
☘️☘️☘️
Tiada yang lebih membahagiakan bagi Miana, kecuali papa telah kembali sehat, terlebih papa kini telah bekerja, meski hanya sebagai staf hotel di perusahaan teman mama.
Memang tidak mudah bagi papa ,benar-benar berusaha dari awal lagi. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dengan bidang baru.
Walaupun Miranti mempunyai beberapa emas dan perhiasan, ia tidak akan rela barang sedikitpun untuk di jual. Dan, Mianalah yang kembali merelakan hasil kerjanya untuk membayar sewa rumah.
"Sebagian perhiasan mama, sudah mama jual buat sewa rumah dan uang jajan anak-anak,Pa! Pokoknya, mama nggak mau tahu. Semua keuangan, mama yang mengaturnya."
"Juga termasuk uang jajan anak-anak," lanjut Miranti.
"Ya. terserah mama. Bijaklah dalam membelanjakannya, Ma," ujar Surya memperingatkan dan di respon dengan decakan malas.
Sisil dan Miana juga berada di ruang yang sama di ruang keluarga. Terlihat mereka tidak berniat mengikuti obrolan orang tuanya.
Miana ingin menyangkal perkataan dusta yang di ucapkan Miranti. Namun, sorot mata yang selalu mengintimidasi itu, membuatnya mengurungkan niat untuk mengatakan kebenarannya. Buat apa, toh Surya selalu ada di pihak Miranti.
Surya yang terbiasa bekerja mengenai konstruksi bangunan dan proyek, kini harus bekerja sebagai staf hotel yang khusus mengelola ballroom hotel dan beberapa ruangan yang di sewakan.
Meski begitu, Surya yang gigih dan belajar dari pengalaman kini cepat menyesuaikan.
Tidak terasa, sebulan sudah Surya bekerja. Kini ia dapat bernafas lega hal yang di tunggu dari hasil jeripayahnya terbayar sudah. Gaji pertamanya.
Dulu, gaji yang ia terima ini memang tidak sebanding dengan penghasilannya di kantor lama. Namun, Surya sudah sangat bersyukur. Setidaknya ia dapat kembali mencukupi kebutuhan keluarganya kembali. Terlebih, ia sedikit terbantu karena asisten rumah tangganya sedikit banyak sudah membantu menopang kebutuhan dari hasil berjualan sayur di depan rumah.
Miranti tengah memeriksa lembaran rupiah, di dalam amplop. Beberapa waktu lalu Surya memberikan benda itu untuknya. "Wah. Lumayan lah ternyata. Meskipun cuma separuh dari gaji di kantor lama. Nggak sia-sia, mama punya kenalan istri direktur hotel. "
"Tuh, kan, Pa. Mama itu punya teman yang bisa di andalkan. Jadi, kumpul-kumpulnya mama itu juga sangat berguna. Makanya, jika mama pergi hang out sama teman-teman mama, ya jangan di protes!"
Miranti tersenyum senang. Melihat gaji yang diterima Surya.
"Nah, kalau begini, kan, mama bisa ke salon lagi. Nggak kusut, kucel, diem di rumah aja, Pa."
"Boleh, dong, ya! Nanti yang dapat nilai plus'kan, papa juga," pinta Miranti.
"Buat aku mana, Pa," sambar Sisil cepat. Padahal ia tadi sedang merajuk di kamar tidak jelas.
Begitulah Sisil, jika ada maunya.
☘️☘️☘️
Satu bulan berikutnya, Miana masih terus rutin membantu Bi Num memotong sayur-sayuran, mengupas bawang atau sejenisnya hingga menjadi masakan untuk Bi Num jual di depan rumah.
Semakin hari banyak pelanggan Bi Num yang berdatangan. Bahkan jika ia belum membawa masakannya di depan rumah, pembeli banyak yang datang merangsek ke dalam rumah. Ada beberapa ibu-ibu yang sukarela membawakan ke depan agar cepat terlayani tentu saja.
Walaupun mama terlihat tidak suka. Namun, ia hanya berlalu begitu saja dan mengurung diri di kamar. "Nggak sabaran banget, sih. Ibu-ibu kampung. Kerjaannya apa, coba! Enggak masak di rumah, maunya cari yang praktis aja. Dasar pemalas!" Miranti menggerutu, tapi ia juga sedikit ingin tahu seberapa banyak pelanggan asisten rumah tangganya itu begitu menyukai masakannya. Memang ia akui, masakan Bi Num cukup enak dan ia sudah terbiasa bertahun tahun di layani olehnya.
"Bagus juga Si Num, itu jualan, sih. Mungkin dia bingung mau kasih uang anaknya di kampung. Baguslah. Nggak ada ruginya juga buat aku."
☘️
__ADS_1
Sabtu malam, toko tutup sedikit terlambat. Biasanya pembeli datang dua kali lipat dari hari biasanya. Begitu pun dengan sales penjualannya.
Dengan begitu, seluruh team biasanya akan mendapatkan bonus tambahan dari Dini.
Seperti malam ini, meskipun Miana dan teman-teman akan pulang sedikit terlambat. Hal itu tentu menambah semangat bekerja lagi.
Jam digital yang melingkar di tangan kiri Miana menunjukkan pukul sembilan malam. Ia pulang dengan riang, terlebih. Hari ini ada dua gaji yang ia terima sekaigus. Gaji bulanan juga bonus pencapaian target penjualan.
[Pulang, jam berapa nanti?"] Arga.
^^^[Jangan bilang Lo mau ajak gue malam mingguan 🤭,]^^^
[Kepedean 🤧,] Arga.
Pesan dari Arga, ia abaikan. Lebih baik, ia segera pulang.
Ya, seperti itulah jika Miana dan Arga berkomunikasi. Tidak di sekolah jika bertemu, atau melalui chat pribadi, akan berakhir saling ejek atau saling mengolok-olok. Saat di sekolah Miana menanyakan pada Arga alasan klasik yang dapat ia terima.
"Ya, daripada meladeni fans-fans gue yang absurd dan modus, mending gue jahil sama juara kelas. Biar bisa gue geser nanti semester depan," kata Arga beberapa hari yang lalu.
Dalam hati, Miana juga ingin bisa akrab kembali dengan Bian. Setidaknya hubungan mereka tidak canggung dengan Bian yang terus bersikap ketus.
Lamunannya berhenti, saat teman-temannya mengajak untuk sekedar nongkrong di cafe.
"Ayolah, Mia! Sekali-kali, lah," bujuk Rossy.
"Maaf mbak Rossy, biasa, takut keduluan pulang dari papa." Miana menolak dengan halus. Beruntung mereka mengerti keadaan Miana.
Meski ia ingin sekali bergabung, tapi mengingat setiap hari sabtu, papa akan pulang lebih cepat. Sebisa mungkin ia juga akan pulang cepat, sebelum papa pulang.
Karena ia selalu mengambil shif siang dan pulang sebelum jam sembilan malam.
Saat berhenti di lampu merah, tidak di sangka ia berhenti sejajar dengan Bian yang berada tepat di sampingnya.
"Dari mana malam-malam begini?" tanya Bian dengan wajah menatap tajam, seolah menuntut.
"Ah, gue dari minimarket aja."
Tidak ada sahutan lagi dari Bian. Namun, mata seolah enggan beralih dari Miana. Tentu itu membuat Miana sedikit canggung. Tiga bulan mengenal Bian. Membuat Miana cukup mengenal sisi baiknya walau ia dulunya memang gemar berganti-ganti pacar. Namun, ia tetap memperlakukannya dengan baik.
"Lo, nggak jalan sama Sisil?" tanya Miana mencari topik lain.
"Bukan urusan, Lo."
"A-,"
Miana ingin menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud untuk ikut campur urusan Bian. Namun, Bian melesat lebih dulu. Saat ia sadar, banyak klakson yang bersahutan di belakang, segera ia memutar tuas gas untuk kembali menjalankan roda untuk membawanya ke rumah.
Belum ada tiga ratus meter dari traffic light, Miana kembali di buat terkagum dengan penampakan indah sebuah jembatan. Jika di hari-hari lain ia hanya melewati begitu saja. Tapi, karena ini malam Minggu dan banyak sekumpulan anak muda di sana, membuat hatinya tergerak untuk menarik handle rem dan memarkirkan motornya seperti yang lain.
Banyak pemuda pemudi berdiri di sisi jembatan layang. Terlihat mengobrol di sana. Sebagian menggunakan lokasi itu untuk membuat konten di aplikasi bergambar sebuah note Hitam-Putih yang begitu mendunia. Dan, tidak sedikit dari mereka hanya sekedar berselfi saja.
__ADS_1
View yang tersaji dari sana adalah penampakan lalu lintas yang begitu epik yang berasal dari penerangan rumah penduduk dan kendaraan yang sedang melaju dengan tujuan yang berbeda, di bawah sana.
"Jarang-jarang, gue bisa menikmati pemandangan ini. Bahkan hampir tidak pernah." Miana menertawakan keadaannya. Ia adalah anak rumahan yang begitu penurut pada orang tua. Jikapun bisa keluar di malam hari, pasti hanya ke cafe atau ke mall dengan Sisil atau Bian, seperti waktu itu.
Mengingat Bian, membuat Miana menjadi semakin merasa bersalah. Pantas saja Bian bosan dengannya. Ia memang selalu saja mementingkan diri sendiri atau lebih tepatnya sengaja menjaga perasaan adik kesayangannya. Begitu banyak alasan yang ia buat, hingga Bian sudah tak tahan lagi berlama-lama menjadi kekasihnya.
"Sayang banget kalau nggak Selfi di sini." Miana merogoh ponsel pada tas cangklong dan membidikkan beberapa pose di sana. Tidak lupa ia mengunggah pada aplikasi hijau dan story' instagramnya.
"Pasti Riska bakal koment, habis ini." Miana terkekeh membayangkan reaksi sahabatnya. Ia kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam tas. Merasakan embusan angin malam dari atas jembatan.
Tidak lama ia bersiap untuk kembali pulang saat ia melihat seorang pria paruh baya yang tengah berjualan di kedai martabak. Tidak jauh dari tempatnya berdiri. Di usia yang sudah tidak muda lagi, begitu semangatnya bapak itu bekerja mencari nafkah untuk keluarganya.
Miana jadi teringat akan papa dan menyadari hal ini.
"Ah iya, papa pasti hari ini juga pulang cepat. Harus buru-buru, nih, agar nggak keduluan sama papa."
Miana tergesa memasukkan kontak motor. Hingga tanpa sengaja kontak terlepas dan jatuh di aspal, akibat ia yang begitu tergesa-gesa untuk pulang.
Menunggu jalanan sedikit legang, Miana berusaha meraih inti motor matic yang teronggok di aspal. Namun, silau yang terang yang tertangkap netranya saat menunduk, membuat ia refleks memejamkan mata.
Miana merasa hilang keseimbangan karena begitu condong ke arah jalan. Lalu semua begitu cepat, Miana merasa tubuhnya di tarik paksa dan terbentur di dinding jembatan. Terjadi teriakan dari beberapa orang yang ada di sisi jembatan. Ia merasakan di pelipisnya berdenyut. Lalu matanya melihat beberapa pemuda menghampirinya dan beberapa orang berhambur ke jalan.
"Ini ada apa?" tanya Miana linglung.
"Mbak nggak apa-apa, kan?"
"Mbak, apa yang luka?"
"Saya nggak apa-apa, oh ia dimana kunci motorku?" gumam Miana. Ia melirik ke arah motornya yang baru saja di posisikan untuk berdiri oleh seorang pemuda.
"Ada orang jatuh, ya?" tanyanya pada seorang yang menanyakan keadaannya tadi dan mendapat anggukan beberapa orang.
"Mbak. Tadi itu ada orang yang berlari dan tiba-tiba menarik mbak, ke sisi jembatan tapi orang itu malah terserempet mobil. Dan itu dia di bawa ke tepi.
"Apa???"
Miana sontak berdiri untuk melihat korban keteledorannya. Secara tidak langsung, ini akibat dari ulahnya hingga menyebabkan orang lain celaka. Miana membelah kerumunan orang yang terlihat menyeka darah di kening korban. Sebagian lagi mereka terlihat menghubungi ambulans.
"Maaf. Maafkan saya," ucap Miana gemetar. Dengan telapak tangan sedingin es, melihat darah segar dan tidak berhenti mengalir dari pelipis korban.
Hanya erangan dan tangan yang berusaha menyeka darah yang mengalir sebagai respon lelaki itu. Di bagian pipi hingga dagu terlihat mengelupas, mungkin tadi bergesek dengan aspal. Lalu ia memindai bagian lain dari korban, tidak ada luka lain di sana. Hanya di telapak tangan yang tergores karena lelaki yang tergeletak tak berdaya itu menggunakan jaket Hoodie yang cukup tebal serta celana jeans membalut kaki.
"Mia–na," lirih korban itu. Ia lalu tidak sadarkan diri.
Dalam keadaan riuh di sana Miana menangkap namanya di sebutkan oleh korban. Ia lebih mendekatkan diri lagi dan menelisik korban yang ternyata mengenalinya.
..._tbc_...
Siapa, oh siapa??
Jika mau lihat visual Arga-Miana-Bian, bisa cek igeh aku yah,
__ADS_1
@rna.darkchoco.14
dan info update juga ada di sana. kalau nggak lupa post🤭✌️✌️✌️✌️