke kelas.
☘️
author: Maaf kemarin nggak up🙏
__ADS_1
reader : yaelah, siapa juga yang nungguin, hahahaha 🤣🤣🤣🤣🤣(ketawa jahat)
author: hiks😭( mengsad, kasih komen aja pelit banget, gimana ngak sad,)