
☘️
Siang hari, cuaca agak mendung. Sehingga membuat Arga yang berada di halaman samping rumah tidak merasakan panas, layaknya siang hari seperti biasanya.
Tiga hari di rawat di rumah sakit membuat Arga merindukan alam bebas. Menghirup udara tanpa berbayar di samping rumah. Beberapa pepohonan yang tidak begitu besar, tertanam disana.
Rasa sakit berujung pusing berat, kini sudah berangsur membaik. Hanya tinggal luka kering bekas gesekan dengan aspal jalanan sepanjang pelipis hingga pipi kanannya yang masih perlu di bersihkan dan di beri salep atau cairan khusus luka, agar cepat kering.
Harusnya Arga masih membiarkan luka itu di balut kasa. Namun, ia membiarkan saja terkena udara bebas agar cepat mengering, pikirnya.
Oma Sari berkali-kali mengingatkan agar di kamar saja. Tapi dengan cepat Arga beralasan, jika di dalam kamar terus ia akan semakin pusing. Alhasil, Sari mengalah dan memberikan kebebasan pada cucu satu-satunya itu.
Bi Ida datang membawakan jus wortel permintaan Arga beserta kukis kacang karamel dalam toples kaca. Setelah menata semuanya pada meja bulat, tidak jauh dari kolam. Bi Ida segera kembali ke dalam rumah, setelah Arga mengucap terima kasih.
Mematut wajah pada fitur kamera ponsel, Arga meneliti luka terbuka yang masih terasa perih. 'Bisa-bisanya mau nolong orang malah bkin bonyok wajah sendiri, sih,' gerutunya pada diri sendiri.
Arga mengingat malam itu. Bagaimana si berisik itu lengah saat di jalan raya. Ia sampai bergidik, jika saja ia terlambat mendorongnya ke tepi. ''Bisa melayang kepala Lo, Na,'' decaknya.
Ia kembali teringat saat sang papa menanyakan nama ibu Miana padanya. Membuat Arga kini selalu bertanya-tanya. Kenapa papa begitu tertarik terhadap urusan orang.
"Memangnya aku ini petugas sensus penduduk, Pa. Sampai harus tanya siapa ibunya. Ada-ada saja," jawab Arga saat itu.
Setelah itu, papa hanya diam namun wajah terlihat risau. Saat Arga betanya lebih jauh, Dharma hanya sedikit mengulas senyum tanpa berniat untuk menceritakan apa yang ada dalam pikirannya.
Lamunan Arga tentang papa yang terlihat aneh, kini teralihkan oleh dering telepon yang ia simpan di sakunya.
Melihat nama 'si berisik', ia segera menekan tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Ya," sahutnya.
Arga terlihat berfikir sejenak. Lalu ia sedikit menyentuh lukanya yang sebagian sudah mengering.
"Lo kirim file aja, gimana?"
"Emm, apa Lo bisa ijin dulu buat nggak kerja?"
"Serius ,Lo mau? Gue share look sekarang juga, ya."
"Okey" putusnya mengakhiri panggilan.
Arga menarik bibirnya. Ia melihat profil pemanggil, yang beberapa detik yang lalu mengakhiri panggilan. Senyum ala Miana dengan bibir ditempel satu lolipop tepat di depan bibirnya.
"Cewek aneh," ujarnya.
☘️
Miana berjalan pelan, karena masih belum leluasa bergerak. Lutut masih berbalut plester dan begitu perih untuk berjalan. Semalam, luka itu, sudah ia bersihkan dengan air hangat dan kembali ia bubuhkan beberapa tetes obat cair pada luka. Ia kembali mengingat Sisil yang berderai air mata, semalam.
Sisil membuka kasar pintu kamar. "Kak! Berhenti deh bikin ulah!" Dengan wajah bersungut dan sisa tangis terlihat di pipinya, mata menatap tajam pada Miana.
__ADS_1
"Bikin ulah, gimana, Sil?" tanya Miana tidak mengerti.
"Bisa-bisanya, masih pura-pura polos! Kamu itu nggak juga bisa terima kenyataan, ya ,Kak! Bian itu, udah jadi pacar aku. Ngerti nggak sih!" Sisil berteriak.
'Oh tentang Bian,'
"Aku ngerti, Sil. Semua orang juga tahu. Lalu apa masalahnya?"
"Maka dari itu. Berhenti cari perhatian dari Bian," tuduh Sisil.
Miana hanya menghela nafas, percuma ia melakukan pembelaan. Sisil akan tetap pada pemikirannya sendiri. Dirinya tidak berharap Bian menolongnya kemarin, tapi begitu tiba-tiba saja Bian sudah mengangkatnya dan membawanya ke UKS. Bahkan ia sempat menolak Bian untuk hal itu. Jadi apa yang salah dengannya, itulah yang ada dalam benak Miana.
"Kalian ini, ribut lagi. Ribut lagi! Ributin apa, sih," bentak Miranti. Ia Berdiri di ambang pintu. Ia mendekat dan memindai kedua anak perempuannya yang tengah berseteru.
"Kasih tahu dia, Ma! Supaya nggak ganggu pacar Sisil," sungut Sisil seraya berlalu dan membanting pintu. Membuat Miana dan Miranti berjingkat.
"Miana! Berhenti bikin ulah! Mama capek." Miranti menatap sinis pada Miana.
"Ma, sungguh aku nggak ganggu Sisil, Ma. Hanya saja, saat aku jatuh, Bian membawaku ke UKS," jelas Miana.
"Dasar kamu kegatelan! Kamu kan bisa nolak!"
"Ma, Miana juga nggak minta Bian, buat tolong aku. Bahkan, Miana udah nolak Bian."
Miranti menarik rambut Miana, hingga membuat wajah Miana mendongak, " Berani kamu, menyahut mama! Pintar bicara kamu sekarang! Memang ya, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya.Ck Ck,"
"Maksud, Mama?" tanya Miana masih menahan perih.
"Auh, sa- sakit, Ma," ringis Miana berusaha melepaskan tangan Miranti.
Miranti melihat luka jahitan pada pelipis Miana tersingkap dan membuatnya memekik tertahan.
"Ini kenapa?" tanya Miranti. Menunjuk luka jahitan pada pelipis Miana. Perlahan ia melepaskan cengkeraman pada rambut Miana karena begitu terkejut.
Sejenak, Miana merasa mama perduli padanya. Wajah khawatir Miranti membuat Miana mendapat setetes rasa sejuk menghilangkan rasa perih di kepalanya, akibat cengkeraman tangan mama. "Miana jatuh, Ma," jawab Miana.
"Kok, mama nggak tahu!" Miranti melipat kedua tangannya menelisik wajah Miana mundur beberapa langkah dan berakhir terduduk pada tempat tidur.
"Atau, kamu hanya beritahu pada papa!" Cecar Miranti menuduh Miana.
Miana menggeleng cepat. "Papa nggak tahu hal ini, Ma,"
"Bener, papa nggak tahu?" selidik Miranti.
"Buat apa Miana bohong, Ma,"
Tiba-tiba pintu di buka dan menampilkan Bi Num berjalan tergopoh-gopoh mendekati Miana.
"Bener Nyah, Mbak Mia nggak ngomong apapun pada Bapak perihal sakitnya. Beruntung Mbak Mia di tolong temannya. Jika tidak, mbak Mia pasti celaka tertabrak mobil, Nyah," terang Bi Num yang ikut masuk ke kamar karena mendengar kegaduhan.
__ADS_1
"Oh. Ya, ya bagus dong, masih ada yang mau nolongin dia," sahut Miranti.
"Mbak Mia, anak baik, Nyah. Pasti banyak teman yang perduli dengannya." Bi Num kini mendekati Miana dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Ya. Untung saja. Kalau dia nggak di tolong orang. Pasti cuma bikin susah keluarga aja." Miranti membalikkan tubuhnya, muak melihat drama art-nya yang sok perhatian. "Oh. Ya, satu lagi, Miana. Sekali lagi mama dengar Sisil mengadu ke mama karena kamu. Jangan salahkan mama, jika mama berbuat lebih dari ini. Paham kamu!."
Miana mengangguk mengerti. Perasaannya sudah tak karuan saat ia berhadapan dengan mama. Terlebih, mama tidak pernah ada di pihaknya. Mengingat benar atau salahnya dia, pasti ia yang berakhir di salahkan.
"Bi, maksud Mama tadi apa? Buah jatuh ...?" tanya Miana pada Bi Num.
"Udah, Mbak Mia. Jangan di pikirkan. Mama memang seperti itu, kan, kalau emosi." Bi Num tersenyum meyakinkan Miana.
Semua peristiwa semalam membuat Miana kembali mengusap sisa rasa sakit yang tertinggal di kepalanya. "Apa dengan menyakitiku, Mama akan lega? Benar atau salahnya aku , pasti akan tetap jadi objek luapan kekesalan mama."
Ia hapus air mata yang berada di pelupuk mata, sebelum terjatuh lebih banyak lagi. Ia meraup banyak-banyak pasokan oksigen dan mengembuskan perlahan, mengisi kekuatan.
Dengan memakai helm dan jaket jeans, Miana bersiap menaiki Honda Vario kesayangannya. Sebelum memutar kontak motor, Miana kembali mengetikkan pesan pada Rossy dan Mbak Dini, untuk ijin.
Tujuannya kali ini adalah rumah Arga. Ia memutar aplikasi maps untuk mengetahui alamat yang Arga kirimkan. Ia merasa bertanggungjawab atas tiga hari ketertinggalan Arga karena masih di rawat. Dan dengan ini, ia akan mengantarkan materi pembelajaran yang sudah Arga lewati. Awalnya, ia menyetujui untuk mengirimkan by file saja. Namun, setelah berfikir tidak ada salahnya ia menjenguk Arga kembali.
Saat di perjalanan, ia sempatkan untuk membeli buah tangan sekedarnya. Apalagi sejak ia tahu Arga penyuka anggur dan kelengkeng. Meski ia harus merogoh kocek begitu dalam, tak apalah, daripada beli yang lain namun enggak di makan, begitu yang ada dalam benak Miana.
Tiba di depan komplek perumahan elit dua lantai dengan nomor sesuai dengan isi pesan dari Arga. Miana berhenti seraya kembali melihat aplikasi maps. Setelah yakin alamatnya benar, Miana memencet bel. Tidak lama, pria paruh baya muncul dan menjawab benar saat Miana memastikan itu rumah Arga.
Dengan arahan Deri, Miana memarkir motor di samping mobil. Meski sedikit takut akan penolakan Oma Arga seperti waktu di rumah sakit saat itu, Miana memantapkan diri untuk menekan bel pada sisi pintu.
Tidak di sangka, Arga lah yang membukakan pintu.
"Hai, Ga. Gimana, udah enakan?" tanya Miana tidak bisa menutupi kebahagiaannya melihat Arga sudah seperti biasanya. Meskipun luka kering masih ada di sana.
"Masuk dulu, Na," ajak Arga dan mendapat anggukan dari Miana.
Berjalan mengekor di belakang Arga, sambil memindai tata letak perabotan yang cukup mewah. Beberapa guci besar hingga kecil tertata rapi di sudut ruang. Lampu gantung berukuran sedang berada di atas ruang tamu utama.
Miana berhenti ketika melihat wanita paruh baya yang sedang membawa kemoceng. "Permisi, Bu. Tolong simpan ini, ya." Bi Ida mengangguk dan segera membawanya ke ruang samping yang Miana yakini adalah dapur.
Arga berhenti saat Miana tengah berbicara pada Bi Ida. Ia melihat jinjingan yang sedari tadi di bawa temannya itu telah berpindah tangan.
"Apa itu?"
"Itu, ada anggur juga kelengkeng. Katanya kamu suka. Jadi aku bawain," jelas Miana.
"Harusnya nggak perlu repot-repot. Kita ke belakang aja, ya. Lebih enak suasananya."
Tanpa protes lagi Miana mengikuti langkah Arga.
Berakhir di sisi pagar seperti gazebo mini dengan meja bundar dan dikelilingi empat kursi disana.
Arga memicingkan mata saat melihat langkah Miana terlihat terbatas. Tidak leluasa seperti biasanya. Dan segera ia temukan penyebabnya, saat matanya melihat kedua lutut berbalut plester.
__ADS_1
"Lutut Lo, kenapa?"
☘️