
Assalamualaikum,"
Suara salam di ambang pintu menghentikan ceramah di tengah hari yang di lakukan Miranti pada Surya.
"Waalaikumsalam," sahut Surya dan Miranti bersama.
Pintu yang terbuka membuat Miranti mengeryit karena merasa tidak mengenal siapa tamu yang berkunjung. Ia warga baru di sini. Dan jika itu temannya atau teman kantor suaminya, pasti juga belum banyak yang tahu dengan alamat baru mereka.
Seorang ibu-ibu berpakaian gamis dengan jilbab segiempat yang sudah di bentuk sedemikian rupa menutup kepala punggung serta dada. Memegang sebuah kardus berukuran 30x30 centimeter di tangan.
"Siapa, ya?" sapa Miranti.
"Saya Siti, rumah saya di seberang jalan, Bu. Maaf sebelumnya, mau kasih ini." Siti menyerahkan satu kotak kardus berisi bolu tape, karena terlihat dari penutup transparan atas kardus.
"Oh, iya. Terimakasih lho Bu Siti. Ah perkenalkan, saya Miranti dan ini suami saya, Pak Surya." Miranti mengulurkan tangan di susul dengan Surya yang di sambut ramah oleh tetangga baru mereka.
"Saya lihat kontrakan ini baru di isi kembali setelah beberapa bulan tidak ada yang menyewa. Semoga betah, ya, Bu, Pak."
Setelah bercakap sebentar dengan menceritakan anggota rumah pada Siti. Surya merasa lega karena Miranti mau menunjukkan sikap ramah. Berbeda dari biasanya.
Begitu pun Siti yang sangat terbuka dan juga terbuka. Miranti juga mengetahui jika Siti mempunyai usaha bakery di rumah. Setelah Siti pamit pulang, Miranti pun berbinar seraya membuka penutup kardus dan segera mencicipi kue bertekstur lembut itu bersama Surya.
"Enak, nih. Punya tetangga yang murah hati. Sering-sering aja begini."
"Ma, jangan sukanya jika di kasih saja. Mama juga harus bisa berbagi juga dengan lingkungan di sini."
"Papa kan tahu, kita ini lagi nggak punya apa-apa. Kalau yang kita punya di kasih ke orang. Kita mau makan apa!"
"Jangan nunggu kita punya apa-apa baru kita berbagi, Ma. Berbagai nggak harus dengan jumlah yang banyak, kok."
Miranti mengingat, tadi pagi dirinya membentak pengamen yang berkeliling dari rumah ke rumah. Ia yang belum terbiasa dengan lingkungan ini begitu terganggu dan tidak bisa mengontrol diri. Ia berfikir, enak saja duit tinggal minta, sedangkan fisik masih sehat. "Papa nyindir mama soal tadi pagi ya," sengit Miranti tidak terima.
Surya hanya menghela nafas beratnya. Merasa kewalahan dengan sikap Miranti yang selalu meledak-ledak.
Siangnya Surya yang duduk di teras melihat Sisil turun dari angkot. Anak keduanya itu pulang dengan wajah masam. Ia menghela nafas, karena dapat menyimpulkan bahwa Sisil masih belum begitu terbiasa menaikii angkutan umum.
"Sil, kenapa nggak pulang sama–"
"Dia ikut les," potong Sisil yang sudah bisa menebak arah pertanyaan Surya. Tanpa menunggu respon Surya, ia berlalu ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya.
"Anak itu," gumam Surya frustasi.
☘️
"Jadi papa kamu, masih belum tahu jika kamu bekerja, Na?" tanya Rossy. Ia telah membersihkan rak home care yang tidak jauh dari kasir.
"Iya, Mba Rossy. Kira-kira, ada info untuk lowongan pekerjaan nggak? Papa bingung mau kerja apa."
__ADS_1
"Papamu biasa bekerja di kantor. Coba melamar pekerjaan di perusahaan lain gitu," saran Rossy.
"Aku kasihan sebenarnya. Papaku masih masa pemulihan. Tapi, jika ada info boleh banget loh, Mba Rossy kasih info ke aku."
"Oke,"
Saat toko sedikit legang, Miana dan beberapa temannya selalu menyempatkan berbincang tentang apa saja, termasuk mengenai keluarga dan kegiatan lain, selain di toko. Hal itu sungguh menambah keakraban antar satu dengan yang lainnya.
Miana kembali menata beberapa produk kosmetik yang baru datang. Ia selalu mendapatkan bagian di kasir jika bekerja. Pembawaannya yang ramah tentu menjadi andalan teman-teman yang lain.
Jelang sore hari, toko sangat ramai. Pengunjung seakan memilih waktu ini untuk berbelanja, mengingat cuaca jika siang hari begitu terik.
Begitu juga dengan Arga. Beberapa kali ia juga berbelanja di sana, dan selalu memilih waktu sore atau malam hari. Tidak jarang, meski Arga lebih tenang saat berbelanja, masih aja Miana di buat kesal. Mengingat jika bertemu pasti ada saja keributan dengan Arga.
Seperti sore ini, Arga yang biasanya datang bersama Oma-nya, kali ini ia datang sendiri. Tidak banyak, hanya satu botol isotonik dan dua pack roti tawar.
"Tumben sendiri. Oma, Lo, nggak ikut?" tanya Miana. Ia telah selesai menscan dan memasukkan belanjaan Arga pada plastik. "Semuanya empat puluh satu ribu," lanjut Miana. Menyebutkan nominal jumlah belanjaan.
"Emang gue bodyguard Oma. Yang harus ngawal tiap hari." Arga memberikan selembar uang seratus ribu pada Miana.
"Ga, jadi orang lempeng amat, sih. Cepet tua, loh." Miana mencoba bercanda. Setelahnya, Miana menginput sejumlah pembayaran tanpa memperdulikan respon Arga yang kembali datar.
"Ini kembaliannya. Terimakasih–,"
"Kembaliannya buat Lo aja. Makasih, ya." Arga berbalik dan membuka pintu kaca untuk keluar dari toko.
Sekarang, begitu berharganya uang seribu rupiah bagi Miana. Dulu, ia bahkan bisa berbagi rutin setiap bulan di panti asuhan. Namun sekarang, keadaannya sudah berbeda dan kembali membuatnya sedih.
"Eh, mba aku dapat rejeki nih." Miana melambai pada Rossy yang melintas. Ia berfikir tidaklah adil jika ia menggunakan uang itu sendiri. Sedangkan teman yang lain juga sama susah dengannya.
"Rejeki apa?" tanya Rossy. Ia mendekati Miana yang berada di depan meja kasir.
"Tadi ada teman. Pas aku mau kasih kembalian eh dianya bilang buat aku aja," papar Miana.
"Cie-cie. Di kasih tips," goda Puji. Ia muncul tiba-tiba dari gudang, terlihat dengan membawa produk yang akan di display.
"Boleh nebak, dong. Pasti cowok yang kesini izinin ,Lo, beberapa hari yang lalu, 'kan," tebak Puji.
Miana terbelalak serta tidak bisa menyembunyikan senyumannya. "Apa, sih, Mbak Puji. Emangnya mbak puji tahu darimana?"
"Kamu lupa kalau di toko ini ada cctvnya," kata Puji sambil terkekeh.
"Oh, iya, ya. Eh, gimana kalau uang ini buat beli nasi bungkus aja, Mbak. Jadi semuanya kebagian." Miana mengingat ada empat orang yang satu shift dengannya. Kapan lagi ia dapat berbagi?Jika menunggu kapan ia ada uang lebih lagi, maka semua tidak ada yang tahu. Apalagi roda kehidupan memang terus berputar.
Memang benar ia tengah membutuhkan uang. Namun, mengingat teman yang lainnya, ia tidak akan seserakah itu untuk mengambilnya sendiri.
"Asyiiik. Makan gratis kita," ujar Rossy berbinar.
__ADS_1
☘️
Miana pulang ke rumah saat sudah memasuki waktu isya'. Terdengar suara adzan dari pengeras suara di masjid tidak jauh dari rumah. Ia dapat bernafas lega saat papa tidak ada di teras ataupun terlihat di ruang tamu karena pintu rumah yang terbuka.
Seperti biasanya, Miana mengendap ke pintu belakang setelah ia mengetik pesan pada Bi Num, agar membukakan pintu belakang. Dewi Fortuna masih bersamanya hingga saat ini. Sehingga papa tidak mengetahui jika ia pulang bekerja bukan mengikuti bimbel seperti kata Miranti. Entahlah, Miana hanya mengikuti apa yang di atur oleh mamanya.
Miana membersihkan tubuh lalu berganti pakaian. Ia tidak makan malam karena memang masih terasa kenyang karena tadi ia sudah makan bersama di toko. Lumayan menghemat nasi, agar bisa di goreng besok pagi. Begitu pikirnya.
Rumah tampak tenang dan sepi. Saat ia mencoba bertanya pada Bi Num, Surya dan Miranti tengah pergi sejak sore tadi. Bertemu teman lama katanya.
Sedangkan Sisil, sejak pulang sekolah. Ia pergi lagi di jemput dua orang teman cewek. Sudah dapat di pastikan, itu Hazel dan Thea.
Menjelang pukul sembilan malam, terdengar Sisil baru pulang. Tidak berselang lama Surya dan Miranti pun pulang.
Miana tidak bermaksud mencuri dengar pembicaraan kedua orangtuanya. Tapi terdengar dengan jelas, mama berkali-kali meyakinkan papa karena menerima tawaran kerja dari teman mama. Jika tidak mama akan kecewa terlebih jika papa terus-terusan menjadi pengangguran.
Sungguh hal itu membuat Miana semakin iba pada papa. Apalagi kesehatannya juga belum begitu pulih.
"Miana, pulang jam berapa tadi?" tanya papa di ambang pintu kamar Miana.
"Habis isya' tadi, Pa." Miana tersenyum, bahagia sekali rasanya papa begitu perhatian, karena memang sudah lama mereka tidak berkumpul. Mengingat pekerjaan papa yang dahulu selalu keluar kota. Dan dengan hal ini, setidaknya ada secuil perhatian yang tidak ia dapatkan saat masih di rumah lama.
Surya terdiam cukup lama, ia hanya memindai kamar Miana lalu membenahi kaca matanya.
"Pa,' ucap Miana tertahan. Ia beranjak mendekati papa yang masih berdiri di ambang pintu.
"Ada apa, Miana?"
"Mia dengar, Papa mulai besok akan kerja. Bagaimana kesehatan papa? Miana rasa papa belum cukup pulih."
"Papa sudah cukup sehat. Papa akan tertekan jika hanya berdiam di rumah. Kamu tidak usah khawatirkan papa."
"Miana harap, Papa selalu jaga kesehatan, ya."
Surya mengangguk dan mengelus kepala Miana sayang. "Papa harap, Miana belajar sungguh-sungguh, ya. Dan jangan kecewakan papa. Papa berharap banyak denganmu."
"Tentu, Pa."
☘️
Tidak terasa test tengah semester tinggal dua hari lagi. Setiap malam jika Miana belum begitu mengantuk, ia sempatkan untuk membantu Bi Num, mempersiapkan bahan sayuran untuk di jual besok. Ya, Bi Num memutuskan untuk berjualan sayur di depan rumah. Bi Num beralasan untuk membuat kesibukan katanya. Padahal Miana tahu, jika ini cara Bi Num untuk membantu keuangan keluarga.
Jangan tanyakan Miranti, ia tidaklah sudi membantu Bi Num. Apalagi papa juga sudah bekerja kembali di perusahaan teman mama. Setidaknya, walau hanya karyawan biasa, papa sudah bekerja. Sehingga mama tidaklah selalu berkata kasar dan itu sudah lebih dari cukup bagi Miana.
☘️☘️☘️
Kasih like sama komentarnya ya pren, kasih kritikan juga kalau perlu agar aku dapat mengkoreksi lagi. Khamsahamnida 🙏
__ADS_1