Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 67


__ADS_3

☘️


Miana termenung sambil menyirami taman kecil buatannya. Sehabis sarapan pagi, ia menyempatkan membeli beberapa pot tanaman. Ia ubah lahan kecil gersang yang tersisa di samping rumah hingga jadilah taman kecil di sana. Tidak begitu luas, hanya selebar satu meter dan panjang dua meter.


Ada kaktus berukuran sedang di antara Aglonema, Bougenville, Mawar putih dan Pucuk merah berukuran sedang. Miana juga menanam pucuk merah di bagian pagar. Hanya empat batang. Tujuannya tentu untuk mengurangi hawa panas. Entah mengapa ia gemas melihat kaktus lucu. Bentuknya tidak lebih dari telapak tangan orang dewasa.


"Lagi sibuk, nggak, Kak?" tanya Sisil mendekati Miana.


Melihat Sisil tengah muram , Miana meletakkan selang dan mematikan kran air. "Nggak, Sil. Kenapa emang?"


"Mobil di bawa papa sama Mama ke resepsi teman kantor papa. Bisa anterin aku ke tempat Thea nggak! Urgent banget soalnya."


Miana melihat penampilannya. Masih bau matahari dan keringat belum kering karena sehabis berkutat dengan tanaman. "Masi keburu nggak, kalau aku mandi dulu."


"Yyahh. Gimana sih! Aku bilang kan, urgent. Lagian nggak sampai lima belas menit, kok. Ayok!"


Sisil tetaplah Sisil. Si manja dan pemaksa.


"Tapi jangan protes ya kalau badan aku bau." Tak tega melihat wajah sang adik, Miana menyanggupi permintaannya.


"Dih, emang kapan kamu wangi, gitu," cibir Sisil masih menggerutu. Sisil menarik tangan Miana menuju carport.


"Udah nggak usah dandan. Kegenitan banget, sih." Sisil berkomentar saat Miana sedikit merapikan rambutnya. Apapun yang keluar dari mulut sang adik, sudah Miana anggap angin lalu. Miana menganggap itu hanya candaan. Meskipun terkadang juga membuat hati terasa di re mas.


Miana melajukan motornya hingga di depan gerbang. Saat berhenti, Sisil kembali protes. Namun, Miana tak menghiraukannya. Miana lekas mengunci pintu pagar. Sedangkan si ratu komentar masih nangkring di atas motor. Ia tidak berani menyuruh Sisil untuk menutup pagar. Bisa panjang urusannya.


Sungguh, rasa peka yang dimiliki Sisil entah berada dimana. Harusnya, Sisil yang menutup gerbang. Karena ia di posisi yang lebih mudah dan dapat lebih efisien waktu. Jika seperti ini, justru Miana yang kerepotan dan waktu menjadi sedikit lebih lama.


"Cepet, dikit, dong!" Sisil kembali protes saat sudah berada di jalan raya.


Siang hari lalu lintas cukup padat. Meski sedang di waktu akhir pekan. Hanya lima belas menit, dan keduanya telah sampai di rumah Thea.


"Nanti, kalau Thea nggak bisa anter. Kakak harus jemput aku, ya. Jangan lupa pakai masker."

__ADS_1


"Iya, tapi jika aku nggak keluar ya."


"Emang mau kemana? Katanya libur kerja!"


"Lihat, nanti, ya."


"Sok sokan, sibuk. Punya temen atau pacar juga enggak." Sisil menelan bel pagar rumah Sisil. "Dah, pergi, sana! Ngapain sih, masih diem di situ! Ngarep banget, yah, gabung sama aku."


Miana tak begitu menanggapi dirinya tengah di usir oleh adik sendiri. Ia justru sedang menyadari sesuatu. Ia melupakan ponselnya sejak pagi tadi.


"Auuuh, kenapa bisa lupa, sih. Semalam kan Arga ajak gue ketemuan hari ini." Miana merutuki kelalaiannya. Ia memutar arah dan bersiap kembali ke rumah.


lima menit lebih cepat, Miana sampai di area kompleks.


"Sepertinya ada tamu, di rumah Pak Surya, Mbak." Satu ucapan dari satpam depan kompleks memberi tahu Miana.


Miana melajukan motornya kembali. Ia menggigit bibir bawahnya, kala mengenali sebuah motor sport terparkir di depan rumahnya. Satu sosok tinggi bercelana jeans berwarna navy dan kaos oblong putih dan jaket jelas sobek-sobek sedang menempelkan ponsel di sisi telinga.


"Maaf, Ga. Dari pagi gue nggak pegang HP. Ini habis nganterin Sisil." Miana meletakan helm pada spion motor dan turun mendekati Arga.


"Jangan bilang Lo lupa sama janji kita!"


Sayangnya, Miana memang lupa akan janjinya. Ia mengatup kedua tangan, seolah memohon ampunan. "Mianhae(maaf)," pinta Miana.


Arga berdecak, tidak benar-benar marah. Hanya memasang wajah datar. Padahal ia begitu terkesima melihat wajah alami Miana. Ada beberapa anak rambut yang tidak terikat sempurna.


"Lo,motoran, siang-siang. Nggak pakai jaket pula. Nggak sayang badan? Banyak polusi, Na!"


Miana terdiam sejenak. Bukannya ia takut tapi justru ia tengah berbunga-bunga. Perhatian cara Arga memang berbeda. Jika cowok bucin lainnya akan berbicara sehalus mungkin. Tapi tidak dengan Arga. Ia akan seperti apa adanya. Tetap ketus namun menyimpan perhatian.


"Makasih, Arga. Udah perhatian sama Miana."


Malu-malu, Miana mengucap hal itu. Senyumnya meruntuhkan sikap datar Arga, hingga akhirnya keduanya saling melempar senyum.

__ADS_1


Miana lekas tersadar dimana tempatnya. Ia lekas mengajak Arga masuk ke rumah. Dan menyuruh Arga menunggu di ruang tamu.


Canggung. Ini pertama kalinya Arga datang ke rumah seorang wanita. Entah keberanian dari mana, kali ini ia berani mendatangi Miana. Rumah baru itu terlihat nyaman, meskipun sangat jauh berbeda dengan rumahnya yang luas. Ia memindai ruangan tempatnya duduk. Bersih, tentu Arga dapat menyimpulkan Miana yang membersihkan seluruh rumah ini. Mengingat di rumah ini tidak ada asisten rumah tangga.


Air putih dengan keripik talas terhidang di meja. Arga meminum habis air dalam gelas itu. Tanpa menyentuh makanan aneh yang baru ia lihat.


Sepuluh menit Arga menunggu Miana. Sosok yang ditunggu akhirnya keluar dengan rambut yang masih basah. Sweater thurtelneck berwarna mocca dan rok jeans di atas lutut sudah membalut tubuhnya. Arga terpana sejenak, lalu menunduk. " Yakin, mau keluar dengan pakaian seperti itu. Gue bawa motor, loh."


Miana melihat penampilannya. Ia meringis saat ia melihat roknya. "Gue ganti sebentar, ya."


Tanpa menunggu jawaban Arga Miana melesat kembali ke kamarnya. Ia memilih celana jeans dan berganti dengan cepat. Tak butuh berlama-lama. Ia segera kembali menemui Arga.


Sampai di sana ia terkejut saat Thea, Hazel dan Sisil sudah ada di sana. Semua mata kini melihatnya dengan terbelalak. Miana tidak tahu, mengapa Sisil pulang lebih cepat.


"Jadi, dia yang Lo maksud sodara, Lo, Sil?" tanya Hazel.


Sisil terlihat resah melihat reaksi kedua temannya. Tak kalah terkejutnya, dengan Arga. Ia juga sudah berdiri dengan banyak tanya memenuhi isi kepalanya.


"Gue harap, kalian semua tidak menyebarkan ini pada siapapun." Pada akhirnya, itulah yang keluar dari mulut Sisil. Raut kawatir tidak luntur dari wajah mulusnya. Ia takut rahasia yang ia simpan rapat akan terbongkar. Perihal statusnya, kejanggalan antara ia dan sang kakak, semua itu semakin membuatnya di hantui rasa takut. Ia tidak bodoh, mengingat saat Bi Num mengakui Miana sebagai anak. Sementara sang mama yang datang sebagai orang tuanya saja, bukan keduanya. Sisil takut akan ketidakadilan yang Miranti lakukan akan terkuak dan menjatuhkan pamornya juga sang mama. Sekarang, Bi Num sudah tidak ada tidak ada di sana. Ia tidak bisa lagi berkelit.


Kedatangannya berawal saat Thea melihat dari balkon kamarnya. Sisil di antar oleh orang yang tidak asing olehnya. Thea menyadari itu adalah Miana. Semakin tercengang saat Sisil terlihat keceplosan telah mengaku diantar kakaknya. Dan di sinilah mereka semua. Memaksa Sisil untuk mengakui semua yang ia sembunyikan.


Thea dan Hazel hanya bergidik. Mengingat Sisil-lah otak kejahilan yang sering mereka rencanakan. Dari tugas yang di bakar, terlambatnya Miana datang di ajang OSN, file di rusak dan terakhir menyebarkan foto Miana.


"Ternyata, di kelas kita, ada dua penipu, Zel. Dan bodohnya kita, dapat di tipu oleh teman kita sendiri." Thea menarik tangan Hazel dan beranjak dengan kecewa .


"Tunggu, Zel, Thea! Gue bisa jelasin!" Sisil berlari mengejar dua sahabatnya.


Sementara Arga masih terdiam bergeming di tempatnya. "Ada yang mau Lo jelasin ke gue?"


☘️


Sudah, Senin lagi. boleh minta vote nya. cuma tinggal tekan vote aja. dan itu sudah mendukung aku banget. mksee yang mau mampir dan mau stay di sini.😍

__ADS_1


__ADS_2