Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 89


__ADS_3

☘️


Derap Langkah kaki yang tergesa tengah memenuhi sepanjang koridor lantai tiga sebuah hotel. Tujuan utamanya adalah ruangan meeting room yang berada di lantai lima.


"Dua lantai lagi, Miana. Ayo," seru Bian memimpin jalan.


Bian beserta ketua divisi pemasaran beserta Miana sebagai ketua divisi keuangan tengah berpacu dengan waktu. Karena lift rusak dan sedikit perdebatan pada pihak hotel, Bian merusuh. Hingga mau tak mau, empat orang dari perwakilan dari AMD Corp itu harus berjalan kaki menuju lantai lima. Melalui tangga.


Beruntung, sesampainya mereka di ruang yang di sepakati, meeting belum di mulai.


"Kali ini, kita jangan sampai gagal. Bagaimanapun keuntungan yang di dapat. Akan mengembalikan kepercayaan papamu, Bian. Tolong jaga sikap." Miana berucap lirih mengingatkan.


"Ck, iya," jawab Bian malas.


Pembahasan segera di mulai. Perwakilan dari pihak vendor melakukan presentasi lebih dulu. Sedangkan Miana bersama tim telah menyimak. Sesekali ia menuliskan kisaran angka-angka yang menjadi penentu hasil meeting nanti.


"Untuk mengurangi retur dalam jumlah banyak. Kita bisa mengadakan kesepakatan. Misalkan, barang yang lambat di peredaran, akan di promosikan sebelum mendekati experied date dan kita sepakat memberi diskon agar menarik pembeli." Giliran Bian yang menunjukkan unjuk kerjanya kali ini, memberikan penawaran sekaligus sebagai pihak yang tak mau dirugikan atas peredaran satu atau beberapa produk yang ada di store.


"Menarik, saya setuju. Tentu kita jangan mengesampingkan jarak aman pada tanggal yang tertera dalam kemasan."


Kali ini Miana beralih pada leptop di depannya. Mukai mengutak-atik sesuatu di sana.


"Oke, berarti selanjutnya kita akan sampaikan pada tim marketing dan promotion, agar menguprade promo tiga hari kedepan."


"Tiga hari kedepan? Bukannya itu besok! Mana mungkin tim kita akan bergerak instan dalam lima belas jam kedepan!" Kepala Marketing atasan Bian memberi protes pada Bian yang mulai bergerak seenaknya. Ia takut meeting akan kacau. Hingga perkiraan paling parah yaitu tim yang ada di kantor tak bisa bergerak cepat. mengingat mereka tengah mengerjakan projek untuk bulan depan. Yaitu tiga hari lagi.


"Kalau itu jangan kawatir, Pak. Tim kita akan bekerja cepat agar sore nanti, brosur dan sarana promosi sudah tersebar ke seluruh store." Bian kembali berbicara dengan yakin, meskipun dalam hati sedikit ragu.


"Baik, saya sangat puas akan kesepakatan ini, Pak Bian. Semoga kerjasama kita akan selalu seperti ini."


Kesepakatan telah di dapat. Senyum mengembang pada masing-masing pihak. Meminimalisir kerugian dengan menggunakan trik marketing yang tepat haruslah di utamakan. Dalam hal strategi seperti ini. Memang Bian sudah terlihat sejak awal bergabung.


Miana sedikit tersenyum. Melihat cara kerja Bian. Upaya untuk memperoleh kepercayaan dari Pak Pram benar-benar ia lakukan.


Berkali-kali Bian mengecewakan sang Papa, kali ini ia dapat membuktikannnya. Bahkan idenya dapat mengurangi kerugian akibat produk yang tak laku di pasaran meskipun sedikit memaksa.


Dua tim sudah dalam perjalanan menuju kantor kembali. Mobil berisikan empat orang itu tengah sesekali membahas pertemuan tadi. Ada perdebatan sedikit dengan Ketua Marketing. Bahkan Bian mulai tersulut emosi mengingat ia harus lebih hormat karena posisinya memang di bawah orang yang ada di balik kemudi.


"Menurut saya, kita bisa melakukannya, Pak. Menyisipkan beberapa produk tambahan dalam beberapa jam. Saya rasa kita akan dapat mengejarnya."

__ADS_1


"Tapi, Bu Miana. Saya ragu dengan tim saya sendiri. Mereka sedang keteteran untuk promosi bukan depan.


"Saya percaya pada kemampuan Pak Bian dalam mendesain, Pak. Kita coba lihat beberapa jam kedepan."


Melihat Miana tersenyum, dari balik spion dalam, membuat Bian mengetikkan pesan pada Miana.


[Kayaknya, gue boleh GeEr, nih. Meeting kali ini sukses karena gue.]


Membaca pesan dari Bian membuat Miana memutar bola matanya.


[Jangan besar kepala. Habis ini kita ke pihak percetakan buat cetak sarana promosi dadakan yang Lo buat.]


[Kita berdua?]


[Nggak. Lo doang. Gue nyusul, setelah semua di pastikan selesai.]


[Desainnya?]


[Sejak Lo ngoceh sama supplier tadi, gue udah edit banyak. Tinggal Lo urus sama tim divisi, Lo. Sampai di kantor, gue kirim filenya.]


[Wow. Boleh nggak sih gue halalin sekarang!]


Jika seharusnya, Bian makan bersama para petinggi kantor, ia justru ikut bergabung bersama Miana di kantin. Jadilah gosip kedekatan mereka cepat menyebar.


☘️


Dengan cekatan Bian memimpin meeting singkat pada sebagian tim divisinya. Berbekal file dari Miana dan sedikit revisi. Ia sudah bersama tim menuju mitra percetakan.


Siangnya, barulah Miana datang sebagai perwakilan pihak divisi keuangan dan segera melakukan transaksi pembayaran. Tak lupa ia memeriksa dan memastikan tak ada kekeliruan lagi.


Pihak gudang segera mendistribusikan sarana promosi. Sebelum malam tiba. Dengan kecepatan email dan petunjuk pemasangan yang Bian kirimkan. Pihak promosi menekankan esok hari sudah siap terpasang. Akhirnya pihak store malam ini melakukan lembur agar besok saat tim promosi melakukan peninjauan sudah siap dan mereka tidak akan dalam masalah.


"Pulang bareng, yuk!"


"Makasih, Bi. Gue udah pesan ojol, kok. Lima menit lagi sampai."


"Kenapa sih, kamu nggak nurut sama papa. Gue ini udah belain tinggal di apartemen demi Lo bisa tinggal bareng Raya. Kurang gimana coba!"


Miana diam menunduk me milin ujung kemejanya. "Gue udah terima kebaikan keluarga Lo, Bi. Gue udah dapet kerjaan ini aja gue udah seneng banget. Gue nggak bisa terima lebih dari ini,Bi."

__ADS_1


Bian mengusap wajahnya. Ia rela turun dan memarkir asal mobilnya untuk menghampiri Miana yang duduk di post satpam. Tapi Miana selalu tegas jika dalam bersikap. Ia tak mudah di bujuk. Apalagi ia telah kehilangan sikap cerianya beberapa tahun terakhir ini, sejauh Bian mengamatinya.


Miana memang dekat dengan keluarga Bian, hal itu karena Bian membicarakan tentang kehidupan malang yang Miana alami. Di usir dari rumah dan tidak mendapat maaf dari mamanya. Bian geram apalagi Miana menjadi orang yang paling di salahkan atas kematian sang papa.


Pram dan Hana sendiri tengah tinggal di rumah yang tak jauh dari kampus Bian dulu. Sedangkan rumah besar yang ada di ibukota hanya di tinggali oleh Raya seorang. Bian sudah di hadiahi satu unit apartemen karena ia telah lulus dengan nilai baik. Hal yang sama sekali tak di bayangkan oleh sang papa.


Bian yang pintar dalam bernegosiasi, meminta sang papa untuk membuat Miana tinggal di rumah utama bersama Raya. Tapi hingga Bian hampir putus asa, Miana tak juga mau untuk tinggal disna. Hanya sesekali saja Miana menyanggupi. Itupun jika Raya sendiri yang menjemputnya ke rumah kost.


"Miana!"


Bian dan Miana sontak menoleh pada sumber suaranya. Ada Raya datang yang menyembulkan kepala di pintu mobil. "Bantuin nu-gas, dong! Keteter nih, aku. Pliss." Raya, adik perempuan Bian tengah mengatupkan kedua tangannya, memohon.


Dalam hati, Bian tersenyum. Miana tak akan bisa mengelak jika yang meminta adalah Raya. Ia juga akan menyempatkan pulang pada rumah yang beberapa bulan terakhir tak ia kunjungi.


Miana melirik Bian yang tengah menggulum senyum. Meskipun terlihat terpaksa, Miana akhirnya masuk dalam mobil Raya. Ia juga membatalkan order jasa ojek online dalam aplikasinya.


"Daaahh, Bapak Bian. Lain kali belajar yang bener buat bujuk cewek."


Bian terbelalak mendengar Raya mencelanya, tak terima ia menendang asal ke udara." Sial tuh bocah."


Sedangkan satpam yang tak sengaja memerhatikan ketiga orang penting di kantor itu hanya tersenyum.


"Kenapa? Ada yang aneh?"


"Ah, bukan hal aneh, Pak Bian. Justru saya sedang mengapresiasi usaha bapak ini."


Bian hanya melirik sinis dan masuk kembali ke dalam mobilnya. "Bisa bisanya gue kalah sama Raya," dengus Bian sambil menginjak pedal gas mobilnya.


Apa perbuatan gue ini salah? Gue hanya nggak mau Miana sedih dan kecewa. Tapi gue justru membuat dia bersedih.


Nggak. Gue udah bener. Jika gue nggak gerak cepat. Miana nggak dapetin beasiswa itu. Dan gue akan lebih nyesel lihat dia banting tulang buat kuliahnya.


☘️


...apa yang di sembunyikan Bian, ya??? 🤔🤔🤔...


...**maap baru bisa up, habis sakit dan nggak bisa konsen nulis. maaf ya buat teman-teman yang nungguin kisah Miana....


...ettdahh, aku kok pede banget, sii😅😅😅🤭🙏🙏🙏...

__ADS_1


...terimakasih yang masih mau ikutin Miana. Khamsahamnida** ...


__ADS_2