
"Kasih tahu, nggak, yaaaa,"
Godaan dari Miana justru membuat Riska gemas dan mencubit pipi Miana. "Buruan, cerita!" Riska sudah mode memaksa.
Mau tidak mau, akhirnya Miana membuka suara. "Jadi, tadi sebelum gue masuk rumah ada ojol datang anter paket atas nama gue. Gue merasa nggak order apapun, ya awalnya gue ngelak. Sampai gue lihat nama pengirimnya, baru gue mau terima."
"Trus, trus," todong Riska lagi.
"Trus gue bawa ke kamar, gue buka. Dan gue baca kertas note di situ. Kata Arga, gue suruh pakai baju ini, malam ini. Jadi, maaf banget, Ris. Aku nggak jadi kembaran sama Lo."
"Ouuuu, so sweet," ucap Riska ikut tersenyum melihat senyum merekah di bibir Miana. "Mana pas, banget, lagi."
"Nyaman banget, Ris. Kainnya juga nyaman. Pasti mahal deh, ini." Miana meraba permukaan taburan swarovski di permukaan kebaya berwarna hitam itu. Riasan wajah Miana yang natural soft begitu pas dipadukan dengan stelan kebaya dengan bawahan kain batik bermotif parang dengan kualitas terbaik.
Atensi keduanya segera teralihkan pada sambutan dari orang-orang penting di SMA 89. Ada juga sambutan dari papa Bian sebagai ketua Yayasan.
Di sela menyimak berbagai sambutan dan pertunjukan dari adik-adik kelas, Miana menggulir ponselnya. Ia mengetikkan pesan chat pada Arga. Karena berkali-kali ia mengedarkan pandangannya, ia tak juga menemukan sosok spesial yang selalu membuat dadanya berdesir saat melihatnya.
Serangkaian Acara telah berlalu. Saat pembawa acara menyebutkan nama Miana ia begitu terkejut saat ia tertulis sebagai penerima beasiswa untuk kuliah secara full. Padahal, sebagai penerima beasiswa utama itu poinnya tentu harus juara bertahan berturut-turut. Sedangkan ia?
"Miana Aludra, di persilahkan " Suara pembawa acara membuat Miana berdiri dan segera menuju panggung. Suara riuh tepuk tangan mengiringi setiap langkahnya.
Setelah mendapatkan simbolis beasiswa, tropi serta piagam, Miana berfoto bersama jajaran penerima beasiswa lain. Tentu dari sumber yang berbeda. Meskipun Miana masih menyimpan rasa terkejutnya, ia dapat menyembunyikan dengan baik di balik raut wajahnya. Bahagia sudah pasti. Ia bahkan tidak mengira akan mendapatkan beasiswa lengkap dengan biaya yang lainnya.
"Kenapa muka, Lo, aneh gitu. Bukannya Lo senang harusnya?" selidik Riska saat Miana sudah duduk di sampingnya.
"Gue.. masih aneh aja, dapetin ini, Ris. Lo tau, kan. Di semester satu kemarin, gue kalah jauh sama Arga. Bahkan nilai ujian kali ini nilai gue hanya beda tipis sama Arga."
"Kebanyakan mikir, Lo," tepis Riska segera.
Miana mengangguk menyetujui pendapat Riska agar tak banyak bicara. Ia kembali menyapu pandangan dan masih tak menemukan Arga di sekitar tempat itu.
Kegelisahan kembali menderanya saat pesan-pesan yang ia kirim ternyata hanya centang satu.
__ADS_1
Setelah serangkaian acara hampir selesai, ia memaksa mencari keberadaan Arga. Sayangnya pergerakannya sedikit terhalang karena ia tak biasa menggunakan high heels.
"Mau ke mana?" tanya Bian. Ia sengaja mengikuti Miana karena melihat wajah panik pada gadis itu.
"Cari, Arga, Bi." Miana masih terus memindai. Mencoba menajamkan matanya di antara kerumunan orang.
Bian mendengkus melihat gestur Miana yang tampak panik. "Dia udah besar, kali. Ngapain kawatirin dia, sih."
Saat mata Miana melihat siluet tubuh Arga yang bergerak menjauh dari halaman sekolah. Miana segera bergegas untuk mendekatinya. Beberapa kali, Miana hampir terjatuh karena tingginya alas kaki yang ia pakai. Miana bahkan mengabaikan teriakan Bian yang memanggilnya. Ia tak sabar lalu melepaskan sendalnya dan ia lebih memilih berjalan tanpa alas kaki. Mengingat langkah lebar itu semakin mendekati pintu gerbang.
Penerangan di sekitar yang sengaja di buat temaram oleh lampu berwarna kekuningan membuat pangandaran Miana sedikit terbatas.
"Arga," panggil Miana sekencang mungkin. Ia bahkan mengulanginya hingga beberapa kali karena orang yang di yakini adalah Arga justru semakin cepat berjalan.
Miana berhasil meraih jas yang di pakai seorang lelaki yang kini telah menyentuh pintu gerbang. Tak menunggu lama, Miana mendekat dan membuatnya beradu pandang pada sosok itu.
Benar adanya, dia adalah Arga. Membuat Miana yang masih mengendalikan deru nafasnya tersenyum dan segera berganti bingung. "Arga, kamu mau kemana? Kenapa HP Lo nggak aktif? Setelah kamu ngirim paket tadi kamu bahkan juga nggak balas pesan aku! Ini juga, acara belum selesai dan kamu mau berniat pulang duluan, begitu! Kamu kena–"
Ucapan Miana terhenti begitu saja saat Arga menariknya ke dalam pelukannya. Ingin protes tapi Miana begitu menikmati dekapan dan usapan di punggungnya oleh tangan Arga.
Miana merasakan pelukannya di lerai oleh Arga. Semua begitu cepat saat bibir Arga telah menempel di bibirnya, hingga membuatnya terbelalak. Ia bisa melihat mata Arga terpejam karena jarak sedekat ini. Kerongkongannya terasa kering mendadak. Ia tidak siap akan hal ini. Saat ia mencerna dengan baik, ini adalah ciuman pertamanya. Dadanya berdegup tak karuan. Sedangkan pikirannya sejenak melayang-layang entah kemana.
"Maaf," kata Arga sambil melerai pelukannya pada Miana. Ia menatap lekat pada manik mata yang tak begitu besar lalu turun pada bibir mungil berwarna nude karena sedikit polesan.
"Em, ah, i.. itu. Jangan minta maaf.
"Kamu cantik," ucapan Arga selanjutnya membuat Miana bersemu dan menunduk. Tangan meremas random di ujung kebaya berbahan halus itu. Menandakan ia sedang salah tingkah.
"Arga, makasih."
"Sama-sama."
Keduanya lantas saling berbalas tatapan mata. Mulut tak berucap hanya gerakan mata keduanya tengah bersahutan.
__ADS_1
"Gue harus pulang cepat, maaf gue nggak bisa anter kamu. Ada hal penting yang terjadi di rumah, dan aku nggak bisa lama-lama di sini." Arga melirik jinjingan sepatu pada tangan kiri Miana, dan satu tropi di tangan kanan Miana. "Pastikan kamu akan jadi orang hebat. Pergunakan sebaik mungkin atas semua yang sudah ada dalam genggaman. Aku bangga banget sama kamu."
"Hal penting ap–?"
"Penting sekali. Dan aku akan ceritakan jika kita ketemu nanti. Oke." Arga memotong ucapan Miana cepat dan menyatakan alasannya.
"Ada apa dengan Oma?"
Arga menggeleng dan memegang kedua pipi Miana. "Jangan kawatir berlebihan. Kamu makin cantik kalau serius seperti ini," ujarnya lali menurunkan tangannya.
Arga menyapu sekelilingnya. Tidak ada orang disana. Yang ada hanya jajaran mobil dan beberapa motor memenuhi jalan utama di samping kanan dan kiri menuju gerbang. Sedangkan keriuhan acara masih berlangsung di dalam sana.
"Dah, ya. Gue pergi dulu." Arga berjalan menjauh sambil melambaikan tangan. Senyum mengembang pada paras yang amat memesona bagi Miana. Ia ingin mengejar dan menuntaskan keingintahuannya. Namun, kalimat Arga yang menenangkan membuatnya urung. Ia memalingkan wajahnya saat Riska dan Bian berjalan mendekatinya dan mencecar berbagai pertanyaan. Ia enggan menjawab dan justru mengajak Bian dan Riska untuk kembali ke tempat acara.
Selang kembalinya Miana pada acara. Tiga puluh menit kemudian Surya, Miranti serta Sisil mengajak Miana pulang.
Sampai di rumah, Miana tak segera membersihkan tubuhnya. Ia lebih tertarik mencari ponselnya dan mencari room chat Arga.
[Kamu baik-baik, aja, kan, Ga?]
Satu pesan yang Miana kirimkan segera mendapatkan balasannya.
[Aku baik-baik, aja. Kamu juga harus baik-baik aja, ya,] Arga.
[Arga, kamu aneh!] Miana tak bisa menutupi perasaannya..Benar adanya ia mengakap keanehan dalam diri Arga.
[Nggak usah, menjuge aku. Mau kamu aku cium lagi, hm?"]
Balasan Arga membuat Miana tersipu. Ia justru teringat akan ciuman sejenak tadi. Tapi justru masih berimbas sampai sekarang. Mengingat hal itu, Miana justru menelungkup kan wajahnya pada bantal yang ia raih.
[Dah, malam. Tidur, gih. Besok kan harus prepare buat cari kampus baru kan. Semangat, ya. I love u.]
Miana kembali merasakan ribuan kupu-kupu seolah berterbangan memenuhi kamarnya. Entah mengapa setiap kata yang keluar dari mulut Arga sungguh membuatnya seperti tak berpijak pada bumi lagi. Perasaan membuncah yang berlipat-lipat membuat wajahnya merona dan tak berhenti mengulas senyum manisnya.
__ADS_1
☘️
Cieeee yang dapat i ciuman,🤣🤣🤣