
☘️
Sore ini, Miana sudah mulai bekerja kembali. Di cafe Hamber milik Dini, manager di minimarket tempatnya dulu bekerja.
Sedikit jauh, dari tempatnya bekerja dulu. Terletak di kawasan perkotaan. Berdiri di antara jajaran ruko-ruko yang ada di pinggir jalan utama ibukota.
Memang baru beberapa kali masuk bekerja. Namun, dengan mudah, Miana menyesuaikan diri. Terlebih, ada Bagus yang sudah ia kenali sebelumnya.
"Gimana tangan, Lo?" tanya Bagus saat Miana meletakkan nampan kayu pada dapur, usai membereskan bekas makanan pelanggan.
"Udah hampir kering, Mas. Makanya aku pakai lengan panjang." Miana menunjuk lengan kemejanya. "Takut aja, bikin pengunjung jijik lihat lukaku," lanjutnya.
Setelahnya, baik Bagus maupun Miana segera bekerja kembali. Sore itu, cafe sangat ramai pengunjung. Padahal belum weekend. Meskipun sangat sibuk, Miana sangat menyukai pekerjaannya. Sifat ramahnya begitu di sukai pelanggan. Hari ini saja, ia mendapatkan banyak tips. Meski begitu, sesuai peraturan cafe, tips akan di kumpulkan dan di bagi di akhir shif.
Banyak teman bekerja lebih bersemangat. Apalagi, melihat nominal yang terkumpul dalam kotak tips.
"Miana, kenapa nggak dari kemarin-kemarin ,sih. Lo kerja di sini," ujar Bima kagum.
"Iya, banyak banget untungnya, punya watak ramah kek, Lo." Hani ikut menimpali usai mencuci tangan pada wastafel.
Sedangkan, Miana yang sedang di puji, hanya menampilkan senyumnya. "Kalian, berlebihan. Mungkin ini rejeki, kita hari ini."
Pembawaan Miana yang ramah juga periang, sangat mudah akrab dengan pekerja yang lain. Namun, tidak semua dapat menyukainya. Ada beberapa yang menatap sinis dan meremehkan.
"Bisa dapet, tips, gitu aja belagu. Kita yang udah bertahun-tahun kerja di sini juga sering dapet. Iya, nggak Sel."
Seorang kasir bernama Seli mengangguk membenarkan pendapat Oca.
Jika Miana bersama yang lain sering berkumpul di belakang. Lain halnya dengan Oca yang selalu berada di depan. Selalu mepet pada Seli. Pekerja cafe senior sekaligus sepupu Dini.
Tiinng. Bunyi pintu terbuka menandakan cafe kembali mendapatkan pengunjung baru. Miana mendapatkan kode dari Bima untuk segera memberikan buku menu dan menawarkan menu unggulan cafe.
"Meja nomor 14," ucap Bima yang sedang membersihkan meja dekat kasir.
Miana mengangguk mengerti dan segera mendekati meja yang di maksud. Cekatan Miana menuliskan menu yang di pesan. Tidak lupa ia menawarkan menu unggulan cafe yaitu brownis ketan hitam.
Hal itu mendapat sambutan baik dari salah satu pengunjung di meja yang sama. Namun tidak dengan satu pria paruh baya yang duduk tepat menghadap ke arah Miana. Wajahnya mengernyit berusaha mengingat sesuatu. "Kamu, Miana?" tanya lelaki itu.
Sontak Miana menghentikan tangannya yang bergerak mencatat pesanan. Ia tersenyum sopan dan mengangguk. "Anda mengenali saya, Pak Dharma?"
Dharma sedikit terkekeh karena meragukan ingatannya yang menurun akhir-akhir ini. Bisa-bisanya ia sempat melupakan Miana, teman yang di tolong anaknya beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
"Kenapa pak Dharma? Sekarang anda mau mengakui jika ingatan yang anda miliki terhadap wanita cantik, benar adanya telah menurun?" canda pria berkacamata.
"Sepertinya, karena anda terlampau lama menduda, Pak. Jadi, efeknya begitu buruk," timpal yang lain dengan khas candaannya.
"Masih mendekati paruh baya, Pak Dharma. Baru juga 45 tahun. Masih pantas, lah, untuk menikah." Pria berkacamata memberi pendapat lagi.
Sedangkan Dharma hanya geleng-geleng kepala menanggapi kolega bisnisnya. "Baiklah itu saja, pesanan kami, Nak. Silakan tinggalkan kami," ujar Dharma pada Miana.
Dengan cepat Miana memberitahu catatan pesanan pada tim dapur cafe.
Lima menit menunggu, pesanan sudah siap di antarkan.
"Biar gue, aja. Miana. Lo pasti capek dari tadi belum rehat, kan!" Oca sudah lebih dulu merebut nampan yang akan Miana antarkan. Ada senyum licik setelah nampan berada di tangannya.
"Oh.. iya.. makasih, Kak Oca." Miana tersenyum saja tanpa berniat untuk berdebat.
Meskipun Oca tersenyum, namun hal itu tidak juga membuat Miana nyaman. Pasalnya semenjak ia bekerja di cafe. Miana sering melihat wajah sinis seniornya itu.
Begitu cafe berangsur sepi. Hanya tinggal beberapa meja yang terisi pelanggan. Bagus memberi tahu Miana jika ia sudah boleh pulang. Tentu atas saran Dini.
Dini mempercayakan Miana pada Bagus untuk jam kerjanya. Bukan pada Seli yang notabene adalah sepupunya.
Mianaa begitu bersyukur. Ia sudah mengenal Bagus sebelumnya. Hal-hal yang terasa sulitpun dapat terbantu adanya dia.
"Ah, saya bawa motor kok, Kak Bima," jawab Miana.
"Jangan macam-macam, Bim. Dia udah punya pacar," ujar Bagus memperingatkan Bima.
"Yaelah, Gus. Cuma nawarin, kali aja mau," bela Bima.
"Lagian, jam kerja Lo masih tiga jam lagi. Mau macam -macam!" Bagus tetap memasang wajah tak ramah. Bukan tanpa alasan, Bagus tahu Bima sering berganti pacar. Sedangkan ia tak mau Miana menjadi target selanjutnya.
"Kaya' bapaknya aja, Lo , itu Gus. Patah sebelum usaha, kalau gini, mah," ungkapnya lesu.
"Anggap, aja begitu, Bim. Miana udah gue anggap sodara sendiri." Bagus beralih pada Miana yang masih diam memerhatikan perdebatan senior-seniornya. "Buruan, pulang. Ntar kemalaman lagi," ucap Bagus sedikit memaksa. Lebih tepatnya memangkas usaha Bima mendekati Miana.
Miana berpamitan pada temannya yang lain. Dia satu-satunya pegawai yang masih sekolah. Terlebih, ia sudah mendapat persetujuan langsung dari Dini, yang tidak lain adalah pemilik Cafe. Mereka memahami Miana yang hanya sebagai pekerja part time. Tentu, gajinya pun berbeda dari yang lain.
Di waktu yang sama, Dharma menceritakan pertemuannya dengan Miana pada anak lelakinya.
Arga bahkan baru tahu dari sang papa akan hal ini. Pantas saja beberapa pesan yang ia kirim pada Miana hanya centang satu. Ia masih mengira jika Miana masih bekerja di minimarket.
__ADS_1
Tidak berpikir sampai hal ini. Berulang kali Arga tak menemukan Miana saat di toko. Kenapa ia tak menayangkan langsung padanya? Ia tak berfikir jika Miana tidak lagi bekerja di sana.
☘️
Miana datang terlambat pagi ini. Bahkan saat gerbang sekolah sudah hampir di tutup. Beruntung satpam Sekolah mengenali Miana sebagai siswa berprestasi yang sering kali mengharumkan nama sekolah. Sehingga satpam memberikan kompensasi pada Miana.
Dengan berlarian dan nafas yang tersengal-sengal, Miana berusaha sampai sebelum Bu Alin datang lebih dulu.
Namun, keberuntungan tidak berpihak padanya kali ini. Bu Alin sudah eksis di depan kelas dengan suara lantang.
"Miana," sambut Bu Alin begitu Miana sampai di ambang pintu.
"Iya, Bu." Dengan gontai Miana melangkah mendekati Bu Alin. Ia lupakan rambutnya yang berantakan karena berlarian sepanjang koridor kelas 12.
"Lima menit," ungkap Bu Alin melebarkan telapak tangannya. Bibir berlipstik merah menyala itu tersenyum menuntut penjelasan.
Sedangkan teman-teman yang lain sudah gaduh. Membuat Bu Alin membulatkan matanya. Mengintimidasi seisi kelas. Disusul suara tegas dari Bian dan barulah kelas kembali tenang.
Bu Alin menegakkan dagunya. Masih meminta penjelasan Miana.
Miana paham dan bersiap merangkai alasan yang masuk akal. "Sa–saya... harus ber–. Maksud saya, saya terlambat bangun, Bu. Saya janji nggak akan mengulanginya lagi." Miana meringis dan mengatupkan kedua tangannya. "Jadi, mohon di beri ijin ya, Bu," pinta Miana memohon.
"Alasan klasik. Ada alasan yang lebih masuk akal?" hardik Bu Alin.
Miana tidak mungkin mengakui jika ia harus menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Ia juga tidak mungkin mengaku jika ia harus memberikan beberapa pekerjaan rumah yang lain sebelum berangkat ke sekolah. Ia tidak ingin menjual kesulitannya pada semua orang. Apalagi bisa menjatuhkan nama baik Miranti.
"Tadi, motor saya, sedikit bermasalah, Bu. Alhasil, saya hanya jalan pelan saja."
Bu Alin terlihat berfikir sejenak dan mengangguk meskipun terlihat tidak ikhlas. Ia lalu mempersilakan Miana agar menunju bangkunya agar kelas kembali berjalan.
Saat Miana berjalan menuju bangkunya. Matanya bertemu dengan mata Arga yang menatapnya dalam. Tidak ada senyuman di sana. Hanya wajah tegas yang dapat Miana tangkap.
"Hai, Ga," sapa Miana dan Arga hanya diam dan menundukkan wajahnya.
Miana tidak tahu arti tatapan Arga padanya. Namun, sepertinya ia telah melewatkan sesuatu. Ia simpan rasa penasarannya dan bersiap untuk mulai mengikuti pelajaran.
'Sebenarnya, kehidupan seperti apa yang Lo alami, Miana?.'
☘️☘️☘️
...Selamat hari Minggu 😍...
__ADS_1
...Kasih komentar buat Miana, dong, biar saya tahu, salah atau kurangnya dimana,🤗...