
☘️
Seisi grup kelas 12 MIPA 1 mendadak riuh saat Bian mengumumkan undangan untuk ulang tahunnya. Besok malam.
Bian bukan hanya mengundang satu kelasnya, melainkan teman-teman dari kelas yang lain. Khususnya yang ia kenal. Sebagian lagi teman-teman Raya.
Thea dan Hazel tentu heboh berkerumun di meja Sisil. Terdengar, mereka sudah riweh perihal kado yang akan mereka bawa. Dress code berwarna hitam menjadi syarat utamanya.
"Sil, habis sekolah. Kita langsung ke mall yuk!" Itu ajakan Hazel dan di setujui oleh Thea.
"Iya. Pasti gue ikut." Putus Sisil setelah beberapa saat memikirkan sesuatu.
"Ikut mobil Thea aja, yuk. Rame-rame!"
"Gue setuju. Kan kalian tahu, gue masih miskin. Papa gue belum mampu beli mobil lagi."
"Nggak apa. Lo kaya' ke siapa, aja! Gue doain. Besok Lo lekas punya mobil lagi. Dan gantian kita yang nebeng mobil, Lo."
Suara heboh saudaranya tentu terdengar jelas oleh Miana. Di rumah, Sisil terlihat diam. Namun, siapa sangka. Adiknya itu punya keinginan terpendam. Cepat atau lambat, jika Sisil sudah mempunyai keinginan itu. Pastilah akan membuat sang papa tidak tega dan mengusahakan berbagai cara agar menuruti maunya Sisil.
Benar saja. Malamnya, saat Surya baru pulang bekerja. Sisil sudah menghadang Surya di depan pintu rumah. Taksi baru saja meninggalkan pelataran depan rumah barunya. Sisil sudah siap di depan pintu ketika mendengar Suara papa mengucap salam. Bukannya menjawab salam. Sisil langsung menodong Surya dengan rengekannya.
"Capek, Pa?"
Surya menutup pintu. Lalu mendekati anak bungsunya. "Sisil. Tumben kamu perhatian sama, Papa. Ada apa nih," tanya Papa. Suaranya bahkan halus sekali. Seperti menggoda anak kecil.
"Sil, mau mobil, Pa. Sil nggak mau terus terusan nebeng sama Hazel. Sil, malu, Pa."
Sejenak, Surya menghela nafas singkat lalu mengelus kepala Sisil sambil mengajaknya berjalan dan berakhir di sofa ruang tamu. "Akan papa, usahakan, ya," ucap Surya dan membuat Sisil berbinar dan berhambur ke pelukan Surya. Miranti dari ruang makan pun mengeryit heran melihat melihat Sisil begitu terlihat bahagia.
"Ada, acara apa, nih? Peluk-pelukan?"
"Ma, papa mau beliin, Sil, mobil," pekik Sisil kegirangan. Tentu raut bahagia juga menyelimuti Miranti.
Miranti mendengkus sejenak, sambil mencubit lengan sang suami. "Kalau anak sendiri yang minta. Baru deh, dijabanin. Mama yang minta dari jaman prasejarah, enggak di dengerin." Miranti tentu tengah bercanda.
Potret hangat keluarga di ruang tamu itu terlihat harmonis. Miana melihat dari pintu penghubung carport. Bahkan baru kali ini raut tanpa beban itu kini juga terlihat jelas di wajah Miranti. Selama tinggal di kontrakan. Jangankan tersenyum. Setiap harinya, Miranti hanya menampilkan wajah keruh seperti mendung hendak menjatuhkan isinya.
Tanpa sadar, Miana yang hendak masuk ke dalam rumah, menjadi mematung. Hanya berdiri di antara celah pintu yang tidak tertutup sempurna. Di depan pintu penghubung carport yang hanya berisi satu sepeda motornya.
__ADS_1
Begitu sayangnya Surya pada Sisil. Sampai apapun yang diminta sang adik segera di kabulkan oleh sang papa. Miana tahu, bagaimana papa menggunakan uang gajinya. Bagaimana papa berusaha menghemat agar dapat mencukupi kebutuhan keluarganya. Papa bahkan sampai meminta padanya agar membuatkan bekal setiap harinya. Miana menyadari, jika ia menjadi bank sampah oleh sang papa. Ia menjadi tempat papa mengungkapkan semua kesulitannya.
Meskipun, posisinya berbeda jauh dengan Sisil, Miana selalu membesarkan hatinya. Menyakinkan dirinya sendiri, jika ia punya tempat tersendiri di hati Surya. 'Tak apa, papa tak sesayang itu sama aku. Aku sudah cukup senang, menjadi tempat papa berkeluh kesah.'
"Miana kemana? Apa belum pulang?" tanya Surya sedikit celingukan mencari Miana.
Hal sederhana itu yang Surya ucapkan. Namun, begitu membuat Miana bahagia. Merasa di sayangi, dikhawatirkan dan merasa dianggap anggota keluarga oleh mereka.
"Bentar lagi juga pulang," putus Miranti sambil meraih tas kerja Surya. Pasangan suami-istri itu gegas berlalu ke kamarnya di ikuti Sisil yang terus menampilkan senyuman.
Rumah ala perumahan dengan tiga kamar tidur dengan kamar mandi di dalam adalah pilihan Surya. Ruangan yang lain yaitu satu ruang tamu, satu ruang makan, satu ruang dapur dan satu ruang gudang yang berbatasan langsung dengan kamar mandi. Tidak ada lantai atas. Surya sengaja memilih model ini. Selain harganya tidak terlampau tinggi. Ia memiliki selera simple seperti ini.
☘️
Baru saja Miana selesai membersihkan diri. Ponselnya sudah berdering tanda panggilan. Nama Riska tampil menyambut indera penglihatan Miana. Sambil menekan nekan handuk pada rambutnya yang masih basah, Miana menempelkan benda pipih kesayangan sejuta umat itu di sana.
"Yoboseyyo .... Hahahaha ... Euum, Mianhae. Ops! Iya kenapa? ... Gue libur hari ini .. Iya, sih. Gue lupa. Boleh-boleh, gue bersiap sekarang."
Miana mematikan sambungan telepon. Masih terkekeh mengingat segala umpatan sahabatnya. Riska menggerutu mengajukan protes jika Miana memancingnya dengan bahasa itu.
Miana menyukai drama korea sedangkan Riska lebih menyukai grup vokal di negara itu. Sungguh sangat kontras sekali. Maka tak heran, jika Miana suka berbicara menggunakan bahasa negeri seberang, Riska akan mengomelinya dari a sampai z. Karena ia tak juga cepat menghafal beberapa bahasa di sana. Tentu saja, yang ia lihat hanya visual dan lagunya. Sedangkan yang lain tak begitu ia perhatikan.
Tak mau Riska semakin kesal. Ia segera berbenah dan menyiapkan diri, sebelum Riska sampai di depan rumahnya.
[Rumah Lo sepi. Kata orang, Lo udah pindah. Pindah kemana?]
Miana menepuk jidatnya. Ia hampir lupa satu hal ini. Yaitu memberitahukan alamat rumah barunya. Padahal mereka bertetangga. Meskipun berbeda blok saja.
Miana segera menekan aplikasi maps dan membagikan posisinya saat ini pada Arga. Ini mungkin akan mengejutkan bagi Arga. Ia juga mengirim voice note pada Arga karena sedang terburu-buru.
"Ga, kalau Lo ada perlu sama gue ,maaf banget ya. Gue mau keluar sama Riska. Mau cari kado buat Bian.'
Setelah mengirimkan suaranya pada Arga. Miana memasukkan ponsel pada tas selempang.
Kaki berbalut celana Jogger longgar itu membuat langkah Miana semakin lebar seiring suara klakson mobil Riska.
"Mau kemana kamu?" tanya Miranti. Matanya memindai anak sambungnya dari atas sampai kaki.
"Miana keluar sebentar, Ma. Sama Riska, itu orangnya udah ada di balik pagar." tunjuk Miana. Menunjuk Keluar pagar. Mobil SUV warna hitam dengan Riska di dalamnya.
__ADS_1
"Nggak kerja, kamu!"
"Miana di kasih libur hari ini, Ma."
"Ck, pakai libur segala. Jangan lupa, ya! Bantu papa melunasi cicilan rumah. Kamu tau kan, Sisil udah lama banget pengen mobil. Jadi kali ini tunjukan bakti kamu sama keluarga ini."
Ya, mama benar. Ia harus menunjukkan rasa baktinya. Meskipun kalimat itu terkesan mengungkit yang telah lalu. Miana tidak berusaha menyangkalnya.
"Baik, Ma,"
Miana mengembuskan napas kasar. Saat Miranti sudah berlalu dari hadapannya.
☘️
Miana dan Riska, sudah memutari outlet demi outlet yang ada di lantai dua mall. Namun, barang yang ia cari belum juga ia temukan. Ya... begitulah wanita. Mereka akan memutari seisi mall namun akan kembali pada tempatnya semula.
Entahlah apa yang mereka cari. Berkeliling seperti itu sudah menjadi kesenangan tersendiri. Dan tidak akan puas dengan satu tempat saja.
Sampai ia berhenti di satu tempat dan menangkap sesuatu yang dapat ia berikan pada Bian sebagai kado.
Pilihannya jatuh pada kaca mata hitam dan sarung tangan ala pembalap. Menurutnya kedua benda itu sering Bian perlukan. Jika tidak untuk di sirkuit. Maka, di kenakan di jalanan umum pun akan berguna.
"Kenapa Lo pilih sarung tangan, Na?" tanya Riska. Mata dan tangannya masih sibuk memilih merk parfum yang biasa Bian kenakan. Tentu hal itu atas saran dari Miana. Sebagai orang yang pernah dekat dengan Bian. Tentu Miana tahu apa yang menjadi kesukaan Bian.
"Ya ... Lagi pengen kasih ini aja." Miana mengangkat toote bag sedang di tangannya. Ia memutuskan untuk membungkusnya di rumah. Lebih hemat dan sengaja mengasah kreatifitas sendiri.
Miana menunggu Riska yang masih berbelanja untuk kebutuhannya sendiri. Di kursi tunggu ia hanya memerhatikan beberapa pengunjung yang berlalu lalang. Sampai getar ponselnya mengingatkan Miana akan pesan Arga tadi.
[Gue gabung boleh?]
Satu pesan Arga membuat Miana mendadak berdegup tak karuan. Ia harus menahan diri agar tak memekik karena terlalu senang. Akan seperti apa jika Arga bergabung dengannya dan juga Riska.
Belum sempat Miana membalas pesan Arga. Ia sudah kembali memekik tertahan. Arga sudah berdiri di hadapannya. Snakers putih dengan celana jeans berwarna hitam, kaos putih dan hoodie berwarna senada sudah membalut tubuh atletisnya. Miana hanya bisa bergeming di tempatnya. Isi kepalanya sedang mengagumi pahatan makhluk hidup bernama Argaza Zayn Mahendra. Seorang teman sekelasnya yang berhasil menggeser posisinya dari juara bertahan paralel. 'inikah takdirku?'
..._tbc_...
🤭🤭🤭🤭
aku kasih bonus visual Arga, Miana dan Bian versi aku ya,
__ADS_1
Mianhae, like kalian semua ❤️