
Lalu lalang pejalan kaki yang berangsur sepi itu, tak lantas membuat pandangan mata itu terputus. Semua seperti hanya sekedar bayang bayang yang mencoba menggoda dua pasang mata yang kini telah terkunci. Mencoba menggoyahkan apa yang sedang tertaut di dalamnya. Rambut bergaya mullet dengan separuh wajah tertutup masker, tak membuatnya meragu untuk mengungkap siapa yang berdiri di sana.
"Arga."
Satu kata lolos begitu saja, keluar dari mulut mungil yang sedikit bervolume di hiasi lipstik berwarna nude.
Gugup, berdebar, bahagia sekaligus rasa bersalah yang lebih mendominasi kini berada dalam benak Arga.
Tak tahan di tatap sedemikian rupa, Arga memutus pandangan dengan menunduk namun kaki mulai terayun mendekat pada sosok yang kini mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Miana,"
Begitu namanya di sebut, satu butir air matanya lolos begitu saja. Gejolak rasa marah, rindu, sedih dan bahagia kini bercampur menjadi satu. Inginnya melayangkan satu pukulan saja agar sosok tinggi di hadapannya itu tersadar akan kesalahannya. Tapi ia masih memiliki kesadarannya, dimana ia sedang berpijak.
Perlahan Arga mendekat pada Miana dan segera membawanya ke dalam pelukan. Di depan dadanya, Miana tengah sedang tergugu. Badannya bergetar di ikuti suara sesenggukan yang tertahan.
"Keterlaluan," ungkap Miana di sela Isak tangisnya.
"Maaf,"
Kini Arga tahu seberapa besar luka yang ia tinggalkan hingga Miana tak mampu berkata-kata. Detik berikutnya, pukulan di belakang punggungnya mulai terasa. Dari pukulan kecil hingga makin terasa.
"Pukul aku! Kamu berhak marah sama aku. Pukul sesukamu. Aku pantas dapetin itu."
"Kamu jahat."
"Ya." Arga mengangguk dan sedikit mengecup rambut Miana di bawah dagunya.
"Kamu nggak pantas mendapat maaf."
"Aku harus tetap minta maaf." Arga mengucap tulus.
"Kau pembual yang hebat."
"Kau yang mengingkari janjimu sendiri."
Deg. Seperti waktu yang berhenti berputar. Seperti itulah sejenak seisi dada Arga yang bergemuruh. "Maaf. Karena aku mencintaimu, sungguh."
Perlahan pukulan kuat itu melemah di susul Isak tangis yang kian terdengar.
Tatapan orang yang sedang melintas di sana tak mereka hiraukan. Namun berdiri di tengah jalan dengan keadaan seperti ini bukan hal yang tepat.
Hingga tubuh Miana terlepas dengan paksa dari dalam pelukan Arga.
"Kamu apain dia, Hah!!! Kini tangan Miana sudah berada di dalam genggaman tangan Bian.
Bian?
Beberapa waktu lalu ia tertegun melihat Miana menangis. Tangis yang selama ini tak tampak selama bersamanya. Ia tak bodoh untuk mengartikannya.
Sakit memang, di depannya Miana seperti menjadi orang lain dan selalu menampakkan sikap tegar tanpa memperhatikan sisi rapuhnya.
"Jauhi calon istri saya!"
Arga tersentak saat Bian berucap yakin. Begitu juga dengan Miana yang kini tengah terbelalak.
"Apa?"
"Bi!"
Ucap Miana dan Arga bersamaan.
"Jangan bodoh kamu. Aku rasa kamu masih cukup pintar menelaah kata-kataku." Bian mengangkat dagunya tanpa melepas tangannya memegangi Miana.
__ADS_1
"Bi." Miana menggeleng menunjukkan protesnya. Sedangkan Arga membuang kasar penutup sebagian wajahnya. Kesal.
"Kenapa sayang. Memang kita mau menikah. Kamu bahkan sudah tinggal lama di rumahku. Dimana salahnya?"
Miana menggeleng melihat pada Arga dan Bian bergantian. Wajah berganti panik saat mata Arga kini menatap nanar padanya.
Bian menarik Miana ke belakang tubuhnya. Lalu satu telunjuk tangan mengarah pada wajah Arga yang kini merah padam menahan kemarahan. "Kau!"
"Ingat, kamu sudah membuangnya... Dan pantang bagi barang yang di buang lalu di pungut kembali."
"Cukup. Bian! Miana bukan barang! Dan aku rasa kau adalah orang yang tah–,"
"Jangan mengada-ada, Arga. Kisahmu sudah berakhir empat tahun yang lalu. Dan kini, dia bersama kisah yang baru."
"Cukup, Bi." Miana menurunkan tangan Bian yang menujk di depan muka Arga. "Kau sudah banyak bicara sekarang!" Miana sedikit membentak.
Melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kedekatan Bian dan Miana membuat rasa marah terhadap diri sendiri kian menggunung. Kini, sikap optimis yang bersarang sejak semalam kini terhempas begitu saja. Kata-kata dari Zaki seolah berputar di benaknya.
"Bisa jadi, Miana sudah tak memgaharapkanmu lagi."
"Bisa jadi, Miana sudah malas berurusan dengan seorang pecundang seperti kau."
"Bisa jadi Miana sudah mempunyai tambatan hati yang lain."
"Bisa jadi ...."
"Bisa jadi, ... "
Tanpa sadar Arga menjatuhkan pot berisi bunga mawar dari dalam genggamannya. Apalagi melihat wajah terluka di depannya membuatnya memejamkan mata rapat-rapat.
"Maaf, Miana," katanya sambil berlalu dari hadapan Miana dan Bian. Bukan pertemuan seperti ini yang Arga harapkan. Pikirannya mendadak kacau, tak mampu berfikir jernih lagi.
"Arga!" Miana hendak mengejar Arga yang tengah mengayun langkah lebar. Namun tangannya kembali di tahan oleh Bian.
Kini hanya lelehan air mata yang semakin deras mengucur dari mata indah itu.
"Jangan mengejar jika kamu sudah di buang.
Jangan mencari jika kamu sudah di tinggalkan."
"Tapi Arga nggak membuangku, Bi!" Sentak Miana marah. Membuat tangannya terlepas dari tangan Bian. "Kamu nggak tahu gimana luka yang aku pendam selama ini. Kamu nggak berhak nahan aku di sini."
"Lalu kamu mau apa? Hahh!"
Bian mengguncang kedua bahu Miana. "Kamu mau kejar dia? Kamu mau kejar laki-laki pengecut seperti dia! Mau ngemis apa kamu! Dia nggak gerak apapun bahkan tak berusaha menyangkal apapun yang aku tuduhkan. Gimana lelaki seperti itu yang ingin kamu kejar!"
"Sadar, Miana. Ada gue yang lebih perduli sama kamu."
"Tapi aku masih sayang Arga, Bi." Miana tertunduk lemah dan Bian segera membawanya ke tepi jalan.
"Aku tau dan aku juga nggak buta." Bian kini melepaskan tangan dari bahu Miana yang masih sesenggukan dan mamandangi dimana Arga menghilang. Berharap sosok itu dapat kembali lagi dalam pelukannya.
"Aku cuma pengen tahu, sejauh mana Arga dapat merebut kamu dari tanganku."
"Aku bukan milik siapa-siapa disini, Bi. Kamu jangan bersikap seolah-olah aku ini milik kamu."
Bian tersenyum getir. Melihat Miana sekacau ini, membuatnya sakit yang teramat. Kedatangannya bersama sang Papa untuk meminang Miana pada BI Num, orang yang saat ini menjadi keluarganya.
Setelah Miana tenang, Bian mengajak Miana untuk pulang ke rumah Bi Num.
Gerbang di buka oleh Hasan yang berdiri dengan raut cemas. Di susul dengan Bi Num dan ...
Ada pak Pram dan Nyonya Hana di belakang Bi Num dengan tersenyum menyambut kedatangan Miana dan Bian.
__ADS_1
Lalu, perlahan Nyonya Hana memeluk Miana dan menepuk punggungnya. "Kamu sampai terharu ya, melihat kedatangan kami yang mendadak."
Sedangkan Pram sendiri masih menelisik Miana dan Bian bergantian. Ada beberapa kata yang ia tahan agar keluar pada saatnya.
Bi Num kembali mengajak tamunya untuk masuk. Ada beberapa oleh-oleh yang di letakkan pada meja. Hasan yang mengerti pun segera membawanya ke dalam setelah mendapat perintah dari ibunya.
"Karena Miana sudah ada di sini. Baiknya Miana sendiri yang memutuskannya Pak, Bu."
Melihat sisa percakapan Bu Num dan kedua orang tua Bian membuat Miana kembali di liouti rasa gamang.
"Maaf, Bu. Ini ... Membingungkan buat saya."
"Saya rasa, pak Pram dan Bu Hana sudah tahu bagaimana keluarga saya yang tersisa. Anak yatim ini hanya punya Bi Num di kampung ini. Sungguh sangat jauh berbeda dengan keluarga pakai Pram."
"Jangan tergesa, Miana. Masih cukup banyak waktu untuk memikirkannya." Hana melirik Bian yang kini hanya duduk sambil menunduk.
"Kami minta maaf, tanpa memberi tahu lebih dulu sama kamu.Kami bahkan langsung mengiyakan permintaan Bian tanpa berdiskusi dulu denganmu." Pram kembali berkata membuat Miana semakin merasa kerdil.
Miana menggeleng segan dan ijin untuk ke belakang untuk membersihkan wajahnya yang semakin sembab.
Ada Hasan yang duduk mengahadap meja makan. Memandang Miana dengan sayu.
Melihat Miana keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, Hasan mencoba membuka suara.
"Jujur Hasan bingung. Mbak Miana ini beruntung banget hari ini. Tapi kenapa malah nagis. Dua orang kaya datang cari mbak Miana buat lamar kamu, Mbak."
"Hah, gimana gimana?" Miana mengernyit tak mengerti seraya duduk tak jauh dari Hasan.
"Dua?" tanyanya ragu, tapi mendapat anggukan yakin dari Hasan.
"Jadi, sepagi ada laki-laki cari mbak Miana ngaku pacar mbak Miana. Dia datang untuk menebus kesalahannya dengan mengikat mbak Miana. Apa namanya kalau buka lamaran?"
"Tunggu-tunggu." Miana semakin kebingungan. "Dua lelaki?" tanyanya dan kembali mendapat anggukan yakin dari Hasan.
"Ya, Mbak. Dua orang lelaki."
Apa mungkin Arga tadi juga kesini? tanya Miana pada diri sendiri.
"Yang kedua, nggak tanggung-tanggung. Bawa serta kedua orangtuanya. Sepertinya mereka tahu, kalau mbak Miana nggak punya siapa-siapa lagi selain ibu dan Hasan, Mbak."
"Yang sekarang di depan itu bos aku, San. Dan laki-laki di depan itu adalah Bian, temanku. Keluarganya udah anggap aku anaknya. Seperti yang pernah aku ceritakan. Tapi aku nggak nyangka bakal jadi seperti ini."
Miana harus menjeda pembicaraan pada Hasan saat panggilan Bi Num menyebut namanya. Mia lekas kembali ke depan.
"Kamu jangan merasa sungkan, Miana. Kamu mau menerima atau menolak Bian itu hak kamu. Jangan merasa terbeban dengan ini. Kamu menerima atau menolak Bian itu nggak akan mengubah apapun. Kamu tetap kami anggap anak sendiri." Nyonya Hana berucap dengan tulus dan penuh kelembutan. Tangan kanannya mengelus bahu Miana yang masih di liouti kebingungan.
"Maafkan kami yang datang dan membuat keadaan jadi seperti ini. Kami pikir Bian sudah berpikir matang-matang sehingga memaksa kami datang untuk melamar mu. Tapi lagi-lagi, dia tetap ceroboh dan terlalu memaksakan kehendaknya."
Miana menjadi sungkan setelah mendengar ucapan kedua orang tua Bian. Bagaimana bisa Bian bertindak senekat ini. Bagi orang sesibuk pak Pram, meluangkan waktu seperti ini sungguh begitu menyita waktu dan tenaga.
"Kami permisi dulu." Pamit Pram, Hana dan Bian.
Miana menyalami kedua orang tua itu. Namun tidak untuk, Bian.
"Miana, pikirkan baik-baik. Ini kesungguhanku. aku tahu dimana letaknya namaku di hatimu. Tapi aku nggak akan nye–,"
"Bi," potong Miana. "Gue nggak–"
"Ssssst." Bian menempelkan jari telunjuknya pada bibir Miana. "Pikirkan dulu."
Bian tersenyum dan menyelipkan anak rambut Miana yang menjuntai dan menarik diri menyusul kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu sampai di mobil. Sedangkan Miana masih berdiri bergeming melepas kepergian keluarga Bian.
☘️
__ADS_1