Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 72


__ADS_3

☘️


Entah mengapa perkataan Bian seminggu yang lalu membuat Arga dirundung ragu. Bagaimana jika suatu saat ia mengecewakan Miana? Bagaimana jika ia salah bertindak dan Miana meninggalkannya?


Ah, memikirkan kata-kata 'meninggalkan' membuat Arga semakin resah.


Diam di rooftop bukan hal baru bagi Arga. Hanya di sinilah tempat ternyamannya. Sikapnya yang cenderung pendiam membuatnya tak mendapatkan banyak teman seperti Bian. Sosok yang sangat berbeda juga bertolak belakang.


Di bawah sana, Bian di kelilingi banyak teman. Meskipun ia hanya duduk di pinggir lapangan basket, tetap ada yang menemaninya. Tangannya masih dalam masa pemulihan. Belum dapat bergerak leluasa. Tiga temannya yang selalu di sekitarnya sedang berebut bola. Tidak bertanding sungguhan. Mereka hanya mengisi waktu istirahatnya.


"Ngelamunin apa, sampai aku di sini kamu nggak tahu."


Suara Miana yang berdiri empat langkah dari Arga mengembalikan kesadarannya. Ia tersenyum lalu berbalik, melihat penuh wanita yang selalu berisik di sekitarnya.


Miana mendekati Arga dan memberikan satu kotak makan baperware ke tangan lelaki yang sedang mengulas senyum. Senyum yang sangat langka dan hanya ia dapati saat sedang berdua saja.


"Apa ini?" tanya Arga. Mengangkat kotak makan berwarna mint.


"Buka, aja!" Miana berdiri berhadapan dengan Arga. "Oma, bilang kamu nggak sarapan."


"Oma bilang begitu?" tanya Arga tak percaya.


Miana meringis. "Enggak, sih. Oma cuma bikin 'sw'. Foto kamu lagi minum kopi sambil baca majalah bisnis."


Arga tersenyum. "Makasih, ya, Sayang."


Miana membungkam mulut Arga lalu mengedarkan pandangannya. Beruntung mereka sedang di rooftop. Jadi tidak ada orang atau siswa lain disana. Barulah Miana bernafas lega lalu menjauhkan tangannya.


Arga hanya terkekeh melihat wajah panik kekasihnya. "Aku tebak. Isinya broketem, kan."


"Itu tahu." Miana tersenyum. Rasa bangga karena lelaki yang dipacarinya sebulan ini sudah mulai hafal. Begitupun dengan Miana. Ia bahkan sudah menebak kue kesukaan Arga jauh sebelum mereka sedekat ini.


Arga membuka penutupnya lalu memakannya. Ia berikan satu potong pada Miana. Beberapa menit hanya saling bersahutan dengan melempar senyuman. Kali ini Miana mencubit lengan lelaki jangkung itu.


"Sampai kapan ini senyum -senyum terus. Nggak ada inisiatif buat ngomong dulu, dih." Miana sudah berdiri pada pembatas rooftop melihat ke bawah. Ada Bian yang tengah tertawa bersama teman-temannya. Sebagian berbincang, sebagian lagi tengah membagi air mineral pada yang lain.

__ADS_1


"Lihatin mantan." Arga memerhatikan Miana yang masih terfokus pada beberapa teman di bawah. Arga sangat yakin bila yang menjadi fokus kekasihnya itu adalah Bian. Ada rasa tak suka saat melihat itu, di depan matanya.


"Kamu cemburu."


"Nggak," sahut Arga cepat dan membuat Miana memandang lekat pada Arga.


"Tapi, matamu berkata iya." Miana tertawa sambil menempelkan kelima jarinya di bibir.


Bukannya kesal, Arga justru menggulum senyum. Bahagia sekali melihat tawa renyah Miana. Ia ambil tangan yang menghalangi pandangannya. Membuat Miana terbelalak dengan sisa tawanya .


"Jangan di tutup! Aku mau menikmati sodaqoh paling murah di sini." Arga menyentuh sekilas bibir Miana, membuat sang pemilik bibir terpaku lalu merona.


Kali ini Arga tertawa melihat sang kekasih. Mood booster jika di sekolah.


"Gombal." Miana menepuk lengan Arga dan membuang pandangan ke bawah lagi.


"Emang, bner, kan. Kata guru agama. Sodaqoh paling murah, ya dengan tersenyum."


Keduanya lantas membicarakan hal ringan. Tidak lama, mereka harus turun karena bel jam terakhir telah berbunyi.


☘️


Hubungan ibu-anak itu sudah semakin baik. Cukup sering bertukar kabar. Sari–oma Arga, sudah mengetahui sejak awal. Ia ikut bahagia saat melihat Arga dapat kembali berbaikan dengan sang mama. Dharmapun juga sudah mengetahuinya. Hanya saja ia enggan untuk bertemu dengan mantan isterinya. Baginya, Arga sudah dewasa. Ia sudah percayakan sepenuhnya pada putranya. Kapan dan dimana ia menyesuaikan diri.


Sarah berkali-kali membujuk Arga agar membantu perusahaannya. Arga adalah anak lelakinya. Dan ia pikir kemampuan Arga dapat membantu perusahaannya.


Jauh dari perkiraannya, walaupun ia dekat dengan Arga, sang anak tidak akan mudah di bujuk.


Persaingan dunia bisnis membuat Sarah harus mawas diri. Ia tak bisa percaya begitu saja dengan orang-orang baru. Ia masih mempertahankan dunia keartisanya. Perusahaan keluarga warisan keluarganya harus ada yang mengelola. Dan Arga adalah pilihannya. Apalagi ia tahu Arga sudah mulai ikut berkecimpung dalam perusahaan mantan suaminya.


Arga menolak halus permintaan Sarah. Selama ini, ia sudah berjanji dalam hati. Akan meneruskan perusahaan Dharma. Menjadi anak satu-satunya membuatnya mengemban tugas itu.


"Pikirkan baik-baik, Arga. Papa belum terlalu tua untuk meninggalkan perusahaan, kan. Kamu juga harus kuliah dulu. Dan mama tidak bisa meninggalkan dunia mama begitu saja. Di entertainment ini mama menemukan jati diri mama. Dan bisnis, bukan ranah mama."


"Mama punya anak perempuan, kan. Kenapa nggak dia saja yang meneruskan perusahaan Mama."

__ADS_1


"Anggi sama seperti mama, Arga. Dia suka dengan dunia modeling, tak jauh berbeda dengan dunia mama." Sarah menggenggam tangan Arga, mengangguk dan meyakinkan anak lelakinya. "Bukan untuk saat ini Arga. Mama tahu kamu harus kuliah dulu. Mama ingin salah satu anak mama ikut andil dalam perusahaan peninggalan kakek. Dan pilihan mama tetap kamu."


Arga berat untuk mengiyakan permintaan Sarah.


Kedatangan Miana membawa pesanan mereka menghentikan percakapan mereka.


Raut wajah yang berubah dari sang anak membuat Sarah tertarik. Meskipun hanya sedikit bibir Arga tertarik ia sudah membuat kesimpulan jika antara anak lelakinya dengan pelayanan kafe di hadapannya menyimpan sesuatu.


"Ehem,"


Suara berdehem dari Sarah membuat Arga dan Miana kini menatap wanita berusia empat puluhan. Miana mengangguk sopan dan menyilakan untuk menikmati pesanan.


Miana lekas pamit setelah menata pesanan di meja Arga .


"Kamu, suka dia?" tanya Sarah.


Arga hanya melihat sekilas wajah sang mama lalu menuangkan saus pada steak daging di hadapannya.


"Kok, nggak dijawab? Mama beneran penasaran, loh."


"Miana pacar Arga, Ma," ucap Arga sambil melahap satu potong daging. "Gimana menurut, mama?" lanjut Arga.


Sarah menelisik wajah putranya, yang sesekali menoleh pada pintu dapur cafe. Dapat ia simpulkan bila anak lelakinya sedang berbunga-bunga, apalagi sejak pelayan kafe tadi mengantarkan pesanan. Berbeda jauh saat ia mencecarnya dengan tawaran perusahaan pada anak lelaki berusia 18 tahun di hadapannya.


"Cantik, sih." Sarah mengangguk-angguk. Parasnya terlihat berfikir dan menimang sesuatu. Ia ingat betul siapa gadis pelayan tadi. Berkatnya juga, Arga kini dapat luluh dan menerimanya. Tapi untuk kedepannya, Sarah terlihat ragu.


Jawaban sang mama mengehentikan pergerakan dirinya mengunyah daging bertekstur lembut dalam mulutnya. Arga meraih air minum di sampingnya. Lalu memandang Sarah dengan alis yang hampir tertaut.


Melihat ekspresi serius yang Arga layangkan untuknya, Sarah merubah raut wajahnya. "Kenapa mukanya, begitu?"


"Ma, kita memang sudah berbaikan. Tapi untuk urusan pribadi Arga, hanya Arga yang menentukan." Lirih Arga mengucapkan itu membuat Sarah sedikit gelagapan. Anak lelakinya dapat membaca pikirannya. Sadar Arga masih berusia belasan, Sarah mengutuk pemikirannya. Tanpa sadar ia sudah memikirkan pendamping sang anak kedepannya.


"Tidak, Arga. Mana berani mama berfikir seperti itu. Mama hanya ingin yang terbaik buat kamu. Itu saja." Sarah memegang tangan Arga kembali, seolah menyakinkan. "Yuk, lanjutkan, makannya."


Arga menghela nafasnya sejenak. Lalu kembali meraih alat makannya. Ia menggeleng samar saat ia hampir mudah tersulut emosi. Entah mengapa jika urusan pribadinya tersentuh oleh orang lain, ia akan sangat perasa. Sekalipun dengan mamanya sendiri.

__ADS_1


☘️


Apa kabar man teman? to? jangan lupa tekan like sama komentarnya ya, mksee🙏


__ADS_2