Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 80


__ADS_3

"Permisi," ucap lelaki berkulit sawo matang. Ia diam sejenak menunggu respon penghuni kamar dan sedikit terkejut ada sosok pria di antara dua wanita yang muncul dari dalam kamar.


Begitu penghuni kamar yang tak lain adalah Miana, Sisil dan Bian keluar. Salah satu diantaranya berdiri menghalangi pintu. Bian.


"Iya ada yang bisa saya bantu?" ujar Miana tersenyum ramah.


"Ah, begini. Ad..."


Ucapan lelaki itu terjeda saat ia menoleh dan terlihat mencari-cari seseorang di balik badan. Hingga ia tersenyum saat seorang wanita berhijab segi empat berjalan cepat dengan ransel di punggung.


"Dari mana, sih?" protes lelaki itu dan si gadis berlesung pipi itu hanya tersenyum canggung saat melihat pada Miana dan Sisil.


"Ini adik, saya. Menurut kepala asrama. Dia akan tinggal di kamar 21A. Dan ini kamarnya." Lelaki itu berbicara pada Miana sambil menunjuk pintu kamar.


"Oh, berarti sekamar sama aku, dong." Miana langsung mengerti. Gadis berjilbab di depannya itu adalah teman sekamarnya di asrama. Seperti kata kepala Asrama bernama Bu Winda tadi. Ia lekas mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan berkenalan. Sampai lelaki yang mengaku kakak dari Nika itu ikut menyebutkan namanya. Zaki.


Sikap humble yang di miliki Miana diterima baik oleh Nika. Ia mengungkapkan pada sang kakak, jika cukup sampai di sini ia mengantarnya.


Lelaki itu banyak berpesan pada keduanya agar akur dan saling mengingatkan.


"Iya, Kak. Semoga kita akan jadi teman yang baik. Sekaligus sodara baru di sini. Iya, kan, Nika." ucap Miana pada Nika dan beralih pada Zaki yang di sambut senyum manisnya.


Zaki juga mengangguk ramah pada Bian yang bermuka ketus juga pada Sisil yang terus mengulas senyum. Lekas Zaki berpamitan pada empat orang di sana dan lekas pergi.


Miana mengajak Nika untuk masuk ke dalam kamar. Dan mengobrol sebentar sambil menata barang-barang masing-masing. Sisil sudah rebahan sambil bermain ponsel, ia sedang melakukan Vidio call. Bian sendiri tidak ada di sana. Mungkin pergi entah kemana.


"Bian ninggalin gue nggak, ya, Kak?" tanya Sisil tanpa mengubah posisinya.


"Nggak, mungkin. Itu ponsel sama tasnya masih di atas meja. Tunjuk Miana pada meja yang memang ada barang-barang Bian.


"Bian, tadi... pacar kamu, Miana?" tanya Nika dengan tangan masih menata baju-bajunya pada lemari plastik. Hanya wajah masih menunggu jawaban Miana.

__ADS_1


"Ah, bukan, Nika. Dia teman SMA aku. Maaf ya, kalau bikin kamu nggak nyaman," terang Miana tak enak hati akan wajah ketus yang di perlihatkan Bian.


"Nggak apa,santai aja."


Keduanya lantas melanjutkan kegiatannya. Miana beralih pada buku-bukunya yang ia letakkan pada beberapa box file.


Kegiatan mereka terhenti saat Bian datang dan membawa empat buah kemasan seblak ceker dan empat cup ice lemon tea dan mengajak semua makan bersama.


"Makasih, ya, Bi. Jadi ngerepotin kan, aku." Ucap Miana sambil menuangkan seblak pada steorofom. Ia memang lapar. Dan sejak dulu tak pernah jaim pada Bian. Dan itulah yang membuat Bian suka. Miana yang apa adanya.


Sisil juga Nika berucap terimakasih juga pada Bian dan segera makan dengan duduk lesehan di atas lantai.


Setelah berbincang sebentar, Sisil merengek pada Bian untuk pulang. Ia katakan juga ada janji dengan Thea dan Hazel sehabis magrib.


Dengan malas Bian menyetujui permintaan Sisil. Padahal, Bian masih ingin sedikit lebih lama menemani Miana.


Miana mengantar Bian dan Sisil hingga sampai pada Bian memarkirkan mobilnya. "Makasih, ya, Bi. Lo harus kuliah. Dan segera daftar cepat-cepat. Ingat mau sukses harus belajar yang bener." Miana berucap di pintu mobil samping Sisil.


Awalnya Miana hendak melarang. Tapi ia takut Bian salah mengartikan rasa pedulinya. "Sil, titip salam buat papa sama mama, ya."


"Iya, iya, bawel. Dari tadi ngoceh Mulu," decak Sisil.


"Heh, sikap Lo di benahin sama sodara! Udah mau kuliah, masih kekanakan."


"Serah gue, ih."


"Nyesel gue pernah kenal, Lo." Bian memutar matanya malas.


"Udah udah. Malah berantem," tegur Miana. Memutus bibit pertengkaran.


Setelahnya Bian dan Sisil benar-benar pergi. Miana menunggu sampai mobil yang di naiki Bian menghilang di perempatan. Ia lekas kembali melangkah ke dalam. Hingga bertemu dengan penghuni lainnya. Sempat berkenalan ala kadarnya dengan menyebutkan asal fakultas dan asal daerah. Tak sulit bagi Miana untuk menyesuaikan diri di lingkungan baru.

__ADS_1


Sampai di dekat tangga, Miana berbalik karena di panggil oleh penghuni rumah pengelola asrama untuk membantunya menyiapkan makan. Miana menurut dan ikut masuk di dalam. Ada beberapa wanita sebaya dengannya sedang berkutat di dapur. Miana lekas bergabung dengan mereka untuk membantu. Tak lupa ia mengirim pesan singkat pada Nika, teman sekamarnya untuk bergabung. Tak lama gadis itu datang dan ikut membantu.


Kepulangan beberapa tim dapur membuat kepala Asrama kewalahan menyiapkan makan untuk anak-anak asrama. Jadilah mereka semua ikut berpartisipasi semua. Melalui kegiatan ini jadilah mereka sedikit banyak jadi kenal dan bertukar nomor ponsel.


Hingga waktu Maghrib tiba. Dan Miana lekas membersihkan diri dan lanjut berwudhu untuk melakukan kewajibannya. Setelahnya ia bersama Nika makan di rumah depan dan lekas ke kamar masing-masing untuk menyiapkan kelengkapan berkas fisik yang akan ia serahkan besok pada pihak kampus.


"Nggak nyangka, ya kita satu fakultas." Nika tersenyum sambil menyimpan map plastik pada tas. Dan bergabung dengan Miana di kasur busa yang masih merapikan berkas-berkasnya.


"Iyya. Oia kamu asli mana?"


"Asli Magelang, Jawa tengah, Miana. Kok, lupa ,si," jawabnya di sertai sedikit terkekeh.


"Boleh tahu nggak, kamu udah punya pacar belum?" tanya Nisa tiba-tiba. Pertanyaan berbelok jauh dari sebelumnya.


Membuat Miana mengehentikan kegiatannya. Ia menatap Nisa sejenak lalu menunduk. "Mau jawaban jujur atau boong?"


"Eh, kok, gitu, si." Nisa menepuk bahu Miana dan mulai menyimak penjelasan Miana.


"Ada, pacar. Tapi dia udah ngilang entah kemana. Jadi gimana dong aku jawabnya?"


"Kok ngilang, sih?" tanya Nika mulai menuntut.


"Ya, dia pergi nggak pamit. Apa namanya kalau bukan ngilang."


"Iya juga, sih. Tapi mending nggak usah mikirin itu dulu. Fokus kuliah dan lulus dengan nilai cumlaude."


"Iya," Miana tersenyum mengangguk membenarkan. Namun, dalam hati sedang bergejolak perih mengingat Arga. Untuk menepikan Arga atau melupakannya, tak semudah menghapus tulisan dengan menekan tombol delete saja. Inikah yang dulu Arga ucapkan. Jika ia sudah menjatuhkan hati pada Arga, sekalipun menolaknya untuk jadi prioritas, akan ada masanya ia tak bisa lepas memikirkan namanya.


'Apa salahku, Ga? Sampai kamu sengaja ninggalin aku,'


☘️

__ADS_1


tinggalkan jejak ya pren, kasih like sama komentarnya 🙏


__ADS_2