
☘️
Semakin hari, semakin banyak pula kesibukan Miana. Dari sebelum waktu subuh sampai hampir tengah malam. Dari urusan memasak, mencuci, menyetrika dan pekerjaan rumah yang lain. Hampir semunya ia kerjakan sendiri.
Miranti dan Sisil? Terkadang saja mereka terpaksa membantu, itupun jika Surya sedang ada di rumah. Selebihnya, jika terpaksa saja mereka mengerjakan sendiri. Terutama saat Miana bekerja. Begitulah setiap harinya.
Meskipun Sisil sudah tidak membuat ulah lagi, tapi untuk pekerjaan rumah ia sangat enggan. Baginya, urusan beberes itu adalah tugas asisten rumah tangga.
Sampai terkadang, Surya memperingatkan Miranti dan Sisil untuk membantu Miana. Namun, bukannya tanggapan baik yg di layangkan Miranti. Melainkan sebaliknya, ia akan mengungkit segala hal yang ia berikan pada Miana dari waktu kecil.
Ketiadaan Bi Num disana, akhirnya dapat mereka sadari. Betapa berartinya Bi Num membersamai mereka sejak dulu.
Miana sering kali melerai bibit perdebatan yang akan di lakukan Miranti pada Surya. Ia mengalah dan selalu menyakinkan sang papa, jika ia bisa dan tidak keberatan.
Terkadang, Sisil juga ikut membantu. Seperti hari ini, sepulang sekolah Sisil segera mengambil alih tugas Miana. Agar sang kakak dapat segera berangkat bekerja.
Jelas saja begitu. Tentu Sisil akan meminta imbalan tambahan uang jajan dari Miana.
Sepulang sekolah, Miana membersikan tubuhnya lalu segera berganti dengan pakaian kerja. Satu kemeja lengan panjang, satu rok span selutut dan satu flat shoes berwarna hitam.
Saat keluar kamar ia melihat Sisil tengah memasukkan baju-baju kotor untuk di cuci. Ya, meskipun hanya bajunya sendiri. Itu lebih baik daripada tidak sekali.
Dalam hati, Miana bersyukur. Banyak sekali perubahan Sisil akhir-akhir ini. Walaupun hanya sekedar membantu pekerjaan ringan di rumah. "Aku berangkat, ya, Sil," pamitnya pada Sisil dan mendapat sahutan ya, sangat pelan.
"Kamu sakit , Sil?" tanya Miana menelisik wajah lesu sang adik.
"Nggaklah. Cape' aja, habis sekolah musti cuci-cuci," sungut Sisil.
Miana menyimpan senyum. Meskipun terlihat terpaksa, setidaknya Sisil sudah punya kemauan.
Sebelum berangkat Miana memerhatikan rumah kontrakan yang sudah ia huni selama enam bulan terakhir. Semalam papa, mengungkapkan bahwa ia sudah memilih hunian baru dengan cicilan per bulan. Dan besok, mereka semua akan pindah di rumah baru.
Tercapai sudah impian Miana untuk mempunyai rumah sendiri. Meskipun masih harus mengangsur selama tiga tahun lamanya. Asalkan, tidak tinggal pada rumah kontrakan lagi.
Dengan tabungan yang Miana miliki, ia dapat memberi tambahan uang. Sekadar meringankan beban sang papa untuk memberi uang muka pembelian rumah.
☘️
Di taman sekolah. Sisil masih menunggu Miana memeriksa laporan untuk presentasi dalam laptopnya. Waktu masih beberapa menit lagi sebelum kelas Bu Ifha dimulai.
"Serius, hari ini Lo bolos kerja?" tanya Riska.
"Koreksi, tuh! Gue udah izin, ya." Miana melirik pada Riska.
__ADS_1
"Trus udah telfon sama pihak cafe?" tanya Riska.
"Gue belum telfon Mas Bagus buat ijin, sih," jawab Miana dengan mata masih terfokus pada benda lipat di pangkuannya.
"Hati-hati, sama Seli. Dia itu, orangnya gampang terpengaruh." Riska memberi peringatan perihal salah atau sepupunya. Yang kini menjadi teman kerja Miana.
"Ada Mas Bagus, kok. Dia yang bertanggung jawab, soal waktu jam kerja gue." Miana masih berkutat dengan persiapan presentasinya. Merevisi ulang, bilamana ada kata-kata yang masih perlu dikoreksi.
"Gue, di sini, loh, Beib. Masa', Lo cuekin dari tadi," gerutu Riska memaju-mundurkan bibirnya. Terlihat lucu. Meski sudah merajuk, Riska masih belum mendapatkan perhatian sahabatnya. Dan itu membuat ia sedikit kesal di pagi harinya.
"Gimana, hubungan Lo sama Arga?" pancing Riska.
"Hah? Apa?" beo Miana. Barulah ia melihat penuh pada Riska, dengan muka yang sudah kusut seperti cucian bertumpuk-tumpuk.
"Cih," sungut Riska berdecih. "Giliran urusan Arga, aja. Lo baru anggep gue di sini. Heran deh!" Riska melipat kedua tangannya di dada.
Hal itu baru di sadari Miana, dan membuatnya terkekeh. Ia segera melipat laptop dan memasukkannya ke dalam tas.
"Yuk, ah. Kita kemana?" ajak Miana. Ia meraih bahu Riska. Sedikit menoel pipi Riska agar berhenti merajuk.
"Jangan ngambeg, gitu, dong. Udah jelek, makin jelek, ntar," goda Miana dan mendapat cubitan di pipinya.
Keduanya lantas berjalan menuju kelasnya sembari terus bercanda. Di koridor, Miana sempat bertemu tatap dengan Arga. Ia mengulas senyum kagum seiring debar dalam hatinya membuat seluruh tubuhnya begitu dingin. "Lama-lama, dia kok makin cakep, sih," monolognya lirih sekali nyaris tidak terdengar oleh sekitar. Termasuk Riska.
"Ngomong apa Lo?" tanya Riska menuntut. Ia tidak menyadari Miana telah merona karena suatu hal. "Tangan Lo? dingin banget!" Riska memeriksa suhu tubuh sahabatnya. "Lo sakit?" tanya Riska dan mendapat gelengan dari Miana.
☘️
Presentasi Miana di depan kelas tadi, ia rasa gagal. Entah mengapa, fokusnya mendadak memudar kala matanya menangkap mata Arga yang begitu memerhatikanya. Wajah rupawan itu kian memesona ketika sedang terfokus.
Semalam, saat Miana tak kunjung bertemu dengan rasa kantuknya, ia menelusuri galeri milik Arga di Instagram. Alhasil, malamnya ia kembali memimpikan Arga.
Kini, ia merasa berbeda ketika hanya melihat sosoknya saja. Yang kian hari kian memenjarakan hatinya. Miana merasa berdebar. Bahkan hanya untuk sekedar mengirimkan pesan lebih dulu. Entahlah. Sejak kapan rasa ini hadir mengganggunya.
Miana membenci keadaan ini. Sekaligus menyukai rasa berbunga-bunga saat bertemu dengan lelaki itu. Apalagi jika sang target dapat membalas senyuman yang ia layangkan. Berasa ribuan kembang api tengah meledak berwarna-warni, menghiasi malamnya
Namun, rasa berbeda sedang dirasakan oleh Arga. Baginya, bertemu Miana, hidupnya jauh akan ketenangan. Akan menjadi meriah dengan suara berisik sang rival yang udah ia kalahkan saat ulangan semester pertama, beberapa bulan yang lalu.
"Kenapa tadi nggak lancar, sih!" Suara Riska tengah mengomel sekaligus mengomentari presentasi Miana yang selalu berhasil, namun, tidak untuk pagi tadi.
"Enggak, tahu," jawab Miana asal. Keduanya duduk di taman samping sekolah.
"Pasti kepikiran, Lo mau pindah ke rumah baru, kan," tuduh Riska sambil memasukkan kacang rosta ke dalam mulutnya. Riska enggan ke kantin karena sedang mode merajuk pada Bayu. Alhasil, ia hanya membeli air mineral dan beberapa snack lalu membawanya ke taman.
__ADS_1
"Nggak, juga, Ris."
"Apa ini tentang Arga?" hardik Riska.
"May be, yes."
"Oh, loe seriusan?" pekik Riska girang. "Kalau jadian, jangan lupa pajaknya, ya! Wajib!"
"Pa'an, sih," dengus Miana seraya memutar bola matanya jengah. "Orang, gue nggak di tanggepin ," ucap Miana lesu.
"Gi la! Lo yang nembak dia?" pekik Riska sambil berkacak pinggang.
"Ya ... Gitu,"
☘️
Bayu bersama Bian mengacaukan mode merajuk yang di layangkan Riska padanya. Dengan segera, Bayu berlalu, membawa Riska entah kemana.
Di taman, tinggalah Miana duduk pada sisi taman. Dengan Bian di samping Miana.
"Kenapa, sih, presentasi Lo, nyaris gagal, begitu?" tanya Bian.
Miana segera mencari alasan masuk akal. Agar, Bian tidak bertanya lebih jauh. "Mungkin, Langi banyak pikiran, Bi." Itu alasan Miana.
"Sisil, nggak buat ulah lagi, kan," terka Bian.
"Bukan, Bi."
Di tempat berbeda, Arga melihat kebersamaan Miana dan Bian di taman samping bawah sana. Dari tempatnya berdiri, ia hanya memandang keduanya dengan wajah yang sangat sulit diartikan.
Bukan sengaja membutakan matanya. Ia sadar, Miana tengah kehilangan fokusnya saat presentasi tadi. Hal itu membuatnya terganggu. Dan menerka-nerka penyebabnya. Arga buka type to the point seperti Bian. Ia akan mencari tahu sendiri, karena sifat introvert yang ia miliki.
"Kalau Lo ada butuh bantuan, gue siapa kok bantu, Lo." Itu kata Bian sambil memandang pada Miana.
Walau hubungannya dengan Bian sudah membaik. Hal itu, tak serta merta membuat Miana kembali pada Bian. Walaupun kini keduanya sering bertukar chat juga. Miana tetap tidak bisa untuk kembali pada Bian.
"Gue kasih coklat, biar mood Lo, segera membaik." Bian memberikan satu bungkus coklat pada pangkuan Miana. Darimana dapatnya?
Miana mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa ,sebungkus coklat datang secara mendadak? Salah satu jawabannya adalah, Bian telah mempersiapkannya sejak tadi. Rasa terharu, sempat menyelimuti Miana. Namun, bukan rasa berdebar lagi untuk Bian. Melainkan hanya rasa kagum saja.
"Thanks, ya, Bi,"
"Hm. Jangan sedih lagi!" Bian berupaya menghibur Miana. Tanpa tahu resah dalam hati Miana. Tadi, ia sempat menangkap siluet Arga pada rooftop sekolah. Tepat di atas taman sekolah, rooftop yang biasa Miana gunakan untuk menyepi itu.
__ADS_1
"Arga, pasti salah sangka,"
kasih komentar, dong, biar yang nulis banyak membenahi tulisannya, 🤗