Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 65


__ADS_3

Sesuai kata Arga tadi. Lima menit kemudian, mereka sampai di tempat tujuan. Kota tua.


Kota Tua ternyata juga menyimpan keindahannya saat malam hari. Miana baru mengetahuinya dari situs. Dan baru kali ini dia menyaksikannya sendiri.



Kagum. Adalah kesan pertama saat ia menginjakkan kaki di sini. Pemandangan malam hari dengan menikmati kentalnya aristektur Belanda di sini, begitu apik seperti saat pagi, siang, dan sore hari saja. Ketika malam, tempat yang dikenal sebagai Old Batavia ini juga membuka sejumlah museum seperti Museum Fatahillah, Museum Wayang, dan Museum Keramik.


"Arga... ini keren bangeeet. Baru sekali ini, gue kesini." Itulah ungkapan Miana dengan mata berbinar.


"Serius? Lo, udik, banget, sih. Kemana aja Lo selama ini," cibir Arga. Dalam hati ia justru senang, karena ia adalah orang pertama yang mengajak Miana ke tempat ini.


"Gue mana ada waktu buat senang-senang, Ga." Ucapan Miana terdengar datar. Namun, begitu menggelitik Arga. Seperti apa kehidupan Miana selama ini. Jika tempat terkenal seperti ini tak pernah ia ja mah. Kasihan sekali. Begitulah yang ada di pikiran Arga.


"Lo bisa lanjutkan perjalanan dengan bersepeda keliling Kota Tua, mencicipi kuliner, dan mengunjungi Taman Fatahillah." Ungkapan Arga selanjutnya membuat Miana kembali berbinar.


Arga melihat Miana bergerak merasai embusan angin malam hari. Berjalan dengan langkah pelan. Arga pun hanya bisa mengikutinya sambil menggulum senyum.


Keduanya mendekat pada Jembatan Kota Intan yang dihiasi lampu-lampu menawan dan biasanya menjadi spot foto wisatawan.


"Ga, fotoin!" Miana memberikan ponselnya pada Arga dan bersiap bergaya di pagar. Di belakangnya terdapat danau buatan. Sedangkan di ujung sana terdapat bangunan dengan banyak lampu yang di bentuk sedemikian rupa hingga menyuguhkan pemandangan malam yang indah.



Meskipun berdecak. Arga menerima benda pipih itu juga. "Ini sandinya apa?" tanya Arga mendapati ponsel Miana terkunci.


"Sama seperti tanggal lahir, Lo." Miana sedikit berteriak karena jarak mereka cukup jauh. "Kasih, aba-aba, ya, Ga," imbuh Miana.


Arga mengernyit sejenak. Jari tangannya, bergerak mengetikkan angka sesuai tanggal lahirnya. Benar. Arga diam berfikir, apakah sedalam itu Miana menyukainya. Sampai sandi ponselnya bertuliskan tanggal lahirnya?


"Ayok. Buruan, Ga. Udah pegel, nih." Miana sudah bersiap dengan gayanya. Ia mengenakan topi dan menampilkan senyumnya.


"Satu.. dua...," ucap Arga. Sedangkan Miana kembali berganti dengan gaya yang lain.


Arga juga tak ingin melewatkan berbagai pose yang sudah Miana persiapkan. "Cantik," gumam Arga saat mengamati hasilnya.

__ADS_1


Diam-diam, Arga juga menyimpan foto Miana di dalam ponsel sendiri. Meskipun hatinya masih terus bertanya-tanya. Ia kan menanyakannya nanti jika mereka sudah menemukan bangku untuk duduk.


"Gimana, bagus, nggak?" tanya Miana. Ia raih ponselnya dan mengamati hasilnya. "Ini pake efek apa? Kok keren, sih."


"Efeknya, yang bagus. Bukan orangnya."


Bohong. Arga sungguh pintar menyembunyikannya rasa kagumnya.


"Lo nggak mau foto juga?" tawar Miana. "Siniin HP, Lo!" Miana menengadahkan tangannya pada Arga.


Arga lekas menyembunyikan ponsel di balik punggungnya. "Ng... nggak usah. Gue udah biasa ke sini, buat foto-foto, kok." Arga menolak dengan raut kawatir. Sesuatu telah ia rahasiakan. Dan tak ingin siapapun mengetahui apa yang ada dalam ponselnya.


"Ih, nggak bisa, ya sombongnya di kecilin dikit." Miana menggerutu. Bibirnya mengerucut. Detik berikutnya wajah itu berubah berseri kembali saat menangkap potret dirinya.


Keduanya terus berjalan. Dan menikmati pemandangan. Tidak banyak pengunjung di sana. Mungkin karena sudah malam pula. Waktu hampir menunjukkan pukul 22.00.


"Duduk sini." Arga mengajak Miana untuk duduk.


Keduanya duduk bersisihan pada bangku yang tersedia. Mengahadap ke danau buatan Lama terdiam dengan ponsel masing-masing. Arga hanya mencuri pandang pada Miana. Tanpa orang tahu. Dalam pikirannya tengah bimbang. Sedangkan Miana asyik berselfi.


Arga diam, matanya menatap lurus ke depan, dengan kesepuluh jari tertaut. Sesekali mere masnya, untuk menghilangkan rasa gugupnya. "Gu…gue,, lagi suntuk aja. Dan kebetulan, Lo kerja di dekat kantor papa. Jadi, ya... gue coba ajak, Lo."


"Lo beneran, kerja?"


"Menurut, Lo?" balas Arga sinis. Kali ini ia berani menatap Miana.


"Ya... gue dulu nggak serius ngeledek, Lo, Ga. Bagi gue, kehidupan ini keras. Selagi kita masih punya kemampuan, kenapa enggak. Lo mau kerja atau enggak, Lo masih baik-baik aja. Keluarga Lo, keluarga sempurna. Sedangkan keluarga gue–" Miana sengaja menjeda perkataannya. Berusaha memasok udara agar tak terbawa perasaan.


"Itulah mengapa, papa gue nggak mau menikah lagi. Dia takut kalau gue nggak nyaman sama mama baru gue." Arga tahu cerita Miana yang memiliki mama tiri. Lalu perlakuan sodara tiri juga mamanya yang seenaknya memperlakukan Miana.


Waktu itu, pemberitahuan di grup kelas mengharuskan untuk mengisi link yang sifatnya urgent. Arga kesal karena di antara teman sekelasnya, hanya Miana yang belum mengisi. Teringat pentingnya tugas itu. Arga resah sekaligus kawatir jika Miana sampai terlambat mengirimkan tugasnya. Ia terus menghubungi Miana tapi tidak mendapatkan sahutan. Beberapa menit kemudian, barulah Miana merespon dengan polosnya. Jika ia sedang mengerjakan pekerjaan rumah. Bukan main terkejutnya Arga, mendengar Miana menjadi pembantu di rumahnya sendiri. Hingga akhirnya, Miana menceritakan semuanya pada Arga.


"Papa menikah dengan Mama saat gue masih sangat kecil, Ga. Dan yang gue tahu, ya mama Miranti-lah mama gue. Gue nggak pernah curiga sedikitpun dengan sikap pilih kasih, mama. Yang gue tahu, mama lebih sayang Sisil karena Sisil itu punya masalah kesehatan."


"Lo kenapa, polos banget jadi orang!" Arga berdecak terlihat tidak suka dengan sifat Miana kali ini.

__ADS_1


"Nggak, tahu." Miana tersenyum. "Lo sendiri, gimana rasanya ketemu mama lagi. Seneng, dong!"


Arga menguaap wajahnya sebentar. Lalu kembali menoleh pada Miana. "Ternyata, nggak enak juga berbagi kasih. Itulah mengapa sekarang gue ngerti, luka mama yang di akibatkan oleh papa. Sayangnya gue nggak bisa bela salah satunya. Keduanya berharga buat gue. Ada kalanya gue iri pada sodara tiri gue yang beruntung dapat kasih sayang mama. Tapi, sejauh ini gue masih belajar bersyukur. Karena gue lebih beruntung daripada Lo."


'Sama kaya' Lo ngebagi waktu Lo buat mantan Lo. Gue kesepian. Gue nggak rela Lo sibuk sama dia.' batin Arga.


"Ya, Lo bener." Miana berdiri dan menopang lengan pada pagar. Menatap jauh menengadah pada langit gelap. Hanya ada beberapa Kerlip bintang di sana. Namun, tak mengurangi keindahannya.


Pun dengan Arga. Ia ikut melakukan hal yang sama seperti yang Miana lakukan. Berkali-kali ia menelan salivanya. Sekedar untuk membasahi kerongkongannya.


Miana melihat jarum waktu pada arlojinya. "Udah malam, Ga. Balik, yuk! Takut di marahin mama, gue." Mianan mengeratkan jaketnya. Karena hawa dingin semakin menjalar ke seluruh tubuh.


Arga hanya bergeming berselimut gugup. Mengingat tujuannya ke tempat ini masih belum tersampaikan. Ia terpaksa bangun dari kenyataan saat Miana menarik lengannya.


"Miana." Kata Arga setelah beberapa langkah.


...Hal itu membuat Miana berhenti lalu berbalik menghadap Arga. Ia melepaskan tangannya, takut Arga merasa terganggu. Mengingat Arga tidak menyukai cewek agresif seperti cerita Angel dulu. "Apa, Ga. Udah nggak usah tawarin makan atau minum. Gue masih kenyang. Lo ajak gue ke sini, tuh. Gue, udah makasih banget pokoknya."...


Arga melihat lengannya yang terlepas. Tak perduli lagi dengan ucapan percaya diri yang Miana katakan. Pandangan matanya naik pada manik mata Miana.


Miana mengeratkan tangan pada tali selempangnya. Ditatap Arga sedalam itu, membuat Miana gugup. Hingga ia melampiaskan perasaannya pada apa saja di sekitarnya.


"Kenapa tangan gue, Lo lepas?" tanya Arga pada akhirnya.


"E–emang, harusnya gimana? Ya.. gue lepas, lah. Takut Lo nggak nyaman dan ngejauhin gue." Ungkap Miana jujur.


."Tapi, gue suka tangan Lo ada di sini." Arga meraih tangan Miana dan meletakkannya pada lengannya. Ia lupakan sejenak debaran jantungnya yang tak karuan. Ia menekankan tangan Miana agar lebih erat melingkari lengannya. "Gue mau tangan ini terus ada di sini. Jangan sampai terlepas. Karena gue suka itu."


Waktu seakan berhenti sejenak. Lalu Lalang orang di sekitar mendadak lenyap. Sepi sunyi lalu detik berikutnya ribuan kembang api menghiasi langit malam. Menyajikan indahnya pemandangan malam.


"Arga," lirih Miana pada akhirnya.


"Gue suka sama, Lo."


☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


kan kannn yang di tunggu, keluar juga🤭


__ADS_2