Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 44


__ADS_3

Meskipun wajah terlihat tenang. Namun, hati berselimut resah. Arga baru mengenal Bian selama satu semester. Ia tidak percaya begitu saja jika Bian akan memperlakukan Miana dengan baik. Sedikit banyak, ia sering mendengar perangai Bian yang temperamental. Terlebih, jika ada yang berani membuat masalah dengannya.


Hingga akhirnya, Arga berdiri bersandar pada dinding UKS dengan melipat dua tangan. Arga memejamkan matanya, membuat sehening mungkin agar dapat mendengarkan apa yang terjadi di dalam.


Namun, Arga harus bersikap wajar. Bahkan terkadang ia membuka mata, saat ada siswa-siswi yang sedang melintas. Ia harus mengangguk dan sedikit melemparkan senyum pada mereka yang kebetulan sedang melintas di lorong depan ruang UKS. Tentu agar mereka tidak curiga dengan keberadaannya di sana.


Tanpa Arga pikir, akibat senyumnya yang mampu meluluh lantakkan hati kaum hawa yang melihatnya.


Begitu Arga merasakan pintu terbuka dari dalam dan tidak ada yang perlu di takutkan, barulah ia bernafas lega.


"Arga," pekik Miana dan membuat Arga menegakkan tubuhnya dan melepas lipatan tangannya.


Miana lekas meraih lengan Arga untuk menjauh dari ruang UKS. Berjalan tak tentu arah asalkan cepat berlalu dari sana. Sedangkan Arga masih patuh tanpa perlawanan saat tangannya di seret paksa oleh rivalnya. Ya, ulangan semester kemarin nilainya nyaris sama dengan Miana.


Sampai tangan itu terlepas seiring langkah Miana juga berhenti, barulah Arga menyadari sesuatu. Dan itu adalah sosok Angel yang berdiri berjarak beberapa meter darinya dan Miana berhenti.


"Lo, kok curang, sih, Ga! Sama Miana Lo mau di tarik-tarik begitu, sedangkan sama gue Lo selalu kasar!" Angel menggerutu seraya berkacak pinggang.


Dengan memutar bola mata malas, Arga enggan memberi jawaban.


Sedangkan Miana hanya meringis dan terlihat salah tingkah. Berkali-kali menyelipkan rambut yang menghalangi sisi pipi chubby nan imut itu.


"Lo juga, Na! Bisanya, main belakang. Kooperatif dong, kita saingan dengan sehat." Angel bicara dengan berapi-api.


Miana terkekeh dan melirik Arga. "Boleh, juga ide Lo, Ngel. Kita saingan yuk, runtuhin mount Everest ini." Miana semakin memprovokasi kekesalan Angel.


Angel bersungut, mulutnya mengerut seperti buntut ayam. Ia berjalan dengan kaki di hentakan dan memeluk bahu Miana seraya berbisik. "Competition starts!"


Arga menaikkan sebelah alisnya, dan mengeratkan giginya. "Gila kalian!" Ia kesal karena disamakan dengan dinginnya mount Everest dan menjadi objek pembahasan teman-temannya.


Tanpa menoleh lagi, Arga segera mengambil langkah lebar menjauh dari dua teman kelasnya yang mulai membuatnya malas.


Miana terkekeh. Namun, berbeda dengan Angel yang tengah memandang sayu kepergian Arga.


Miana menoel bahu Angel tanpa melepaskan senyuman. "Kenapa?" tanya Miana.

__ADS_1


"Aku suka dia. Tapi dia suka kamu," jawab Angel. Tidak dapat menutupi kesedihannya.


Miana tentu terkejut dengan jawaban Angel. Terlebih, dengan pemikiran teman kelasnya satu itu. "Siapa bilang?" tanya Miana.


"Emang Lo nggak ngerasa, ya, kalau Arga suka sama Lo?" ungkap Angel.


Miana menggeleng pelan, otaknya berputar memikirkan ketidakmungkinan itu ada pada Arga. Menurutnya, Arga begitu kritis bahkan anti dengan sikap cerewetnya.


"Na..." panggil Angel. Hening. Angel kesal karena tidak mendapat respon dari Miana. Dan benar saja, saat Angel menoleh pada Miana, lawan bicaranya tengah melamun.


Iseng Angel mencubit kedua pipi Miana lalu berlari karena dengan segera Miana tersadar lalu mengejarnya.


☘️☘️☘️


Dua hari yang lalu. Setelah Bian hadir tiba-tiba dan mengacaukan perbincangannya dengan Miana, ia sudah memutuskan untuk memendam saja segala bimbang dalam dirinya.


Di tambah lagi kehadiran Angel yang tidak bosan-bosannya menjadi parasit selama ia di sekolah. Membuat hidupnya tidak tenang. Sebut saja Arga alergi dengan orang yang agresif seperti Angel.


Hanya karena ia bingung harus bersikap seperti apa dengan sang mama. Ia harus mencari sudut pandang orang lain. Dan Miana adalah tujuannya.


Meskipun setelah bekerja, Miana berusaha untuk bertukar chat dengan Arga. Ia enggan untuk membicarakannya kembali dan mengalihkan pembahasan lain.


Memasuki jam ke-tiga hari ini. Sepanjang pembelajaran mapel kimia, semua siswa tertib seperti biasanya. Satu jam setelahnya seisi kelas menuju ruang praktikum, untuk penilaian ujian praktek.


Arga tidak lagi ingin membahas perihal Sarah pada Miana. Ia sudah terlanjur kesal karena selalu saja ada yang mengganggu saat ia akan mengutarakan permasalahannya.


Seperti biasa, dengan menyendiri Arga merasa lebih nyaman.


Rooftop sekolah masih menjadi tempat favoritnya saat istirahat.


Arga tengah memerhatikan lalu lalang siswa dari tempatnya berdiam. Merasakan embusan angin di ketinggian nyatanya mampu membuat pikirannya terhibur. Selepas berbagai jadwal praktikum kimia hari ini.


Notifikasi pesan masuk dalam saku mengalihkan perhatian Arga dari rasa tenang. Ia membaca beberapa chat sekilas lalu memasukkan kembali pada saku celananya, tanpa berniat membalasnya. "Papa ada-ada aja sih. Urusan beginian di limpahkan ke gue." Arga berdecak malas karena untuk kesekian kalinya ia harus menandatangani beberapa berkas untuk mewakili pihak papa sebagai donatur baru di sekolahnya. Terkait proposal persetujuan untuk pembangunan gedung baru untuk menambah fasilitas sekolah.


"Nah, kan. Bener di sini."

__ADS_1


Suara seorang yang Arga kenali, membuatnya menarik sudut bibirnya. Tanpa berbalik untuk memastikan siapa yang tengah datang menganggu ketenangannya, ia sudah dapat menebaknya.


"Di telepon, nggak di angkat. Di wa, juga enggak di balas. Bikin repot aja sih," gerutu Miana. "Di cariin pak kepsek, tuh." Meskipun ia kesal namun kakinya tetap terayun untuk menghampiri Arga.


"Sebenarnya yang cari gue itu, Lo apa kepsek, sih?" cetus Arga to the point.


"Yee, sembarangan! Ya kepsek lah, ngapain gue cari Lo." Miana tidak terima dengan tuduhan Arga. Ia ikut menumpu siku pada pagar rooftop. Seperti yang di lakukan Arga. "Buruan! Keknya penting deh. Karena tadi saat gue melintas di depan ruang beliau tuh, udah banyak orang di sana."


Miana menepuk lengan Arga, karena tidak mendapat respon lagi.


"Aauu," keluh Arga memegangi lengannya. "Gila sih, itu tangan apa samurai. Perih banget," lanjut Arga bersungut.


"Ya, kali. Kalau ada orang ngomong ya di respon. Jangan di diemin! Itulah kenapa di kurikulum merdeka belajar, kita harus mengedepankan nilai-nilai Pancasila. Salah satunya menghargai lawan bica kita. Saling menghormati dan tenggang rasa. Jangan lupa, dengan sila kedua. Kemanusiaan yang adil dan berada–"


"Kenapa bawa-bawa kemanusiaan," potong Arga.


"Ya kali, Lo hidup nggak butuh orang lain. Memanusiakan manusia, Ga. Gue bukan patung."


"Ya kan nggak mesti mukul."


"Abis, kesel," ungkap Miana dengan mulut komat Kamit tidak jelas. Mengumpat Arga tanpa suara.


"Kesel mana, saat gue mau ngomong, tapi banyak yang ganggu."'


"Oh. Masih dendam sama Bian dan Angel," goda Miana dengan menggulum senyum. Ia melupakan kekesalannya dan bersiap dengan mode normalnya.


"Dah, ah. Ngeri ngue deket-deket sama Lo. Mulut lancar bener kek beo lagi lapar," ungkap Arga sambil berlalu. Sedangkan Miana tidak begitu menghiraukan Arga.


Miana menikmati semilir angin yang berhembus perlahan. Ya, karena di sini salah satu tempat sejuk yang ada di sekolah. Pepohonan yang berbaris rapi di bawah sana benar-benar memberi efek menenangkan.


☘️☘️☘️


Maaf, magrib baru up.


jangan lupa Lika dan komentarnya ya BESTie semua 😍.

__ADS_1


Terimakasih yang sudah mampir di cerita recehku 🙏🙏 gumawo.


__ADS_2