Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 66


__ADS_3

"Gue suka sama Lo, Miana."


Antara senang, terkejut dan tak percaya. Miana hanya diam bergeming dengan mata terbelalak. Berdiri berhadapan dengan seorang yang telah lama ia harapkan. Sempat berfikir, bila perasaannya tidak akan mendapatkan jawaban atau lebih parahnya, Arga tak memperdulikannya.


Malam ini. Saat semua perasaannya sudah hampir tenggelam, perkataan Arga beberapa detik yang lalu telah membawanya ke permukaan kembali.


Tidak sedikitpun Arga memalingkan pandangannya. Tetap menelisik wajah menggemaskan di hadapannya. Saat matanya menangkap bibir mungil Miana yang tergigit, barulah Arga mengulas senyum. Senyumnya semakin melebar saat wajah Miana kembali memerah dan salah tingkah.


"Jawab, dong! Masa', diam aja," ucap Arga. Sedangkan Miana sedang menepuk kedua pipinya. Memastikan dirinya tidak sedang bermimpi. "Gu-gue, harus jawab apa? Lo tahu sendiri perasaan gue," jawab Miana malu-malu. Ia menunduk dan memperlihatkan kedua telapak tangannya yang sedang tertaut.


"E.. gu..gue–"


"Maaf, ya. Gue bersikap seolah-olah nggak perduli sama perasaan, Lo. Asal Lo tahu, gue begitu karena ingin jaga, Lo. Tapi, makin kesini, gue ngerasa bodoh. Gue takut Lo nyerah gitu aja." Arga menyela perkataan Miana.


"Ga–,"


"Gue belum selesai." Arga menempelkan jari telunjuknya pada bibir Miana. Lalu segera menurunkannya kembali. Takut ia khilaf. "Gue ingin Lo jadi penyebab bukan sebagai akibat. Gue nggak rela Lo yang meminta gue buat menyambut tangan Lo. Yang gue inginkan adalah menarik tangan Lo dalam genggaman gue."


Arga benar-benar menarik tangan Miana dan meletakkannya dalam genggamannya. "Biarkan gue yang memulainya, Miana. Lo cukup mengikutinya."


Bibir Miana seakan mendadak kelu. Ia tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Jujur ia bingung akan berkata apa. Sikap ceriwisnya mendadak lenyap. Padahal, dalam hati sungguh ia tengah bersorak.


"Gue bikin Lo kaget, ya?" tanya Arga dan mendapat anggukan dari Miana.


"Iya," lirih Miana.


Arga tersenyum dan menarik Miana ke dalam pelukannya. "Kita jadian sekarang."


Apalagi sekarang? Miana bahkan baru mengendalikan degub jantungnya. Perkataan Arga selanjutnya membuat Miana harus memekik tertahan. Hanya anggukan kepala dalam pelukan Arga. Hanya itu yang dapat ia ungkap sebagai jawaban. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Telah lama ia terombang-ambing dengan perasaannya sendiri. Tanpa tahu perasaan Arga padanya.


Satu sisi, batinnya mengungkap yakin bila Arga mempunyai perasaan yang sama. Di satu sisi, ia merasa sikap Arga terlalu abu-abu untuk ia tebak. Dan hari ini, semua itu telah terjawab.


Arga melerai pelukannya. Memberanikan diri menatap manik mata indah milik Miana.


Keduanya tersenyum canggung dan terlihat salah tingkah. "Kita jalan ke sana buat cari makan," tawar Arga. "Jahat banget di hari pertama jadian, ceweknya di anggurin," lanjut Arga membuat Miana menggeleng.


Miana lantas menunduk menyembunyikan senyumnya.

__ADS_1


Arga meraih dagu Miana agar kembali tegak. "Jangan di sembunyiin senyumnya. Biar efeknya nular sampai ke sini." Arga membawa tangan Miana pada dadanya.


"Arga!" Miana menepuk lengan Arga karena menahan buncahan rasa bahagianya. "Jahat, ya." Miana mencebik dan memalingkan wajahnya.


"Jahat kenapa?"


"Karena, Lo, buat gue nunggu lama." Miana berjalan lebih dulu. Mengambil langkah lebar menuju mobil Arga.


Arga terkekeh dan membiarkan Miana berjalan lebih dulu.


Miana tak mau Arga mendapati wajahnya yang memerah. Ia tepuk wajahnya berkali-kali karena wajahnya memanas. Sesekali ia menoleh ke belakang. Dan entah mengapa ia jadi kesal karena melihat Arga masih terkekeh. Tanpa beranjak dari tempatnya.


"Ga. Anterin pulang!"


"Ogah. Pulang sendiri," goda Arga. Ia mengikuti langkah Miana yang sedikit merajuk. ' Ternyata , seperti ini rasanya mengungkap perasaan,' gumam Arga. Senyumnya masih tetap terbit dan tak luntur sedikitpun.


☘️


Miana masih bergelung dengan selimutnya. Sang Surya sudah mengusik tidurnya sejak tadi. Namun, ia masih mempertahankan posisi ternyamannya saat ini. Hari Minggu membuat Miana sedikit bersantai sejenak. Ia melirik jam dindingnya sudah menunjuk pukul 06.00.


Masih begitu jelas terekam di ingatannya, saat Arga masih memerhatikannya hingga masuk rumah dengan selamat. Semalam, Miana sampai di rumah hampir tengah malam. Baru kali ini ia pulang selarut ini. Di luar pekerjaannya. Jika papa mendapatinya semalam, maka sudah pasti ia akan bingung mau menjawab apa.


Miana sadari belum menyiapkan sarapan. Ia bangun lebih bersemangat. Ya. Ia begitu bahagia karena semalam menjadi hari bersejarah dalam hidupnya. Setelah berkali-kali, di abaikan oleh Arga, tak di sangka, tadi malam Argalah yang mendatanginya.


Setelah mencuci muka, Miana berkutat dengan wajan penggorengan. Ia juga telah memasukkan pakaian kotor pada mesin cuci. Cekatan, Miana memasukkan kecap ke dalam nasi gorengnya. Karena sudah terdengar suara Miranti dan Sisil memasuki rumah.


"Mama pikir, masih mau enak-enakan tidur. Ngelayap kemana semalam?" tuduh Miranti dari balik lemari pendingin. Ia menuang air putih dan meminumnya. Matanya masih menelisik anak tirinya di depan kompor.


"E, Miana keluar sebentar, Ma. Di ajak teman buat cari angin."


"Sama siapa, Kak?" cecar Sisil tak kalah menelisik. Dalam hati, ia sudah kawatir jika Miana pergi bersama Bian.


"Pagi semua." Surya datang masih dengan seragam lengkap. Rupanya ia baru pulang bekerja.


Lega. Surya datang di waktu yang tepat. Menyelamatkan dirinya dari selidik adik dan juga mamanya.


"Papa dari tadi salam nggak ada yang jawab. Nggak taunya sedang ngumpul di sini." Surya mendekati Miranti.

__ADS_1


"Capek, Pa," sambut Miranti menarik kursi agar Surya segera mengambil posisi duduk. "Kita sarapan, dulu, yuk!"


"Papa mandi dulu sebentar aja, Ma. Biar nanti sarapan udah seger. Capek banget." Surya memijit pelan bahunya.


"Pa, nasi gorengnya udah siap, ini. Mumpung masih anget, kita sarapan dulu," tawar Miana. Ia meletakkan satu wadah sedang nasi goreng di meja.


Mau tidak mau, Surya menuruti ajakan Miana dan juga Miranti.


"Kalian habis joging di kompleks?" tanya Surya pada istri dan kedua anaknya. Menatapnya satu persatu. Melihat baju yang di kenakan Miranti dan Sisil.


Beruntung Miana sudah tidak mengenakan piyama tidur. Kaos oblong longgar berwarna putih dan celana hot pants berwarna hitam membalut tubuhnya. Jika ia masih mengenakan baju sebelumnya, Surya akan kembali memberi rentetan pertanyaan lagi.


"Iya, pa. Rumah kita masih bagus dekat dengan gerbang kompleks. Ternyata, setelah Sil tadi lari-lari ke ujung, banyak juga loh Pa, penghuni kompleks ini."


"Iya, Pa. Banyak berpapasan juga dengan tetangga-tetangga kita, Pa. Mereka terlihat elegan, Pa. Pasti suaminya pengusaha semua ."


Mulai lagi, Miranti terpancing rasa iri.


"Jika mereka pengusaha, nggak mungkin ambil perumahan, Ma. Pasti mereka sudah punya rumah sendiri. Kecuali perumahan komplek di sebelah sana."


"Ooh, komplek perumahan elit, itu, ya." Sisil menimpali dengan mulut penuh nasi goreng. Dan Surya mengangguk sebagai jawaban.


"Enak. Sudah lama ,papa nggak makan nasi goreng buatan Miana. Besok, papa mau bekal ini, ya," pinta Surya pada Miana. Sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Siap, Pa," jawab Miana.


Diam-diam, Surya sedikit mengeryit saat Miana lebih pendiam. Tidak banyak ikut masuk obrolan. Sedari tadi Surya menangkap wajah anak sulungnya tengah bersemu dan sesekali menggeleng samar.


"Nanti, nggak ada waktu keluar ,kan? Papa mau bicara, ya." Surya masih menelisik diam-diam.


"Oh, iya, Pa,"


☘️


Naluri orang tua, pasti tanggap anaknya sedang menyimpan sesuatu.🤭


mksee yang udah tetap stay. kasih like, komentar dan vote nya buat Takdir cinta Miana, ya.

__ADS_1


khamsahamnida 🙏


__ADS_2