Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 53


__ADS_3

Panggilan pada Bi Num berkali-kali Miana teriakkan. Namun, tidak juga mendapat sahutan oleh pemilik nama. Miana pikir, Bi Num sedang ke pasar seperti biasanya. Tapi rumah begitu sepi sunyi hanya detak jarum jam yang mengisi suara.


Sisil belum pulang. Sedangkan Miranti mulai terdengar ada di kamar sedang menerima telepon. Terdengar dari balik pintu kamar, meski tidak begitu terdengar jelas. Karena Miana memang tak berniat menguping pembicaraan.


Ia lekas mengganti seragam sekolah dengan dress santai. Ia merebahkan diri di kasur dan bermain ponsel sebentar. Ia bertukar chat dengan Riska dan terlibat obrolan absurd bin nyleneh dengan sahabatnya itu.


Riska: Seriusan Lo nggak tertarik dengan yang beginian?


Riska mengirimkan puluhan foto beserta Vidio pada Miana. "Buseet, ini mungut dari mana, sih. Mana bening semua," ucap Miana sambil terkekeh. Ia di suguhkan dengan berbagai macam foto dengan wajah yang hampir mirip. Grup vokal berjumlah 21 member ,mulai menjadi topik pembicaraan Riska dan Miana sore ini.


^^^Miana: Gila, Lo. Koleksi beginian.^^^


Riska : Halu mah bebas. AQ cinta mati sama Lee Taeyong, tau nggak.


Riska beralih mode panggilan dan antusias membahas sosok idolnya. Sampai satu jam baru panggilan terputus karena Riska sedang habis batre.


Tidak lama Riska kembali chat dengan topik yang sama.


^^^Miana: Ya... yaa. Serah deh. Tapi, nggak cemburu tuh, ayang Bayu?^^^


Riska: Nggaklah. Kalau dia cemburu paling pergi balapan sama Bian.


^^^Miana: Kata Bian udah nggak suka balap liar lagi.^^^


Riska: Lo nggak tahu ya, Bian punya sirkuit pribadi?


Miana mengernyit, setahunya Bian dulu suka balap liar. Namun, tidak untuk sirkuit pribadinya.


^^^Miana: Nggak tahu,🤔^^^


Riska: Deh, payah. Punya pacar tajir nggak Lo manfaatin dulu sebelum putus🤣🤣🤣.


^^^**Miana: Mulai deh, ☹️.^^^


^^^Mending gue cari-cari idol baru**.^^^


Miana menutup aplikasi chat dengan Riska. Jika dilanjutkan, bisa ratusan chat untuk membahas soal Bian. Dan ia tak mau membahas itu lagi.


Terbesit ide dari Miana untuk mencari profil Arga di akun Instagram. Sayangnya akunnya terkunci. Dan memang harus ia follow terlebih dahulu menunggu persetujuan.


Ia sengaja scrolling pada situs pencarian, karena Riska begitu antusias bila membahas idol K-Pop, menjadi hiburan kala ia melepas lelah. Setelah cukup ia beralih pada akun lain untuk mencari-cari olahan cake dan sejenisnya.


Miana sengaja menyimpan postingan pembuatan kukis karamel. Ia tertarik uniknya salah satu olahan kukis berbalut potongan kacang di atas karamel itu. Terlebih dengan rasanya yang pas di lidah.


Miana ingat, saat ke rumah Arga waktu itu, ia pernah di suguhi olahan yang sama. "Nanti malam, ajak Bi Num, bikin ini, kali, ya," gumam Miana. Ia begitu tertarik dengan penyajian salah satu akun di sana. "Bisa di buat bisnis ini, mah," ucapnya lagi.


Perlahan rasa kantuk dan lelah membawa Miana terlelap. Pergi ke alam mimpi bertemu dengan Lucas NCT yang begitu memesona. Mungkin karena memang isi chat dengan Riska terkadang absurd hingga terbawa ke alam bawah sadar.


☘️

__ADS_1


Percikan air beraroma amis mengganggu tidur Miana. Ia mengerjab lalu membuka mata dengan cepat seiring percikan air semakin banyak mengenai wajahnya. Bahkan sampai terasa pedih saat mengenai mata.


"Mama,"


"Bangun! Udah sore malah enak-enakan tidur. Cucian piring, tuh banyak, udah nunggu!" Miranti berkacak pinggang. Sementara Miana masih menyesuaikan diri, mengembalikan kesadarannya.


Miana melirik jam dinding sekilas. Ia hanya tidur satu jam. Tapi rasanya seperti berjam-jam. Entah, kapan terakhir kali ia tidur siang. Rasanya sudah lupa. Biasanya, sepulang sekolah ia langsung bekerja. Namun, tidak untuk hari ini. Mengingat tangannya masih begitu perih jika terkena air. Meskipun luka sudah mengering sebagian.


"Iya, Ma." Miana menurut perlahan turun dari tempat tidur. Sedangkan Miranti segera pergi.


Miana lekas beberes cucian piring dan teman-temannya di dapur. Setelah selesai, ia menggiling cucian kotor di sudut kamar mandi. Ia lupakan perih pada tangannya.


Sesaat, Miana merasa lapar dan membuka penutup tudung saji di tengah meja. Tinggal dua potong tahu dan satu centong sayur. Lumayan masih cukup membuat perutnya kenyang.


Selesai makan, Miana menjemur pakaian di samping rumah. Ada tetangga yang sedang lewat, Miana lekas menyapa seperti biasanya.


Satu, dua, tiga orang tetangganya yang mendadak menatapnya dengan tatapan iba yang membuat Miana semakin tak tenang. Ia tak begitu menghiraukan, selama ia tidak melakukan hal yang merugikan orang lain.


"Kak Miana," panggil seorang anak lelaki berusia sembilan tahun dari balik pagar.


"Iya," jawab Miana. Menghentikan sejenak tangannya dari tumpukan cucian. Sebagian sudah berada dalam hanger. Sedangkan masih setengah ember lagi yang belum ia pasangkan pada hanger.


"Tolongin, bola'nya Gaza dong." Tunjuk anak lelaki bernama Gaza pada bola yang berada di samping Miana.


Miana segera mengambil bola dan melemparnya pada Gaza yang berada di balik pagar setinggi satu meter itu.


"Sama-sama, Gaza," balas Miana.


"Kasian kakak, sekarang sudah nggak ada yang bantu kakak lagi. Jangan sedih, ya." Gaza pergi setelah mengacungkan jari jempol pada Miana.


Meskipun tak mengerti, Miana hanya tersenyum memerhatikan anak tetangganya itu.


Waktu sudah semakin sore. Saat Miana sudah membersihkan diri dan kembali ke kamarnya. Ia merasa ada yang kurang. Ia sadari Bi Num tak kunjung pulang jika hanya sedang ke pasar seperti perkiraannya.


Saat Miana mematut diri di depan cermin ia mengeryit melihat selembar kertas bertuliskan 'dari Bi Num untuk Miana' di bawah pouch make up miliknya.


Rangkaian kata kagum senang dan bahagia dapat merawat dirinya sejak masih belajar berjalan. Lalu, ucapan maaf dan nasihat juga hadir di sana. Di bait terakhir permintaan maaf untuknya dan untuk keluarganya turut serta mengakhiri coretan tangan paruh wanita baya itu.


Matanya memburam terkena desakan air mata yang memaksa keluar, seiring kata demi kata yang Bi Num tuliskan dalam kertas putih itu. Bi Num telah pergi dari rumah.


Miana yakin ini adalah ulah sang mama. Teringat pagi tadi tudingan tajam sempat ia dengar dalam pendengarannya.


"Bi Num," lirih Miana di antara Isak tangisnya.


☘️


Di kejarpun percuma. Di caripun pasti sudah tak ada. Dua jam sudah berlalu. Miana sudah tak mendapati Bi Num di stasiun.


Dengan gontai Miana melangkah mendekati halte untuk pulang ke rumah. Tubuh setinggi 160 cm berbalut celana jeans dan sweater turtleneck berwarna putih itu tak bisa menyembunyikan kesedihannya.

__ADS_1


Ponsel Bi Num, tak bisa di hubungi lagi. Atau memang sengaja Bi Num non-aktifkan ponselnya. Ia semakin sedih kala uang jualan hari ini di berikan oleh tetangga samping rumah padanya.


Bi Num masih memikirkannya. Di saat kerabat sendiri tak perduli dengannya. Dia yang hanya orang asing bersikap seperti ibu sendiri baginya. "Bi Num, maafin Miana," ucapnya tertelan Isak tangis.


Setelah memenangkan diri. Miana memeriksa ponselnya. Ia mengambil potret jalanan malam dari sudut halte tempatnya berdiam diri. Ia mengunggahnya pada sw dan akun medsosnya


Lalu lalang banyak orang yang sibuk pada tujuan masing-masing tak juga membuat hatinya menghangat. Sepi, meskipun Miana sudah berdiri di antara keramaian yang ada.


Senja mulai terlihat. Miana sedang menikmati setiap langkah perjalanannya di tepi jalanan. Sudah lama ia tak berjalan kaki untuk sekedar melepas penat seperti ini.


Getaran pada ponsel yang berada di dalam tas selempang menghentikan sejenak langkahnya. Ia menepi sebentar untuk membuka beberapa pesan di sana. Satu pesan dari Sisil, menanyakan keberadaannya. Ia sempatkan untuk membalas jika sedang cari keperluan pribadinya. Delapan pesan dari Arga dan tiga panggilan tak terjawab dari Bian juga turut hadir di sana.


Pertanyaan yang sama juga di pertanyakan oleh Arga. Meskipun hatinya perlahan menghangat mendapatkan perhatian kecil itu. Ia tak serta-merta mengakui keberadaannya. 'Gue baik-baik aja,' tulisnya pada room chat dengan Arga.


Satu panggilan dari Bian tak dapat ia hindari saat dalam mode online. Ia segera menekan tombol terima dan menyambut rentetan pertanyaan dari Bian. "Lo ngapain di stasiun? Udah sore juga. Sama siapa sih?" sembur Bian dari seberang sana.


"Darimana Lo tau gue di stasiun, Bi?"


"Ck. Lo lupa siapa gue," tekan Bian.


Miana menghirup udara sejenak untuk mengurangi suara paraunya. "Gue jalan-jalan, aja, Bi. Lagi suntuk di rumah."


"Sama siapa Lo di sana? Nggak mungkin sama Riska kan? Karena dia mau ngedate sama Bayu habis magrib."


"Emm. Sendi–, eh sama Bi Num." Miana segera meralat kejujurannya. Ia takut Bian menyusulnya dan mengganggu harinya.


"Ku pikir lagi jalan sama tuh orang," ucap Bian terdengar lega.


"Tuh orang siapa?" tanya Miana.


"Ya, ada."


"Siapa, Bi?" cecar Miana.


"Ck. Ya, Lo boleh jalan sama siapa aja. Asal jangan Arga."


"Loh, emang kenapa?"


"Stop. Godain gue, ya, mantan pacar! Lo tau gue masih sayang Lo, kan. Ya walaupun Lo udah pasang jarak sama gue. Tapi jangan halangi gue buat perduli sama Lo. Banyak lelaki modus yang hanya ingin suatu hal. Setelahnya bisa dengan mudah meninggalkan setelah mendapatkan maunya,"


Miana tersenyum masam. "Makasih, ya, Bi. Udah perduli sama gue,"


"Apa sih. Gue serius. Ya udah cepet pulang. Hati-hati, ya!"


...☘️☘️☘️...


cieeeee, di perhatiin gebetan. di perhatiin mantan, kurang apa sih??


kurang Bi Num, ya, sabar ya Miana.🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2