
☘️
"Apa jadwalku setelah ini, Bim?" tanya Bian sambil melirik asistennya.
"Asiiap. Menghadiri meeting dengan vendor di kafe Hamber, Pak. Setelah jam makan siang, kita kembali ke Corp untuk membereskan beberapa kontak yang mesti di pelajari lebih dulu."
Dengan terus mengimbangi langkah atasannya Bima membacakan sejumlah jadwal padat dalam ponsel pintarnya. Serangkaian agenda yang akan di lalui Bian terhitung sejak menyelesaikan meeting tahunan pagi ini.
Bian yang dulu telah berubah. Bian yang pemalas dan bekerja setengah-setengah, kini tak ada lagi. Ia sengaja menyibukkan diri agar tak melulu bersedih melepas Miana yang lebih memilih Arga. Bukan sengaja untuk melupa, tak sepenuhnya mengabaikan juga. Biar bagaimanapun, Miana sudah ia dapatkan sebagai saudara angkatnya.
Terlebih, ini baru empat puluh hari Miana kembali berduka. Gadis itu kini kehilangan ibu tirinya. Gadis yang banyak mengajarkan pelajaran hidup itu kini resmi sebatang kara. Sebenarnya ia masih mempunyai satu saudara, yakni Sisil, sang adik perempuan satu-satunya. Namun, dari Miana, Bian tahu komunikasi yang terjalin oleh dua bersaudara itu cukup bermasalah.
Di saat sedang terburu-buru. Bian menerima telepon dari rekan bisnisnya. Dengan sedikit bernegosiasi dengan Bima yang saat ini sudah berada di balik kemudi, ia berdecak karena tak mendapatkan solusinya. Jadwal yang sama pentingnya kini telah di hadapinya.
"Maunya apa, sih! Main janji temu dadakan begini!" Bian meluapkan kekesalannya dengan melempar ponselnya di dasboard hingga menimbulkan bunyi nyaring.
Sedangkan, Bima hanya dapat menghela nafasnya. Namun siapa sangka, lelaki yang satu tahun lebih muda dari Bian itu saat ini sedang memutar otaknya agar dapat menemukan solusinya.
"Maaf, Pak. Sekedar saran. Kenapa tak coba hubungi Mbak Miana saja. Siapa tahu dia dapat menggantikan meeting dadakan ini. Atau, bisa jadi, Mbak Miana yang berangkat mewakili agenda kita seharusnya."
Bian menoleh cepat dan memegang lengan Bima. "Kenapa nggak dari tadi kamu ngomong ini, sih!" Bian sedikit memekik karena baru kepikiran juga untuk memanggil Miana. Membereskan kekacauan, seperti biasanya. Sedangkan Bima yang tengah menyetir dapat menghela nafas.
Lagi-lagi, si bos nggak bisa tenang. Sampai kendala seperti ini saja sudah membuat stress.
"Sial. Ponsel ku dimana?"
Apalagi ini? Begitulah yang ada pada pikiran Bima.
Bian memeriksa saku jasnya. Lalu berganti memeriksa saku celananya. Begitu hingga beberapa kali secara random. Bima pun hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Nih, siapa yang melempar asal sampai di sini. Untung nggak pecah, Pak." Bima memberikan ponsel Bian yang sebelumnya ia lemparkan pada dashboard, setelah kemudinya berhenti karena lampu merah.
"Dehh. Kenapa nggak ngomong aja sih!" Tanpa rasa bersalah Bian cepat merebut ponselnya dan menggulir layar untuk melakukan panggilan.
"Salah, lagi," gumam Bima menurunkan bahu. Sedangkan Bian hanya melirik saja dengan mata memicing.
Selama enam bulan bekerja dengan Bian. Bima sudah hafal perangai atasannya. Ia sudah lebih dulu di privat oleh Miana dan Pram sebagai orang terdekat Bian.
"Hai, Miana. Pastikan saat ini kau tak ada agenda berarti!"
"Eiiiittt, sssst ssst! Aku kirim lokasi meeting yang akan di datangi OT Group."
"Udah. Nggak usah protes. Kali ini aku jamin bukan kesalahan aku. Ini murni karena pihak rekanan. Neting mlulu!"
"Heh. Denger ya! Mau, cuti nikah kamu nggak aku ACC!" Bian terkekeh penuh kemenangan.
"Ya, makanya. Nuurut, urusan beres."
"Udah. Ya. Terimakasih banyak. Gue kirim bonus habis ini."
__ADS_1
Telepon di matikan seiring senyum berkembang di bibir Bian lalu menoleh pada asistennya. "Thanks, Bim. Lo juga dapat bonus nanti." Bian menepuk lengan Bima yang masih fokus mengemudi.
"Asiiiap," Nahh, gini kan enak. Habis di salah-salahin trus di kasih bonus, kan , jadi adem lagi. Tentu saja kalimat panjang itu hanya ia simpan dalam hati. Kecuali kata siap yang sudah menjadi ciri khasnya.
Sementara di bagian ruang diretur Universal, Arga tengah berbincang serius pada Dharma dan Sarah.
Raut wajah Dharma tampak tenang seperti biasanya sedangkan Sarah berlaku sebaliknya. Ia tengah mengatur emosinya dengan dada naik turun. Sedangkan Arga masih terduduk lemas dengan tangan memegang pangkal hidungnya.
"Dengar, ya, Mas! Aku bisa terima siapapun gadis itu. Asalkan dia bukan anak Sekar." Sarah berdiri dari duduknya memandang sinis pada Dharma.
"Sarah, berhentilah bersikap egois! Berkali-kali saya harus katakan, semua sudah berlalu. Kenapa kamu masih juga tidak bisa berdamai." Dharma masih terus membujuk Sarah.
"Aku menanggung sakit selama belasan tahun, Mas. Karenanya aku juga berpisah sama anakku. Kamu minta aku buat berdamai! Omong kosong!"
"Ma, tolong! Miana tidak salah dalam hal ini. Kenapa sih, Ma!' Arga tak kalah sendu menghadapi kemarahan Sarah.
"Kamu berani menentang mama, Arga! Setelah kamu tetap membantu perusahaan papa dan mengabaikan perusahaan Mama. Kamu masih juga mau menyakiti, Mama!" Sarah kembali meledak-ledak.
Arga memejamkan matanya. Di saat pernikahan sudah di depan mata, kini fakta baru muncul seolah siap menghempas impian yang sudah sejak enam bulan yang lalu ia rencanakan. Yaitu menikah dengan Miana.
Sarah mengetahui Miana merupakan anak dari Sekar, wanita yang dulu di cinta Dharma. Bahkan setelah menikah dengannya, Dharma masih mencintainya meski ia sudah mengandung buah cintanya dengan Dharma.
Hal itu di ketahui Sarah saat melayat almarhumah Miranti. Orang-orang yang menyayangkan sikap Miranti tak juga baik bahkan saat-saat terakhirnya. Melalui cerita sesama pelayat, Sarah mengetahui bahwa Miranti adalah ibu tiri Miana sedangkan sang ibu kandung sudah lama tiada. Sarah semakin yakin saat ia menyadari betapa kemiripan Miana dengan mendiang Sekar.
Hingga hari ini adalah puncaknya, Sarah yang tengah membujuk Arga agar mau meneruskan perusahaannya kembali menolaknya.
Akhirnya apa yang sudah ia tahan sejah beberapa minggu yang lalu nyatanya meledak juga di hari ini. Di saat persiapan pernikahan Arga hampir lima puluh persen.
"Cukup, Sarah! Jangan menekan Arga karena keegoisanmu. Sejak dulu kamu tidak pernah berubah!" Dharma sampai berdiri dari tempat duduknya karena sudah tidak tahan.
"Dan ingat hal ini, Sarah! Aku adalah orang pertama yang akan menghentikan siapa saja yang menghalangi kebahagiaan Arga. Kau tahu kan, Miana adalah kebahagiaan Arga. Maka jangan lagi kamu merampasnya,Sarah."
Sarah sangat menyadari hal itu. Bahkan ia sendiri juga yang dulu sangat mendukung hubungan keduanya. Sayangnya luapan benci yang ia simpan pada Sekar telah menutup kebaikan Miana. Bahwa karena Miana ia dapat menggenggam maaf dari Arga.
Sarah yang masih di selimuti emosi meninggalkan kantor Dharma. Sedangkan Arga dan Dharma hanya bisa memandang lemah tanpa berniat untuk mengejar.
Jika di ruang direktur milik Dharma telah dalam keadaan genting. Lain halnya dengan kesuksesan meeting yang Miana sampaikan. Setelah dirinya meninggalkan pekerjaannya demi menggantikan pekerjaan Bian, kini Miana dapat bernafas lega.
"Mbak Miana, saya pamit duluan." Pihak vendor berserta timnya pamit undur diri pada Miana.
Tiga orang karyawan yang menemani Miana kini sedang mengemas beberapa berkas dan memasukkannya ke dalam tas. Miana sendiri sedang mengirim pesan pada Arga tentang rencananya untuk bertemu dengan pihak WO.
"Mbak Miana masih mau di sini?" tanya staf berjilbab biru muda.
Beralih dari ponselnya, Miana mendongak. "Kalian duluan, saja ya. Saya akan kembali ke kantor setelah makan siang."
"Tapi, Mbak Mia pulangnya bagaimana? Sedangkan mobil kami bawa," imbuh yang lainnya.
"Nggak apa. Nanti saya bisa naik ojek." Miana tersenyum menandakan ia akan baik-baik saja jika kembali ke kantor dengan ojek. Sudah biasa.
__ADS_1
Tiga staf serempak mengangguk meskipun merasa tidak enak karena atasan mereka mengalah. Bukan apa-apa, hal yang sangat langka jika atasan akan mengalah pada bawahan dengan dalih merek lebih membutuhkan. Hal seperti ini sudah berulang kali terjadi, sehingga mereka sangat menghormati Miana dan segan dengan kebaikannya.
"iya, Arga," sambut Miana ketika ia mengangkat telepon.
"Aku masih di sini. Kamu beneran mau nyusul ke sini, kan!"
"Hmm. See you. Hati-hati," ucapnya lalu menutup panggilan.
Senyum terukir saat memeriksa kembali ponselnya. Wallpaper pada benda pipih itu terpasang wajah kekasih hati yang tengah tersenyum dengan begitu manisnya. Suara berat beberapa menit yang lalu ia dengar sebentar lagi akan datang menemuinya.
Tiga hari ia tak bertemu tatap dengan Arga. Hanya sebatas bertukar pesan dan Vidio call karena kesibukan masing-masing.
Tak lama Arga datang dan selalu membuat Miana berdebar saat dia menyambutnya dengan senyuman.
"Maaf, ya, lama. Macet, soalnya," ucapnya saat meraih tangan Miana dan sedikit meremasnya.
"Sakit, ih," ujar Miana saat tangannya di genggam begitu eratnya.
"Habis, kangen dan bikin gemes," sahut Arga tanpa rasa bersalah lalu seketika ia berubah muram saat teringat kemarahan Sarah saat di kantor tadi.
Arga mengajak Miana untuk duduk dan memesan menu makan siang. Ia masih harus bersikap baik-baik saja hingga selesai makan kali ini. Menyembunyikan segala gundah dalam hati, dengan terus menggenggam tangan Miana. Segekali ia membawa telapak tangan Miana pada pipinya.
"Kenapa, sih? Kamu banyak pikiran?" tanya Miana yang melihat segurat mendung di mata Arga.
."Biarkan seperti ini, dulu." Arga memejamkan mata merasakan lembutnya tangan Miana di pipinya. Padahal Miana sendiri sejujurnya tengah malu saat beberapa pasang mata melihat ke arahnya.
"Ga, banya orang ini," bisik Miana membuat Arga tersenyum.
"Biarkan saja,. mereka hanya sedang iri," lirihnya seraya membuka matanya dan semakin tersenyum lebar.
"Arga, ih," decak Miana seraya menarik tangannya saat di rasa cekalan Arga merenggang.
Saat akan kembali protes, pesanan mereka datang. Jadilah keduanya memutuskan untuk makan meski di selingi pembicaraan ringan. Tak lupa sedikit gombalan receh yang Arga lemparkan dan membuat Miana semakin tersipu.
Bagaimana jika mama benar-benar mengacaukan pernikahan kita Miana. Aku takut kamu tak bisa bertahan
Sejenak, Arga dapat terhibur. Melupakan berbagai hal yang akan terjadi setelah ini.
Setelah selesai, keduanya lekas berlalu dan Arga akan mengantarkan Miana kembali ke kantornya. Cukup lancar perjalanan mereka hingga berhenti di depan kantor AMD Corp.
Arga melirik arloji dalam pergelangan tangan. Masih ada cukup waktu untuk berbicara hal penting yang sejak tadi ia tahan.
"Miana, apapun yang terjadi aku mohon tetaplah berada di sisiku. Ingat selalu tujuan kita, impian kita."
Miana mengernyit merasa aneh dengan ucapan Arga. "Arga, apa ada masalah?"
Seolah merasa ada hal lain yang menganggu saat berkali kali Arga memerhatikannya sejak makan siangnya tadi.
"Aku yakin semua akan baik-baik saja, asalkan kau tetap bersamaku,"
__ADS_1
☘️
awalnya mau aku up, sebelum 00.00 eh, nyatanya harus molorr, 🙏🙏