Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 56


__ADS_3

☘️


Seminggu telah berlalu. Namun, Arga masih kecewa dengan alasan Miana menyembunyikan perihal pekerjaan barunya. Tidak tahu mengapa, ia merasa tidak di anggap penting untuk tahu hal ini.


Pacar bukan, saudara juga bukan. Tapi entah mengapa ia begitu kesal karena Miana tak sekalipun membahas hal ini saat bertemu di sekolah atau saat sedang chat.


"Kenapa harus cafe, sih?" tanya Arga sewaktu di rooftop bersama Miana. Ia tidak bisa membiarkan hatinya bergelung rasa penasaran karena Miana berganti tempat kerja.


"Ya, asal jadi cuan, Ga. Apapun itu, yang pasti gue nggak pilih-pilih pekerjaan. Yang penting, halal."


Arga bergeming tanpa mengalihkan pandangannya pada Miana. Keduanya duduk pada kursi panjang yang ada di rooftop sekolah. "Lo bisa kerja di toko bunga, toko roti atau toko buku. Tapi kenapa harus di cafe," hardik Arga.


"Kenapa emang?" tanya Miana polos.


"Masa', Lo nggak ngerti, sih. Banyak bar berkedok cafe akhir-akhir ini, Na. Emang Lo pengen, di gosipin satu sekolah lagi jika Lo kerja nggak bener?"


"Gue tahu apa yang Lo pikirin, Ga. Cafe tempatku kerja ini aman ,kok. Nggak ada minuman beralkohol. Cafe ini pure tempat ngopi santai aja. Meski ada makanan berat juga di sana. Pemiliknya aja berjilbab. Agamis pula. Mana baik banget, selalu menekankan untuk solat jika sudah waktunya."


Sedikit lega mendengarnya ini langsung dari Miana. Ia tidak mau begitu saja percaya pada celotehan teman-teman. Sudah pasti karena mereka semua iri. Sehingga apapun yang Miana lakukan seolah menjadi topik menarik untuk dibicarakan.


Lama terdiam Miana tersenyum samar. Arga yang datar dan selalu bersikap acuh, akan berbeda bila tengah berbincang berdua seperti ini. "Ga, Lo yakin? Nggak ada rasa suka sama gue" tanya Miana, namun tak berani menatap lawan bicaranya.


Sedangkan Arga cukup terkejut namun dengan cepat ia menutupinya. "Ck. Mulai, lagi," gumam Arga dengan tangan tertaut. Kedua siku ia letakkan di kedua pahanya.


"Lo nggak sadar, ya, Ga? Memang, Lo itu cuek, tapi aslinya, Lo begitu perhatian ke gue," ungkap Miana sungguh-sungguh.


Arga terdiam memikirkan sesuatu. "Miana. Lo itu belum mengenal gue dengan baik. Jadi lebih baik, Lo hati -hati sama gue."


"Maksud Lo?"


"Kalau gue bilang, gue sakit jiwa apa Lo percaya?"


"Hah," ucap Miana tersentak. Matanya terbelalak. Orang gila sekalipun, tidak mau di sebut gila oleh orang lain. Namun, Arga? Oh tidak. Ada apa dengan dirinya.


Diamnya Miana, membuat Arga tersenyum samar. Nyaris tidak terlihat. "Gue lapar," ucap Arga mengembalikan atensi Miana yang masih terpaku. Ia lekas beranjak dari duduknya dan melangkah lebar. Ia membuka pintu penghubung rooftop. Sejenak ia melirik Miana yang masih terdiam entah apa yang sedang di pikirkan.


"Argaaaa," teriak Miana. Ia harus berlari mengejar Arga untuk memperjelas pemikirannya.


"Lo mau kemana?" tanya Miana saat ia sudah mensejajarkan jalannya dengan Arga


"Kalau lapar emang harus kemana?"


"Ya.... Karena ini di sekolah. Berarti, ya, ke kantin."


"Nah, itu ,pinter."

__ADS_1


"Ish," gerutu Miana.


Sesampainya di kantin. Arga lekas memesan nasi goreng beserta ice cola. Ia masih tak memperdulikan Miana yang masih mengekor bahkan tengah memesan menu yang sama dengannya.


"Saya, juga. Samain ya, Bu," ucap Miana pada pemilik kantin. Ia lekas menunjuk Arga yang berdiri di sebelahnya. "Dia yang bayar juga, Bu," lanjut Miana. Ia hanya meringis saat mendapat lirikan tajam dari Arga.


"Kenapa sih, ikut-ikutan aja." Arga berlalu dari kasir menuju bangku yang kosong.


"Ya ... Apapun yang Lo suka, gue juga suka," jawabnya tanpa rasa bersalah.


"Kalau gue pesan sate belalang, emang Lo juga mau!"


"Iya. .... Mmmm enggaklah, di sini nggak ada menu begituan. Itu jelas-jelas hanya alibi, Lo,"


Perdebatan masih terus berlangsung hingga pesanan datang. Bahkan saat makan pun mereka masih tetap tak ada yang mau mengalah.


"Bisa gila beneran gue, kalau Lo terus di sekitar gue."


"Gitu, amat sama gue. Padahal gue suka, loh, sama Lo." ucap Miana dan membuat Arga kembali bungkam.


Sadar dengan perubahan wajah Arga, Miana segera mengalihkan pembicaraan. "Di rumah, gue nggak bisa begini. Dan hanya di sekolah dan ketemu Lo, gue bisa sesuka hati jahilin Lo, Ga."


"Lo kesepian?"


"Mungkin. Bi Num sudah nggak ada. Ada sodara tapi berasa kek orang lain." Miana menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulut lalu mengunyahnya pelan. Ia sedang teringat akan Bi Num.


Miana mengernyit heran menatap Arga." Lo tahu sesuatu?"


Arga terpaku karena sudah terperangkap oleh pertayaannya sendiri. Ia tidak mungkin mengaku jika ia mencuri dengar saat Arga membawa Miana berbicara di UKS waktu itu. Kenyataan itu di perkuat saat Bian akan menghajar orang suruhan Sisil. Keributan di halaman minimarket itu terjadi saat Arga dengan sengaja mencegah Bian berbuat keributan. Percuma menghajar habis pelaku, sedangkan komplain customer sudah terjadi dan Miana tetap terkena SP.


Karena hal itulah, Bian selalu memasang wajah perang jika bertemu dengan Arga.


"Ya." Satu jawaban Arga membuat Miana menjadi resah. Ia mengedarkan pandangan ke segala arah. Memastikan tidak ada orang lain yang mendengar hal ini.


"Pliis." Miana mengatupkan kedua telapak tangannya. "Jangan katakan ini pada siapapun, Ga."


"Emang gue type-type ember kek, Lo," tuding Arga. Ia kembali mengingat saat Angel mendapatkan alamat rumahnya dari Miana. Ia sampai risih, karena Angel semakin rajin datang ke rumahnya waktu itu.


"Gue kan udah minta maaf. Kenapa di bahas lagi, sih," ujar Miana. Membela diri.


"Ya...ya..ya. Puas!"


☘️


Arga diam memerhatikan Miana dari balik kaca mata hitamnya. Sebagian wajah berbalut masker hitam. Sehingga tidak mudah untuk dapat di kenali. Ia juga melengkapi penampilannya dengan hodie berwarna gelap dan celana jeans berwarna putih.

__ADS_1


Mocchacino dalam cangkir masih tersisa setengahnya. Cake brownies ketan hitam masih utuh dalam piring. Tak sedikitpun tersentuh.


Bukan tanpa alasan Arga memilih cafe ini. Selain dekat dengan kantor sang papa, ia juga tengah menyusun janji temu terhadap asisten papa, Zaki.


Sudah berdiam sejak dua puluh menit yang lalu. Namun, orang kepercayaan papa sekaligus seorang yang sudah ia anggap saudara sendiri itu tak kunjung datang.


Arga melihat Miana bersusah payah membawa bekas makanan pengunjung. Hatinya teramat sakit melihat bagaimana Miana berkerja.


Di kesempatan lain, Arga juga tengah menangkap gerak gerik sesama waiters yang terlihat akrab dengan Miana. Ada tiga waiters yang tampak, dan salah satunya adalah Miana. Tengah berbincang asyik sembari menunggu pelanggan yang datang.


Agar tak mengundang perhatian pegawai cafe ia mengeluarkan laptop dan menyalakannya. Ia membuka email yang sebelumnya sudah di kirimkan oleh Zaki sebagai bahan pertimbangan untuk proposal proyek besar yang sedang di tangani oleh sang papa.


Sejak di Indonesia, Arga sudah di latih untuk hal-hal bisnis. Dari langkah awal sampai tahap akhir dalam satu proyek. Bukan tanpa alasan ia memilih di ajari langsung oleh Zaki. Zaki masih muda, dan apapun yang di sampaikan lebih mudah di terima oleh Arga.


.


"Nungguin, siapa, Ga?"


Arga tersentak lantas mengalihkan perhatiannya dari layar lipat di hadapannya. Di dapatinnya Miana tengah tersenyum lebar dengan nampan di tangannya.


"Kaget, ya? Gue masih bisa mengenali, Lo."


Arga melepas kacamata hitamnya dan meletakkannya pada krah lehernya. "Lo, pura-pura nggak tahu, gitu apa susahnya, sih." Arga menutup layar laptop seraya berdecak. "Nggak di sekolah nggak di luar sekolah. Heran gue ketemu sama Lo terus."


"Mungkin, kita berjodoh."


"Miana, Lo di panggil Seli, tuh!" Suara Oca mengurungkan niatnya untuk mengganggu Arga. Oca datang dan merebut nampan dari tangan Miana.


"Udah, buruan sana," usir Oca pada Miana .


"Maafkan jika pegawai kami mengganggu kenyamanan anda, Kak," ucap Oca mencari muka. Ia telah menampilkan senyum semanis mungkin untuk menarik perhatian Arga. Sedangkan untuk Arga, ia hanya mengangguk tanda mengerti.


Arga terlihat tidak rela, Miana berlalu meninggalkan bangkunya. Namun, ia harus bisa mengendalikan perasaannya yang terganggu karena perlakuan teman Miana di cafe.


Tidak lama, Zaki datang berserta satu map holder tebal di tangan. "Maaf Pak Arga. saya sedikit terlambat," ujar Zaki di sertai candaan.


Arga berdecak malas dengan memicing tajam pada Zaki.


"Sorry, sorry. lain kali pasti gue ulangi lagi." Tawa renyah Zaki melihat wajah keruh Arga. Sayangnya meski kesal , Arga akhirnya tersenyum juga dan bersiap menerima arahan dari Zaki.


"Lo apa kabar. lama nggak ke rumah. Oma kangen sama, Lo."


Sedikit terkekeh Zaki menggulum senyum. "Lihat ntar, deh."


"Pasti Oma bakal lupain cucu sendiri, saat Lo datang," dengus Arga dan hanya di tanggapi dengan tawa sedikit keras dari Zaki.

__ADS_1


☘️


Like, komentar, dan kasih rate bintang 🌟🌟🌟🌟🌟, ya , BESTie ❤️


__ADS_2