Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 24


__ADS_3

Brug!


Miana terhuyung dan jatuh menimpa Arga.


Refleks Arga menangkap Miana. Ia bukannya marah, namun justru menahan sakit di punggung tangannya. Sebelah tangan yang terluka itu menyentuh pelataran karena tertimpa Miana. "Auuuhh," ringisnya seraya memejamkan mata.


Miana yang menyadari segera berdiri, meski sedikit kesusahan karena masih bergetar saja kakinya." Maaf, Ga. Gue nggak sengaja." Ia lekas mencoba membersihkan tangan Arga. Lalu fokusnya teralihkan pada sebelah tangan yang lain tengah di kibaskan oleh Arga.


Darah. Miana terkejut lantas menutup mulutnya. Lalu memberanikan diri meraih tangan Arga. Tidak ada penolakan dari Arga, membuat Miana menarik lebih dekat. "Ini kok, bisa terluka, Ga?" Miana menggigit ujung kuku tangan. Kebiasaan jika sedang panik. "Apa segitu beratnya aku, sampai terluka?" ujarnya.


"Mungkin,"


"Gue, obatin, ya?" tawar Miana.


Arga menarik cepat tangannya seraya berdiri. "Nggak apa, nanti juga sembuh," katanya sambil tersenyum sarkas.


"Gue, obatin, ya, Ga," ulang Miana. Merasa bersalah.


Arga terdiam sejenak. Lalu mengangguk. Secerah ide melintas. Biarkan saja Miana merasa bersalah. Luka ini akibat ulah Miana. Tidak bisa di bohongi, dirinya butuh orang untuk membalut luka memar dan berakhir mengeluarkan darah karena menahan beban Miana, bergesek dengan lantai rooftop sekolah yang masih kasar.


Tanpa banyak berdebat lagi. Arga mengikuti Miana yang menarinya dari rooftop.


Beruntung keadaan aula dan koridor kelas sudah sepi. Sudah dapat di pastikan karena kelas sudah di mulai lagi. Miana membawanya ke ruang UKS. Tangan kecil itu mengambil kotak p3k, mengambil kapas lalu dibasahi dengan alkohol. Mengusap pelan dan sesekali melirik Arga yang diam menahan rasa perih.


"Sakit, Ga?" tanya Miana. Ia menjeda sebentar gerakan mengusap luka yang mengeluarkan darah itu.


"Sakit," jawab Arga. Sakit yang di rasakan Arga, nyatanya berbeda dari pemikiran Miana. Ia masih memikirkan pernyataan mama yang begitu menyakitkan. Dalam benak ia ingin sekali menemui mama dan menanyakan maksud perkataannya. Ia merasa tidak nyaman karena publik banyak mengetahui asal usulnya dan tentu juga menyeretnya berurusan dengan netizen. Lebih baik, mama tidak pernah mengakuinya. Setidaknya itu lebih baik daripada di akui di saat sudah terlambat.


Miana masih telaten menarik perban dan kain kasa dan perlahan menutup luka di buku-buku tangan yang sebelumnya sudah ia beri cairan antiseptik.


"Sekali lagi, maafin gue ,ya , Ga. Gue bener-bener nggak sengaja."


"Berhenti nyalahin diri sendiri."


"Yaa, nggak bisa gitu, Ga. Niat gue mau sedikit menghibur, Lo. Malah jadinya gue yang lukain ,Lo."


Arga menarik sudut bibirnya. Miana masih saja menyalahkan diri. Padahal itu sungguh akibat emosi sesaat mendengar celotehan teman-teman di kelas. Sedikit menyesal, sampai sekarang ia masih mudah emosional jika hal itu menyangkut mama. Pengalaman di sekolah dulu, membuat ia kembali mudah berteman amarah. Dulu, di sekolah lama, ia mempunyai teman yang cukup dekat. Karena suatu hal membuat hubungannya renggang dan rusak karena tanpa sengaja seorang teman mengungkap Arga yang merupakan anak broken home dari artis ternama. Jika itu tentang sang mama, entah mengapa membuat Arga dengan mudah tersulut emosi. Meskipun ia membenci sosok itu, tapi jika ada yang menjelekkan mama. Nalurinya seperti tidak terima.

__ADS_1


"Ga."


Sentuhan di bahu Arga mengalihkan lamunannya tentang cerita buruk tentang sekolah yang dulu.


"Lo banyak masalah, ya?" hardik Miana.


Hal itu hanya mendapat jawaban tatapan datar dari Arga.


Miana menyeret kursi plastik yang tak jauh auh dari brankar tempat Arga duduk. Ia duduk seraya menopang dagu pada brankar. "Kalau ,Lo, percaya sama gue. Lo boleh cerita, kok,"


"Nggak penting," sahut Arga. Lalu memeriksa tangan kanannya yang sudah berbalut perban. "Makasih buat ini." Arga mengangkat tangan kanannya.


Miana menaikkan kedua bahunya. "Ya udah. Kalau gitu kita kembali ke kelas. Meskipun sudah sedikit terlambat. Itu akan lebih baik daripada tidak ikut pelajaran sama sekali."


Arga diam membenarkan. Perlahan ia mengikuti langkah Miana keluar dari UKS dan kembali ke kelas. Sesampainya di kelas, keduanya langsung mendapat kesempatan bergabung tanpa banyak pertanyaan dari guru yang mengajar. Hanya tatapan seisi kelas mengarah pada tangan berbalut perban, namun, tanpa banyak komentar lagi.


☘️


"Na, tunggu," teriak Riska.


Riska segera mensejajarkan langkah pada sahabatnya itu. Rasa penasaran masih menyelimuti. Karena keterlambatan sahabatnya masuk kelas. Juga, hadirnya bersamaan dengan Arga menjadi tanya besar di benaknya. Dan kini, saat pulang sekolah adalah waktu yang tepat untuk menginterogasi Miana.


"Boong banget, sih! Lo, juga asyik terus sama Bayu, 'kan," hardik Miana dan di hadiahi senyum lebar dari Riska. Membenarkan.


"Iya, sih." Riska menggaruk sisi kepalanya, salah tingkah. "Eh, gue penasaran, Lo tadi dari mana aja, sih. Sampai terlambat di jam Bu Alin?"


"Dari UKS."


"Lo, sakit!" Riska memegang kening Miana. "Adem. Enggak ada panas-panasnya," lanjutnya menjauhkan tangan dari Miana.


"Arga yang sakit."


"Trus, apa hubungannya sama ,Lo? Lo bukan anggota PMR kan?" cecar Riska.


"Soalnya hanya ada gue di sana." Miana tidak berniat menceritakan tentang Arga yang terlihat frustasi dengan permasalahan yang di hadapi. Miana juga tahu tentang gosip itu. Dan perihal Arga yang tak ada niatan untuk menyangkalnya, merupakan bukti memang benar adanya gosip di akun media sosial itu. Terlebih, Hazel lebih dulu menscreenshort lalu membagikan di grup kelas. Bisa di pastikan satu kelas bahkan satu sekolah juga mengetahuinya. Satu sekolah tentu tahu siapa Sarah Wijaya, yang di maksud, adalah selebriti yang masih meniti karir di dunia entertainment. Tentu sorot keluarganya juga dapat di ketahui oleh publik. Lalu kemunculan sosok Arga yang mengejutkan di akun media sosial menjadi trending topik hangat.


"Lo ada hubungan spesial gitu sama Arga?" tuding Riska.

__ADS_1


Tentu hal itu menghentikan langkah Miana, di ikuti Riska.


"Ini mulut kenapa sih selalu aja nyablak. Lihat nih, masih banyak orang!" Kode Miana melalui lirikan mata, memindai siswa-siswi yang tengah berjalan di koridor untuk pulang.


"Jadi bener?" pekik Riska. Memegang lengan Miana.


Satu tangan Miana menutup mulut Riska. Satu tangan yang lain memegang bahu Riska. "Gue bilang diem!" Sembur Miana kesal. Lalu melepaskan tangan karena Riska sudah meronta.


Riska meringis. "Maaf, deh. Makanya cerita," pinta Riska.


"Gue harus kerja." Miana kembali melanjutkan langkah. Tinggal beberapa meter ia sampai di parkiran.


"Na," sentak Riska. "Lo udah nggak anggep gue sahabat lagi, ya. Sampai Lo sembunyiin sesuatu dari gue."


"Ck," decak Miana. "Ikut, gue!" Miana menyeret Riska ke kursi permanen di pinggir halaman. Tempat favoritnya.


"Jadi?" todong Riska setelah mereka duduk.


"Iya. Jadi, gue selalu ke rooftop jika istirahat. Makanya sekarang jarang ke kantin bareng Lo. Apalagi lo–nya juga udah sama Bayu, 'kan. Kesepian kan gue jadinya. Terlebih, gue juga ngehindari sesuatu yang masih bkin gue sakit. Lo tahu 'kan! Kedekatan Bian sama Sisil."


Riska mengangguk, mengerti. "Trus, trus?" desak Riska.


"Di rooftop gue ketemu Arga. Dan gue nemuin dia dengan tangan berdarah. Ya udah, gue obatin. Udah gitu doang." Miana tidak mungkin menceritakan yang sesungguhnya pada Riska. Takut reaksinya akan berlebihan. Apalagi masih banyak lalu-lalang siswa-siswi di sekitar halaman.


"Oh." Riska mengetuk dagu dengan jarinya seraya mengangguk pelan."Mungkin dia merasa tersinggung sama perkataan teman-teman tadi, ya, Na," cetus Riska.


Miana mengangguk. "Bisa ,jadi," putusnya.


☘️


Arga mengernyit ketika ia baru saja menjejakkan kaki di carport. Ia sempat melirik pada mobil SUV berwarna silver di halaman depan. Satpam juga menyapa seperti biasanya. Jika ada tamu penting, satpam rumahnya itu pasti selalu memberi tahu terlebih dahulu. Mungkinkah papa membeli mobil


baru? Itulah yang ada di benaknya.


Arga mengucap salam, setelah membuka kenop pintu jati dengan aksen ukiran khas Jawa. Menyerukan panggilan pada Oma tersayang namun tidak juga mendapat sahutan. Semakin ke dalam langkah Arga, dan berhenti di pintu penghubung ruang tamu dan ruang keluarga.


"Oma–," panggi Arga tertahan. Matanya membola melihat sosok di ruang keluarga yang tengah berdiri perlahan seraya menoleh ke arahnya.

__ADS_1


...tbc...


☘️ Siapa ya di sana?? Ada yang bisa nebak?


__ADS_2